TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 40


__ADS_3

...***...


Masih di malam yang sama.


Ratu Astina yang berada di biliknya masih gelisah, pikirannya sama sekali tidak tenang setelah apa yang diperlihatkan oleh anaknya.


"Apakah negeri ini memang seperti ini?. Bagaimana mungkin kanda prabu membiarkan rakyatnya menderita." Hatinya sangat menangis sedih dengan apa yang ia lihat saat itu. "Tapi tidak mungkin putriku mengarang cerita hanya untuk membantu rakyat yang selama ini sangat menderita." Suasana saat itu benar-benar hancur berantakan karena tidak bisa menilai dengan baik, siapa yang benar dan siapa yang menyimpan rahasia.


"Topeng pemanis wajah itu sebenarnya sangat mengerikan sekali ibunda. Karena itulah ibunda jangan terlena hanya karena mereka memperlihatkan kebaikan mereka." Itulah yang dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara pada ibundanya saat itu.


"Topeng pemanis wajah?." Ratu Astina sangat tidak mengerti sama sekali dengan apa yang telah dikatakan oleh anaknya pada saat itu. "Topeng pemanis wajah apa yang sebenarnya ananda katakan?." Sambil menahan tangisnya ia bertanya pada anaknya.


"Suatu saat nanti ibunda akan mengerti, topeng pemanis wajah itu lebih mengerikan dari pada berhadapan langsung dengan musuh yang sangat membenci kita. Topeng pemanis wajah itu jauh lebih tajam dari pada senjata yang dihunuskan langsung oleh musuh ke tubuh kita." Putri Arkadewi Bagaskara saat itu seakan-akan memberikan sebuah peringatan pada ibundanya.


"Oh!. Dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan?." Hatinya sangat pilu dengan apa yang telah diperlihatkan anaknya. Saat itu ia benar-benar dapat merasakan bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh rakyat. Jeritan kesedihan yang dirasakan oleh rakyat pada saat itu benar-benar menusuk jauh ke lubuk hatinya yang paling dalam.


Apakah yang akan ia lakukan?. Apakah ia akan mengatakan masalah itu pada Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sebagai suaminya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu, pendekar pembunuh bayaran dengan santainya masuk ke dalam rumah Dharmapati Andapati Saresa. Saat itu ia belum tidur, karena ia sedang melakukan sesuatu. Ia masih ingat dengan kedatangan dua orang prajurit yang diperintahkan Putri Arkadewi Bagaskara untuk memanggilnya.


"Aku yakin, arkadewi bagaskara saat ini sangat marah padaku. Dan bisa aku tebak, jika dia akan mengirim prajurit itu lagi untuk memanggilku." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu?.

__ADS_1


"Aku rasa gusti putri arkadewi bagaskara tidak perlu memanggilmu." Ucap pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan dengan santainya.


Deg!.


Dharmapati Andapati Saresa sangat terkejut, ketika matanya menangkap seseorang yang tidak diketahui sama sekali olehnya sedang duduk dengan santainya di sebelahnya?.


"Hah?!." Secara spontan Dharmapati Andapati Saresa menjauh dari sana dengan melompat dari kuris kayu yang ia duduki tadi. "Siapa kau?!. Berani sekali kau datang?!. Dan masuk ke dalam rumahku!." Bentaknya dengan perasaan yang sangat bergemuruh.


"Itu sangat mudah sekali bagiku masuk ke rumahmu ini." Jawabnya dengan santainya sambil memainkan belati hitam kegelapan. "Apalagi benda ini sudah tidak sabar lagi ingin membunuhmu." Lanjutnya sambil memainkan benda itu.


Deg!.


Dharmapati Andapati Saresa sangat terkejut ketika menyadari benda hitam yang berada di tangan orang yang tidak ia kenali itu?.


"Kau?!." Tiba-tiba saja saat itu jantungnya sedang berpacu sangat kencang ketika menyadari benda hitam.


"Kurang ajar!." Dharmapati Andapati Saresa saat itu benar-benar sangat takut mendengar nama itu. Akan tetapi ada jiwa-nya sebagian yang sangat ingin melawan pembunuh bayaran itu. "Berani sekali kau datang ke rumahku tanpa permisi!. Kau pikir aku takut padamu?!." Dengan penuh amarah ia berusaha untuk menekan apa yang ada di dalam hatinya pada saat itu.


"Heh!. Pembunuh bayaran tentunya tidak perlu minta izin kepada pemilik rumah jika ia telah menemukan targetnya." Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan mendengus kecil sambil menahan tawanya. "Jika aku meminta izin terlebih dahulu untuk memasuki rumah ini!. Itulah pasti aku adalah tamu terhormat yang akan memberikan hadiah istimewa untukmu!." Setelah berkata seperti itu ia langsung menyerang Dharmapati Andapati Saresa.


Beruntungnya Dharmapati Andapati Saresa pada saat itu menyadari serangan itu, sehingga ia bisa mengatasi serangan itu.


"Sebaiknya aku bermain-main sebentar denganmu. Aku ingin melihat, sebesar apa keberanian yang ada di dalam jiwa busukmu itu?." Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan sedang bergejolak. "Mari kita bermain-main sebentar saja." Ia terus menyerang Dharmapati Andapati Saresa.

__ADS_1


"Kegh!." Dharmapati Andapati Saresa merasakan kekuatan yang sangat berbeda dari pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Ada ketakutan yang menghantui dirinya. "Sialan!. Sepertinya dia memang memiliki niat membunuh yang sangat mengerikan!." Dalam hatinya semakin takut dengan apa yang ia rasakan. Entah itu pukulan, ataupun sepakan yang sangat bertenaga itu. Jika pukulan dan tendangan itu mengenai tubuhnya, mungkin saja saat itu tubuhnya akan hancur.


"Aku memang memiliki niat membunuh!. Jadi kau harus bersiap-siap untuk itu." Dengan suara yang sangat mengerikan ia berkata pada Dharmapati Andapati sambil memberikan peringatan.


"Kau akan menyesal karena telah datang padaku!." Dharmapati Andapati Saresa tidak akan menyerah begitu saja hanya karena yang ia lawan pada saat itu adalah pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan.


Malam itu ia harus berusaha dengan sekuat tenaga jika ia tidak ingin kehilangan nyawanya?. Pertarungan yang sangat kuat, mengadu kesakitan?. Apakah pertarungan itu seimbang?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di sisi lain.


Raden Athaya Pasopati saat itu belum bisa memejamkan matanya. Meskipun ia mencoba melupakan bagaimana sikap Putri Arkadewi Bagaskara yang memang sangat berbeda.


"Sebenarnya masalah apa yang dihadapi gusti putri selama ini?. Sehingga ia berubah seperti itu?." Dalam hatinya tidak bisa memikirkan apa penyebabnya. "Mungkinkah saat berada di tempat pengasingan itu, gusti putri mengalami sesuatu yang membuatnya ingin melindungi seseorang?." Mungkin saja seperti itu yang terjadi?.


"Aku telah menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat saat itu." Ucapan Putri Arkadewi Bagaskara begitu jelas saat itu.


"Bukankah ada gusti prabu sebagai tempat bersandar hukum?. Apakah gusti putri tidak percaya dengan kejutan yang dimiliki gusti prabu?." Hatinya merasa sangat sesak dengan apa yang ia dengar.


"Jika ayahanda prabu adalah payung hukum, maka mereka akan hidup dengan damai." Balasnya.


Apakah yang akan dilakukan Raden Athaya Pasopati?. Bisakah ia menenangkan amarah Putri Arkadewi Bagaskara yang ingin memberikan hukuman pada petinggi istana?. Apakah ia bisa menghentikan Putri Arkadewi Bagaskara?.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2