
Pagi ini seperti biasa Mayang tengah sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya untuk ke kantor. Mulai dari menyiapkan pakaian sampai menyiapkan sarapan Mayang yang turun tangan. Meski di rumah utama terdapat hampir 10 orang pelayan, namun kalau untuk suaminya Mayang tidak mau pelayan yang mengurusnya. Karena Mayang tengah hamil besar membuat Mayang agak kesusahan utuk mengaduk masakan di depan kompor, maka pelayan akan siap membantunya.
'' Mas, pagi ini May ikut nebeng Mas boleh ga? May mau jenguk Kakek sekalian bawa sarapan buat Tisa.'' Memang sejak sebulan lebih Tuan Agung mengalami koma, Tisa tidak pernah tidur di rumah utama. Tisa akan pulang hanya untuk mengambil keperluannya atau seperti semalam karena ada acara makan malam penting.
''Boleh sayang, untuk bidadariku apa yang tidak.'' Danu meraih peinggang istrinya, hendak mencium namun Danu agak kesusahan karena terhalang perut Mayang yang sudah sangat buncit.
'' Lihat lah sayang, belum lahir saja aku sudah dihalanginya untuk manja-manja denganmu. Bagaimana kalau sudah lahir, mungkin tidurku akan tergusur.'' Gelak tawa Mayang merekah mendengar ocehan suaminya.
Pagi ini Danu akan mengunjungi lahan yang akan dijadikan proyek kerja samanya dengan Yuki. Perusahaan Yuki sudah mendesak agar proyeknya segera berjalan. Sedangkan Tama akan menjalankan kerja sama dengan perusahaan Oasis, sama besarnya dengan proyek yang dijalankan Danu. Tentunya akan sangat membantu untuk menguatkan kembali Baragajasa Group yang tengah goyah.
Tok tok tok...
'' Tuan Nyonya, di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan.'' Seru seorang pelayan dari luar pintu kamar Danu.
'' Ya, suruh tunggu sebentar. Kami akan segera turun.'' Jawab Danu setengah berteriak.
'' Siapa Mas?'', ucap Mayang sambil merapikan baju dan dasi Danu. Danu hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Terlihat seorang wanita seksi dengan rok yang hampir tidak menutupi bagian bawahnya, Bahkan dua durian montongnya menyembul keluar sangking sempit baju yang dia kenakan.
__ADS_1
Bukan maksud mengibah, tapi wanita ini persis seperti wania pinggir jalan yang sedang menunggu pelanggannya. Dandannya aduh pokoknya cantikan ondel-ondel lagi, entah belajar make up dimana dia. Mayang menutup senyumnya dengan tangan, takut tu ondel-ondel malah ngamuk.
'' Maaf Nona Yuki ada perlu apa ya?'' Danu terlihat bingung atas kedatangan Yuki yang tiba-tiba. Yuki mendekat dengan senyum yang menurutnya sendiri sangat mempesona tapi menurut mereka yang melihat sungguh menjijikan.'' Ya untuk ketemu sama kamu lah. Kamu lupa ya kita ada janji.'' Kelopak mata Danu langsung melebar dan Mayang malah biasa aja. Sudah tau mungkin Mayang akal-akalannya tu ondel-ondel.
'' Sayang, ada tamu kok malah di plototin sih. Ajak makan ayo May udah masak banyak.'' Mayang bergelayut manja dilengan Danu. Saat akan melangkah,'' udah firasat kalu bakalan ada yang numpang makan.'' Bisik Mayang pelan namun masih terdengar jelas oleh Yuki. Terlihat Yuki mengepalkan tangannya karena sangat geram dengan ocehan istri Danu itu.
Berlahan Mayang meletakan tas kantor Danu di atas kursi di samping tangga naik ke lantai atas. Sekilas mata elang Yuki menatap tajam ke arah tas Danu. Seringai aneh muncul dari wajahnya.
Tanpa sungkan Terlihat Yuki makan seporsi penuh nasi goreng lengkap dengan sosis, ayam filet serta satu telor mata lembu. Sudah kayak kuli bangunan yang udah ga makan tiga hari, lahap bener. Untung Tama sudah berangkat duluan, kalau tidak mungkin sudah hilang selera makannya.
'' Tu ondel kayak habis puasa tujuh hari tujuh malam aja, mana ayamnya pake nambah-nambah lagi. Bener-bener ga ada akhlak.'' Kesal Mayang dalam hati. Belum selesai Mayang dan Danu sarapan, tiba-tiba Yuki permisi ke kamar mandi. Setelah di arahkan Mayang, Yuki berjalan berlalu pergi.
'' Mas, jam tangan kamu mana?'' Seketika Danu langsung menatap pergelangan tangannya.'' Lupa pakenya ya, gara-gara tu ondel-ondel datang.'' Danu dan Mayang cekikikan pelan takut ketauan orangnya. '' Mas tunggu di sini, Mayang ambilkan dulu ke kamar.'' Danu mengangguk sambil mengunyah dengan lahap.
'' Ti----tidak ada, mm ini aku lagi tarok tasnya tadi terjatuh.'' Yuki nampak kikuk. Tidak mau Mayang makin curiga, Yuki bergegas kembali ke meja makan.'' Mencurigakan.'' Gumam Mayang.
'' Sayang, nanti di rumah sakitnya jangan lama ya. Mas takut kamu kecapean.'' Danu membelai lembut rambut Mayang yang menutup keningnya. Kecupan hangat tak lupa Danu tinggalkan.
Yah, akhirnya Mayang mengalah untuk tidak di antar Danu. Mengingat lokasi yang mereka tuju berlawanan arah. Yuki tidak bawa mobil, jadi Danu dan Yuki langsung lah menuju lokasi proyek mereka.
__ADS_1
'' Untung hatiku seluas samudra, kalau tidak mungkin sudah ku suruh kucing betina itu jalan kaki. Huh..bikin kezel aja.'' Gerutu Mayang. Tidak mau berlama-lama Mayang langsung berangkat diantar sopir menuju rumah sakit Tisa dan tempat Tuan Agung tengah dirawat.
Perjalanan cukup mulus, hanya 30 menit Mayang telah sampai di rumah sakit.'' Halo Tisa, Kakak sudah sampai. Kamu dimana?'' Setelah mendengar jawaban Tisa, Mayang langsung menuju tepat di mana Tisa menginap selama ini.
Di rumah sakit ini, memang sudah disiapkan beberapa kamar layaknya hotel berbintang untuk para dokter yang lebih banyak mengahabiskan waktu di rumah sakit. Tentunya kamar Tisa jauh lebih mewah dari kamar-kamar yang lain, secara Tisa adalah direktur utama di rumah sakit besar ini.
'' Kakak ga perlu repot-repot, lihatlah melihat perut Kakak saja rasanya Tisa sudah ngilu. Lagian di sini semua serba ada, jadi Tisa ga akan kelaparan.'' Tisa membantu Mayang menata makanan yang dibawa Mayang di atas meja makan.
'' Ga repot kok Tis, Kakak malah seneng kalo Kakak juga bisa ngurus kamu. Kamu adalah adik suami Kakak dan berarti adik Kakak juga. Sudah ayo dimakan, jangan sampai pipi gembulmu menciut karena kurang gizi hihihi...'' Tisa memukul pelan lengan Kakak Iparnya yang terlihat bahagia telah menggodanya.
'' Ayamnya tinggal segitu, tadi ada ondel-ondel mampir numpang makan. Rakus banget.'' Tisa terlihat bingung.'' Itu si ondel-ondel Yuki, yang miskin pakaian. Udah datang ga diajak, pas pergi minta diantar. Dasar mak lampir.'' Kesal Mayang.
'' Hahaha...Kakak ini ih, masa boneka mampang dibilang ondel-ondel.'' Mayang sampai tersesak kencing menahan tawa mendengar umpan balik dari adik Iparnya.
Dilain tempat tepatnya di lokasi proyek terlihat Yuki kewalahan berjalan dengan sepatu hak tingginya. Hak sepatunya selalu terbenam ketika melangkah, sudah seperti tombak buat nanam jagung. Tanahnya lembek karena semalam habis diguyur hujan.'' Gimana sih ni, susah banget.'' Upat Yuki. ''Sudah tau mau ke lokasi, ya harus paham dong. Ya kan masa ga paham.'' Danu melangkah cepat meninggalkan Yuki yang kesusahan.
'' Dasar ga peka, bantuin kek. Ini malah kabur.'' Yuki kembali berusaha melangkah. Yuki menghentakan kakinya keras, alhasil sepatunya copot dari kaki. ''Aaaaaa, sial.'' Yuki nampak makin frutasi. Apalagi tadi pagi belum sempat melihat isi tas Danu malah Mayang datang seperti hantu mengagetkannya.
'' Gagal lagi, ugghh...sial. Gue harus bisa dapatkan surat kerja sama Oasis itu.'' Yuki kembali mengupat kesialannya hari ini. Berlahan Yuki mempercepat langkahnya mengejar Danu yang tengah mengamati lokasi bersama pekerja lain.
__ADS_1
'' Ya Halo Tam, gimana?Sudah rampung?'' Danu menjawab panggilan telepon dari Tama. '' Ya sudah, kamu simpan surat perjanjian Oasis itu. Gue masih di lokasi.'' Saat Danu menjawab panggilan dari Tama, Yuki sudah berada dekat di belakang Danu.
'' Sial, jadu surat itu dipegang Tama? ugh.. Kalo tau gini mending gue dudk santai di kantor. Lihatlah, gue sudah seperti sapi karapan bergelimang lumpur ieuww...mana bau lagi.'' Yuki membatin penuh kejengkelan.