TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 47


__ADS_3

...***...


Senopati Ratapikir Dermawan, Muji dan Pajara masih sabar menunggu, atas apa yang terjadi sebenarnya?. Bagaimana mungkin Raden Athaya Pasopati bisa seperti itu?.


"Sebenarnya apa yang dilihat oleh raden athaya pasopati?. Sehingga ia seperti itu?." Senopati Ratapikir Dermawan penasaran.


"Saya tidak tahu gusti senopati." Muji memang melihat seperti itu dari awal. "Entah kenapa, ketika raden athaya pasopati seperti itu sejak menyentuh belati hitam kegelapan itu." Muji juga tidak mengerti.


Deg!.


Saat itu Raden Athaya Pasopati telah kembali dari alam bawah sadarnya setelah melihat apa saja yang terjadi pada Senopati Andapati Saresa.


"Uhuk!. Uhuk!." Raden Athaya Pasopati merasa sesak, hingga ia terbatuk-batuk.


"Raden!." Senopati Ratapikir Dermawan, Muji dan Pajara sangat terkejut melihat itu.


"Apa yang terjadi sebesar raden?. Kenapa malah seperti ini?." Senopati Ratapikir Dermawan berusaha untuk menenangkan Raden Athaya Pasopati.


Setelah agak tenang ia menceritakannya?. "Saya baru saja melihat apa yang menyebabkan paman senopati andapati saresa dibunuh." Raden Athaya Pasopati terlihat menggigil ketakutan.


"Benarkah?. Bagaimana bisa itu terjadi?. Katakan padaku." Senopati Ratapikir Dermawan terkejut, sekaligus merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Untuk saat ini kita harus mencari dataya. Dia adalah adik dari prajurit binto. Bisa jadi dia yang meminta bantuan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan untuk membunuh paman senopati andapati saresa." Raden Athaya Pasopati tadi dapat melihat itu dengan sangat baik atas apa yang diperlihatkan belati hitam kegelapan.


"Dataya?." Muji dan Pajara saat itu ingat dengan seseorang.


"Kalian kenal dengannya?." Senopati Ratapikir Dermawan melihat bagaimana reaksi mereka.


"Kami kenal dengannya gusti senopati." Jawab Muji. "Dia memang adiknya teman kami yang bernama binto." Lanjutnya.


"Kalau begitu kita harus mencarinya. Bisa jadi kita mengetahui keberadaan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu." Raden Athaya Pasopati terlihat panik.


Baiklah. Kalau begitu kami akan memanggilnya gusti senopati." Muji Memberi hormat.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan jasad gusti Senopati andapati saresa?." Patara sebenarnya tidak tega membiarkan atasannya begitu saja.


"Masalah ini serahkan pada kami." Jawab Raden Athaya pasopati. Kalian segera cari adiknya binto." Lanjutnya.


"Akan kami lakukan raden." Jawab Pajara.


"Kami pamit dulu, raden, gusti senopati. Sampurasun." Ucap keduanya.


"Rampes." Balas Senopati Ratapikir Dermawan dan Raden Athaya Pasopati.


Keduanya pergi meninggalkan tempat, karena ada hal penting yang harus mereka selesaikan. Namun, apakah yang akan dilakukan Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan setelah ini?. Simak terus Ceritanya.


...***...


Raden Parsa Endaru Masih bersama Putri Arkadewi Bagaskara. Pembicaraan Mereka masih berlanjut, karena saat itu Putri Arkadewi Bagaskara mengatakan jika ia ingin mengubah topik pembicaraan.


"Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya raden mengalami sedikit Perubahan." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.


"Raden terlihat sedikit berani menghadapi masalah. Meskipun masalah itu berhubungan denganku." Jawabnya.


Raden Darsa Endaru hanya tersenyum kecil saja memang ia akui seperti itu yang terjadi.


"Lalu bagaimana pendapatmu tentang aku?." Putri Arkadewi Bagaskara yang bertanya. Mendengarkan pertanyaan seperti itu, rasanya Jantung Raden Athaya pasopati sangat tidak karuan. "Wanita ini sangat licik, namun sangat pintar membuat seseorang takluk padanya." Dalam hati Raden Darsa Endaru merasa tidak nyaman. "Saat aku menuju istana ini, aku mendengarkan rakyat yang mengatakan tentang dirimu." Dengan agak ragu, dan perasaan takut ia berkata seperti itu. Walaupun kesannya belum menyambung dengan pertanyaan Putri Arkadewi Bagaskara.


Lalu bagaimana dengan tanggapan Putri Arkadewi Bagaskara?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu, Ratu Astina tampak sangat gelisah. Dalam hatinya masih belum bisa tenang sama sekali. Kebetulan saat itu Ratu kemala melihat itu.


"Ada apa rayi?. Kau terlihat sangat gelisah." Ratu Kemala sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh Ratu Astina yang termenung dengan raut wajahnya yang sangat kusut.


"Saat ini saya aku sangat gelisah." Jawabnya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu gelisah rayi?. Katakan padaku, kegelisahan seperti apa yang kau rasakan?." Ratu kemala semakin penasaran.


"Ini tentang putriku." Jawabnya dengan perasaan yang semakin gelisah.


"Maksudmu?. Ananda putri arkadewi ?." Ia kembali bertanya. "Memangnya apa yang sedang terjadi padanya?. Sehingga kau tampak secemas itu?." Itulah yang menjadi pertanyaannya.


"Entah kenapa aku sangat cemas padanya. Aku sangat cemas setelah apa yang diperlihatkan padaku saat itu yunda." Ratu Astina hampir saja menangis saat menceritakan itu.


"Memangnya apa yang diperlihatkan ananda putri paclamu ?. Rayi?." Ia semakin penasaran?.


Bagaimana dengan jawaban dari Ratu Astina?. Simak terus ceritanya.


...***...


Mau sampai kapan putri Arkadewi Bagaskara akan berbicara dengan Raden Darsa Endaru?. Bahkan saat itu?.


"Bagaimana menurut raden?." Dengan Senyuman yang ramah ia berkata, ah!. Lebih tepatnya sedang bertanya. "Apakah seorang wanita tidak boleh duduk di barisan hukum?. Ataupun bahkan berdiri di barisan perang?. Aku ingin mendengarkan jawaban darimu." Ucapnya.


Raden Darsa Endaru sedikit memikirkan jawaban itu?. "Menurutku, seorang wanita yang duduk dibarisan hukum, ataupun dibarisan perang." Ia sedikit menjeda ucapannya. "Wanita itu tentulah sangat kuat. Wanita yang sangat luar biasa." Lanjutnya. "Aku memang belum pernah melihatnya. Hingga-." Ucapnya terputus.


"Hingga raden ingin memilikinya?." Dengan raut wajah tanpa dosa ia malah bertanya seperti itu.


Deg!.


Perasaan suasana hatinya saat itu benar-benar Sangat bercampur aduk mendengarkan ucapan putri Arkadewi Bagaskara.


"Dari raut wajah raden tergambar sangat jelas. Jadi aku mengatakannya saja." Tanpa perasaan bersalah ia berkata seperti itu.


"Jika aku boleh jujur. Aku memang sangat ingin memilikinya." Jawabnya. "Aku tidak dapat lagi membohongi perasaanku." Ungkapnya. "Kau adalah satu-satunya wanita yang sangat kuat!. Yang penah aku temui di dunia ini." Hatinya sangat sakit saat itu. "Dengan sangat mudahnya kau membaca pikiranku. Kau sangat licik!. Namun kau adalah wanita yang sangat pintar. Aku sangat terkesan padamu arkadewi!." Ia telah mengatakan apa yang ia rasakan saat itu. "Namun dengan bodohnya aku dapat ditaklukkan olehmu." Ada perasaan sakit yang ia rasakan. "Kau benar-benar wanita yang sangat kuat !. Sehingga nyaliku!. Hatiku!. Perasaanku!. Bahkan rencanaku untuk menjatuhkan dirimu!. Semuanya telah hancur berantakan!. Padahal aku telah menyiapkannya dengan sangat sempurna.. Tapi kenapa aku masih kalah darimu?. Raden Darso Endaru benar-benar mengeluarkannya. "Semuanya benar-benar sangat hancur berantakan!. Hancur berkeping-keping hanya karena ucapanmu!." Suasana hatinya saat itu benar-benar sangat panas. "Aku telah kalah darimu arkadewi!. Kau adalah wanita yang sangat kuat!." Ungkapnya lagi dengan perasaan yang sangat sesak.


Apakah pembicaraan mereka masih berlanjut?. Apa lagi yang akan mereka bahas?. Setelah Putri Arkadewi Bagaskara mempermainkan suasana hati Raden Darsa Endaru?. Apakah ia akan kalah nantinya?. Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2