
...***...
Raden Dewangga Bagaskara telah meninggalkan istana. Tentunya ia pergi bersama beberapa orang Prajurit. Saat itu putri Arkadewi Bagaskara melihat kepergian kakaknya dari jauh saja. Setelah itu ia kembali masuk ke Kaputren untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi ketika ia hendak memasuki lorong menuju biliknya, saat itu ia melihat kedua kakak perempuannya yang sepertinya sangat membenci dirinya?. Pada saat itu, keduanya terlihat sedang merencanakan sesuatu yang jahat padanya.
"Raka dewangga telah pergi meninggalkan istana ini." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara. "Tapi masalah yang harus aku hadapi saat ini, adalah mereka berdua. Mereka yang tidak menyukai diriku sejak dulu." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara sangat benci dengan situasi itu.
"Kau mau ke mana, arkadewi?." Putri Kasih Bagaskara menahan bahu Putri Arkadewi Bagaskara yang seakan-akan tidak menganggap kehadirannya sama sekali. "Urusan kita belum selesai. Kau akan menerima hukuman dari kami nantinya." Putri Kasih Bagaskara sedikit menekan pundak Putri Arkadewi Bagaskara.
"Aku bersumpah, aku akan membuatmu pergi dari istana ini, dalam satu purnama ini." Putri Kenanga Bagaskara terlihat sedang mengancam Putri Arkadewi Bagaskara.
"Sangat disayangkan sekali, kalian tidak akan bisa melakukan itu padaku." Putri Arkadewi Bagaskara menepis tangan Putri Kasih Bagaskara dari pundaknya.
"Hah?." Keduanya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara.
"Dari pada memikirkan cara mengusirku pergi dari istana ini. Lebih baik kalian perbaiki diri kalian terlebih dahulu." Putri Arkadewi Bagaskara menatap tajam ke arah keduanya. "Bisa jadi kalian adalah target dari pembunuh bayaran itu." Putri Arkadewi Bagaskara memang terlihat sedang tersenyum kecil, tapi dalam hatinya seakan-akan sedang mengincar keduanya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu arkadewi?!." Putri Kasih Bagaskara sedikit emosi mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara.
"Sebaiknya kau yang menjaga sikapmu!. Karena istana ini bukan tempatmu!." Putri Kenanga Bagaskara hampir saja meluapkan amarah yang ia rasakan.
"Aku katakan sekali lagi pada kalian." Putri Arkadewi Bagaskara menunjuk tepat di depan mata kedua kakaknya. "Manusia itu adalah iblis. Dan iblis akan mengadu domba manusia, dan manusia yang lemah yang kalian jadikan budak itu. Suatu saat nanti akan menjadi senjata mematikan." Putri Arkadewi Bagaskara membaca pikirkan kedua kakaknya yang telah dipenuhi oleh kegelapan yang sangat luar biasa. "Apa jadinya jika ayahanda prabu mengetahui?. Jika kedua putrinya menyimpan kebusukan yang sangat mengerikan, demi kepuasan dunia." Putri Arkadewi Bagaskara dengan santainya berkata seperti itu?. Selain itu ia berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari kedua kakaknya.
__ADS_1
Deg!.
Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Keduanya sempat terdiam, keringat dingin hampir saja membasahi wajah mereka, karena takut dengan apa yang akan dilakukan Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah benar?. Putri Arkadewi Bagaskara mengetahui rahasia mereka?. "Heh!. Memang orang-orang busuk!. Bahkan bau kalian saja sudah busuk!." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara mendengus kesal.
Sedangkan Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara sedang memikirkan apa yang telah dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara tadi?.
"Yunda. Apakah dia mengetahui apa yang telah kita lakukan selama ini?." Putri Kasih Bagaskara terlihat sangat panik.
"Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi." Putri Kenanga Bagaskara sangat sakit hati, dan ia tidak bisa berpikir jernih lagi. "Kita benar-benar harus segera menyingkirkannya dari istana ini. Dia akan sangat berbahaya, jika kita biarkan begitu saja." Putri Kenanga Bagaskara akan melakukan apapun, supaya rahasia mereka agar tetap aman.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk membunuhnya yunda. Sebelum dia membuka semua rahasia yang telah kita sembunyikan dari ayahanda, juga ibunda." Putri Kasih Bagaskara sepertinya mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyingkir adiknya itu.
"Sial!. Dia benar-benar ingin mencari masalah denganku." Dalam hati Putri Kenanga sangat mengutuk dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara tadi. Apakah yang akan mereka lakukan?. Simak terus ceritanya.
...***...
Saat itu Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedang memberikan penjelasan pada Ratu Astina, agar mengerti dengan situasi dan kondisi yang akan mereka hadapi pada saat itu.
"Kanda hanya ingin ada seseorang yang dapat membantu kanda, dalam memberikan masukan nasihat yang lebih baik. Hanya itu saja yang kanda inginkan dari putri kita ananda arkadewi." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita memang sekali berbicara dengan anaknya Putri Arkadewi Bagaskara, akan tetapi ia merasa anaknya memang memiliki pemikiran yang jernih?. "Kanda rasa, hanya ananda arkadewi yang memiliki pandangan yang lebih tajam dari yang lainnya." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dapat merasakan itu dari putri bungsunya itu.
"Bukankah kanda prabu telah memiliki penasihat yang sangat bijak?." Ratu Astina bertanya karena heran dengan apa yang telah dikatakan oleh suaminya itu. "Apalagi ada raka patih arya pasopati yang membantu kanda prabu. Lalu kenapa kanda prabu masih ingin melibatkan putri dinda untuk masalah istana?." Itulah yang membuat Ratu Astina semakin bingung dengan keinginan suaminya yang ingin melibatkan putrinya dalam urusan pemerintahan.
__ADS_1
"Benar yang dikatakan dinda astina. Kenapa kanda prabu masih ingin melibatkan ananda putri ke dalam masalah negara?. Apalagi jika berujung ke masalah pertarungan nantinya." Ratu Kemala juga terlihat sangat khawatir, karena yang ada di dalam pikirannya ketika seseorang terlibat dalam masalah negara, pasti akan terlibat ke arah perperangan.
"Itu karena kanda melihat ada potensi yang luar biasa yang dimiliki ananda putri arkadewi, untuk mengatasi masalah yang terjadi." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tersenyum kecil menatap kedua istrinya yang duduk manis di hadapannya saat itu. "Apalagi nanda dewangga sedang pergi ke bukit embun, untuk mempelajari jurus baru, untuk mengatasi masalah pendekar pembunuh bayaran belati kegelapan." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak tahu harus meminta pendapat siapa lagi, jika putranya tidak ada di istana ini?. "Kanda hanya memohon pengertian dari dinda berdua. Supaya kanda bisa mengatasi masalah istana nantinya. Hanya sampai masalah ini selesai saja. Kanda sangat memohon pada dinda berdua untuk memahami keadaan saat ini." Ia bahkan menundukkan kepalanya dihadapan kedua istrinya?. Sepertinya masalah yang dihadapi Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat sulit. "Raka patih mungkin akan terlibat dalam masalah lain, jadi raka patih kemungkinan tidak akan sering berada di istana ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita menjelaskan kembali situasinya. "Hanya nanda putri arkadewi yang saat ini kanda harapkan untuk membantu kanda. Jadi kanda mohon pada dinda, agar mempertimbangkan kembali permintaan kanda ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita memang terlihat sangat memohon pada kedua istrinya.
"Bagaimana menurut yunda?." Ratu Astina merasa tersentuh dengan apa yang telah dikatakan oleh suaminya.
"Itu semua tergantung padamu saja rayi. Jika kau setuju, maka aku akan setuju." Ratu Kemala juga tidak tega melihat suaminya sampai memohon seperti itu.
"Kalau begitu berikan dinda waktu untuk memikirkan masalah ini." Ratu Astina hanya tidak ingin mengecewakan suaminya. "Rasanya dinda sangat keberatan jika ananda putri arkadewi terlibat dalam urusan pemerintahan." Ratu Astina hanya tidak ingin ingin anaknya mengalami masalah yang sulit nantinya.
"Baiklah, jika memang seperti itu. Kanda akan menunggu, hingga dinda setuju." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita hanya tersenyum kecil mendengarkan ucapan Ratu Astina.
"Tapi, kenapa hanya ananda putri arkadewi saja yang dilibatkan dalam urusan pemerintahan?." Ratu Astina melirik ke arah Ratu Kemala yang duduk di sampingnya. "Bagaimana dengan ananda putri kasih, ananda putri kenanga?." Ratu Astina sangat penasaran, kenapa suaminya hanya mengandalkan putrinya?. Apakah itu tidak salah?.
"Jika ananda putri kasih, juga ananda putri kenanga-." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedikit menghela nafasnya. "Kanda sangat ragu, jika keduanya terlibat dalam urusan negara." Lanjutnya sedikit berat mengatakan pada istrinya. "Apalagi keduanya sama sekali tidak tertarik dengan masalah pemerintah negeri ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mengatakan kebenaran tentang itu, supaya keduanya tidak salah faham, alasan kenapa ia lebih memilih Putri Arkadewi Bagaskara untuk terlibat dalam masalah kerajaan.
"Jadi karena itu?." Ratu Astina hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar tentang putrinya. "Kalau begitu dinda akan bertanya langsung pada ananda putri arkadewi, apakah ananda putri arkadewi tertarik dengan masalah istana atau tidak." Ratu Astina tentunya juga akan bertanya langsung pada anaknya.
"Hahaha!. Memang sangat keras kepala seperti biasanya." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita merasa miris mendengarkan ucapan Ratu Astina yang terlalu terus terang. "Aku harap putriku ananda arkadewi mau membantuku nantinya." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat berharap, jika putrinya akan memberikan jawaban yang sangat memuaskan nantinya.
"Memang anak-anakku tidak ingin terlihat dalam urusan pemerintahan, kecuali nanda dewangga." Dalam hati Ratu Kemala memang merasakan kedua anak perempuannya memang tidak tertarik dengan masalah pemerintahan.
__ADS_1
Apakah Putri Arkadewi Bagaskara akan terlibat dalam masalah pemerintahan nantinya?. Apakah yang akan dilakukan Putri Arkadewi Bagaskara jika memiliki kedudukan di dalam pemerintahan?. Lalu apa maksud dari topeng pemanis wajah itu sendiri?. Apakah Putri Arkadewi Bagaskara akan berhenti menggunakan topeng pemanis wajah?. Jika ia telah berhasil memiliki kedudukan nantinya?. Simak terus ceritanya, Temukan bagaimana penyelesaiannya.
...***...