TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 6


__ADS_3

...***...


Topeng pemanis wajah.


Apakah orang zaman dahulu dan zaman sekarang telah menggunakan topeng pemanis wajah, untuk menutupi apa yang telah ia rasakan selama ini?. Tapi apa alasan ia melakukan lakukan itu?. Apa yang sedang ia ingin coba dengan melakukan itu semua?. Topeng pemanis wajah, kenapa kau menggunakan itu untuk menipu semua orang yang ada di sekitarmu?. Masalah hidup apa yang sedang kau rasakan?. Sehingga kau mampu menyembunyikan itu semua di balik topeng pemanis wajah itu?. Tapi keuntungan apa yang ia dapatkan dengan melakukan itu?. Apa yang sedang ia pikirkan ketika melakukan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi. Jangan sampai kau tertipu oleh penampilannya hanya karena dia menggunakan topeng pemanis wajah. Waspadalah terhadap orang-orang yang seperti itu, bisa jadi itu adalah senjata yang sangat mematikan untukmu suatu hari nanti.


...***...


Prajurit yang berasal dari kediaman Senopati Gumelar Endang itu telah memasuki ruangan di mana sang prabu sedang ingin membahas masalah yang telah terjadi.


"Mohon maaf gusti prabu." Ia memberi hormat pada sang prabu.


"Katakan padaku hal penting apa yang anda ingin kau sampaikan sehingga seorang prajurit yang berasal dari kediaman senopati datang padaku pada hari ini." Sebagai seorang Raja ia tentunya ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh prajurit jaga tersebut.


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba hendak menyampaikan kabar yang sangat buruk kepada gusti prabu." Prajurit itu sedikit berpikir bagaimana caranya ia menyampaikan kabar buruk itu pada Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.


Sang Prabu sedikit kebingungan, sehingga ia melihat ke arah Senopati dan dan Patih yang ikut dalam rapat yang akan diadakan pada pagi itu.

__ADS_1


"Sepertinya Gusti Senopati gumelar endang terbunuh di kediamannya gusti prabu." Dengan sangat hati-hati ia berkata seperti itu.


Mereka semua yang berada di ruangan itu sangat terkejut tanpa terkecuali. Tentunya kabar itu sangat mengejutkan mereka, apalagi tentang kematian seseorang yang sangat penting di kerajaan Mahamega Suci.


"Prajurit!." Suara Prabu Maharaja Ganendra Ardajita terdengar sangat tinggi pada saat itu. Iya hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Apakah benar yang kau katakan itu?!." Hatinya sangat bergemuruh mendengarkan laporan yang sangat tidak masuk akal baginya itu. "Bagaimana mungkin?. Senopati yang sangat aku banggakan itu terbunuh di kediamannya sendiri?!." Sepertinya prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat tidak menerima kenyataan yang telah disampaikan oleh prajurit jaga di kediaman Senopati.


"Ampuni hamba gusti prabu. Sebagai seorang prajurit jaga hamba tidak akan berani berkata bohong pada gusti prabu." Prajurit itu hanya melaporkan apa yang ia lihat pada saat itu. Tentunya hamba akan mendapatkan kemalangan yang mengerikan jika hamba berani berdusta kepada gusti prabu." Ucapan itu hanya untuk meyakinkan prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Karena ia telah melaporkan hal yang sesungguhnya pada sang prabu.


"Dinda patih. Segera bawa prajurit kediaman Senopati gumelar endang untuk segera melakukan penyelidikan. Aku tidak ingin masalah ini menyebar luas, karena masalah yang terjadi bukan sekali saja." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita meminta bantuan pada Patih Arya Pasopati sebagai orang yang sangat dipercayai untuk mengatasi semua masalah yang terjadi di kerajaan ini. "Selidiki masalah itu dengan baik. Apa yang telah menyebabkan senopati kebanggaanku itu terbunuh di di rumahnya sendiri." Dengan ada memohon sang prabu meminta bantuan kepada Patih Arya Pasopati.


"Akan segera saya laksanakan kanda prabu." Patih Arya Pasopati memberi hormat pada sang prabu. "Saya akan segera bertindak kanda prabu." Tentunya ia harus segera melaksanakan tugas itu. "Saya pamit dulu kanda prabu, sampurasun." Setelah berkata seperti itu ia segera meninggalkan ruangan itu.


"Prajurit. Antarkan aku ke kediaman gustimu. Aku ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya di sana." Ucapnya ketika ia mendekati prajurit itu.


"Mari gusti patih." Prajurit tersebut mempersilahkan Patih Arya Pasopati untuk mendahuluinya untuk berjalan.


"Lalu bagaimana dengan kami gusti prabu?." Senopati Gentala Handaru mewakili mereka semua untuk bertanya pada sang prabu. Tidak mungkin rasanya mereka hanya berdiam diri saja setelah mendengar kabar yang sangat menakutkan itu. "Apa yang akan kami lakukan dalam situasi seperti ini?." Ia kembali bertanya. "Karena telah banyak orang yang meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. Tentunya sebagai orang-orang yang dipercayai oleh rakyat, kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi gusti prabu." Iya sendiri sangat takut dengan kejadian yang sangat mengerikan itu.

__ADS_1


"Bahkan sampai hari ini kita tidak bisa mengetahui siapa yang telah melakukan pembunuhan itu." Itulah yang membuat sang prabu merasa sangat khawatir. Karena tidak bisa mengetahui siapa yang telah melakukan itu?. Sungguh pembunuhan yang sangat sempurna dilakukan oleh seorang manusia?. Atau ada suatu hal gaib yang tidak bisa mereka jelaskan dengan kata-kata?. Apakah itu mau perbuatan seorang manusia atau perbuatan makhluk halus yang sangat tidak bisa mereka jangkau keberadaannya?. Tapi kenapa pembunuhan sadis itu terjadi begitu saja?.


Apakah mereka bisa mengatasi masalah itu dengan baik?. Simak bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Di taman istana.


Di taman istana yang cukup luas itu Raden Athaya Pasopati dan Putri Arkadewi Bagaskara sedang duduk di sana. Hanya mereka berdua saja yang berada di sana, sehingga suasana sedikit kaku karena mereka telah lama tidak bertemu.


10 tahun bukanlah waktu yang sangat singkat. 10 tahun bukanlah hal yang mudah untuk dilalui oleh seseorang. Apalagi seseorang itu sedang dimabuk asmara yang sangat membuncah di dalam hatinya, sehingga ia tidak bisa betah walaupun hanya sebentar saja. Apalagi dalam waktu 10 tahun?. Sungguh sangat luar biasa sekali jika 10 tahun telah lama tidak bertemu dan mereka masih menyimpan perasaan yang sangat dalam di hati mereka masing-masing saat itu.


"Bagaimana keadaan tuan putri?. Saya harap tuan putri akan baik-baik saja setelah sekian lama tidak kembali ke istana ini." Ia hanya tersenyum sambil bertanya seperti itu.


"Saya baik-baik saja raden." Senyuman itu tidak berubah sama sekali. Senyuman yang sangat manis, senyuman yang sangat cocok dengan wajahnya yang ayu itu. "Lalu bagaimana dengan raden sendiri?. Apakah raden baik-baik saja selama berada di kerajaan ini?." Putri Arkadewi Bagaskara balik bertanya dengan senyuman yang sangat.


Bagaimana reaksi dan tanggapan dari Raden Athaya Bagaskara?. Apa yang akan dijawab oleh Raden Athaya Bagaskara?. Simak dengan baik bagaimana lanjutannya. Temukan jawabannya dalam kisah topeng pemanis wajah. Jangan lupa dukungannya ya?.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2