TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 8


__ADS_3

...***...


Topeng pemanis wajah.


Apakah orang zaman dahulu dan zaman sekarang telah menggunakan topeng pemanis wajah, untuk menutupi apa yang telah ia rasakan selama ini?. Tapi apa alasan ia melakukan lakukan itu?. Apa yang sedang ia ingin coba dengan melakukan itu semua?. Topeng pemanis wajah, kenapa kau menggunakan itu untuk menipu semua orang yang ada di sekitarmu?. Masalah hidup apa yang sedang kau rasakan?. Sehingga kau mampu menyembunyikan itu semua di balik topeng pemanis wajah itu?. Tapi keuntungan apa yang ia dapatkan dengan melakukan itu?. Apa yang sedang ia pikirkan ketika melakukan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi. Jangan sampai kau tertipu oleh penampilannya hanya karena dia menggunakan topeng pemanis wajah. Waspadalah terhadap orang-orang yang seperti itu, bisa jadi itu adalah senjata yang sangat mematikan untukmu suatu hari nanti.


...***...


Di Taman istana.


Raden Athaya Pasopati sangat gugup mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Saya juga baik-baik saja tuan putri." Ia terlihat sedang berusaha untuk menekan perasaan rindunya itu. "Namun yang tidak sehat itu adalah jantung saya tuan putri." Sungguh ia sangat gugup sehingga ia berkata seperti itu.


"Jantung?." Seketika reaksi Putri Arkadewi Bagaskara berubah. "Kenapa dengan jantung raden?." Tentunya ia bertanya kenapa dengan jantung Raden Athaya Pasopati.


"Jantung saya dari tadi berdegup dengan sangat kencang, Karena tidak tahan melihat kehadiran tuan putri pada saat ini. Itulah membuat jantung saya tidak sehat, tuan putri." Dengan polosnya ia berkata seperti itu. Tentunya itu mengundang gelak tawa dari Putri Arkadewi Bagaskara. Karena dari tadi ia sangat serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Athaya Pasopati.


"Bffh!." Putri Arkadewi Bagaskara berusaha untuk menahan tawanya, akan tetapi kalimat yang diucapkan oleh Raden Athaya Pasopati pada sangat lucu baginya, hingga ia tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


"Kenapa tuan putri malah tertawa?." Raden Athaya Pasopati terlihat sangat gugup ketika melihat Putri Arkadewi Bagaskara tertawa?. "Apakah saya terlihat sedang menghibur tuan putri?. Sehingga tuan putri tertawa seperti itu?." Raden Athaya Pasopati benar-benar terlihat sangat polos. Ia tidak suka bertanya seperti itu ada orang yang sangat ia cintai?.


Putri Arkadewi Bagaskara menghentikan tawanya sejenak, tentunya ia memahami bagaimana perasaan Raden Athaya Pasopati terhadap dirinya yang sesungguhnya. "Itu karena raden masih memiliki perasaan cinta terhadap saya. Sehingga raden berdebar-debar ketika melihat saya." Itulah yang dijelaskan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


Deg!.


Raden Athaya Pasopati semakin gugup mendengarkan ucapan itu. Ia akui memang sangat mencintai Putri Arkadewi Bagaskara. "Perasaan cinta saya tidak akan berubah sekarang sedikit pun terhadap tuan putri." Entah keberanian dari mana yang ia dapatkan sehingga ia berkata seperti itu.


"Saya juga masih mencintai raden. Di hati saya hanya ada raden saja." Putri Arkadewi Bagaskara juga mengungkapkan bagaimana perasaan yang ia rasakan pada saat itu.


Dua insan yang saling mengungkapkan perasaan cinta yang ada di hati mereka, itu adalah hal yang sangat luar biasa yang pernah terjadi. Tapi apakah yang akan terjadi kedepannya?. Hanya waktu yang akan menjawab semua itu.


...***...


Saat ini Patih Arya Pasopati sedang mengamati belati hitam yang sangat pekat kegelapannya. Ia mengamati bagaimana keadaan Senopati Gumelar Endang yang terbunuh dengan keadaan yang sangat mengerikan.


"Bagaimana mungkin seseorang bisa menciptakan senjata yang mengerikan seperti ini?." Entah kepada siapa yang bertanya pada saat itu namun ia tidak bisa menemukan jawabannya. "Belati hitam ini seperti memiliki kekuatan gaib yang sangat luar biasa." Ketika ia hendak menyentuh belati hitam yang tertancap di leher Senopati Gumelar Endang, ia merasakan adanya dorongan yang sangat luar biasa dari senjata itu?.


Patih Arya Pasopati sedang berusaha untuk mencabuti senjata mematikan itu, akan tetapi senjata itu seperti sedang berusaha untuk menyerangnya. "Kegh!." Patih Arya Pasopati mengalirkan tenaga dalamnya ke arah senjata itu supaya tidak menyerangnya. Sepertinya ada perlawanan yang sangat kuat dari senjata itu. Hawa kegelapan keluar dari senjata belati hitam itu, namun bukan hanya itu saja yang membuat Patih Arya Pasopati terkejut.

__ADS_1


Deg!.


Tiba-tiba saja ia seperti terseret ke dimensi lain, dimensi kegelapan yang tidak bisa ia ukur seberapa dalamnya kegelapan yang menarik dirinya itu. "Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa aku berada di dalam kegelapan yang sangat sesak ini?." Patih Arya Pasopati sangat bingung dengan apa yang telah terjadi padanya. Ia yang tadinya berada di bilik Senopati Gumelar Endang?. Bagaimana mungkin tiba-tiba saja ia berada di tempat yang serba dipenuhi kegelapan itu?. "Apa yang hendak di perlihatkan oleh belati terkutuk itu?." Tentunya ia bertanya-tanya kenapa iya dibawa ke tempat yang serba gelap itu.


"Diam kau bodoh!." Teriak seseorang dengan suara yang sangat kencang.


Deg!.


Patih Arya Pasopati sangat terkejut mendengarkan suara teriakan yang sangat keras itu. Ia berusaha untuk mencari arah sumber suara teriakan itu, matanya mencoba melihat ke sekitarnya. Tapi yang ada hanyalah kegelapan yang sangat luar biasa, tidak dapat melihat seseorang yang berteriak keras itu. Namun pada saat itu dia melihat gambaran di dalam kegelapan itu. Matanya semakin terbelalak terkejut ketika melihat gambaran itu.


"Oh?!. Demi Dewata yang agung!. Apa yang sebenarnya terjadi?!." Sungguh ia tidak mengerti dengan gambaran yang diperlihatkan oleh kegelapan itu.


Deg!.


Setelah melihat semua gambaran di dalam kegelapan itu, ia kembali ke semula. Nafasnya terlihat sedikit sesak, keringat telah membasahi tubuhnya itu. Ia belum sempat mencerna apa yang telah ia lihat tadi di dalam kegelapan itu. Sepertinya keterkejutannya itu belum selesai, ia sangat terkejut ketika melihat belati kegelapan itu telah berubah warna menjadi putih. Warna hitam yang sangat gelap itu telah berubah menjadi warna putih?. Dengan perlahan-lahan ia mencoba mencabuti pelatih itu. Dengan dialiri tenaga dalam ia mencabut belati itu. Tanpa adanya perlawanan melati itu berhasil dicabut oleh Patih Arya Pasopati. "Apa yang terjadi sebenarnya?. Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa dia memperlihatkan hal yang mengerikan itu padaku?." Sungguh ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang telah terjadi, sepertinya ia mengetahui alasan kenapa Senopati Gumelar Endang bisa dibunuh oleh seseorang yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. "Kenapa kau bisa melakukan perbuatan keji itu senopati?." Sungguh sangat miris yang ia rasakan pada saat itu.


Apakah yang terjadi sebenarnya?. Apa yang telah dilihat oleh Patih Arya Pasopati pada saat itu?. Mau tahu jawabannya seperti apa?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2