
...***...
Jala Hitam dan Mata Elang pada saat itu masih berada di kediaman Senopati Bagustara Jaya. Tentu kedatangan mereka adalah untuk menjemput Senopati Bagustara Jaya?. Akan tetapi apa yang terjadi pada saat itu?.
"Atas dasar apa dia memanggilku?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Sebaiknya gusti senopati tidak membantah. Ini adalah perintah langsung-." Ucapnya terhenti.
"Diam kau prajurit rendahan!." Bentaknya dengan suara lebih tinggi lagi?.
"Apakah gusti senopati berani menentang perintah gusti putri arkadewi bagaskara?." Mata Elang saat itu memastikan apa yang dikatakan oleh Senopati Bagustara Jaya. "Jika dari penglihatan ku sih?." Dalam hati Mata Elang mencoba menebak apa yang akan dikatakan oleh Senopati Bagustara Jaya.
"Tentu saja aku berani!." Dengan suara yang sangat keras iya berkata seperti itu.
"Sepertinya dugaanku sangat tepat sekali." Dalam hati Mata Elang sangat senang mendengarkan itu.
"Sebaiknya kalian pergi saja dari sini!. Karena aku tidak akan pernah datang menemui dirinya!." Bentaknya lagi. Suasana hatinya pada saat itu sedang diselimuti oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Baiklah. Pesan bahagia ini akan segera kami sampaikan pada gusti putri arkadewi bagaskara." Balas Jala Hitam dengan senyuman yang sumringah.
"Apa yang kau katakan prajurit rendahan?!." Dengan penuh amarah yang sangat luar biasa ia bertanya seperti itu?.
"Tidak apa-apa. Hanya saja sangat disayangkan sekali." Balas Mata Elang dengan senyuman yang sangat ramah. "Sebenarnya gusti putri arkadewi bagaskara memanggil gusti senopati?. Tentunya untuk melindungi gusti senopati dari incaran pendekar pembunuh bayaran." Lanjutnya lagi. "Akan tetapi karena gusti senopati telah menolak panggilan gusti putri arkadewi bagaskara?. Maka jangan salahkan gusti putri arkadewi bagaskara, jika aguste senapati akan mati dibunuh oleh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.
__ADS_1
"Kurang ajar!. Berani sekali prajurit terendahan seperti kau berkata seperti itu padaku!." Karena amarah yang ia rasakan saat itu tidak dapat ia tahan lagi, Senopati Bagustara Jaya menyerang Jala Hitam dan Mata Elang. Akan tetapi keduanya dapat menghindari serangan itu, karena pada dasarnya keduanya bukanlah prajurit biasa. "Ho?. Karena kalian memiliki kepandaian?. Kalian berani mengeluarkan ancaman kepadaku?. Hebat sekali putri arkadewi bagaskara mengutus prajurit seperti kalian!." Ia tidak menduga itu. "Kalau begitu mari kita bermain-main sebentar." Ucapnya dengan nada merendahkan Jala Hitam dan Mata Elang.
"Kami rasa itu tidak perlu." Balas Mata Elang. "Karena tugas kami hanya menyampaikan pesan panggilan saja." Lanjutnya. "Karena gusti senopati telah menolaknya?. Maka tugas kami telah selesai. Lagi pula tidak ada gunanya kami membuang-buang tenaga kami hanya untuk meladani kemarahan gusti senopati. Kami masih sayang nyawa kami, jika kami sampai bertarung dengan gusti senopati." Ucapnya sedikit menjelaskan alasannya.
"Heh!. Dasar pengecut!." Hatinya masih sakit karena ucapan Jala Hitam dan Mata Elang. "Katakan saja kalian tidak berani melawan aku!. Sehingga kalian berkata masih sayang nyawa?!. Prajurit rendahan seperti kalian memang pantas mati!." Hatinya saat itu memang dipenuhi dengan amarah.
"Kami sama sekali tidak takut mati ditangan gusti senopati. Namun yang kami takutkan adalah kemarahan gusti putri arkadewi bagaskara." Jawabnya. "Kau akan mati seketika jika kau berani membantah ucapannya." Dalam hatinya lebih takut pada Putri Arkadewi Bagaskara.
"Kami pergi dulu." Ucap Mata Elang.
Setelah itu keduanya pergi begitu saja, tidak ada rasa hormat yang mereka tunjukkan pada saat itu.
"Kurang ajar!. Jadi mereka lebih takut pada arkadewi bagaskara dari pada aku?!." Ia sangat tersinggung dengan apa yang ia dengar tadi. "Tapi kenapa dia malah memanggil aku?. Melindungi aku dari ancaman pendekar pembunuh bayaran?!. Jangan bercanda padaku!." Hatinya yang saat itu sangat panas. "Berani sekali mereka mengancam aku dengan mengarahkan aku pada pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu!." Sungguh yang tidak terima sama sekali dengan apa yang terjadi. "Aku harus menggunakan cara yang sangat jitu untuk membunuh pendekar membunuh bayaran pelatih hitam kegelapan itu sebelum aku yang dibunuh olehnya." Sepertinya di dalam kepalanya saat itu memiliki banyak rencana untuk melakukan pencegahan itu.
...***...
Sementara itu, prajurit yang datang ke istana.
Pajara, itulah nama prajurit itu. Ia datang dengan keadaan tergesa-gesa. Saat itu ia tidak sengaja bertemu dengan Senopati Ratapikir Dermawan.
"Hormat saya gusti senopati." Ucapnya memberi hormat.
"Ada apa prajurit?. Sepertinya kau tampak sedang terburu-buru." Senopati Ratapikir Dermawan bertanya karena penasaran.
__ADS_1
"Mohon maaf gusti senopati. Saya hendak memberikan laporan kepada gusti prabu maharaja ganendra ardajita. Bahwa gusti dharmapati andapati saresa telah terbunuh. Ada kemungkinan itu adalah ulah dari pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan." Jawabnya.
"Apa?!." Sungguh yang sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. "Apakah kau tidak salah dalam berbicara?. Apakah kau adalah prajurit yang berjaga di sekitar rumahnya?." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya saat itu.
"Saya tidak berbohong gusti. Bahkan saat ini mungkin raden athaya pasopati sedang berada di sana bersama teman saja muji." Jawabnya dengan sangat yakin.
"Baiklah. Kalau begitu aku yang akan mengatasi masalah ini." Ucapannya. "Karena gusti prabu maharaja ganendra ardajita saat ini sedang tidak bisa diganggu." Lanjutnya.
"Baiklah jika memang seperti itu. Mari saya antarkan ke kediaman dharmapati andapati saresa." Prajurit itu mempersilahkan Senopati Ratapikir Dermawan untuk mengikutinya.
"Demi dewata yang agung. Begitu banyak masalah yang terjadi di kerajaan ini." Dalam hati Senopati Ratapikir Dermawan sangat heran dengan apa yang telah terjadi. "Belum masalah pembunuhan yang dilakukan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan, sekarang kabar yang beredar?. Gusti putri arkadewi bagaskara memanggil siapa saja yang telah terbukti melakukan kesalahan." Dalam hatinya sangat gelisah dengan apa yang terjadi.
Apakah mereka sanggup menghadapi situasi yang kacau itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
Putri Arkadewi Bagaskara masih bersama Raden Darsa Endaru, tentunya itu membuat Raden Darsa Endaru merasa sangat gelisah?. Karena Putri Arkadewi Bagaskara sangat mudahnya mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya saat itu. Putri Arkadewi Bagaskara juga menyadari, jika Raden Darsa Endaru terlihat sangat tertekan dengan apa yang telah ia katakan.
"Baiklah?. Kalau begitu kita ganti saja pembahasannya." Ucapnya dengan senyuman yang ramah.
"Ya!. Aku rasa itu ide yang sangat bagus." Raden Darsa Endaru menghela nafasnya dengan sangat lega. "Kau ini selalu saja membuat jantungku ingin melompat dari tempatnya." Dalam hatinya sangat takut dengan itu. "Semua yang ada padamu itu terasa bertemu dengan malaikat kematian." Itulah yang ia rasakan saat itu.
Apakah benar?. Next.
__ADS_1
...*** ...