TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 35


__ADS_3

...***...


Putri Arkadewi Bagaskara telah memanggil Tumenggung Daveda Maasa. Kejahatan apakah yang telah dilakukan olehnya?. Sehingga ia masuk dalam daftar panggilan dan Tumenggung Daveda Maasa?.


"Baiklah. Jika kau tidak ingat dengan tiga dosa yang kau lakukan, maka aku yang akan membantumu mengingatnya."


"Gusti putri. Hamba memahami jika gusti putri selama di luar istana setelah menjalani hukuman buangan, gusti putri menjadi seorang pendekar untuk bertahan hidup. Tapi jangan samakan-."


"Dosa pertama, kau telah berani menjual wanita malang pada saudagar luar. Dan bahkan kau sempat bermain-main dengan mereka, sebelum kau jual mereka."


Deg!.


Tumenggung Daveda Maasa sangat terkejut mendengarkan ucapan itu. Padahal ia berniat merendahkan Putri Arkadewi Bagaskara yang selama ini menerima hukuman buangan?. Akan tetapi siapa yang menduga?. Jika putri Arkadewi Bagaskara mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang?. "Bagaimana mungkin?. Bagaimana mungkin dia mengetahui itu?." Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Tumenggung Daveda Maasa pada saat itu?. Apakah ia sangat terkejut mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara?.


"Dosa kedua yang kau lakukan adalah, kau mengambil paksa harta rakyat miskin yang selama ini berhutang padamu!. Dan mereka semua kau peras, bahkan ketika mereka tidak sanggup lagi membayar hutang yang tiada lunasnya itu."


Deg!.


Kembali ucapan Putri Arkadewi Bagaskara mengenai jantungnya. Ucapan itu memang sangat benar?. "Aku telah menerima sebuah laporan yang sangat mengiris hati. Seorang wanita tua yang sangat rentan, kau perlakukan dia seperti budak!. Setelah itu kau aniaya dia?!. Kau ini manusia atau binatang?!."


"Diam!. Kau tidak berhak mengorek semua kehidupan pribadiku!. Dan kau tidak berhak menghakimi aku seperti itu!."


Terjadilah perdebatan antara putri Arkadewi Bagaskara dan Tumenggung Daveda Maasa. Putri Arkadewi Bagaskara yang berhasil mendapatkan bukti atas kejahatan yang telah dilakukan Tumenggung Daveda Maasa, sedangkan ia sendiri masih membantah apa yang telah dilakukannya?.


"Tentu saja aku berhak atas masalah ini!. Karena kau!. Rakyat jadi menderita!. Mereka telah kehilangan keluarga mereka!. Harta mereka!. Kebahagiaan yang telah kau rampas dari mereka!. Apakah kau masih bisa aku sebut sebagai seorang manusia?!."


"Diam kau arkadewi bagaskara!. Kau itu hanyalah wanita buangan yang tidak tahu diri!. Tahu apa kau mengenai dunia ini?."


Duakh!.


Tanpa diduga, Putri Arkadewi Bagaskara melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras ke arah wajah Tumenggung Daveda Maasa, sehingga ia terjajar beberapa langkah, dan ia hampir saja jatuh dari kursi yang ia duduki tadi. Sementara Putri Arkadewi Bagaskara dengan amarah yang membara mengacungkan ujung pedangnya ke arah leher Tumenggung Daveda Maasa. Suasana hatinya saat itu benar-benar dipenuhi oleh kemarahan yang sangat luar biasa.

__ADS_1


"Kau tadi mengatakan, jika aku tidak berhak untuk mengorek kehidupan pribadimu?!."


"Heh!."


"Kalau begitu, secara pribadi aku akan membunuhmu!. Karena kau telah berani membunuh senopati manda apara. Senopati yang telah ditugaskan ayahanda prabu untuk bertanggungjawab atas masalah pajak istana?. Apakah kau ingat dengan dosa besar membunuh seorang senopati?."


Deg!.


Begitu banyak pukulan kenyataan yang ia dengar dari Putri Arkadewi Bagaskara mengenai dirinya?. Sejauh mana Putri Arkadewi Bagaskara mengetahuinya?.


"Kau tidak usah tutup mulut lagi. Aku telah mengetahui semua masalah pribadimu yang busuk itu. Dan hari ini, aku sebagai seorang pendekar buangan akan membunuhmu secara langsung!. Karena kau telah menyengsarakan rakyat!."


"Meskipun kau adalah seorang putri raja!. Aku tidak akan menyerahkan diriku pada seorang putri buangan seperti kau!."


Sepertinya Tumenggung Daveda Maasa sangat tidak terima dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Jadi kau ingin melawan aku?!."


"Kau telah berani mengorek semua tentang urusan pribadiku!. Akan aku perlihatkan padamu, bagaimana caranya membunuh seseorang tanpa ketahuan."


Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara sengaja mundur, ia ingin melihat sejauh mana kekuatan yang dimiliki oleh Tumenggung Daveda Maasa. Ia ingin menguji seberapa dalamnya ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh Tumenggung Daveda Maasa.


Sementara itu di halaman istana. Pada saat itu Raden Athaya Pasopati hendak masuk ke istana, ia tidak sengaja bertemu dengan prabu Maharaja Ganendra Ardajita.


"Hormat hamba gusti prabu."


"Oh?. Nanda athaya. Tidak biasa nanda terlihat di istana ini?. Apakah nanda ingin bertemu dengan ananda putri arkadewi?."


"Mohon ampun gusti prabu. Izinkan hamba bertemu dengan gusti putri arkadewi, karena ada hal yang ingin hamba tanyakan pada gusti putri arkadewi."


"Kalau begitu akan aku antar kau ke tempatnya."

__ADS_1


"Terima kasih gusti prabu."


Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dan Raden Athaya Pasopati segera menuju ke tempat Putri Arkadewi Bagaskara berada.


...***...


Di dalam Kaputren, lebih tepatnya di bilik Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara. Setelah mendengarkan secara langsung ucapan ibunda mereka, Ratu Kemala. Keduanya masih belum percaya, jika Putri Arkadewi Bagaskara terlibat dalam urusan pemerintah?. Bahkan saking terkejutnya, keduanya tidak sempat bertanya mengenai apa yang dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara mengenai perjodohannya dengan Raden Athaya Pasopati. Saat itu keduanya sangat gelisah mengenai pengangkatan Putri Arkadewi Bagaskara yang berhasil mendapatkan kedudukan di istana?. Walaupun sebagai seorang prajurit khusus?.


"Kedudukannya memang tidak tunggi yunda. Akan tetapi jika dia bergerak menyelidiki masalah yang terjadi di istana. Kita akan terlibat nantinya yunda."


"Kita tidak boleh sampai ketahuan telah membuat masalah. Kita harus segera menyingkirkannya."


"Tapi pada siapa kita akan meminta bantuan yunda?. Bukankah pembunuh bayaran yang kita sewa pada saat itu malah mengembalikan uang yang kita berikan padanya?."


"Kita harus berhasil mencari pendekar pembunuh bayaran itu."


"Tapi, bukankah arkadewi pernah mengatakan pada kita?. Jika kita tidak mengubah perangai kita, bisa jadi kita adalah target selanjutnya?."


Putri Kasih Bagaskara masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu. Tampaknya keduanya sedang mengalami tekanan batin yang sangat kuat, sehingga mereka benar-benar harus memikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkan Putri Arkadewi Bagaskara dari istana?.


...***...


Kembali pada Putri Arkadewi Bagaskara.


Saat itu ia sedang bertarung dengan Tumenggung Daveda Maasa. Pertarungan itu sangat sengit?. Tidak, Tumenggung Daveda Maasa sangat kewalahan menghadapi Putri Arkadewi Bagaskara. Bahkan jika ia tidak menghindari serangan pedang dari Putri Arkadewi Bagaskara, lehernya bisa putus.


"Apakah ini cara yang kau tunjukkan padaku?. Sangat lemah sekali."


"Diam kau!."


Hatinya sangat panas mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara. Memang ia akui, jika seni bela diri yang dimiliki Putri Arkadewi Bagaskara memang sangat lah hebat. Sehingga ia benar-benar harus fokus mengatasi tarian pedang Putri Arkadewi Bagaskara yang sangat cepat, bahkan lengannya sampai tergores seperti itu.

__ADS_1


Masih bisa bertahan?.


...***...


__ADS_2