
...**...
Putri Arkadewi Bagaskara on.
Mungkin aku akan menceritakan kembali apa yang telah terjadi pada kisah sebelumnya. Rasanya aku sangat kesal dengan apa yang telah terjadi di kerajaan ini. Begitu banyak orang-orang busuk yang bersembunyi di balik topeng pemanis wajah. Apakah ayahanda Prabu tidak menyadarinya?. Apalagi dengan sikap kedua kakakku yang sangat menyebalkan. Mereka ingin menyingkirkan aku, mereka yang memiliki niat yang tidak baik padaku!.
"Jika seperti ini terus kita bisa gila, yunda." Rengek Putri Kasih Bagaskara dengan suara yang sangat lirih. "Jika seperti ini dia akan mengetahui apa yang telah kita lakukan yunda. Aku tidak ingin dia membongkar apa yang telah kita lakukan selama ini." Ia sangat frustasi saat itu. "Jika kita ketahuan, bisa jadi kita dihukum mati. Aku tidak ingin itu terjadi pada kita yunda." Putri Kasih Bagaskara sampai menangis saat memikirkan, jika ia mengalami kejadian itu.
"Tenanglah rayi. Itu tidak akan pernah terjadi pada kita." Putri Kenanga Bagaskara mencoba untuk menenangkan adiknya. "Jika dia bisa?. Kenapa kita juga tidak bisa?." Pandangannya saat itu terlalu jauh memikirkan hal yang tidak biasa.
"Bisa?. Memangnya kita bisa apa yunda?." Putri Kasih Bagaskara menyeka air matanya. Ia belum mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
Saat itu mereka sedang mengurung diri, itu karena mereka belum berani keluar dari kaputren. Tentu saja mereka takut gerak-gerik mereka akan terciduk langsung oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Mereka benar-benar harus berhati-hati jika ingin keluar dari kaputren.
"Kita harus bisa belajar ilmu kanuragan." Jawabnya dengan sangat santainya?.
"Apa?. Belajar ilmu kanuragan?!." Putri Kasih Bagaskara sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. "Apakah yunda bercanda?. Bagaimana mungkin kita bisa belajar ilmu kanuragan?. Dan untuk apa kita belajar ilmu kanuragan?." Putri Kasih Bagaskara tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran kakaknya.
"Coba kau pikir dengan baik ucapan ku ini rayi." Ia menepuk pundak adiknya dengan pelan. "Kita tidak mungkin berhenti begitu saja dengan apa yang telah kita lakukan. Jadi jika suatu hari nanti kita tertangkap?. Kita bisa melakukan perlawanan!. Ada kemungkinan kita bisa melenyapkannya dengan menggunakan ilmu kanuragan yang telah kita pelajari." dengan penuh percaya diri ia mengungkapkan ide yang ada di dalam kepalanya saat itu pada adiknya.
__ADS_1
"Tapi yunda?. Pada siapa kita akan belajar ilmu kanuragan itu?." Putri Kasih Bagaskara masih ragu. "Bagaimana jika ayahanda prabu dan ibunda ratu nantinya bertanya alasan kita belajar ilmu kanuragan?. Apa yang akan yunda jawab nantinya?." Putri Kasih Bagaskara tidak bisa memikirkan alasan yang jelas, untuk apa ia belajar ilmu kanuragan?.
"Kau tenang saja rayi. Aku telah memiliki ide yang sangat sempurna. Aku memiliki alasan yang tepat untuk meyakinkan ayahanda prabu dan ibunda ratu. Kau tidak perlu cemas dengan alasan apapun yang aku katakan nantinya." Sungguh, mental dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. "Kau hanya perlu mengikuti apa yang telah aku rencanakan. Apakah kau mengerti?. Rayi kasih?." Putri Kenanga Bagaskara sepertinya telah memiliki rencana yang sangat luar biasa yang akan ia gunakan nantinya?.
"Baiklah, jika memang yunda berkata seperti itu." Putri Kasih Bagaskara tidak lagi membantah atas apa yang telah dikatakan kakaknya. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Nah?. Lihat?. Mereka malah ingin belajar ilmu kanuragan untuk mengalahkan aku?." Putri Arkadewi Bagaskara sangat emosi melihat ini. "Namun sayangnya aku hanyalah narasi saja. Tapi suatu hari nanti aku janji akan membunuh mereka juga." Suasana hatiku sedang buruk hari ini, jadi kalian jangan banyak tanya.
Di kediaman Dharmapati Andapati Saresa.
Deg!.
"Kenapa kondisinya bisa seperti ini?. Apa yang terjadi sebenarnya?." Raden Athaya Pasopati sungguh sangat tidak tega melihat keadaan seperti itu.
"Kami hanya bisa memindahkan jasad beliau saja. Karena kami tidak berani untuk mencabut belati hitam kegelapan itu dari tubuh beliau. Kekuatan kami tidak bisa menyentuh belati hitam kegelapan itu." Jawab Muji, salah satu prajurit yang mengantar Raden Athaya Pasopati ke rumah Dharmapati Andapati Saresa.
"Sungguh sangat mengerikan sekali. Di saat ayah anda tidak ada di sini?. Ternyata masih saja terjadi hal yang sangat mengerikan seperti ini." Raden Athaya Pasopati merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi?. Apakah ia tidak bisa membantu sama sekali?. Meskipun ia adalah seorang anak dari patih yang terkenal di kerajaan Mahamega Suci?.
"Memang sungguh sangat memperhatikan raden." Muji juga dapat merasakan itu. "Lalu apa yang akan kita lakukan raden?. Saya tidak berani mencabut belati hitam kegelapan itu." Tentu saja ia takut. "Kabar yang saya dengar, belati hitam kegelapan ini dapat menyerang siapa saja yang tidak memiliki kekuatan tenaga dalam, maka ia akan diserang. Maafkan saya raden, saya tidak bisa mencabutnya." Lanjutnya dengan sikap pasrah?.
__ADS_1
"Aku katakan sekali lagi, aku memang sangat muak dengan mereka, sehingga aku ingin membunuh mereka semua." Aku sangat marah. "Jika kalian bertanya siapa sosok misterius yang telah melakukan pembunuhan itu?. Maka jawabannya?. Jawab di tempat kolom komentar." Aku sedang malas menjawab. "Selain itu aku juga ingin melihat bagaimana kerja dua orang pemuda yang telah berani mengincar aku waktu itu."
Jala Hitam dan Mata Elang saat itu telah berada di kediaman Senopati Bagustara Jaya. Apakah kalian masih bertanya apa alasannya sayang ke sana?. Tentunya kalian telah mengetahui alasan kenapa mereka berada di sana, bukan?.
"Salam hormat kami, gusti senopati." Jala Hitam dan Mata Elang memberi hormat.
"Aku belum pernah melihat kalian. Prajurit dari mana kalian?." Pertanyaan itu menurut prasangka buruk pada kedua prajurit itu?.
"Orang ini sangat sombong sekali!. Pantas saja gusti putri arkadewi bagaskara memanggilnya!." Dalam hati Jala Hitam sangat tidak suka mendengarkan ucapan Senopati Bagustara Jaya.
"Sombong sekali kau patung monyet jahanam!. Aku tidak sabar lagi melihat kau dibunuh oleh gusti putri arkadewi bagaskara!." Dalam hati Mata Elang sangat mengutuk pria Agung itu.
"Hei!. Apakah kalian tuli?!. Aku bertanya pada kalian!." Bentak Senopati Bagustara Jaya dengan sangat jengkelnya. "Berani sekali kalian melamun?!. Dan kalian telah berani mengabaikan pertanyaan dariku?!." Hatinya saat itu sedang tidak bersahabat, sehingga ia ingin marah-marah?. Hanya karena merasa diabaikan oleh Jala Hitam dan Mata Elang?.
"Kami adalah utusan gusti putri arkadewi bagaskara." Jawab Jala Hitam. "Karena kau adalah salah satu dari banyak orang yang akan dibunuh olehnya!." Dalam hatinya ingin mengatakan seperti itu, namun mulutnya masih memiliki rem yang sangat cakram, sehingga ia tidak bisa mengatakan itu?.
"Sikap yang sangat sombong. Rasanya ingin sekali aku segera menghabisinya jika aku ingat aku masih ada rencana lainnya." Aku berusaha menahan diriku agar aku tidak segera melakukan itu. "Apalagi kegelapan yang ada di dalam hatinya benar-benar membuat aku sangat muak sekali. Mau sampai kapan aku bertahan dengan sikap sombongnya itu?." Aku hanya bisa menahannya dalam beberapa waktu ini saja. Aku juga ingin melihat bagaimana reaksi kalian yang sebenarnya." Itu saja.
...***...
__ADS_1