
...***...
Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan tak dapat menahan tawanya ketika melihat bagaimana reaksi kedua pemuda itu.
"Kalian berdua ini sangat berlebihan sekali, aku tidaklah seseorang itu." Ucapnya sambil melepaskan topeng yang menutup wajahnya.
Tidak ada jawaban dari keduanya karena mereka tidak berani untuk mengeluarkan kata-kata pun saat itu.
"Aku telah berhasil membunuhnya." Ucapnya dengan senyuman ramah.
"Membunuh siapa?." Dengan hati-hati Jala Hitam dan Mata Elang bertanya seperti itu.
"Tentu saja aku telah berhasil membunuh dharmapati andapati saresa." Jawabnya dengan sangat santai.
"Sungguh sangat mengerikan sekali." Dalam hati Mata Elang dan Jala Hitam sangat merinding, membayangkan bagaimana caranya putri Arkadewi Bagaskara melakukan itu.
"Aku akan menghabisi mereka secara langsung, jika mereka tidak mau memenuhi panggilanku." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat sangat marah.
"Tapi, kejahatan apa yang telah ia lakukan?. Sehingga gusti putri sendiri yang memutuskan untuk membunuhnya?. Jala Hitam sangat penasaran.
"Begitu banyak kejahatan yang telah dia lakukan. Tapi kejahatan yang tidak bisa diampuni adalah, dia telah membunuh prajurit setianya yang memiliki istri yang sangat cantik." Putri Arleadei Bagaskara menjelaskan pada jalla Hitam dan Mata Elang.
"Perasaan cemburu telah membuat Seseorang menjadi gila." Jala Hitam tidak menduga itu.
"Apakah istrinya kurang cantik?. Sehingga ia merasa cemburu pada prajuritnya?. Sangat aneh sekali." Mata Elang tidak habis Pikir mengenai masalah Cinta.
"Sebaiknya kalian berdua juga beristirahat lah, karena Masih ada pekerjaan yang harus kalian lakukan." Putri Arkadewi Bagaskara Saat itu memang terlihat tersenyum manis, akan tetapi senyumannya itu terlihat sangat mengerikan dihadapan Jala Hitam dan Mata Elang.
"Akan kami laksanakan gusti putri." Keduanya hanya pasrah saja.
"Dia masih bisa tersenyum lembut setelah melakukan pembunuhan?. Sungguh wanita yang sangat mengerikan." Dalam hati Jala Hitam merasa takut dengan situasinya.
"Sebenarnya apa yang menjadi tujuannya untuk melakukan itu?." Dalam hati Mata Elang merinding ketakutan melihat senyuman Putri Arkadewi Bagaskara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya.
Telah tersebar kabar berita tentang hukuman mati yang akan dijalani oleh Tumenggung Daveda Maasa. Berita itu telah menyebar ke seluruh rakyat, sehingga pagi itu mereka sedikit ribut mengenai apa yang telah terjadi.
"Kemarin saya melihat ada dua orang prajurit yang datang ke rumahnya, saya pikir itu memang panggilan dari istana."
"Jadi benar jika iya dipanggil oleh gusti prabu?."
"Tidak!. Yang memanggilnya bukanlah gusti prabu, akan tetapi yang memanggilnya adalah gusti putri arkadewi bagaskara."
"Gusti putri arkadewi bagaskara?."
Mereka tidak menduga akan mendapatkan informasi seperti itu?.
"Apakah kalian tidak mendengar kabar?. Jika gusti putri arkadewi bagaskara telah diangkat menjadi prajurit khusus?. Untuk mengatasi masalah pria agung yang telah berbuat kejahatan selama ini."
"Bukankah itu sangat luar biasa sekali?. Ternyata gusti putri arkadewi bagaskara lebih memahami penderitaan rakyat."
"Kau benar. Kejahatan yang telah mereka lakukan sangat lah tidak bisa diampuni. Terutama tumenggung daveda maasa. Kabar yang aku dengar, ia telah menjual pada budak pada saudagar kaya."
"Sepertinya hukuman mati sangat tepat diberikan oleh gusti putri arkadewi bagaskara padanya."
"Semoga dengan diangkatnya gusti putri arkadewi bagaskara, keadaan negeri ini benar-benar aman."
Sepertinya mereka sangat memahami apa yang telah terjadi pada saat itu, sehingga mereka berani bergosip seperti itu untuk menghilangkan suntuk yang mereka rasakan pada saat itu.
...***...
Raden Athaya Pasopati kembali ingin bertemu dengan Putri Arkadewi Bagaskara. Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat gelisah sehingga ia ingin meminta penjelasan kembali.
"Saya mohon pada gusti putri. Jadikan saya prajurit khusus, yang akan membantu gusti putri untuk menghadapi masalah yang sedang terjadi." Raden Athaya Pasopati saat itu terlihat sangat memohon.
Putri Arkadewi Bagaskara tidak langsung menanggapi apa yang telah dikatakan oleh Raden Athaya Pasopati. "Matanya memang mengandung keseriusan yang sangat luar biasa. Akan tetapi aku tidak bisa melibatkan dirinya dalam masalah ini." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara tentunya ia tidak ingin melibatkan Raden Athaya Pasopati.
"Jika ada yang salah dengan kerajaan ini, mari kita lakukan bersama-sama untuk memperbaikinya." Raden Athaya Pasopati mencoba untuk membujuk Putri Arkadewi Bagaskara.
"Ini adalah tugasku kewajiban, yang dapat aku lakukan untuk melindungi semua rakyat yang telah menderita selama ini." Jawab Putri Arkadewi Bagaskara dengan senyuman yang sangat ramah. "Percayalah!. Aku akan melakukannya dengan sangat baik sebagai seorang putri kerajaan." Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu memperlihatkan senyumannya yang sangat ramah.
__ADS_1
"Gusti putri." Dalam hati Raden Athaya Pasopati pada saat itu benar-benar sangat cemas dengan apa yang telah dilakukan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadinya.
...***...
Di tempat Patih Arya Pasopati.
Setelah beberapa hari tinggal di sana sepertinya ia benar-benar mengamati bagaimana saja kegiatan yang telah mereka lakukan selama ini. Pada saat itu ia sedang bersama seseorang?.
Tentunya itu adalah kepala desa yang saat itu masih menjabat di desa itu.
"Pada saat itu juga terjadi perampokan yang sangat ganas." Malindra, itulah nama kepala desa yang terlihat masih muda?. "Pada saat itu kami telah melaporkan masalah itu pada istana. Akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali gusti Patih." Hatinya sangat sedih mengingat apa yang telah terjadi.
"Tapi saya tidak menerima laporan apapun saat itu." Patih Arya Pasopati merasa sangat heran.
"Sungguh, kami telah mengirim surat itu. Tapi tidak ada bantuan yang datang. Hamba tidak berdusta gusti patih." Sungguh, hatinya sangat iba. "Hingga saat itu, ada seorang pendekar dengan mengenakan topeng hitam, ia bantai semua perampok itu." Ia masih sangat ingat dengan kejadian itu.
"Eh?. Benarkah?." Patih Arya sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Benar gusti patih. Kami telah menyaksikan itu." Jawabnya. "Bagaimana saat itu dia membunuh mereka semua." Lanjutnya.
"Tapi kenapa mereka malah kembali?. Itulah yang menjadi tanda tanya kita semua, bukan?." Patih Arya Pasopati sedikit bingung.
"Mungkin itu adalah teman-teman mereka yang menaruh dendam pada pendekar bertopeng itu gusti patih." Itu hanyalah kemungkinan saja?.
"Bisa jadi seperti itu." Patih Arya Pasopati tidak langsung mengiyakan. "Kalau begitu kita tetap harus waspada." Patih Arya Pasopati akan melakukan tugasnya dengan sangat baik.
"Terima kasih karena gusti patih kali ini bersedia membantu kami." Malindra sangat bersyukur untuk itu.
"Maafkan aku, jika aku telah lalai." Ada perasaan bersalah yang ia rasakan pada saat itu.
Lalu apakah yang akan ia lakukan untuk menebus kesalahannya itu?.
Next.
...***...
__ADS_1