TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 57


__ADS_3

...***...


Pada saat itu prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedang bersama Ratu Astina. Suasana hatinya pada saat itu benar-benar masih gelisah dan ia menangis menceritakan apa yang ya rasakan pada saat itu.


"Kanda sangat heran dengan apa yang dinda katakan." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita rasanya tidak percaya jika anaknya akan memperlihatkan sesuatu yang membuat istrinya itu menangis. "Kalau begitu besok kanda akan datang menemuinya." Mungkin hanya itu yang dapat kita lakukan pada saat itu. "Akan kanda tanyakan langsung mengenai masalah ini padanya." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita juga ingin mendengarkan langsung pengakuan dari anaknya.


"Baiklah kanda prabu. Dinda harap kanda bisa memberikan masukan padanya. Karena dinda sangat cemas pada putri kita kanda." Ratu Astina mencoba untuk menghentikan tangisannya.


"Dinda tidak usah cemas, karena akan berusaha berbicara dengannya dengan perlahan-lahan." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mencoba untuk menenangkan istrinya itu. "Sebenarnya penglihatan seperti apa yang diperlihatkan oleh putriku itu?. Sehingga dinda astina menjadi seperti ini?." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. "Kalau begitu dinda istirahatlah, jangan terlalu memikirkan apa yang telah diperlihatkan oleh putri kita." Prabu Maharaja Ganendra mengelus kepala istrinya dengan sayang.


"Baiklah kalau begitu kanda prabu. Dinda akan mencoba melupakannya." Ratu Astina mencoba menguatkan hatinya agar tidak terlalu terbawa suasana.


"Tabahkanlah dirimu wahai dinda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita berkata dengan senyuman manis agar istrinya kembali tersenyum.


Apakah yang akan dilakukan oleh sang Prabu?. Simak terus ceritanya.


...**...


Sementara itu, malam sedang menyongsong menuju puncaknya. Di kediaman Senopati Bagustara Jaya. Saat itu ia merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa setelah ia didatangi oleh dua orang utusan yang mengaku diperintahkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Namun bukan hanya itu saja yang membuat ia gelisah, ancaman mengenai pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan lah yang membuatnya semakin gelisah.


"Sial!. Malam ini aku juga belum bisa tidur. Kenapa aku masih memikirkan ucapan dua orang prajurit rendahan itu?." Senopati Bagustara Jaya sampai mengumpat kesal karena pikirannya saat itu benar-benar sangat kusut. "Kalau seperti ini terus, aku benar-benar akan gila!." Ya, itulah yang ia rasakan pada saat itu. "Apakah benar dia benar-benar mengetahui apa yang telah kau lakukan selama ini?. Sehingga dia datang padaku?. Bahkan dia memerintahkan dua orang prajurit yang sama sekali tidak aku ketahui untuk menjemputku." Suasana hatinya yang pada saat itu membuatnya benar-benar seperti orang yang kehilangan kendali. "Sial!. Aku benar-benar frustasi dengan apa yang akan aku hadapi saat ini." Sudah beberapa kali ia mengumpat sejak tadi. "Tapi rasanya aku tidak mungkin mengakui apa yang telah aku lakukan padanya. Tentunya aku juga akan mendapatkan hukuman darinya." Hatinya yang pada saat itu benar-benar sangat gundah karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana pertarungannya dengan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. "Aku telah mendengar beberapa senopati dan dharmapati telah terbunuh oleh pendekar hitam kegelapan itu." Tentunya ia mendapatkan informasi itu dari teman-temannya yang lainnya yang bekerja di istana. "Seberapa hebat kekuatan yang dimiliki oleh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu?. Sehingga putri arkadewi bagaskara mengeluarkan kata-kata itu untuk mengancam aku?." Dalam hatinya bertanya-tanya pada dirinya sendiri, seberapa kuatnya pendekar pembunuh bayaran berlatih hitam kegelapan itu?. "Dengan mudahnya dia membunuh orang-orang yang dia incar?. Bahkan gusti prabu sendiri tidak bisa mengetahui siapa pembunuh itu." Kepalanya terasa berdenyut ketika memikirkan itu.


Langkah apa yang akan ia gunakan untuk mengatasi masalahnya?. Apakah ia akan menggunakan berbagai cara untuk menghadapi pendekar pembunuh bayaran melati hitam kegelapan itu?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara pada malam itu masih terjaga karena mereka ingin mempersiapkan apa segala hal yang akan ia bawa nantinya. Keduanya telah mendapatkan persetujuan dari Prabu Maharaja Ganendra Ardajita, bahwa keduanya akan memperdalami ilmu kanuragan.


"Syukurlah apa yang kita rencanakan telah berjalan sesuai dengan rencana, yunda." Putri Kasih Bagaskara sangat senang dengan apa yang telah mereka rencanakan.


"Ayahanda prabu pasti akan selalu menuruti apa yang aku katakan." Balasnya dengan penuh percaya diri. "Ayahanda prabu tentunya sangat menyayangi kita. Jadi tidak akan mungkin rasanya ayahanda prabu menaruh rasa curiga pada kita." Ucapnya lagi.


"Lantas?. Apakah kita benar-benar akan mempelajari ilmu kanuragan di sana nantinya?." Putri Kasih Bagaskara sebenarnya merasa keberatan jika ia memang mempelajari ilmu kanuragan.


"Kau tenang saja rayi. Tidak perlu terlalu banyak kita mempelajari ilmu kanuragan. Yang penting satu jurus yang sangat mematikan yang akan kita gunakan nantinya." Jawabnya. "Satu jurus satu pukulan yang akan mencabut nyawa arkadewi nantinya." Itulah tujuan yang mengapa ia belajar ilmu kanuragan.


"Yunda benar." Putri Kasih Bagaskara sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. "Kita tidak perlu terlalu banyak mempelajari ilmu kanuragan. Cukup satu saja, tapi jurus itu bisa kita gunakan untuk membunuh wanita busuk itu." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar membara membayangkan apa yang akan ia lakukan pada adik bungsunya itu.


Namun siapa yang menduga, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dan dua pasang telinga yang mendengarkan apa yang mereka bicarakan. "Tujuan kalian tidaklah baik. Tujuan itu pasti akan aku kembalikan kepada kalian." Dengan suara bisikan yang sangat menyeramkan sosok itu berkata seakan-akan iya ingin melakukan pembalasan atas apa yang dilakukan oleh kedua kakak beradik itu. Apakah keduanya bisa melakukannya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum kecil sambil melihat ke arah pakaian cantik pemberian dari Raden Darsa Endaru. Sebelum Raden Darsa Endaru pergi meninggalkan istana, ia sempat menghadiahi sebuah pakaian yang sangat cantik pada Putri Arkadewi Bagaskara.


Akan tetapi saat itu ada gangguan dari kedua kakaknya yang selalu saja ikut campur dengan apa yang ia kerjakan saat itu.


"Kau ini, sungguh wanita yang sangat menyedihkan." Setidaknya itulah yang diucapkan Putri Kasih saat itu. "Sebelumnya kau bersama raden athaya pasopati, dan hari ini kau bersama raden darsa endaru. Besok kau akan bersama siapa lagi?!." Ada perasaan yang tidak suka yang ia sampaikan pada saat itu.

__ADS_1


"Maaf gusti putri. Saya hanya teman saja. Gusti putri tidak usah-." Raden Darsa Endaru hendak menjelaskan, akan tetapi?.


"Asalkan kau tahu saja raden!. Dia ini adalah wanita liar!." Ucapnya dengan nada kesalnya. "Dia adalah wanita yang suka bermain dengan laki-laki, dia ini adalah wanita yang sangat hina!." Entah amarah dari mana?. Putri Kasih Bagaskara malah berkata seperti itu.


Raden Darsa Endaru saat itu sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan Putri Kasih Bagaskara.


"Harusnya raden tidak pernah bertemu dengan wanita liar ini. Aku yakin raden akan digoda olehnya. Dia ini sangat licik, suka memperbudak laki-laki." Putri Kenanga Bagaskara saat itu juga ikut berbicara.


Putri Arkadewi Bagaskara hanya diam saja, Karena pada saat itu ia benar-benar sangat malas berhadapan dengan kedua kakaknya itu. Hanya saja, Raden Darsa Endaru yang pada saat itu sedikit mengetahui tentang Putri Arkadewi Bagaskara membalas ucapan keduanya.


"Rasanya kami sangat malu memiliki adik seperti dia." Ucap Putri Kasih Bagaskara.


"Ya, sangat malu sekali. Karena dia menjadi aib keluarga istana." Sambung Putri Kenanga Bagaskara dengan kesalnya.


"Apakah gusti putri arkadewi, tidak merasa malu memiliki kedua yunda seperti mereka?." Raden Darsa Endaru malah bertanya seperti itu.


"Apa?." Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara sangat terkejut mendengarkan ucapan itu.


"Kalau aku, rasanya lebih sangat malu memiliki dua orang yunda seperti kalian yang tidak memiliki tata krama ketika ada tamu penting seperti aku." Ucapnya sambil tersenyum kecil.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2