
...***...
Di istana kerajaan Mahamega Suci.
Putri Arkadewi Bagaskara masih bersama sosok hitamnya. Keduanya belum juga bertindak meskipun telah menyuruh Jala Hitam dan Mata Elang untuk memanggil Senopati Bagustara Jaya.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?. Kenapa kau belum juga membunuhnya?. Ini sudah hampir dua hari." Sosok Hitam itu bertanya.
"Inilah letak keseruannya." Jawabnya dengan senyuman yang ramah.
"Oh?. Kau sedang merencanakan sesuatu?." Sosok Hitam itu merasa tertarik dengan ucapan tubuh aslinya itu.
"Tentu saja aku memiliki rencana yang sangat hebat." Dengan penuh kebanggaan itu berkata seperti tiu. "Akan aku buat dia lengah, atau dia merasa memiliki beban pikirannya. Apakah benar yang dikatakan jala hitam dan mata elang mengenai ancaman itu.
"Huffh!. Kau ini terlalu banyak rencana, sehingga aku tidak bisa mengikuti semua apa yang kau inginkan." Sosok hitam itu hanya menghela nafas dengan sangat lelah.
"Tapi rasanya aku sangat ingat dengan raka dewangga saat ini." Ucapnya sambil mengingat kakaknya yang telah pergi beberapa Minggu yang lalu.
"Bagaimana perasaan yang kau rasakan terhadap raka dewangga?." Sosok Hitam itu seakan-akan sengaja bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Bagiku dia adalah raka yang sangat sayang padaku. Apalagi setelah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu." Balasnya dengan herannya.
Kembali ke masa itu.
Saat Putri Arkadewi Bagaskara dan Raden Dewangga Bagaskara sedang berbincang-bincang. Sebagai saudara yang sudah lama tidak bertemu tentunya ia sangat merindukan adiknya itu. Sebagai kakak yang sangat perhatian pada adiknya tentunya ia sangat menyayangi adiknya itu.
"Sepuluh tahun rayi dewi. Kenapa kau pulang begitu lama ke istana ini?." Raden Dewangga Bagaskara benar-benar telah mengeluarkan semua perasaan sesaknya. "Apa yang membuatmu betah berada di sana?. Sehingga kau tidak memiliki keinginan untuk pulang ke istana ini?. Katakan pada rakamu ini rayi dewi?." Raden Dewangga Bagaskara sangat heran dengan pemikiran adiknya yang sama sekali tidak bisa ia tebak. Ia hampir saja menangis mengingat berapa lama adiknya tidak berada di istana Kerajaan Mahamega Suci.
"Aku hanya melakukan hal yang pantas saja di sana raka." Jawabnya dengan senyuman yang ramah. "Banyak hal yang harus aku kerjakan di sana. Mungkin jika aku ceritakan, maka raka tidak akan percaya dengan apa yang telah aku katakan ini." Dengan agak ragu ia menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Memangnya apa yang kau lakukan di sana rayi dewi?." Raden Dewangga Bagaskara sangat heran mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu. "Hal penting apa yang membuatmu sepuluh tahun berada di sana?." Ia sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran adiknya itu. "Kenapa kau tidak mengatakan satupun masalahmu di sana padaku rayi dewi?." Raden Dewangga Bagaskara menjadi lebih cerewet dari yang sebelumnya.
"Kau ini sangat aneh sekali rayi dewi." Raden Dewangga Bagaskara mengernyitkan keningnya. "Dari ucapanmu itu seakan-akan kau sedang menanggung beban yang sangat berat sekali, rayi dewi." Sebagai seorang kakak ia merasakan hal yang tidak wajar disembunyikan oleh adiknya pada saat itu. Namun ia mencoba menepis pemikirannya yang jahat itu, karena ia percaya bahwa adiknya tidak akan melakukan hal-hal yang aneh di luar dugaannya.
"Lalu bagaimana dengan raka sendiri?." Kali ini gantian Putri Arkadewi Bagaskara yang bertanya pada Raden Dewangga Bagaskara. "Sepuluh tahun ini, apa yang telah raka lakukan?." Putri Arkadewi Bagaskara sepertinya mengalihkan topik pembicaraan. "Apakah raka telah berhasil menaklukkan hati tuan putri itu?." Sebelum pergi meninggalkan istana, tentunya ia mengetahui apa saja yang telah dilakukan oleh kakaknya itu. Termasuk ketika kakaknya itu jatuh cinta pada seorang putri raja dari negeri lain, mungkin karena terpisah oleh jarak dan waktu tentunya mereka jarang bertemu sehingga cinta mereka tidak tahu akan ke arah mana.
"Jika masalah itu yang kau tanyakan-." Entah kenapa pada saat itu suasana hatinya sedang tidak baik ketika adiknya bertanya mengenai masalah itu. "Aku dengar dia telah dilamar oleh pangeran lain dari negeri lain. Sepertinya aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkannya." Raden Dewangga Bagaskara terlihat sangat sedih. Cintanya hanya sekedar batas kekaguman dan harapan saja, sehingga ia tidak mendapatkan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Sangat disayangkan sekali raka, padahal aku sangat berharap dia akan menjadi kakak yang baik untukku nantinya." Putri Arkadewi Bagaskara sangat bersimpati pada nasib kakaknya yang sangat malang dalam masalah percintaan.
__ADS_1
"Itulah nasib seseorang yang rayi dewi." Raden Dewangga Bagaskara menyentil pelan kening adiknya itu.
"Ekgh." Putri Arkadewi Bagaskara sedikit meringis. "Um." Putri Arkadewi Bagaskara mengusap keningnya dan ia terlihat sedikit manyun.
"Kita tidak mengetahui dengan siapa kita akan bersama nantinya. Karena itulah kita tidak boleh bersedih, ataupun putus asa, hanya karena kita tidak mengetahui itu." Raden Dewangga Bagaskara telah menguatkan hatinya untuk tidak bersedih karena seorang wanita yang telah meninggalkan dirinya.
"Raka sangat luar biasa sekali. Raka mampu menguatkan hati dan pikiran raka, untuk tidak melakukan hal-hal yang aneh, hanya karena ditinggalkan oleh seorang wanita." Putri Arkadewi Bagaskara tertawa kecil mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh kakaknya itu.
"Kau ini ada-ada saja rayi dewi." Raden Dewangga Bagaskara hanya menghela nafasnya dengan pelan mendengarkan ucapan adiknya. "Bukan hanya ayahanda atau ibunda kita yang malu. Tapi aku sendiri yang malu, jika aku melakukan hal-hal yang bodoh, hanya karena ditinggalkan seorang wanita." Raden Dewangga Bagaskara tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan hanya karena patah hati?. "Tentunya aku tidak akan melakukan hal-hal yang dapat merusak nama baik diriku, juga merusak harga diriku rayi dewi." Dengan sangat tegas ia berkata seperti itu pada adik perempuannya.
"Kau sangat hebat sekali raka. Aku sangat bangga memiliki seorang raka sepertimu." Ia benar-benar mengagumi kakaknya itu, sehingga ia ingin memberikan sesuatu yang sangat luar biasa dengan sikap kakaknya yang sangat hebat itu. Sedangkan Raden Dewangga Bagaskara hanya tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya.
Kembali ke masa ini.
"Saat itu membuat aku kesal." Putri Arkadewi Bagaskara sangat kesal.
Apakah yang akan terjadi nantinya?. Apakah mereka bisa melakukan hukuman itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
__ADS_1