
...**...
Di kegelapan malam, Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mencoba untuk melakukan raga Sukma. Ia mencoba untuk melihat apakah sosok kegelapan itu beraksi atau tidak pada malam ini.
"Malam yang sangat sepi." Matanya yang menerawang dari atas atap istana kerajaan yang sangat tinggi tidak melihat apapun yang mencurigakan. "Tapi aku tidak dapat merasakan kegelapan itu, pada malam ini?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita beberapa kali mencobanya, tetapi hasilnya tetap sama. "Apakah dia tidak bergerak pada malam ini?." Dalam hatinya bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi. "Akan aku coba sekali lagi, mungkin aku bisa melihatnya." Sang prabu tidak akan menyerah begitu saja, tentunya ini semua demi melindungi kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya.
...***...
Masih di lingkungan istana.
Raden Dewangga Bagaskara masih berbincang-bincang dengan adiknya. "Rayi Dewi." Raden Dewangga Bagaskara tidak menyangka akan mendengarkan ucapan seperti itu dari adiknya. "Dari dulu kau selalu saja bisa membaca isi pikiranku dengan sangat baik, rayi dewi." Ingin rasanya ia menangis terharu, adiknya yang selalu memahami apa yang ia rasakan.
Putri Arkadewi Bagaskara hanya tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rakanya. "Lantas?. Kali ini raka akan pergi ke mana?." Sambil menahan tawanya ia bertanya seperti itu pada Rakanya. "Tadi aku sempat mendengar gosip para prajurit yang mengatakan, jika raka akan meninggalkan istana ini." Lanjutnya.
"Kau memang rayi ku yang paling sensitif jika mengenai masalah yang seperti ini." Raden Dewangga Bagaskara tidak dapat menyembunyikan perasaan yang ia rasakan pada saat itu. Sungguh, hatinya memang terasa sangat berat untuk berkata bahwa ia segera meninggalkan istana. "Aku akan ke bukit embun atas perintah ayahanda prabu." Jawabnya agak sedikit ragu. "Ayahanda prabu mengatakan, jika aku harus belajar suatu jurus yang dapat mematahkan jurus kegelapan itu." Dari raut wajahnya terlihat sangat khawatir. "Meskipun aku sendiri tidak yakin bisa mempelajari jurus itu, tapi setidaknya aku ingin membantu ayahanda prabu, untuk mengungkapkan siapa pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu." Walaupun ada keraguan di hatinya, Raden Dewangga Bagaskara akan tetap mencobanya.
"Jadi ayahanda prabu memerintahkan raka dewangga?. Untuk mempelajari jurus menembus alam sukma kegelapan?." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara hanya tersenyum kecil mendengarnya.
__ADS_1
"Selama aku pergi aku harap kau berhati-hati di sini rayi. Aku tidak ingin kau terusir lagi dari istana ini." Dengan perasaan yang sangat cemas ia berkata seperti itu pada adiknya. "Aku takut ketika aku kembali nanti, kau tidak ada istana ini. Karena meladani mereka yang mencoba untuk melakukan hal yang aneh padamu rayi." Itulah yang membuat Raden Dewangga Bagaskara sekarang cemas untuk meninggalkan istana.
"Raka tidak perlu cemas. Aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang baik. Jadi, raka tenang saja, aku pasti bisa menjaga diriku." Dengan senyuman yang ramah ia berkata seperti itu.
Kembali Raden Dewangga Bagaskara menghela nafasnya. "Baiklah jika memang seperti itu rayi dewi." Ia mencoba mempercayai adiknya.
"Aku hanya ingin raka menjalankan tugas yang diberikan oleh ayahanda prabu, berjalan sesuai dengan harapan." Sepertinya Putri Arkadewi Bagaskara berhasil memainkan perannya dengan sangat baik, sehingga senyuman yang ia tampilkan pada saat itu benar-benar meyakinkan kakaknya. Bahwa semuanya baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Ya, aku juga berharap seperti itu rayi dewi." Perlahan-lahan Raden Dewangga Bagaskara menghilangkan rasa cemas yang ia rasakan pada saat itu.
"Tapi apakah raka yakin?. Jika raka nantinya dapat menghentikan aku?." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum lebar. Sisi gelapnya sedang bergejolak, membayangkan jika dirinya akan bertarung dengan Rakanya suatu hari nanti.
...***...
"Tadi, sebelum ayahanda hendak meninggalkan istana, ayah anda tidak sengaja bertemu dengan gusi putri arkadewi." Patih Arya Pasopati mencari katakan suatu pertemuan yang tak terduga yang ia alami.
"Lantas?. Apa yang ayahanda bicarakan ketika dengan bertemu dengan gusti putri arkadewi?." Tentunya Raden Athaya Pasopati sangat penasaran.
__ADS_1
"Karena ayahanda melihat gusti putri datang dari luar sendirian, ayahanda hendak bertanya kenapa gusti putri hanya sendirian dari luar?." Patih Arya Pasopati mencoba mengingat kembali apa yang telah ia alami pada saat itu.
"Lalu bagaimana dengan tanggapan gusti putri?." Rasanya ia tidak sabar ingin mendengarkan bagaimana jawaban dari Putri Arkadewi Bagaskara.
"Meskipun jawabannya baik-baik saja, akan tetapi pada saat itu gusti putri mengatakan pada ayahanda untuk lebih perhatian pada rakyat yang berada di pasar kota raja." Jawabnya sambil menatap langit yang kelam.
"Gusti putri berkata seperti itu pada ayahanda?." Bahkan Raden Athaya Pasopati terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahandanya.
Patih Arya Pasopati menatap anaknya dengan tatapan penuh meneliti. "Gusti putri mengatakan jika ayahanda tidak segera bertindak, bisa jadi pembunuh bayaran itu yang akan beraksi karena permintaan rakyat." Bulu kuduknya agak merinding membayangkan itu semua.
"Ananda rasa memang harus seperti itu ayahanda. Sebab gusti putri tidak pernah ragu jika dalam berbicara. Nanda sangat yakin itu akan terjadi jika ayahanda tidak segera bertindak." Raden Athaya Pasopati sangat percaya akan itu. "Gusti putri memiliki perasaan yang sangat kuat, juga dapat merasakan adanya ancaman yang kemungkinan akan membawa kerugian, yang sangat besar nantinya bagi kita semua ayahanda." Raden Athaya Pasopati tentunya mengetahui bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
Patih Arya Pasopati tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. "Sepertinya nanda sangat mengagumi gusti putri. Sehingga nanda berkata seperti itu, memuji kehebatan yang dimiliki oleh gusti putri arkadewi." Patih Arya Pasopati dapat menangkap itu dari ucapan putranya.
"Bu-bu-bukan seperti itu ayahanda." Pasopati sedang berusaha menekan perasaan gugupnya, meskipun ada rona merah di pipinya. "Ananda hanya percaya dengan firasat yang dimiliki oleh gusti putri, hanya itu saja ayahanda." Raden Athaya Pasopati hampir saja tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya itu. "Tapi masalah yang akan ditimbulkan pembunuh bayaran itu memang sangat serius ayahanda." Raden Athaya Pasopati tidak bermaksud untuk mengagumi, hanya saja ia berkata yang sebenarnya tentang Putri Arkadewi Bagaskara.
Patih Arya Pasopati berusaha untuk memahami bagaimana situasi pada saat itu. "Kalau begitu ayahanda akan memastikannya sendiri besok. Nanda temani ayahanda untuk memastikan kondisi pasar kota raja." Dengan pelan ia menepuk punggung anaknya.
__ADS_1
"Baiklah kalau memang seperti itu ayahanda.” Raden Athaya Pasopati menghela nafasnya dengan pelan. Memang ayahandanya mengetahui hubungannya dengan Putri Arkadewi Bagaskara. Akan tetapi pada saat itu belum saatnya ia membahas masalah lain.
Next.