TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 36


__ADS_3

...***...


Putri Arkadewi Bagaskara saat itu tidak memberi ampun pada Tumenggung Daveda Maasa. Dengan Jurus andalan miliknya itu, ia mengajarkan beberapa jurus yang sangat tidak biasa saat itu. Pukulan, tendangan, dan bahkan ayunan pedang itu telah melukai tubuh Tumenggung Daveda Maasa.


"Eakh!."


"Teriakan kesakitan yang kau rasakan pada saat ini. Belum sebanding dengan penderitaan yang kau berikan!."


Tumenggung Daveda Maasa berusaha untuk menghindari semua serangan dari Putri Arkadewi Bagaskara. Akan tetapi, langkahnya sudah tidak tahan lagi karena kakinya juga terkena sayatan pedang dari Putri Arkadewi Bagaskara.


"Kau tidak akan bisa lari dariku!. Kau harus membayar semua penderitaan yang dirasakan oleh mereka!. Dan kau juga harus membayar nyawa senopati manda apara!."


"Diam kau!. Berani sekali kau mengganggu ketenangan dan kebahagiaan yang telah aku dapatkan!."


Namun siapa yang menduga pada saat itu, jika Prabu Maharaja Ganendra Ardajita, Raden Athaya Pasopati, Ratu Kemala, Ratu Astina, Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara melihat bagaimana Putri Arkadewi Bagaskara seperti seseorang yang sedang kesurupan menghajar Tumenggung Daveda Maasa. Pada saat itu Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dan Raden Athaya Pasopati segera menghentikan tindakan itu.


"Cukup!. Ananda putri!."


"Jangan hentikan ananda, ayahanda prabu!."


"Tolong hentikan gusti putri."


"Putriku ananda arkadewi. Apa yang telah terjadi?. Kenapa ananda menghajarnya nak?!."


"Apa yang terjadi sebenarnya?. Katakan pada kami ananda putri."


"Uhuk!."


"Paman. Apakah paman baik-baik saja?."


Mereka semua sangat terkejut melihat kemarahan yang telah ditunjukkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu. Sungguh kemarahannya sangat tidak biasa sehingga ia menghajar seseorang dalam keadaan parah seperti itu.

__ADS_1


"Jelaskan pada ayahanda!. Apa yang terjadi sebenarnya?!. Tidak biasanya ananda putri terbawa emosi seperti ini?."


"Begitu banyak kesalahan yang telah dia lakukan ayahanda prabu. Akan tetapi dia masih saja tidak mau mengakui perbuatannya. Akan tetapi dia malah ingin mengajarkan pada ananda bagaimana caranya membunuh seseorang."


"Benarkah itu tumenggung daveda maasa?. Katakan yang sebenarnya padaku!. Kau akan dikutuk oleh Dewata Agung jika aku berani berkata bohong kepadaku!."


Sungguh, prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak menduga akan mendengarkan perkataan itu dari putrinya. Apalagi ketika ia melihat putrinya yang sedang dilanda oleh kemarahan yang sangat luar biasa. Sementara itu Raden Athaya Pasopati yang sangat mengenal bagaimana Putri Arkadewi Bagaskara, tentunya sangat penasaran penyebab dari kemarahan sang putri. Sehingga ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada Putri Arkadewi Bagaskara.


"Apakah hanya karena itu?. Apakah hanya karena itu?. Gusti putri arkadewi marah padanya?."


"Aku tidak akan marah hanya karena itu saja. Akan tetapi ada tiga dosa yang telah ia lakukan selama hidupnya."


"Tiga dosa yang telah ia lakukan?."


"Apakah ayahanda masih ingat dengan kejadian terbunuhnya senopati manda apara?."


"Senopati manda apara?. Tentu saja aku masih ingat dengan senopati yang baik hati itu. Satu-satunya senopati yang bisa aku percayai untuk melakukan penelusuran di desa-desa. Apakah ananda mengetahui apa yang menyebabkan kematiannya?."


"Dia yang telah mencipta senopati manda apara do sebuah hutan, namun setelah itu ia mengarang sebuah cerita, bahwa senopati manda apara telah dibunuh oleh perampok yang memang sengaja ia buat untuk mengelabui kita semua ayahanda prabu."


"Bohong!. Itu bohong!. Hamba tidak mungkin melakukan seperti yang dikatakan oleh gusti putri!. Itu adalah fitnah gusti prabu!."


"Diam kau!. Berani sekali kau berkata seperti itu gusti putri. Gusti putri arkadewi bagaskara tidak pernah berbohong!."


Mereka semua sangat terkejut ketika melihat Raden Athaya Pasopati membentak Tumenggung Daveda Maasa, saat itu ia membela Putri Arkadewi Bagaskara.


"Aku yakin kau memang telah melakukan sebuah kejahatan. Jika memang kau tidak melakukan kejahatan, maka wajahmu tidak akan sepucat ini. Sepertinya kau sangat ketakutan ketika kejahatan yang telah kau lakukan terbongkar semua di hadapan gusti putri arkadewi bagaskara."


"Jawablah dengan jujur. Mau sampai kapan kau akan berbohong?. Kau harus membayar semua kejahatan yang telah kulakukan."


"Mohon ampun gusti prabu. Sungguh hamba tidak melakukan kejahatan itu."

__ADS_1


Tumenggung Daveda Maasa malah menangis terus ketika itu, bunga bersedih meminta pengampunan dan mengatakan bahwa jika ia tidak melakukan itu.


"Sebaiknya kau tidak usah meminta perlindungan dari gusti prabu maharaja ganendra ardajita. Aku yang akan menghukum mu!. Atau kau lebih memilih dihukum oleh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan?!. Kau ingin mati dengan cara yang seperti apa?!."


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara. Itu adalah ancaman yang sangat mengerikan yang pernah mereka dengar. Tentunya mereka semua mengetahui siapa pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu.


"Ananda putri." Dalam hati Ratu Astina tidak menduga akan mendengarkan seperti itu dari anaknya.


"Saat itu dia mengancam kami seperti itu." Dalam hati Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara masih ingat dengan ancaman yang dilayangkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara saat itu.


"Menyerah lah paman. Tidak ada gunanya kau melawan saat ini. Aku saja perbuatan jahatmu itu, jika memang kau tidak ingin berurusan dengan pendekar pembunuh bayaran berlatih hitam itu daripada berurusan dengan gusti prabu maharaja ganendra ardajita."


"Jika kau tidak mau mengakui perbuatanmu, itu artinya kau lebih takut kepada pendekar pembunuh bayaran itu?. Dari pada takut kepadaku sebagai seorang raja?. Sehingga keberanian berbohong di hadapanku!."


"Hamba menyerah gusti prabu. Hamba telah mengakui semua kejahatan yang telah hamba lakukan."


Akhirnya ia menyerah dan mengakui semua perbuatan jahat yang selama ini. Saat itu ia menangis karena tidak tahan dengan tekanan yang ia terima pada saat itu. Sedangkan Ratu Astina pada saat itu memperhatikan bagaimana putrinya yang marah. Sungguh ia tidak menduga jika putrinya lebih ganas dari apa yang ia bayangkan selama ini.


"Yunda." Putri Kasih Bagaskara memberi kode pada kakaknya itu agar pergi meninggalkan mereka semua.


"Baiklah." Putri Kenanga Bagaskara mengikuti adiknya untuk pergi meninggalkan mereka. "Aku tidak menduga jika dia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat luar biasa." Putri Kenanga Bagaskara memperhatikan bagaimana Putri Arkadewi Bagaskara saat itu menghajar Tumenggung Daveda Maasa.


"Sepertinya memang tidak mudah untuk membunuhnya." Dalam hati Putri Kasih Bagaskara sedang memikirkan bagaimana cara menyingkirkan Putri Arkadewi Bagaskara dari istana.


"Heh!. Kalian akan mendapat giliran dariku nantinya." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara melirik kepergian kedua kakaknya itu. Saat itu suasana hatinya masih dipenuhi oleh gemuruh yang sangat luar biasa.


Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2