TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 28


__ADS_3

...***...


Senja hampir menyapa, saat itu Putri Arkadewi Bagaskara menuju Kaputren. Tentunya ia tidak berjalan sendirian, hanya saja sosok yang ada di dalam dirinya tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Seperti dinding hitam yang sangat tebal melindungi dirinya, itulah kenapa Prabu Maharaja Ganendra tidak bisa melihat siapa yang merupakan dalang dari kejahatan itu.


Deg!.


Saat itu juga Jala Hitam, melihat kedatangan Putri Arkadewi Bagaskara. Saat itu ia berhasil masuk karena ia menyamar menjadi prajurit penjaga Kaputren. Tentunya ia ingin balas dendam pada Putri Arkadewi Bagaskara, dan ia ingin melihat situasinya.


"Sial!. Itu dia!." Dalam hati Jala Hitam sangat terkejut, setelah sekian lama tidak bertemu dengan Putri Arkadewi Bagaskara. Terakhir kali ia bertarung, ia hampir saja tewas. "Sial!. Aku harus menahan diriku agar tidak segera membunuhnya sekarang juga." Dalam hatinya sangat mengutuk dirinya, sungguh ia sangat gugup melihat kecantikan yang dimiliki Putri Arkadewi Bagaskara. Namun dendam itu tidak bisa hilang begitu saja, ia masih harus melampiaskan amarahnya. Dan ia tidak bisa melakukannya dengan terburu-buru.


"Sepertinya ada prajurit baru yang datang." Sosok Hitam dari Putri Arkadewi Bagaskara berkata sambil melihat ke dalam isi hati Jala Hitam yang dipenuhi oleh kegelapan. Ia juga merasakan ada yang berbeda dengan prajurit baru itu.


"Apa yang kau lihat darinya?." Putri Arkadewi Bagaskara tentunya menyadarinya. "Apakah dia memiliki tujuan yang sangat buruk untukku?." Putri Arkadewi Bagaskara ingin mengetahui pendapat Sosok Hitam.


"Ahahaha!." Sosok Hitam malah tertawa saat melihat apa yang ia lihat dari prajurit itu.


Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara menghentikan langkahnya, karena ia mendengarkan tawa dari Sosok Hitam yang sangat aneh.


Deg!.


Sedangkan Jala Hitam sangat terkejut, karena tiba-tiba saja Putri Arkadewi Bagaskara menghentikan tawanya?.


"Kenapa dia malah berhenti?." Dalam hati Jala Hitam sangat gugup. "Apakah dia menyadarinya?." Dalam hatinya semakin gugup saat putri Arkadewi Bagaskara menatapnya seperti itu.


"Kenapa kau malah tertawa!." Putri Arkadewi Bagaskara melirik ke arah Sosok Hitam dengan sangat kesalnya. Pada saat itu Putri Arkadewi Bagaskara melihat ke arah Sosok Hitam yang sebenarnya berdiri tepat di depan Jala Hitam, hanya saja pendua itu tidak menyadarinya.


"Bukankah kau dapat melihat sendiri?." Sosok Hitam malah tersenyum lembut.

__ADS_1


"Ternyata benar. Dia adalah seseorang yang memiliki dendam padaku." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara sedikit miris, saat ia melihat apa yang ada di dalam hati Jala Hitam.


"Ampuni ha-hamba, ji-jika hamba lancang menatap gusti putri." Jala Hitam semakin gugup, karena ditatap seperti itu oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah karena ia terlalu lancang menatap Putri Arkadewi Bagaskara?. Sehingga seperti itu tanggapan Putri Arkadewi Bagaskara?.


"Baiklah. Lain kali berhati-hati lah jika kau bertindak." Putri Arkadewi Bagaskara juga memainkan perannya. Dan ia tidak ingin terlihat mencurigakan dihadapan musuhnya?. Topeng pemanis wajah yang selalu pasang dihadapan orang lain, maka ia tidak akan mudah mencopot topeng itu, hanya karena pemuda itu memiliki dendam padanya. Setelah itu Putri Arkadewi Bagaskara pergi meninggalkan tempat.


"Fyuuh!." Jala Hitam menghela nafasnya dengan lega. "Dia memang semakin mengerikan dari yang terakhir kali aku bertemu dengannya." Dalam hatinya merinding membayangkan betapa kejamnya putri Arkadewi Bagaskara.


"Kau tidak jadi membunuhnya?." Sosok Hitam itu tadi sempat melihat Putri Arkadewi Bagaskara hendak mengeluarkan belati hitam, namun sepertinya ia tahan?.


"Sepertinya aku memiliki ide yang lain." Putri Arkadewi Bagaskara menyimpan kembali senjata andalannya. "Akan berbahaya, jika ada yang melihat belati hitam itu di lingkungan istana. Nanti rahasiaku bisa terbongkar, jika belati hitam itu memperlihatkan apa yang terjadi di masa lalu." Tentunya putri Arkadewi Bagaskara tidak ingin itu terjadi. "Bukankah kau sendiri mengetahui cara kerja dari belati hitam kegelapan itu jika telah menancap di tubuh seseorang?." Putri Arkadewi Bagaskara tidak ingin belati itu sampai memperlihatkan hal yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun.


"Ho?. Kau memang seorang putri yang sangat kejam. Kadang aku berpikir, apakah kau memang terlahir dari keluarga kerajaan atau lahir dari keluarga pembunuh sadis." Sosok Hitam kadang bertanya tentang itu.


"Bukankah kau yang paling mengetahui itu?." Putri Arkadewi Bagaskara hanya tersenyum kecil.


...***...


Sementara itu Raden Athaya Pasopati semakin bingung dengan apa yang telah terjadi, setelah ia melihat langsung bagaimana belati hitam kegelapan itu memperlihatkan kejahatan yang telah dilakukan oleh mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada negeri ini?." Raden Athaya Pasopati bertanya pada dirinya. "Kenapa negeri ini memiliki pembunuh bayaran belati hitam kegelapan?. Bahkan gusti prabu sendiri tidak bisa menerawang, siapa yang telah melakukan kejahatan itu." Dalam hatinya semakin bingung. Saat ini ia sedang termenung di depan rumahnya sambil memikirkan apa yang telah terjadi. "Ini sungguh sangat memprihatikan, dimana sebuah pemerintahan dibantai oleh sosok mengerikan seperti itu?." Raden Athaya Pasopati sangat prihatin dengan semua berita yang telah tersebar di kerajaan Mahamega Suci. "Apa yang harus aku lakukan?. Apakah aku harus bertanya pada gusti putri arkadewi mengenai ini?." Dalam hatinya masih bingung dengan kejadian aneh itu. "Baiklah, kalau begitu aku akan menemui gusti putri arkadewi nantinya untuk meminta pendapatnya, mengenai masalah yang sedang terjadi di negeri ini." Dalam hatinya mencoba untuk menguatkan dirinya agar bisa berbuat sesuatu demi membantu kerajaan Mahamega Suci.


Apakah akan berhasil?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Di dalam lingkungan Kaputren.

__ADS_1


Karena arah bilik Putri Arkadewi Bagaskara dan kedua kakaknya sangat berbeda, jadi mereka menunggu di lorong menuju bilik Putri Arkadewi Bagaskara.


"Sepertinya kau baru saja dari luar. Raut wajahmu terlihat sangat ceria sekali." Putri Kenanga Bagaskara terlihat sangat tenang, juga senyumannya itu seperti seseorang yang sedang mendapatkan sesuatu.


"Sejak kapan yunda begitu peduli padaku?. Apakah telah terjadi sesuatu?. Sehingga kalian akhir-akhir ini sering menemui aku?." Putri Arkadewi Bagaskara hanya tersenyum kecil mendengarkan itu.


"Heh!." Keduanya mendengus kesal. Sungguh sangat kesal mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Kau tunggu saja hingga pada saatnya itu tiba. Kau akan merasakannya sendiri." Putri Kenanga Bagaskara hampir saja meluapkan kemarahan yang ia rasakan.


"Nikmatilah harimu selagi bisa." Putri Kasih Bagaskara malah menunjukkan yang sebaliknya?.


Namun keduanya memang tidak menyadari adanya Sosok Hitam yang sedang berdiri di depan mereka. Sungguh sangat luar biasa sekali kekuatan yang dimiliki oleh Putri Arkadewi Bagaskara, sehingga tidak ada yang menyadarinya sama sekali. Akan tetapi setelah itu mereka pergi meninggalkan Putri Arkadewi Bagaskara yang terlihat aneh?.


Deg!.


"Ternyata mereka memiliki niat yang sangat tidak baik." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara dan Sosok Hitam sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat dari Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara.


"Sepertinya mereka ingin membunuhmu melalui pembunuh bayaran itu. Bukankah itu sesuatu yang sangat berbahaya?." Sosok Hitam dapat melihat apa yang telah direncanakan oleh kedua kakaknya itu?.


"Hum." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat sedang berpikir. "Kalau begitu akan aku jadikan pembunuh bayaran itu sebagai budak membunuh para penjahat di negeri ini." Putri Arkadewi Bagaskara dengan santainya berkata seperti itu, seakan-akan itu adalah hal yang sangat mudah baginya.


"He?. Sepertinya kau juga memiliki ide yang sangat buruk untuk mengatasi mereka." Sosok Hitam bertopeng hitam tersenyum aneh. "Kau memang sangat mengerikan dari apa yang aku bayangkan." Sosok Hitam memang merasakan apa yang dirasakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Karena pada dasarnya keduanya adalah satu kesatuan yang sama.


"Dunia ini memang sangat kejam. Bahkan seorang raja akan terlihat sangat kejam, jika hanya mengandalkan bawahannya yang sangat bodoh dan tidak berguna sama sekali." Putri Arkadewi Bagaskara sangat benci mengingat itu semua. "Karena itulah aku harus menghentikan itu semua." Putri Arkadewi Bagaskara tidak habis pikir, kenapa ayahandanya begitu mudah percaya begitu saja pada anak buahnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2