TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 26


__ADS_3

...***...


Di pasar. 


Suasana pasar saat itu sangat ramai, karena mereka melihat hal yang sangat tidak wajar untuk dilihat pada saat itu. Sungguh pemandangan yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Apakah pemandangan yang tidak biasa itu?. Tentunya akan menjadi tanda tanya yang sangat besar bagi mereka saat itu. Siapa yang sanggup melihat ada tiga orang yang preman pasar, dan tiga orang prajurit Istana. Keadaan mereka sangat mengerikan, sehingga mereka ada yang muntah melihat itu.


"Bhuek!."


Siapa yang sanggup melihat itu semua, tentunya kau akan memuntahkan isi perutmu ketika melihat pemandangan yang sangat mengerikan yang tersaji di depan matamu.


"Ini sangat parah sekali." Mereka sungguh tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Bukankah mereka para penjahat yang sering memeras kita para pedagang di pasar kota raja?."


Bagi mereka yang sering terlibat dengan para penjahat itu, tentunya sangat mengenali mereka dengan sangat baik.


"Tapi kenapa mereka bisa mati seperti ini?." Mereka semua bertanya-tanya. Karena itu sangat membingungkan.


"Tapi ada beberapa prajurit yang ikut terbunuh."


Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di dalam pikiran mereka semua. Bagaimana mungkin ada prajurit yang mati dalam keadaan seperti itu?. Apakah mereka habis bertarung?. Tapi kenapa bisa seperti itu kondisi mereka?.


"Apa yang harus kita lakukan?."


Ada salah satu dari mereka yang berkumpul itu mengeluarkan pertanyaan seperti itu.


"Panggil saja prajurit lainnya. Serahkan saja semuanya pada mereka."


Tentunya mereka tidak ingin terlibat dalam masalah yang sangat mengerikan seperti itu.


Tak jauh dari sana, Mansu dan istrinya Amina melihat bagaimana kondisi mereka yang terkapar di tengah-tengah kerumunan massa.


"Aku yakin ini adalah pekerjaan dari pembunuh bayaran itu. Aku dengar jika pembunuh bayaran kejam itu berpihak pada rakyat kecil seperti kita." Mansu malah berpikiran seperti itu.


"Tapi ini terlalu sadis kakang." Amina tidak sanggup melihat itu.

__ADS_1


"Mungkin supaya para penjahat tidak akan berani mengulangi kesalahan yang sama, supaya tidak memeras kita lagi?." Mansu mengambil kesimpulan bahwa apa yang dilakukan pendekar pembunuh bayaran belati kegelapan untuk itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Patih Arya Pasopati baru saja hendak memasuki istana, akan tetapi pada saat itu ada seorang prajurit yang datang.


"Hormat hamba gusti patih." Ulam memberi hormat.


"Laporkan." Patih Arya Pasopati mempersilahkan Ulam untuk melapor?.


"Di tengah-tengah pasar kota raja, ada pembunuhan sadis, dan saat ini kami sedang mengatasinya gusti patih." Ulam agak keberatan mengatakan itu.


"Siapa korbannya?." Patih Arya Pasopati berdebar-debar bertanya pada prajurit kepercayaannya.


"Tiga orang preman pasar yang sangat meresahkan, serta tiga orang prajurit jaga yang selalu meronda di pasar gusti. " Ia hampir saja tidak bisa menahan rasa mual, ketika ia mengingat kembali bagaimana keadaan mereka.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan ke sana." Patih Arya Pasopati langsung bergerak.


"Apakah ini yang dikatakan oleh gusti putri arkadewi?." Dalam hati Patih Arya Pasopati mengingat apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu. Putri Arkadewi Bagaskara saat ini sedang berada di taman istana. Tempat itu adalah tempat yang sangat tenang baginya. Ia sangat suka ada banyak bunga dan tanaman yang sangat indah di sana.


"Kau ini sangat aneh sekali." Saat itu sosok kegelapan yang ada di dalam dirinya duduk dengan santainya di sampingnya. Akhir-akhir ini ia mengenakan topeng, seperti ia melakukan aksinya.


"Kau lah yang aneh. Bukan aku yang aneh." Putri Arkadewi Bagaskara melihat ke arahnya. "Apa yang membuatmu mengenakan topeng itu?." Putri Arkadewi Bagaskara sangat heran dengan dirinya yang lainya.


"Aku hanya merasa nyaman saja dengan penampilan seperti ini." Sosok itu tersenyum kecil sambil menatap awan yang bergerak dengan bebasnya di angkasa. "Dari pada kau umah kini hanya menggunakan topeng pemanis wajah yang sangat tidak kasat mata." Ia hanya tersenyum saja. "Tapi topeng pemanis wajah itu sangat menyeramkan dari apa yang dilihat oleh manusia biasa." Ia hampir saja tertawa saat membayangkan, jika dirinya adalah bagian dari diri Putri Arkadewi Bagaskara yang lainnya.


"Dunia yang kejam ini memang harus seperti ini." Putri Arkadewi Bagaskara memahami apa yang ia dengar. "Topeng pemanis wajah, bukankah kau yang membuat aku seperti ini?." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum kecil sambil melihat ke arah sosok itu. "Kau yang harus aku lindungi dibalik topeng pemanis wajah ini. Supaya kau bisa bergerak lebih leluasa." Putri Arkadewi Bagaskara tentunya memahami apa yang ia rasakan selama ini. "Jika ayahanda prabu berhasil menembus alam gaib kegelapan yang kau miliki, maka semaunya akan sia-sia. Jadi tetaplah bersembunyi dibalik topeng pemanis wajah ini." Putri Arkadewi Bagaskara masih memiliki tujuan lain, sehingga ia tidak keberatan sama sekali memiliki sifat yang seperti itu.

__ADS_1


Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang membuat Putri Arkadewi bisa seperti itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Raden Athaya Pasopati saat ini sedang melihat keramaian yang tidak biasa. Di tengah-tengah pasar kota raja. Tentunya itu bukanlah kerumunan yang biasa, apalagi mereka ada yang terlihat ingin muntah?.


"Apa ynaga terjadi?." Raden Athaya Pasopati semakin mendekat. "Maaf paman?." Raden Athaya Pasopati menepuk pundak seseorang yang berdiri di depannya.


"Oh?. Raden athaya pasopati." Urong, itulah nama lelaki itu.


"Apa yang terjadi paman?. Kenapa mereka malah seperti ingin muntah seperti itu?." Raden Athaya Pasopati dengan sopannya bertanya seperti itu.


"Itu raden. Ada penemuan mayat yang bergelimpangan di sana." Urong memang sempat melihatnya.


"Mayat?." Raden Athaya Pasopati sangat terkejut.


"Benar raden." Balasnya.


"Gawat. Ini harus segera diberitahu pada ayahanda." Raden Athaya Pasopati hendak meninggalkan pasar. Akan tetapi pada saat itu ia melihat kedatangan ayahanda.


"Ayahanda?." Raden Athaya Pasopati memberikan hormat pada Patih Arya Pasopati.


"Nanda ada di sini?." Patih Arya Pasopati sempat heran dengan kedatangan anaknya?.


"Tadi nanda hanya ingin membeli sesuatu ayahanda. Tapi sepertinya nanda melihat ada yang aneh dengan mereka." Jawabnya agak malu-malu.


"Kalau begitu bantu ayahanda untuk mengamankan mereka semua." Patih Arya Pasopati segera meminta bantuan pada anaknya. Patih Arya Pasopati segera berjalan pergi menuju tempat kejadian?.


"Terima kasih atas informasinya paman." Raden memberi hormat pada Urong.


"Sama-sama raden." Urong juga memberi hormat pada Raden Athaya Pasopati.


Tapi pertanyaan adalah, apa yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah benar itu adalah perbuatan dari pendekar pembunuh bayaran Belati Hitam Kegelapan?. Simak terus ceritanya.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2