TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 38


__ADS_3

...***...


Malam harinya di Kaputren Istana.


Saat itu Ratu Astina masih bersama Putri Arkadewi Bagaskara, karena ia masih sangat khawatir dengan keadaan anaknya itu. Sungguh ia tidak menduga jika anaknya akan memutuskan perkara seperti itu?.


"Rasanya ibunda sangat gelisah dengan apa yang telah ananda putri putuskan." Ucapnya dengan raut wajah yang sangat gelisah. "Apakah memang seperti itu yang dinamakan dengan keadilan?. Katakan pada ibunda." Sungguh ia belum merasa tenang jika ia tidak mendengarkan perkataan anaknya itu.


"Keadilan bukan hanya dilihat dalam sekali kedipan mata saja ibunda. Dosa-dosanya yang sangat besar itu tidak bisa diampuni begitu saja." Jawab Putri Arkadewi Bagaskara. "Jika ibunda mengetahui bagaimana kelakuan bejatnya itu. Jika ibunda adalah seorang pendekar bebas yang tidak terjerat hukum. Tentunya ibunda akan melakukan pembunuhan secara langsung padanya." Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu masih merasakan bagaimana perasaan yang sangat sesak di hatinya.


"Tapi putriku-." Ratu Astina hanya ingin anaknya menggunakan pikirannya dan perasaannya ketika menghukum seseorang?.


"Itu karena ibunda tidak mengetahui bagaimana penderitaan rakyat di luar sana. Bagaimana jeritan hati mereka, ketika orang-orang yang mereka sayangi dibunuh begitu saja oleh tumenggung daveda maasa." Sungguh hatinya semakin sakit melihat mata ibundanya yang menyimpan rasa iba pada Tumenggung Daveda Maasa?. "Apakah ibunda tidak merasakan jeritan hati dari istri dan anak dari senopati manda apara?." Putri Arkadewi Bagaskara benar-benar terbawa amarah yang sangat membara, kesedihan yang bercampur aduk di dalam hatinya pada saat itu. "Ibunda adalah seorang wanita, seorang ibu, bukan?. Apakah ibunda tidak menjerit menangis pilu?. Ketika anak gadisnya dijual kepada para saudagar kaya?. Apa yang akan ibunda lakukan?. Saat anak gadis ibunda dijual pada orang lain?. Seperti perdagangan hewan?!." Ada sebuah kemarahan yang ditunjukkan olehnya pada saat itu.


"Bukankah ada raja?. Ada hukum yang bisa melindungi mereka?. Kenapa mereka tidak mengadu ke istana masalah itu?." Ratu Astina mencoba untuk memberikan penjelasan pada anaknya.


"Heh!. Hm!. Hua!. Hahaha!." Entah kenapa Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya.


"Putriku?!. Apa yang membuat dirimu tertawa?. Ibunda sama sekali tidak memberi kelawakan sehingga ananda putri tertawa seperti itu?!." Ratu Astina sangat kesal melihat reaksi anaknya saat itu.


"Katakan pada ayahanda prabu!. Jika memang ia ada seorang raja yang memberikan perlindungan hukum kepada rakyatnya!. Maka pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu!. Tidak akan lahir di dunia ini!. Jika saja ia memang adalah seorang raja yang memberikan hukuman kepada orang-orang yang telah berbuat jahat!." Teriaknya dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu ananda putri!." Ratu Astina memberi peringatan pada anaknya.


"Sebaiknya ibunda pergi saja dari sini. Karena ibunda tidak akan mengerti bagaimana penderitaan mereka selama ini. Karena yang mereka laporkan hanyalah sebuah kebohongan." Putri Arkadewi Bagaskara pada saya itu mencoba menahan amarahnya. "Tugasku yang sedang adalah, memberikan hukuman kepada mereka yang telah melakukan kejahatan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Dan nyatanya sekarang mereka sedang bersikap biasa-biasa saja, duduk dengan teman istana ini dengan menggunakan topeng pemanis wajah. Sedangkan rakyat saat ini sedang menjerit meminta perlindungan, akan tetapi ayahanda prabu sebagai raja tidak bisa memberikan itu!." Suaranya kali ini terdengar sangat keras.


Plak!.


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Putri Arkadewi Bagaskara.


"Jangan rendahkan harga dan martabat ayahandamu sebagai seorang raja. Apakah kau tidak memiliki rasa hormat pada ayahanda mu lagi?!." Sungguh, hatinya sangat sakit mendengarkan apa yang telah dikatakan anaknya.


Putri Arkadewi Bagaskara terdiam sejenak, dan ia merasakan gejolak yang sangat tidak biasa pada saya itu. "Kalau begitu, akan aku perlihatkan pada ibunda. Bagaimana penderitaan rakyat yang selama ini disembunyikan oleh mereka semua." Putri Arkadewi Bagaskara benar-benar sangat emosi atas perlakuan ibundanya pada saat itu.


Deg!.


Saat itu Ratu Astina telah masuk ke dalam dimensi kegelapan yang sangat membuat nafas sesak. Dimensi yang diisi oleh cerita semua orang yang dipenuhi oleh kesedihan yang mendalam.


Apakah yang diperlihatkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara pada ibundanya Ratu Astina?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu di sisi lain.

__ADS_1


Raden Athaya Pasopati yang berada di rumahnya saat ini sedang gelisah setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


Kembali saat sebelum ia pergi meninggalkan istana.


"Kenapa gusti putri repot-repot ingin menjadi prajurit khusus?. Jika gusti putri ingin membuktikan mereka bersalah?. Apakah ayahanda senopati dan gusti prabu tidak cukup untuk mengatasi masalah yang ada?." Dengan hati-hati ia bertanya seperti itu.


"Sikap apa yang mereka lakukan selama ini bisa mengurangi penderitaan rakyat, maka pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan tidak akan lahir di dunia ini. Sehingga rakyat meminta perlindungan kepadanya." Jawab Putri Arkadewi Bagaskara. "Sudah cukup aku memperhatikan mereka dari jarak jauh selama ini. Rasanya hatiku benar-benar hangus menghitam setelah melihat semua yang mereka lakukan. Telingaku sudah tidak kuat lagi mendengarkan jeritan rakyat, yang meminta perlindungan kepada rajanya. Akan tetapi rajanya sama sekali tidak bisa mendengarkan jeritan rakyatnya sendiri." Ada kemarahan yang ia tunjukkan pada saat itu.


"Apakah saya tidak bisa membantu gusti putri untuk mengatasi masalah itu?." Raden Athaya Pasopati iya sekali membantu apa yang dilakukan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Hanya aku saja yang bisa melakukan pekerjaan ini. Raden tidak perlu ikut campur. Karena aku memiliki dua orang prajurit yang sangat aku percayai untuk memanggil mereka." Dengan tatapan menusuk ia berkata seperti itu. "Cukup aku saja yang menanggung dosa membunuh mereka semua. Aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam masalah ini. Karena itulah aku tidak akan membiarkanmu membantuku walaupun kau berniat baik padaku." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara tentunya tidak ingin melibatkan Raden Athaya Pasopati dalam masalah pembunuhan itu.


"Apakah ada masalah kelam yang tersembunyi di istana ini?. Sehingga gusti putri sama sekali tidak ingin melibatkan saya dalam masalah ini?." Raden Athaya Pasopati masih penasaran.


"Aku katakan tidak, dan jangan bertanya lagi raden." Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara menatap tajam ke arah Raden Athaya Pasopati.


Kembali ke masa ini.


Raden Athaya Pasopati masih penasaran dengan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah yang akan ia lakukan?. Apakah ia akan diam begitu saja dengan sikap Putri Arkadewi Bagaskara yang seperti itu?. Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2