
...***...
Di istana kerajaan Mahamega Suci.
Di bilik Putri Arkadewi Bagaskara. Saat itu Ratu Astina menemani anaknya, karena ia masih gelisah dengan apa yang dikatakan Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mengenai putrinya Arkadewi Bagaskara.
"Apakah nanda putri benar-benar ingin terlibat dalam masalah pemerintahan?." Ratu Astina sekali lagi memberikan pertanyaan yang sama.
"Itu semua tergantung pada ibunda." Putri Arkadewi Bagaskara hanya tersenyum melihat raut wajah ibundanya yang sangat sedih.
"Tapi, apakah ananda sudah sangat yakin ingin terlibat dengan urusan pemerintahan?." Ratu Astina hanya tidak ingin anaknya mengalami masalah nantinya.
"Tentu saja sangat yakin. Karena ada sesuatu yang harus nanda lakukan, jika anda telah memilik jabatan nantinya di istana." Putri Arkadewi Bagaskara memberikan penjelasan pada ibundanya.
"Memangnya apa yang akan ananda lakukan?. Jika ananda mendapatkan jabatan nantinya?." Ratu Astina sedikit bingung dengan apa yang telah dikatakan anaknya.
"Ibunda tenang saja. Ini bukanlah hal yang berbahaya." Putri Arkadewi Bagaskara menggenggam lembut tangan ibundanya. "Ini akan memajukan kesejahteraan rakyat nantinya." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum lembut menatap ibundanya.
"Baiklah, jika memang ananda memiliki tujuan yang baik. Maka ibunda tidak akan keberatan sama sekali." Ratu Astina akhirnya menyerah, setelah ia mengetahui tujuan anaknya yang sangat baik.
...***...
Di dalam istana itu sendiri.
Setelah mengatasi masalah yang ada di pasar kota raja, Patih Arya Pasopati segera melaporkan kejadian itu pada Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.
"Para perusuh pasar, dan tiga orang prajurit yang menjadi korban kali ini gusti prabu." Patih Arya Pasopati terlihat sangat gelisah dengan apa yang telah terjadi.
"Kejadian itu telah dilakukan oleh pembunuh bayaran belati hitam kegelapan?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita hanya ingin memastikan apa yang ia simak tadi.
__ADS_1
"Benar gusti prabu." Patih Arya Pasopati memberi hormat.
"Tapi apa hubungannya dengan kematian tiga orang prajurit itu?. Apakah karena mereka melihat tiga orang penjahat pasar itu diserang?. Sehingga pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu juga membunuh prajurit kita?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedikit bingung.
"Mungkin memang seperti itu yang ada di dalam pikirkan seseorang yang melihat itu gusti." Jawab Patih Arya Pasopati. "Akan tetapi, belati hitam kegelapan itu memperlihatkan hal yang lain gusti prabu." Patih Arya Pasopati mengatakan apa yang telah diperlihatkan belati hitam kegelapan padanya.
"Memperlihatkan hal yang lain?. Misalnya?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita semakin bingung mendengarkan ucapan itu.
"Ternyata selama ini, ketiga prajurit itu yang selalu melindungi ketiga penjahat pasar itu untuk melakukan kejahatan, sehingga memberikan ancaman yang sangat menakutkan bagi pedagang pasar kota raja." Patih Arya Pasopati melaporkan semuanya?. Apakah benar itu yang terjadi?.
"Benar-benar sangat kurang ajar!." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat geram. "Bahkan prajurit rendahan berani berbuat seperti itu?." Rasanya ia telah menjadi raja yang sangat buruk, sehingga para prajurit pun berlaku sangat kejam pada rakyatnya?.
"Lalu apa yang akan kita lakukan gusti prabu?." Patih Arya Pasopati meminta pendapat?.
"Untuk saat ini kita harus berjaga-jaga. Apalagi belum ada yang mau mengaku, kejahatan apa saja yang telah dilakukan oleh bawahan kita, raka patih." Untuk pertama kalinya Prabu Maharaja Ganendra menyebut raka pada Pada Patih Arya Pasopati.
Sebagai seorang pemimpin, apakah yang akan dilakukan sang prabu?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di satu sisi.
Pemuda yang sangat dendam pada Putri Arkadewi Bagaskara telah berhasil masuk ke dalam istana. Kali ini ia menyamar menjadi salah satu prajurit jaga di sekitar Kaputren.
"Heh!. Aku tidak menduga, istana ini cukup megah juga." Dalam hatinya sungguh tidak menduga itu. "Setelah berhasil masuk, aku akan mencari kesempatan, untuk berhadapan langsung dengannya. "Tunggu saja, apa yang telah kau lakukan padaku, pada guruku, juga pada teman-teman seperguruanku." Dalam hatinya masih tidak bisa menghilangkan dendam yang sangat membara di dalam hatinya pada saat itu.
Apakah ia bisa melampiaskan amarahnya pada Putri Arkadewi Bagaskara?. Siapa yang bisa menjawabnya?.
...***...
__ADS_1
Sementara itu Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara saat ini sedang berada di luar istana. Saat ini mereka telah menemukan seorang penjahat yang sangat cocok untuk menghabisi nyawa putri Arkadewi Bagaskara.
"Tidak biasanya dua orang wanita cantik yang datang menemuiku di hutan ini." Pemuda itu tersenyum lebar.
"Kau hanya perlu satu hal." Putri Kenanga Bagaskara melepmarkan kantong hitam yang berisikan uang yang sangat banyak.
"He?. Siapa yang akan aku bunuh?." Meskipun pemuda itu tidak mengetahui jika yang datang menemuinya adalah kedua putri Raja. "Uangnya sangat banyak sekali." Dalam hati pemuda itu terlihat sangat senang.
"Bunuh arkadewi bagaskara." Dengan raut wajah yang dingin Putri Kenanga Bagaskara berkata seperti itu.
"Arkadewi bagaskara?." Pemuda itu mengulang nama itu. Ia tampak memikirkan sosok seseorang yang akan ia bunuh, karena ia adalah pendekar pembunuh bayaran yang sangat kejam?. "Jika aku tidak salah ingat,bukankah itu naman putri bungsu dari prabu maharaja ganendra ardajita." Pemuda itu mengingatnya dengan sangat baik. "Maksudnya?. Kalian ingin aku membunuhnya?." Pemuda itu hanya ingin memastikan sekali lagi.
"Ya, tentu saja." Balas Putri Kasih Bagaskara.
Pemuda itu terlihat menghela nafasnya dengan sangat lelah. "Aku tidak tahu, dendam seperti apa yang sedang bersarang di kepala kalian saat ini." Ia menyimpan kantong uang itu ke dalam sakunya. "Akan aku lakukan dengan persiapan yang matang. Tapi aku tidak janji dalam satu hari ini akan membunuhnya. Tentunya aku harus mengetahui kelemahannya, karena aku tidak mau terbunuh oleh patih arya pasopati, ataupun bahkan oleh ayahandanya langsung." Setelah berkata seperti itu ia langsung melompat ke atas pohon, dan ke pohon lainnya. Ia tidak peduli bagaimana dengan reaksi kedua wanita itu. "Kalau minta sesuatu dengan nyawa seseorang ngotak dikit dong?. Masa aku diminta membunuh seorang putri raja?." Dalam hatinya sangat dongkol, ia sendiri tidak yakin bisa melakukannya. "Akan tetapi, semua demi uang yang telah aku dapatkan." Dalam hatinya sangat mengutuk jumlah uang yang ia dapatkan.
Sementara itu Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara?.
"Apakah kau yakin?. Jika dia akan melakukannya rayi kasih?." Putri Kenanga Bagaskara agak meragukan itu.
"Yunda tenang saja, aku sangat yakin jika dia akan melakukannya dengan baik." Putri Kasih Bagaskara terlihat sangat percaya diri.
"Lalu bagaimana caranya kita memancingnya untuk keluar?." Putri Kenanga Bagaskara malah bertanya seperti itu pada adiknya?.
"Banyak hal yang bisa kita lakukan jika hanya memancingnya yunda." Balas Putri Kasih Bagaskara.
Next.
...***...
__ADS_1