
...***...
Keesokan harinya.
Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan telah datang ke rumah kediaman Dharmapati Tangku Sapa yang saat itu kebetulan berada di rumahnya. Sehingga mereka tidak perlu mencari keberadaan orang yang dituju.
"Selamat pagi gusti dharmapati tangku sapa." Raden Athaya Pasopati menyapanya dengan sangat ramah.
"Oh?. Selamat pagi raden." Ia tampak terkejut. "Ada kakang senopati ratapikir dermawan juga." Lanjutnya. "Silahkan masuk." Ia mempersilahkan keduanya masuk.
"Terima kasih adi. Kau masih ingat padaku ternyata." Ucapnya dengan senyuman kecil.
"Ah!. Kakang jangan berkata seperti itu." Ia mempersilahkan pada tamunya untuk duduk. "Saya belum tua hanya untuk mengingat kakang." lanjutnya sambil tertawa kecil.
Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan hanya diam saja, karena kedatangan keduanya saat itu memiliki tujuan yang harus segera mereka sampaikan.
"Bik!. Bibik!." Ia sedikit mengeraskan suaranya.
"Hamba gusti." Seorang wanita berpakaian emban datang dengan buru-buru. "Apakah ada sesuatu gusti inginkan?." Bik Sana bertanya dengan senyuman kecil.
"Siapkan minuman hangat, serta beberapa makanan yang bisa dihidangkan untuk tamu saya." Ucapnya.
"Baiklah gusti. Akan hamba siapkan." Balasnya sambil memberikan hormat. Setelah itu ia kembali ke dapur untuk menyiapkan semua permintaan tuannya.
"Oh iya. Ada apa kakang?. Tidak biasanya kakang datang ke sini pagi-pagi. bahkan kakang datang bersama raden athaya pasopati." ia menatap keduanya dengan penuh tanda tanya.
"Aku hanya ingin memastikan sebuah kebenaran darimu adi." Jawabnya.
__ADS_1
"Maaf kakang. Rasanya sangat aneh sekali jika kakang yang bertanya seperti itu." Cukup heran baginya. "Apakah terjadi sesuatu kakang?." Ia malah bertanya.
"Aku hanay ingin memastikan, apakah ada seorang pemuda bernama dataya pernah menemuimu atau tidak." Jawabnya. "Apakah kau ingat dengannya?." Ia balik bertanya.
Dharmapati Tangku Sapa saat itu sedang memikirkan beberapa orang yang pernah menemuinya?. Atau ada seseorang yang datang padanya?. "Aku rasa tidak kakang. Aku tidak pernah bertemu dengannya." Hanya itu saja yang ada di dalam pikirannya.
"Coba ingat lagi gusti dharmapati." Raden Athaya Pasopati yang gantian bertanya.
Dharmapati Tangku Sapa melihat ke arah Raden Athaya Pasopati . "Apa maksudnya ini?. Rasanya saya seperti sedang dicurigai telah melakukan sesuatu." Itulah kesan yang ia dapatkan saat itu.
"Ya, mungkin saja seperti itu yang kau rasakan adi." Senopati Ratapikir Dermawan yang berbicara. "Katakan padaku, karena ini berhubungan dengan nyawa seseorang." lanjutnya.
"Apa yang kakang katakan?. Apa maksudnya itu kakang?." Ia masih belum juga mengerti.
"Dataya pernah mengatakan padamu, ia mengadu padamu. Jika kakangnya binto telah dibunuh oleh dharmapati andapati saresa. Dia pernah meminta bantuan padamu untuk menghukumnya. Akan tetapi kau mengabaikannya. Apakah itu benar?. Itulah yang ingin aku pastikan darimu adi." Dengan sangat serius ia berkata seperti itu. "Jadi katakan padaku dengan benar. Karena jika kau berdusta, ada kemungkinan kau akan menjadi sasaran pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Jadi katakan saja kebenarannya adi." Lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Itu tergantung jawaban gusti dharmapati ." Raden Athaya Pasopati yang berbicara. "Jika gusti dharmapati terus terang, bisa jadi pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan akan mengurungkan niatnya jika gusti dharmapati berbicara dengan jujur." Lanjutnya.
Bagaimana dengan tanggapan dari Dharmapati Tangku Sapa?. Simak terus ceritanya .
...***...
Istana Kerajaan.
Putri Arkadewi Bagaskara pagi itu menemui Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.
"Salam hormat, ayahanda prabu." Ia memberi hormat.
__ADS_1
"Duduklah ananda putri." Ucapnya dengan dengan senyuman yang sangat ramah. "Ada hal penting yang akan ayahanda sampaikan padamu." Lanjutnya.
Deg!.
Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara dapat melihat apa yang ia lihat saat itu melalui mata ayahandanya. Ternyata yang akan disampaikan ayahandanya adalah tentang kesedihan yang dirasakan oleh ibundanya.
"Sebenarnya apa yang telah ananda perlihatkan pada ibunda ratu astina?. Sehingga ibunda sangat sedih." Pertanyaan seperti itulah yang saat itu yang ia katakan pada anaknya. "Katakan pada ayahanda, karena ayahanda tidak ingin membuat ibunda terlihat sedih." Lanjutnya.
"Maaf, jika ananda telah membuat ibunda bersedih." Ucapnya sambil memberi hormat. "Saat itu ananda hanya terbawa suasana saja ayahanda prabu." Ucapnya lagi. "Ibunda telah salah paham atas apa yang ananda lakukan." Putri Arkadewi Bagaskara mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi. "Ananda hanya memperlihatkan kesedihan yang dirasakan rakyat. Penderitaan yang sama sekali tidak bisa disentuh oleh ayahanda prabu, karena mereka menggunakan openg pemanis wajah untuk menutupi semua kejahatan yang telah dilakukan oleh petinggi istana." Putri Arkadewi Bagaskara telah menjelaskan semuanya. "Tentunya ananda tidak pernah bermaksud untuk merendahkan ataupun mengatakan bahwa ayahanda prabu adalah raja yang saa sekali tidak bisa melihat itu. Ananda hanya ingin membantu ayahanda prabu saja. Dari pada pendekar pembunuh bayaran itu yang bertindak." Putri Arkadewi Bagaskara saat itu mengatakan alasan kenapa ia melakukan itu.
Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu mencerna apa yang telah disampaikan anaknya. "Ayahanda sangat kenal dengan sikap mu putriku." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tersenyum kecil. "Ananda selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang ananda kerjakan. Ananda selalu mengetahui apa saja, ananda adalah putri yang sangat istimewa yang ayahanda milik." Ujarnya dengan senyuman kecil. "Jadi katakan pada ayahanda apa yang ananda rasakan saat ini. Apakah ananda mengetahui tentang pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan?. Sehingga ananda memanggil beberapa orang yang sangat memiliki kemungkinan dia adalah orang yang tidak baik. Orang yang selama ini bersembunyi di balik topeng pemanis wajah." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita ingin mendengarkannya langsung dari anaknya.
Putri Arkadewi Bagaskara tidak langung menjawabnya. Ia sedang memikirkan apa yang ingin ia sampaikan pada ayahandanya saat itu.
"Sepertinya ayahanda prabu ingin mengetahui tentang orang-orang yang memiliki sifat buruk. Ayahanda prabu hanya tidak ingin dicap sebagai seorang raja yang tidak bertanggung jawab atas penderitaan yang dirasakan rakyat. Hanya itu saja, bagaimana pendapatmu?." Sosok Hitam itu berbicara melalui telepati. Saat itu matanya dapat melihat dengan sangat jelas apa yang diinginkan prabu Maharaja Ganendra Ardajita.
"Saya hanya ingin ayahanda menjadi raja yang bisa melihat sisi lain dari para petinggi istana. Selain paman patih yang sangat setia, ada beberapa petinggi istana lainnya yang memiliki watak yang sangat jahat sekali ayahanda prabu." Itulah jawabannya.
"Kalau begitu, apakah ananda bisa mengatakannya pada ayahanda?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tentunya ingin mendengarkannya.
"Tentu saja ayahanda bisa mendengarkan apa yang ananda katakan." Balasnya dengan senyuman ramah.
Apakah yang akan disampaikan oleh Putri Arkadewi Bagaskara pada ayahandanya?. Simak terus ceritanya.
Next.
...***...
__ADS_1