
...***...
Di hutan yang cukup sepi, saat itu seorang pemuda yang disewa untuk membunuh Putri Arkadewi Bagaskara masih terlihat sangat ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Apa yang ia ragukan?. Apakah ia takut?. Karena yang akan ia incar adalah seorang putri raja?.
"Sial!. Kenapa aku malah semakin ragu untuk melakukan itu?!." Mata Elang tidak bisa memutuskan apa yang telah ia lakukan. "Kenapa aku malah menerima begitu saja permintaan itu hanya karena uang yang telah mereka berikan padaku?!." Ia hampir saja menangis mengingat itu. "Seharusnya aku tidak menerimanya!. Jika saja aku orang yang aku bunuh adalah putri seorang raja!." Teriaknya dengan prustasi.
"Apa yang kau rusuh kan tuan pendekar?." Suara seseorang menyapa dirinya?.
"Hah?. Itu bukan urusanmu!." Dengan kesalnya ia membalas ucapan orang itu.
Deg!.
Ia sangat terkejut ketika melihat seorang wanita yang dengan santainya duduk di atas pohon?. Tersenyum ramah seperti itu padanya?. Namun bukan hanya itu saja yang membuatnya terkejut.
"Tentu saja itu adalah urusanku. Karena yang kau incar adalah aku." Putri Arkadewi Bagaskara?. Apakah benar?.
"Bukan kah kau adalah putri arkadewi bagaskara?!." Mata Elang sangat kenal dengan siapa yang menyapanya itu.
"Ho?!. Jadi kau memang mengenali aku?. Sungguh sangat luar biasa sekali." Putri Arkadewi Bagaskara tidak heran jika banyak orang yang kenal dengannya.
"Jika memang kau mengetahuinya?!. Lantas kenapa kau malah datang padaku?!. Kau ini aneh sekali!." Mata Elang mulai waspada. "Sepertinya dia memiliki kepandaian, sehingga dengan beraninya ia datang padaku, meskipun dia telah mengetahui jika aku telah mengincar nyawanya." Dalam hatinya merasakan ada kekuatan yang disembunyikan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
...***...
Patih Arya Pasopati sepertinya sedang melakukan rencana secara diam-diam. Tentunya ini semua demi menyelidiki para petinggi istana yang mungkin sedang melakukan sesuatu yang sangat berbahaya di belakang mereka?. Sehingga ia menggunakan dua orang prajurit khusus untuk melakukan tugas itu?.
"Untuk saat ini kami masih belum mengetahui ataupun mencurigai siapapun di dalam istana. Bahkan kami tidak melihat ada gerak-gerik yang mencurigakan dari pada senopati ataupun dharmapati." Angkara melaporkan apa saja yang telah ia perhatikan saat itu.
"Mereka semua terlihat sangat normal gusti patih." Makara menambahkan ucapan temannya.
__ADS_1
"Apakah dunia ini telah diisi oleh orang-orang yang pandai bersandiwara di balik topeng pemanis wajah?." Patih Arya Pasopati sangat heran bagaimana caranya mereka memainkan peran mereka selama ini. "Rasanya aku sangat bodoh karena tidak bisa melihat ada hal yang janggal pada mereka semua." Patih Arya Pasopati sangat benci mengakui itu semua.
"Lantas apa yang harus kami lakukan untuk langkah selanjutnya gusti patih?." Angkara mengerti dengan perasaan yang dirasakan Patih Arya Pasopati.
"Apakah kami akan melanjutkan penyelidikan tentang semuanya?." Makara menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan itu.
"Aku mohon pada kalian agar lebih teliti lagi saat melihat seseorang yang mungkin akan terlihat mencurigakan nantinya." Patih Arya Pasopati sangat berharap pada kedua anak buahnya itu. "Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap mereka yang seakan-akan tidak pernah terjadi apapun." Patih Arya Pasopati tidak akan membiarkan itu semua.
"Baiklah, akan kami lakukan sesuai dengan perintah gusti patih." Angkara menyetujui perintah itu.
"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik gusti patih." Makara juga setuju dengan tugas yang akan ia lakukan.
"Mohon kerjasamanya." Patih Arya Pasopati sangat lega keduanya mau melakukannya.
"Kami pamit. Sampurasun." Setelah itu mereka segera pergi untuk memastikan semuanya.
"Rampes." Balasnya. "Apakah dunia memang telah diisi oleh orang-orang yang pandai sekali memainkan sandiwara?." Dalam hati Patih Arya Pasopati sangat cemas dengan keadaan kerajaan yang seperti ini.
...***...
Di dalam Kaputren.
Sepertinya Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara masih belum puas mengenai apa yang telah mereka lakukan.
"Apa yang harus kita lakukan yunda?." Putri Kasih Bagaskara sangat gelisah setelah mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara. "Apakah menurut yunda, arkadewi telah berkata dusta pada kita?." Ia tidak akan percaya begitu saja.
"Aku sangat yakin, jika dia telah berkata dusta." Putri Kenanga Bagaskara dengan tegasnya berkata seperti itu. "Aku sangat yakin, jika jika dia telah berkata dusta." Ia tidak mau tertipu dengan mudahnya.
"Kalau begitu kita tanyakan terlebih dahulu pada ibunda. Mungkin ibunda ratu kemala mengetahuinya." Putri Kasih Bagaskara memberikan saran pada kakaknya.
__ADS_1
"Kau benar. Mungkin saja ibunda ratu kemala mengetahuinya." Putri Kenanga Bagaskara sangat setuju.
"Kalau begitu ayo kita temui ibunda ratu kemala." Putri Kasih Bagaskara tidak ingin berlama-lama.
"Mari yunda." Putri Kasih Bagaskara mempersilahkan kakaknya untuk berjalan duluan.
Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Ratu Astina dan Ratu Kemala pada saat itu sedang masuk ke ruangan kerja Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Sepertinya keduanya sangat mencemaskan keadaan sang Prabu.
"Kanda prabu." Keduanya memberi hormat.
"Dinda kemala, dinda astina." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak menyangka akan melihat kedua istrinya. "Sepertinya ada yang dinda berdua cemaskan?. Kenapa raut wajah dinda berdua seperti itu?. Apakah ada sesuatu yang mengganggu dinda?." Ia melihat raut wajah kecemasan pada kedua istrinya.
"Tentu karena kanda prabu masih berada di ruangan ini, tentukan itu sangat mengganggu kami kanda prabu." Ratu Kemala menjelaskan kenapa ia terlihat cemas.
"Prajurit, serta emban mengatakan pada kami jika kanda prabu belum istirahat sama sekali. Juga kanda prabu belum menyentuh makanan yang dihidangkan oleh emban." Ratu Astina juga sangat cemas.
"Apa yang kanda prabu pikirkan sebenarnya?. Apakah itu tidak bisa dibagikan pada kami masalahnya?." Ratu Kemala sangat perhatian pada suaminya yang merupakan seorang Raja terhormat.
"Benar itu kanda prabu. Apakah kami tidak bisa membantu sama sekali?. Katakan apa yang bisa kami bantu kanda prabu." Ratu Astina mencoba untuk tersenyum.
"Terima kasih atas perhatian yang kanda berdua berikan pada kanda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat senang dengan apa yang telah dilakukan oleh kedua istrinya. "Kalau begitu temani kanda di sini untuk sejenak." Ia juga mencoba untuk tetap santai meskipun banyak masalah yang sedang ia hadapi pada saat itu.
"Baiklah kanda prabu." Dengan senang hati keduanya akan melakukan itu.
"Masih banyak masalah yang harus dihadapi." Dalam hatinya sangat gelisah dengan itu semua. "Aku harus segera mengatasi masalah ini, bukan hanya karena aku sebagai seorang raja. Melainkan untuk kesejahteraan rakyat." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra berjanji akan melakukannya dengan sangat baik. Ia tidak akan membiarkan masalah itu berlanjut terus, hingga menumpahkan banyak darah .
__ADS_1
Next.
...***...