
'' Ini adalah hal terberat bagi aku Mah, di dalam nanti tolong bantu aku ya.'' Mayang terlihat begitu gugup, entah berapa kali dia menghirup dan menghembuskan nafasnya agar dadanya tidak terlalu sesak. Jantungnya seakan bergetar hebat, kakinya gemetar dan wajahnya terlihat pucat sangking gugupnya. Tapi tak mengurangi kecantikan diwajahnya yang terlihat lebih dewasa dan berwibawa.
Namun Mayang harus menguatkan mentalnya. Semua ini demi Danu, suaminya. Untuk menguatkan hatinya, Mayang kembali membayangkan pertemuannya semalam dengan Danu. Betapa remuk hatinya saat melihat suaminya harus terkurung di kantor polisi yang dia tahu pasti kalau bukan Danu tersangka sebenarnya.
'' Tidak, tidak. Aku harus maju. Aku ga mau Mas Danu yang menanggungnya. Aku akan buktikan kalau suamiku tidak bersalah. Yah..Mas Danu sekarang membutuhkan aku. Bismilah, aku pasti bisa.'' Batin Mayang.
'' Baiklah Mah, aku siap.'' Imah mengangguk. Dengan cepat Imah dan Lisa masuk duluan ke dalam ruang meeting.
Tampak semua kursi terisi penuh. Itu artinya tidak ada satupun bagian divisi yang absen pada pertemuan kali ini. Semua mata tertuju pada Lisa dan Imah. Mereka terlihat bingung, karena tidak menemukan sosok pimpinan perusahaan. Tapi belum sempat mereka bertanya, Lisa sudah langsung membuka meeting.
'' Selamat pagi Bapak-Bapak Ibuk-Ibuk, maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya tahu semuanya pasti bingung dengan meeting mendadak ini. Akan tetapi saya dapat mandat langsung dari Tuan Danu untuk mengumpulkan Bapak-Bapak dan Ibuk-Ibuk di sini. Saat ini meeting kita akan di pimpin langsung oleh Nyonya Mayang. Istri Tuan Danu. Marilah kita sambut Nyonya Mayang.''
Setelah Lisa selesai bicara, Imah kembali menuju pintu dan membukanya berlahan. Dengan anggunnya Mayang berjalan masuk dan duduk di kursi paling ujung yang memang diperuntukan untuk pimpinan perusahaan. Tak lupa senyum sejuta umat dia berikan kepada setiap mata yang bertemu pandang dengannya. Gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah kaki Mayang hingga dia mendudukkan badannya di kursi.
Semua sorot mata mengarah kepada Mayang, banyak juga yang saling berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas pasti tentang hadirnya Mayang sebagai pimpinan rapat. Semua tahu bahwa yang diperbolehkan memimpin rapat divisi ini hanya Tuan Agung, Danu dan Tama saja.
Karena suasana mulai sedikit riuh, Imah langsung mengambil alih. Sedangkan Mayang masih terdiam sambil menatap orang-orang yang ada di hadapannya. Nampak jelas Mayang sedang demam panggung, semua kata-kata yang sudah dia siapkan hilang begitu saja. Mulutnya seperti terkunci, sedangkan hatinya sudah bersorak ingin bicara.
__ADS_1
'' Baiklah semuanya, hadirnya Nyonya Mayang di sini tentu sudah persetujuan dari atasan kita Tuan Danu Baragajasa. Beliau meminta untuk diadakan meeting ini atau tepatnya rapat divisi karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Untuk lebih lanjut, kepada Nyonya Mayang kami persilahkan dengan segala hormat.'' Imah mengangguk pelan kepada Mayang.
Dengan segala kekuatan hati, Mayang berdiri dari duduknya. Sebelum mulai bicara, Mayang kembali menatap setiap orang yang ada di hadapannya. Inilah saatnya bagi Mayang untuk menyelamatkan suaminya.
'' Selamat pagi menjelang siang semuanya, tidak perlu berkenalan lagi. Tentu semuanya sudah tahu siapa saya.'' Ada sedikit penekanan di ujung kalimatnya. Dia ingin menghilangkan pandangan remeh yang ditujukan padanya.
'' Langsung saja pada intinya, sekarang saya ingin setiap divisi menjelaskan rancangan kerja baik yang sudah jalan maupun yang masih dalam perencanaan.'' Mendengar perkataan Mayang, hampir semua divisi menjadi kaget. Secara mereka belum ada persiapan walaupun rancangan kerjanya sudah lama selesai. Ada yang kelihatan bingung, namun tidak sedikit yang merasa kesal dengan perintah mendadak dari Mayang. Memang dari awal mereka sudah diminta untuk membawa segala berkas yang berhubungan dengan proyek investasi, tetapi mereka tidak menyangka harus menjabarkan kembali dihadapan Mayang.
Tetapi dengan begitulah Mayang bisa melihat siapa yang bekerja dan siapa yang tidak karena kebanyakan hampir seluruh berkas hanya sekretaris yang menyiapkan. Selain itu tujuan utama Mayang adalah ingin mengetahui bagaimana proses setiap proyek yang sedang berjalan. Ditambah lagi dia ingin mendengar jelas penjelasan divisi keuangan dalam mengurus dan pengelolaan dana pada setiap proyek.
Walaupun terlihat tidak senang, tetapi tidak ada satupun yang berani menyanggah ucapan Mayang. Mulailah satu persatu masing-masing divisi memberi penjelasannya. Dengan seksama Mayang dan Imah menjelaskan, sesekali Mayang menatap Imah pertanda tidak ada yang mencurigakan.
'' Silahkan divisi keuangan, tolong jabarkan setiap dana investasi dari investor dan siapa investornya juga, serta jelaskan juga bagaimana proses pengambilan dana dan berapa total dana untuk pembiayaan setiap proyek yang sedang berjalan. Serta ada berapa proyek berjalan kita. '' Seru Mayang saat melihat dua orang itu masih sibuk membalik-balikan berkas yang ada di depannya.
Suasana ruangan hening mencekam. Semua mata tertuju pada satu pandangan yaitu dimana dua orang staf keuangan yang tengah duduk bersebelahan. Jika dilihat dari raut wajahnya, sudah bisa dipastikan sekarang kedua kaki mereka tengah gemetaran. Tidak ingin terus ditatap berjama'ah, akhirnya salah satu staf keuanngan yang hadir tersebut mulai mengeluarkan suaranya.
'' Be-begini Nyonya, mmm...itu anu. Anu Nyonya.'' Mata Mayang dan Imah tak pernah lepas dari pria itu.
__ADS_1
'' Siapa nama anda Pak?'' Tanya Mayang.
'' Saya Riko Nyonya, staf divisi keuangan. Kami berdua adalah staf divisi keuangan Nyonya, sebagai perwakilan ketua divisi yang berhalangan hadir.'' Jelas Riko.
'' Jadi? Apakah kamu bisa menjelaskan semua pertanyaan saya tadi?''
'' Semuanya ada di sini Nyonya, berkas ini Pak Rajab sendiri yang menyerahkannya kepada saya.'' Tambah Riko. Sedangkan temannya hanya diam membisu seribu bahasa.
'' Pergi kemana Pak Rajab?'' Tanya Mayang lagi.
'' Sudah tiga hari beliau tidak masuk kantor Nyonya. Beliau memberitahu kalau sedang ada meeting di luar kota.'' Mayang terlihat berfikir.
Pak Rajab menghilang tepat sehari sebelum Danu dinyatakan sebagai tersangka. Mayang yaki, menghilangnya Pak Rajab ada sangkut pautnya dengan masalah yang dihadapi Danu.
'' Imah, bawa semua berkas itu ke ruang Pak Danu. Dan kalian berdua jangan keluar dulu dari ruangan ini. Saya masih ada urusan dengan kalian berdua. Yang lain silahkan kembali bekerja. Meeting hari ini selesai.'' Mayanh langsung berdiri, serentak semuanya yang duduk ikut berdiri sampai Mayang menghilang dibalik pintu.
'' Lisa, bantu saya cocokkan setiap berkas yang kita punya dengan berkas milik divisi keuangan.'' Lisa mengangguk cepat.'' Baik Nyonya.''
__ADS_1
'' Riko, kalian berdua tetap tunggu di sini. Kalau tidak, bukan hanya ladang uang kalian yang akan hilang. Kalian juga akan membusuk dalam jeruji besi.'' Sontak ucapan Imah itu membuat wajah keduanya pucat pasi, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh mereka.