
...***...
Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara sangat sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Raden Dewangga Bagaskara. "Tega sekali raka berkata seperti itu pada kami!." Putri Kasih Bagaskara terlihat menangis mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh kakaknya itu. "Jadi menurut raka?. Kami telah melakukan tindakan yang tidak baik?. Hanya untuk memfitnah rayi dewi?." Suaranya terdengar tinggi, entah kenapa pada saat itu yang merasa sakit hati.
"Aku tahu apa yang kalian lakukan pada rayi dewi." Raden Dewangga Bagaskara menata tajam ke arah keduanya. "Meskipun kalian tidak akan melakukan apapun, pada saat ini ayahanda prabu tidak bisa diganggu oleh siapapun juga!." Raden Dewangga Bagaskara terlihat sangat marah dengan apa yang akan dilakukan oleh kedua adiknya.
"Kenapa raka begitu peduli padanya?!. Kami berdua adalah adik kandung raka!. Tapi kenapa raka hanya membela dia?!." Putri Kenanga Bagaskara terlihat sangat marah dengan apa yang telah dilakukan oleh kakaknya itu.
"Aku tidak ingin berdebat dengan kalian. Ini bukan masalah membela siapapun juga." Raden Dewangga Bagaskara berusaha untuk menahan amarahnya. "Aku tidak ingin kalian membuat masalah apapun pada saat ini. Jangan menambah masalah!. Ayahanda prabu saat ini sedang memikul masalah yang lebih besar lagi!." Ia mencoba untuk memberikan peringatan dan penjelasan pada kedua adiknya, atas apa yang telah terjadi pada saat ini. Setelah itu Raden Dewangga Bagaskara meninggalkan tempat, itu karena ia tidak ingin berlama-lama berkelahi dengan kedua adiknya.
"Apa yang harus kita lakukan yunda?. Sepertinya cara ini tidak akan berhasil." Putri Kasih Bagaskara sangat gelisah setelah berbicara seperti itu pada kakaknya. "Kita harus memikirkan cara yang lebih baik lagi, karena aku tidak suka jika dia berada di istana ini." Putri Kasih Bagaskara merasa tidak senang sama sekali dengan apa yang telah dikatakan Raden Dewangga Bagaskara.
"Kita harus melakukan cara yang lain. Kita harus segera menyingkirkan dia dari sini." Putri Kenanga Bagaskara merasa sakit hati setelah apa yang dikatakan Raden Dewangga Bagaskara. "Kita harus memikirkan alasan yang tepat untuk memikirkannya segera dari sini." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Ada perasaan dendam dan benci yang sedang ia rasakan pada saat itu, kakak laki-lakinya lebih membela Putri Arkadewi Bagaskara dibandingkan dirinya.
...***...
Putri Arkadewi Bagaskara saat ini sedang berada di suatu tempat. Ia sedang berlatih kekuatan tenaga dalamnya agar lebih stabil dari yang sebelumnya. Pikirannya benar-benar terfokus pada apa yang telah ia lakukan pada saat itu.
Namun siapa yang menduga pada saat itu, sosok lain dari Putri Arkadewi Bagaskara ikut berlatih dengannya. Keduanya benar-benar melakukan gerakan jurus yang sama, kekuatan yang sama, serta tenaga dalam yang sama. "Kegelapan lahir dari hati yang membenci, kegelapan lahir dari perasaan yang tidak suka terhadap apa yang telah dilakukan seseorang pada diriku. Kegelapan yang abadi adalah kegelapan yang diisi oleh perasaan takut, perasaan yang ingin menghabisi seseorang." Kata-kata seperti itu tiba-tiba saja berkeliaran di dalam pikiran kedua sosok Putri Arkadewi Bagaskara. Keduanya benar-benar melakukan gerakan yang sangat luar biasa, kekuatan kebaikan dan kejahatan yang telah dicampur menjadi satu, kekuatan yang menghasilkan hawa yang tidak biasa.
...***...
Di suatu tempat.
Seorang pemuda yang baru saja memasuki kerajaan Mahamega Suci. Saat ini ia sedang waspada karena ia takut ketahuan telah melakukan penyusupan. "Tujuan utama ini hanyalah putri bedebah itu." Dalam hatinya benar-benar sangat waspada dengan apa yang akan ia lakukan. "Memasuki kerajaan yang sangat besar ternyata tidak semudah yang aku bayangkan." Pemuda itu sedang menyamar menjadi penduduk biasa atau seorang pengembara. "Aku harus melihat situasi sebelum aku bertemu dengan putri bedebah itu." Dalam hatinya hanya memiliki satu tujuan yang harus ia selesaikan. "Rasa sakit hati karena dipermalukan oleh seorang wanita, memang sangat menghina harga diriku." Tentunya ia tidak akan melupakan apa yang telah terjadi pada saat itu. "Meskipun dia adalah seorang putri raja, aku tidak akan pernah melupakan penghinaan yang telah kulakukan padaku." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar diisi oleh perasaan dendam yang sangat luar biasa.
...***...
Raden Athaya Pasopati juga sedang melatih jurus andalan yang ia miliki. Gerakan yang sangat lincah memainkan pedangnya, sekali ia memutar atau menebas pedangnya ke arah yang berlawanan. Saat itu ia benar-benar sedang membayangkan berada di pertarungannya sangat besar.
"Apa yang terjadi sebenarnya pada negeri ini?." Meskipun ia sedang berlatih, akan tetapi pikirannya sangat kacau. "Kenapa petinggi istana banyak yang tewas dengan cara yang mengenaskan?." Tentunya ia tidak akan melupakan apa yang telah terjadi beberapa kejadian yang menimpa negeri ini.
Raden Athaya Pasopati menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam pedangnya. Memasukkan semua tenaga dalamnya ke dalam pedang dengan memusatkan semua kekuatannya ke dalam pedang itu. "Pembunuh bayaran itu juga tidak bisa diketahui identitasnya?." Dalam hatinya mencoba untuk memikirkan hal yang tidak biasa mengenai siapa yang telah melakukan pembunuhan itu.
__ADS_1
Setelah dirasa semua tenaga dalamnya menyatu dengan pedang itu, dengan suku tenaga ia mengayunkan pedang itu sehingga menghasilkan ledakan yang sangat luar biasa di sekelilingnya. "Hwah!." Beberapa kali tebasan yang ia ayunkan, kekuatan tenaga dalam yang dihasilkan memberikan dampak yang sangat luar biasa pada sekelilingnya. Raden Athaya Pasopati menyalurkan semua tenaga dalamnya serta amarah yang ia rasakan pada saat itu. "Sejak kapan negeri ini diisi oleh hal-hal yang tidak baik seperti ini?." Ia tidak akan menduga jika ada hal yang lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan selama ini. "Aku harus bisa memecahkan masalah ini. Aku harus bisa melakukan ini semua dengan sekuat tenagaku." Dari ucapannya ia benar-benar telah membuat tekad yang sangat luar biasa. Bahwa dirinya tidak akan kalah dari siapapun juga. Raden Athaya Pasopati pasti akan berlatih dengan sungguh-sungguh, supaya bisa membantu ayahandanya dalam menyelesaikan masalah yang sedang menimpa negeri ini. "Aku harus lebih kuat lagi." Dalam hati Raden Athaya Pasopati tidak akan bermalas-malasan lagi untuk latihan, untuk melatih tenaga dalamnya. Masalah yang menimpa kerajaan Mahamega Suci, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah Raden Athaya Pasopati bisa membantu ayahandanya menyelesaikan tugas itu dengan baik?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu sedang bersama putranya Raden Dewangga Bagaskara. Ada hal yang sangat penting yang ia sampaikan pada putranya.
"Salam hormat nanda ayahanda prabu." Raden Athaya memberi hormat pada ayahandanya.
"Terima kasih nanda telah datang untuk menemui ayahanda pada hari ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita senang dengan kedatangan anaknya.
"Sama-sama ayahanda prabu." Raden Dewangga Bagaskara memberi salam hormat pada ayahandanya. "Ada apa gerangan ayahanda prabu memanggil nanda?. Apakah ada hal yang penting yang ingin ayahanda sampaikan?. Sehingga ayahanda memanggil nanda?." Raden Dewangga Bagaskara saat penasaran dengan alasan kenapa ayahandanya memanggil dirinya.
"Ayahanda hanya ingin kau pergi ke bukit embun sejuk." Jawab Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. "Saat ini negeri kita sedang berada dalam masalah yang sangat besar." Tatapan matanya sangat jauh, sedang meresapi apa yang telah terjadi. "Sepertinya pembunuh bayaran itu memiliki jurus yang sangat berbahaya. Ayahanda tidak bisa menerawang, melihat siapa dirinya yang sebenarnya." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tampak gelisah. "Ayahanda telah mencoba untuk merogo sukma, akan tetapi ayah anda sama sekali tidak bisa melihatnya." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita merasa heran dengan apa yang telah dilakukan oleh pembunuh bayaran itu. "Ayahanda hanya melihat kegelapan yang sangat luar biasa dari dirinya sehingga ayahanda tidak bisa melihat wajahnya. Kegelapan yang tidak bisa ayahanda dekati sama sekali. Sungguh kegelapan yang sangat luar biasa untuk ukuran seorang pembunuh bayaran." Kali ini ia menatap ke arah putranya. "Itulah sebabnya ayahanda menyuruhmu untuk menuju bukit embun sejuk, untuk mempelajari jurus yang dapat mematahkan kegelapan itu bersama kakek guru." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sepertinya menaruh harapan yang sangat banyak pada anaknya itu. "Pelajari jurus itu dengan baik di sana. Ayahanda yakin nanda akan bisa mempelajari jurus itu dengan sangat baik. Hanya itu
satu-satunya cara yang dapat digunakan untuk mengatasi pembunuh bayaran itu. Jurus yang ia gunakan sangat berbeda dari pendekar yang pernah ada. Jurus berlatih kegelapan yang dapat menutupi jejak seseorang itu sangat berbahaya. Ayahanda harap nanda mau melakukan itu demi menyelamatkan negeri ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita seperti kehilangan akal untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di negeri yang ia pimpin saat itu.
"Baiklah, ayahanda prabu." Raden Dewangga Bagaskara sangat mengerti dengan apa yang telah dijelaskan oleh ayahandanya. "Akan nanda lakukan sesuai dengan permintaan ayahanda prabu." Sebagai seorang putra mahkota tentunya ia akan melakukan itu.
"Terima kasih suka nanda bersedia melakukan itu." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita merasa sangat senang dengan ucapan putranya. "Sebagai seorang ayah, ayahanda minta maaf jika ayah anda telah memberikan beban yang sangat berat pada nanda." Ada perasaan bersalah yang ia rasakan pada saat itu. Hatinya sangat sedih karena ia telah memberikan beban pada anaknya.
"Terima kasih, atas pengertiannya nanda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat senang memiliki seorang putra yang sangat penurut.
"Sama-sama ayahanda prabu." Raden Dewangga Bagaskara hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu, besok pagi Nanda akan berangkat bersama senopati palapati. Supaya nenda malam ini mempersiapkan apa saja yang akan nanda bawa besok." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita menjelaskan pada anaknya kapan waktu yang tepat untuk berangkat.
"Baiklah kalau begitu ayahanda prabu. Ananda akan mempersiapkannya dengan sangat baik." Raden Dewangga Bagaskara memberi hormat pada ayahandanya. Setelah itu ia meninggalkan ruangan itu untuk mempersiapkan apa saja yang akan ia bawa besok.
"Hanya kau satu-satunya harapan yang akan membawa kedamaian di negeri ini." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedikit merasakan kegelisahan di dalam hatinya. "Semoga saja negeri ini bisa memberikan perdamaian bagi semua kalangan." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedang berusaha untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Apakah Prabu Maharaja Ganendra Ardajita bisa melakukan itu melalui anaknya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadinya intinya.
...***...
Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu sedang berjalan-jalan di kota Raja. Matanya melihat dengan jelas bagaimana suasana Kota Raja. Senyuman ramah dari rakyat, dan sanjungan serta sapaan ia dengar sepanjang ia berjalan.
__ADS_1
"Gusti putri."
Sapa mereka dengan senyuman yang sangat ramah, dan tidak lupa mereka memberi hormat pada sang Putri.
"Pada saat ini keadaan kota raja sedikit aman." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara memperhatikan bagaimana keadaan Kota Raja. "Akan tetapi kegelapan yang ada di dalam hati mereka terlihat sangat jelas." Dalam hatinya merasa sangat bersimpati dengan apa yang telah ia lihat pada saat itu. "Ternyata di kota raja masih ada rakit yang hidup sengsara. Sungguh sangat memprihatinkan apa yang telah terjadi di negeri ini." Dalam hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah ia lihat pada saat itu. Putri Arkadewi Bagaskara merogoh kantongnya, ia melihat ada kepengan uang yang cukup banyak?. "Aku harap ini bisa membantu mereka sedikit." Matanya saat itu menatap ada seorang pedagang makanan sembako yang dijual. Putri Arkadewi Bagaskara mendekati mereka, tentunya itu membuat mereka sangat terkejut.
"Salam hormat kami gusti putri." Dengan perasaan yang sangat gugup mereka memberi hormat pada sang putri.
"Bagaimana dengan dagangan tuan dan nyonya pada hari ini?. Apakah hanya tinggal segini saja?." Dengan suara yang sangat ramah ia bertanya seperti itu pada mereka.
"Mohon ampun gusti putri." Mansu, itulah nama kepala keluarga pedagang itu. "Dagangan kami memang sedikit, itupun belum ada yang terjual." Dengan suasana hati yang sangat gelisah ia berkata seperti itu. "Saat ini kami sedang mengalami kesulitan, kami kekurangan uang untuk menghidupi anak-anak kami." Hatinya sangat iba dengan kondisi yang ia hadapi pada saat itu.
"Kebutuhan pada saat ini memang benar-benar sangat mencekam kami gusti putri." Amina, seorang wanita yang kini berperan sebagai ibu, juga mengatakan apa yang telah ia rasakan pada saat itu. "Maafkan kami gusti putri, jika sekiranya kami sedikit mengatakan ke-keluhan yang kami rasakan." Dengan perasaan yang sangat takut ia berkata seperti itu pada tuan putri.
Putri Arkadewi Bagaskara memang dapat melihat itu dengan sangat. "Mereka mengalami kehidupan yang sangat sulit. Kenapa ayahanda prabu sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada rakatnya?." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara merasa sangat prihatin dengan apa yang telah terjadi. "Baiklah. Aku akan membeli semua barang dagangan kalian." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum ramah menatap mereka semua.
"Tapi gusti putri?." Keduanya tampak kebingungan dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
"Ambillah uang ini." Ucap Putri Arkadewi Bagaskara menyerahkan kantong hitam yang berisikan uang. "Semoga saja ini dapat membantu kalian." Lanjutnya sambil memberikan kantong yang berisikan uang itu.
"Apakah tidak apa-apa gusti putri?." Mansu terlihat sedikit ketakutan karena ia takut jika nantinya ia akan mendapatkan masalah.
"Anggap saja itu adalah permintaan maaf dari ku, atas apa yang telah dilakukan oleh prajurit penjaga pasar, juga preman pasar yang telah berani berbuat seenaknya pada kalian." Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu, dapat melihat beberapa alasan yang membuat kedua pasangan suami istri itu mengalami kesulitan dalam menjualkan barang dagangannya pada orang lain. "Aku bersumpah akan mengatasi mereka semua. Mereka yang telah membuat kalian menjadi seperti ini." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Oh. Gusti putri." Mansu dan Amina menangis haru mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
"Jadi gusti putri telah mengetahui masalah yang sedang menimpa kami?." Mansu sedikit sesegukan, ia tidak menduga sama sekali jika Putri Arkadewi Bagaskara memahami apa yang telah mereka alami.
"Ya. Aku telah mengetahuinya." Putri Arkadewi Bagaskara dapat melihat itu semua dari sorot mata mereka yang menyimpan kesedihan yang sangat mendalam. "Karena itulah, aku harus memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi mereka semua." Pada saat itu ia menangkap ada sebuah harapan, yang ada di dalam hati mereka setelah apa yang ia katakan pada mereka tadi. Kegelapan yang ada di dalam hati mereka sedikit demi sedikit telah berubah menjadi sebuah keceriaan yang sangat luar biasa.
"Terima kasih gusti putri." Ucap keduanya dengan tangisan yang dipenuhi oleh kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Ya." Putri Arkadewi Bagaskara hanya tersenyum kecil mendengarkan ucapanmu mereka. Setelah itu ia pergi dari sana, rasanya ia hampir saja menangis melihat air mata kebahagiaan yang mereka perlihatkan padanya. Namun di sisi lain yang merasakan perasaan yang sangat sesak. "Orang-orang tidak berguna seperti itu harus segera aku singkirkan." Hatinya sangat membenci dengan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang seperti itu. "Berani sekali mereka membuat rakyat sengsara dengan seperti itu." Hatinya benar-benar sangat panas mengingat apa yang telah ia lihat dari sorot mata mereka yang menyimpan sebuah kesedihan yang sangat tidak biasa. "Preman pasar." Hatinya kembali memanas ketika melihat siapa saja yang telah berani mengusik ketentraman rakyat yang sedang mencari hidup di pasar. "Prajurit bodoh tidak berguna." Mungkin itu adalah target berikutnya yang akan ia incar. "Setelah itu, Senopati yang telah bertugas menjaga keamanan pasar. Akan aku penggal kepalanya, akan aku bunuh mereka dengan belati kegelapan, yang telah tercipta dari kegelapan yang lahir dari rakyat, yang sangat membenci kehidupan mereka yang tertekan oleh mereka yang tidak manusiawi itu." Sepertinya Putri Arkadewi Bagaskara reaksi pada malam ini. Hatinya yang dipenuhi oleh kebencian yang tersalurkan dari rakyat yang ingin meminta perlindungan. Apakah yang akan dilakukan oleh Putri Arkadewi Bagaskara?. Apakah benar ia akan melakukan pembunuhan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisahnya.
__ADS_1
...***...