Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
37 Rencana Yuki


__ADS_3

Sejak kemaren akibat salah strategi, Yuki terlihat makin pusing karena kembali gagal dalam menjalankan tugasnya. Yuki terlihat sedang berfikir keras untuk membuat rencana baru. Senyum jahat kembali muncul di wajah nakalnya.


Satu minggu telah berlalu, Yuki yang kemaren di sibukan dengan prepare proyek pembangunan apartemen bersama Danu, kini telah mulai kembali ke alamnya. Kini Yuki tengah berada di lobi kantor Baragajasa Group, kali ini Yuki meminta meeting di adakan dikantor Danu saja berhubung Yuki sedang diet ketat. Begitulah kira-kira alasan Yuki.


''Wah itu kan Mak Lampir, ngapain dia ke sini. Jangan-jangan mau bikin rusuh lagi nih. Gue bikin sambel ulek kalo dia berani bikin ulah di sini.'' Imah memotong jalan Yuki yang akan menuju lift.


'' Tumben nih pagi-pagi udah kelitan, biasanya juga jam segini lagi main lumpur di tanah lapang.'' Ya sedikit banyaknya Imah juga tau tentang proyek kerjasama antara Danu dan Mak Lampir ini.


'' Eh kacung, ga usah banyak mulut deh. Posisi saya setara Bos kamu, jadi jangan sok akrab.'' Yuki terlihat berjalan dengan angkuh masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan Imah yang sudah kesal.


'' Ughh...kalo bukan kontrak kerjasama, udah gue bejek-bejek tu kayak ayam geperek. Bikin naik darah aja.'' Imah makin menggerutu saat Yuki sengaja menutup langsung pintu lift.


Derap langkah kaki dua orang pria menggema membuat perhatian setiap orang yang ada di sana teralihkan. Sungguh ciptaan tuhan yang sangat sempurna, itulah yang tersirat dari wajah mereka. Danu berjalan dengan gagahnya dengan wajah datar nan menawan hati setiap yang menatapnya. Hanya Beni yang mengangguk menanggapi sapaan para karyawan yang mereka lewati.


'' Ben, lo tetap bersama gue sampai Yuki keluar dari ruangan gue.'' Saat ini mereka telah berada dalam lift menuju lantai sepuluh ruang kerjanya.


'' Siap Bos, tenang aja gue udah dapat mandat dari Nyonya Bos buat jagain lo dari ular betina yang sangat berbisa itu.'' Mendengar itu kening Danu langsung mengkerut.'' Emangnya Mayang ngomong gitu sama lo?'' Beni mengangguk.


Seperti ABG yang sedang kasmaran, wajah Danu langsung merona dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampannya. Beni yang melihat langsung memasang muka malasnya.


Saat keluar dari lift langkah mereka terhenti ketika melihat sekretarisnya Lisa sedang berdebat dengan Yuki tepat di depan pintu ruangannya. Yuki yang ngotot ingin menunggu Danu di dalam ruangan Danu malah dilarang dan dihalangi oleh Lisa. Yuki yang tersinggung langsung membentak-bentak Lisa.


'' Ada apa Lisa?''


'' Selamat pagi Tuan Danu, maaf Nona Yuki memaksa masuk. Padahal sudah saya minta menunggu di luar dulu.''

__ADS_1


'' Maaf Nona Yuki, memang ini adalah aturan saya sendiri. Jika saya tidak ada dalam ruangan maka tidak ada yang boleh masuk tanpa ijin dari saya.'' Danu menjelaskan.


'' Oh begitu ya, ya sudah maaf sudah membuat keributan.'' Beni pun membuka pintu dan mempersilahkan Yuki masuk duluan.


'' Kerja bagus Lisa, kamu memang bisa diandalkan.'' Bisik Danu, Lisa mengangguk dengan senyum bangga.


Di ruangan yang lain masih dengan lantai yang sama, terlihat Imah sedang mengotak-atik layar komputer yang ada di depannya. Wajahnya begitu serius sehingga tidak menyadari seseorang tengah berdiri tepat di sampingnya.


'' Imah.''


'' E kecebong.'' Imah terlonjak kaget dan tanpa sengaja sikutnya mengenai benda pusaka Tama.


'' Auuwwwhhff...huuff..I--Imah, bi---bisa ga ja--jangan lagi awuufhh..agghh.'' Tama meringis kesakitan sambil memegang benda pusakanya karena rasa ngilu langsung menjalar di bawah sana. Asli, Imah memang tak pernah salah sasaran.


'' Kamu bantu saya masuk.'' Imah langsung menarik tangan Tama kebahunya dan merangkul pinggang Tama. Dengan tertati-tatih Tama berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Pelan-pelan Imah mendudukan Tama di sofa dan dia duduk disebelahnya, Tama pun langsung menyandarkan kepalanya ke sofa. Tanpa diminta Imah langsung meniup-niup antara dua paha Tama. Bahkan Tanpa sadar Imah malah mengelus-elusnya sambil meniupnya terus. Tidak tau dia kalau yang punya barang sedang menegang. Dasar Imah, sambil nyelam minum air. Memang rejeki anak soleha wkwkwkwk...


Lanjut...


'' Duh mati gue, jangan sampe nih belutnya ga hidup lagi. Bisa-bisa gue dituntut, bisa kena pasal kekerasan seksual gue. Kenapa juga yang kena selalu belutnya sih. Lagian suka bener kagetin gue, ya selalu begini deh endingnya. Kasian juga nih belut, jadi penasaran hihihihi.'' Batin Imah, dan senyum diwajahnya dapat dilihat jelas olah Tama.


'' Kenapa kamu senyum-senyum? Puas kamu nyakitin dia terus. Jangan sampai dia balas dendam nanti sama kamu.'' Tama bicara dengan mata tertutup sambil menetralisir ulah Imah yang membuat benda pusakanya merespon cepat.


'' Bukan gitu Tuan, saya kasian malah takut ntar lama-lama dia ga kuat lagi.'' Mendengar itu Tama sontak membuka matanya dan menatap Imah penuh makna.'' Kalau sampai itu terjadi maka kamu harus bertanggung jawab.''

__ADS_1


'' Secepatnya saya akan minta pertanggung jawaban dari kamu.'' Tambah Tama lagi. Imah yang kaget langsung berdiri.


'' Ma--maksud Tuan saya bisa dipenjara?'' Wajah Imah langsung pucat.'' Kamu liat aja nanti.'' Imah yang takut langsung pamit keluar, membayangkan penjara saja dia sudah merinding.


'' Dasar Singa Hutan, ngomong ga pikir-pikir. Inikan salahnya dia, kalo ga dikagetkan juga ga mungkin kan gue nyakitin tu belut sawah. Nasib gue malang bener, udah kerja diruda paksa tapi gaji masih sekelas OB. Nasiiib...nasib.'' Tama begitu gemas melihat mulut Imah yang komat-kamit dari balik jendela kaca pembatas.


Cukup lama meeting berlangsung, saat ini waktu telah menunjukan jam makan siang. Akhirnya Danu mengakhiri meetingnya bersama Yuki. Sebenarnya Danu sangat malas harus bertemu terus dengan Yuki, tapi apa boleh buat dia harus berjuanh keras untuk terus membangkitkan Perusahaan yang telah Kakeknya rintis sejak dulu.


'' Baiklah Danu, semoga proyek kita berjalan lancar. Dan semoga akan ada proyek-proyek baru lagi kedepannya.'' Danu menyambur uluran tangan Yuku untuk bersalaman sebagai bentuk keyakinan atas kerjasamanya.


Setelah Yuki keluar, Danu dan Beni pun langsung turun menuju lobi karena ada pertemuan dengan klien yang lai sambil makan siang.


''Mah, ayo ikut saya. Kamu harus temanin saya makan siang.''


'' Maaf Tuan, saya bawa bekal. Mubazir Tuan kalo ga kemakan.'' Imah berusaha menolak.'' Nanti kalo ada apa-apa sama saya gimana? Apa kamu mau saya tuntut?!'' Mendengar itu Imah terlonjak berdiri.


'' Ba---baik Tuan, kalo gitu saya bawa bekal saya sekalian.'' Melihat Imah yang ketakutan, Tama tersenyum geli sambil tersenyum puas. Untung Imah berada dibelakangnya, jadi dia tidak melihat senyum kemenangan Tama.


Namun tiba-tiba langkah Imah terhenti tepat saat mereka telah berada di lobi. Imah terlihat mencari sesuatu di dalam tasnya.'' Ada apa?'' Tanya Tama.


'' Ini Tuan, sepertinya ponsel saya ketinggalan. Maaf Tuan saya ambil dulu.'' Tanpa menunggu jawaban Tama Imah langsung berbalik bandan. Dan parahnya lagi dia memberikan tasnya dan kantong bekalnya ke tangan Tama. Apa daya, Tama kalah cepat untuk bicara karena Imah sudah melenggang jauh secepat kilat.'' Dasar pelupa, untung kesayangan. Kalo tidak sudah saya pecat kamu.'' Gumam Tama dengan terus menatap punggung Imah.


Saat akan keluar lift Imah dikejutkan dengan Yuki yang berada tepat di depannya yang juga tak kalah terkejutnya. Dengan senyum yang dipaksakan Yuki langsung menutup pintu lift. Imah yang akan meraih ponselnya di atas meja merasa curiga dan berlahan masuk ke dalam ruangan Tama yang pintu agak sedikit terbuka.


Ketika melihat laci meja Tama terbuka lebar, sontak Imah langsung berbalik badan dan berlari sekencang-kencangnya menuju Lift. Dilobi Tama menatap Imah penuh tanda tanya, melihat Imah yang berlari kencang keluar lobi tanpa menghiraukan panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2