Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
71 Tama Federik


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, saat ini Tama beserta seluruh keluarga Baragajasa tengah berada disebuah gedung yang menjulang tinggi bahkan melebihi tingginya gedung Baragajasa Group. Ya, saat ini mereka sedang berada di kantor pusat Federik Global Group.


Sesuai amanat yang ditinggalkan untuk Tama putra semata wayangnya, mendiang Tuan Bastian telah menyerahkan semua perusahaan FGG serta seluruh harta milik Tuan Bastian kepada Tama Baragajasa yang sekarang telah sah bertukar nama menjadi Tama Federik.


Setelah surat wasiat dibacakan oleh tim pengacara mendiang Tuan Bastian dihadapan seluruh direksi dan jajarannya, Tama beserta rombongan diajak berkeliling sebentar sebagai perkenalan CEO yang baru.


Boleh dikatakan perusahaan FGG sedikit lebih besar dari Baragajasa Group. Ini dikarenakan hampir disetiap negara besar ada anak cabang perusahaannya. Sama halnya denga Baragajasa Group, FGG juga berkutat dibidang perhotelan dan pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai negara. Hal itu tidak lain dari bentuk rencana awal Tuan Bastian untuk balas dendam dengan menyaingi Baragajasa Group.


Tama terlihat tidak begitu tertarik dengan semuanya, baginya kehadiran sang Ayah yang baru dia tau lebih berharga dari apa yang sekarang sudah jadi hak miliknya. Hatinya masih terasa hampa jika mengingat Ayahnya telah pergi untuk selamanya. Ikatan darah yang dia miliki membuatnya terasa semakin berat untuk melepas kepergian Tuan Bastian.


Tegur sapa dari para kariyawannya hanya dia jawab sekenanya saja. Ingatan tentang kedua orang tuanya terus membayangi pikirannya. Banyak andai yang muncul dihatinya. Andai Ibunya dulu tetap bersama Ayahnya, makan mungkin sekarang mereka sudah hidup bahagia. Andai Ibunya tetap ada, andai Ayahnya yang menemaninya diposisinua saat ini.


Sangat berbeda waktu Papanya Tuan Bagas berpulang dulu. Meski dibalut duka, tapi dia mudah saja mengikhlaskan Papanya itu. Ada rasa berbeda yang dia rasakan pada sang Ayah. Dia juga bingung, dari benci yang besar menjadi rindu yang mendalam. Kahampaan mulai menyeruak dalam dadanya.


Beruntung dia masih punya Imah, sehingga kehampaan itu tergantikan saat wanita itu berda disisinya. Senyum Imah sedikit membuat hatinya semakin tenang. Membayangkan wanita itu saja sudah membuat jiwanya kembali bangkit. Kini pikirannya malah pada Imah.


''Andai kamu di sini sayang, mungkin hampa ku ini dapat kamu halau.'' Tama menghembuskan nafasnya pelan.


Konsentrasi Tama menjadi sedikit terganggu, hampir setiap penuturan dari Toni dia jawab dengan anggukan kepala saja. Toni yang paham akan kondisi Tama akhirnya mengajak Tuan mudanya itu untuk kembali ke ruang CEO lagi.


'' Tuan muda, jika ada yang anda inginkan, saya siap melayani anda.'' Ujar Toni.


'' Panggil saya Tama, saya tidak suka panggilan lain. Satu lagi, jangan ada satupun dari yang ada di sini di rapikan atau ditukar. Biarkan tetap seperti ini. Cukup bersihkan saja.''


'' Baik Tuan Tama.'' Jawab Toni.


Acara perkenalan telah selesai, dan semua kariyawan terlihat antusias menerima kehadiran Bos barunya itu. Banyak bisik-bisik terdengar dari para kariyawan dan kariyawati. Hampir semuanya menatap kagum dan menyambut hangat dengan kehadiran CEO baru mereka.


'' Bapaknya aja guanteng tenan, opo lagi anak ne. Guateng mak nyos.''


'' Bener, jadi makin semangat lembur. Apalagi Bosnya masih single, masih ada jalan hihihi...'


'' Jalan apa? Jalan ngenes?'' Ledek yang satunya.


'' Ya jalan buat jadi Nyonya Bos lah.'' Sontak para kariyawan wanita tertawa bersama.


'' Ngimpi kalian. Orang Tuan Tama sudah ada calon. Rasain, ngenes kan?'' Kariyawan laki-laki yang kini tertawa renyah.


Itulah segelintir ocehan para kariyawan yang menyambut kedatangan Bos baru mereka. Bagi mereka, kehadiran Tama dapat membuat suasana baru menjadi menyenagkan. Bagaimana tidak, baru pertema kalai bertemu saja sudah membuat kariyawatinya menatap kagum. Apalagi jika setiap hari? Mungkin tidak akan ada yang bolos kerja, karena bisa tidak kebagian senyum tampan CEO barunya itu.


Setelah acara di SGG selesai, Danu kembali ke perusahaannya. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Apalagi sekarang seluruh kekuasaan penuh berada di tangannya. Meski belum secara sah, tapi Tuan Agung sudah mengatakan langsung bahwa dialah satu-satunya penerus keluarga Baragajasa.


Danu turut bahagia, sepupunya itu sekarang sudah mau menjalanan amanah mendiang Ayahnya. Danu bahkan akan siap membantu jikalau Tama mengalami kesulitan. Terlebih lagi kemampuan komunikasi Tama dalam berhadapan dengan klien masih butuh diasah dulu. Saat masih di Baragajasa Group Tama hanya lebih sering mengurus masalah dalam kantor ketimbang di luar kantor.

__ADS_1




"Mba Imah, aku balik dulu ya." Lusi pamit pulang karena memang sudah waktunya.



"Ok, tapi besok jangan lupa. Kerjanya bukan ke sini lagi." Jawab Imah.



"Pastilah Mba, masa hari pertama masuk malah nyasar." Keduanya tertawa.



Sesuai permintaan Tama pada Danu, mulai besok Lusi akan bekerja di SGG tentunya tetap sebagai sekretaris Tama. Tama merasa Lusi sangat kompeten dan sangat membantunya dalam bekerja. Meski sudah ada Toni yang selalu siap di sampingnya, tetap saja Tama merasa masih membutuhkan bantuan Lusi.



Bunyi detak langkah sepatu yang makin mendekat membuat Imah menghentikan aktifitasnya. Saat ini Imah tengah mengemasih barang-barangnya, karena mulai besok Imah akan menempati ruangan Tama yang dulu. Imah secara resmi telah naik jabatan mengangantikan Tama sebagai manejer pemasaran.



"Wah manger baru lagi sibuk nih." Imah tidak melihat, karena dia tahu betul siapa pemilik suara itu. Dia masih melanjutkan beberesnya.




"Tentu saja ingin bertemu sang pujaan hatiku." Imah terlonjak kaget saat Tama tiba-tiba memeluknya dari belakang. Hampir saja barnga-barang ditangannya terjatuh kelantai.



"Hentikan, bagaimana kalau ada yang melihat?" Imah berusaha melepaskan."



" Jangan banyak gerak, kamu bisa membangunkan sesuatu." Bisik Tama dengan suara seksinya ditelinga Imah. Merinding seluruh tubuh Imah, bingun harus bagaimana. Dekapan Tama makin erat.



'' Sayaang, aku boleh minta tolong ga?'' Imah mendapat ide agar Tama bisa melepaskannya.

__ADS_1



'' Tentu sayang, apapun itu?'' Tama mengecup sayang pipi Imah. Membuat wajah Imah bersemu merah. Gila, Tama benar-benar telah bucin padanya.



'' Aku capek banget sayang, bisa tolong masukan semua kitak-kotak ini ke dalam?'' Pinta Imah semanja mungkin.



'' Boleh saja, asal ada imbalannya.'' Tanpa berpikir Imah mengangguk dengan senyum termanisnya.



Dengan semangat Tama memindahkan semua barang-baranh Imah ke dalam ruangannya dulu. Hanya hitungan menit, semua barang sudah berpindah tempat.



'' Maksih sayaaaang, akhirnya selesai juga.'' Imah duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tama terlihat mendekat dengan tatapan yang sudah dapat Imah baca.



'' Wah waktu pulang sudah lewat rupanya.'' Imah beranjak hendak beridiri. Sekali sentak Imah sudah terbaring di atas sofa.



'' Mau kemana sayang, bukankah kita sudah buat kesepakatan tadi?'' Tama mengedipkan matanya dengan senyum mesum.



'' Ma---maksudnya--?''



'' Jangan sok lupa, aku ingin menagihnya sekarang.'' Berlahan Tama mendekatkan wajahnya ke wajah Imah. Terlihat Imah menutup matanya dengan wajah sedikit takut.



'' Tama, ayo cepat. Kakek sudah menunggu di mobil.'' Entah sejak kapan Danu membuka pintu, yang jelas raut wajah kesal Tama terlihat jelas. Imah mengulum senyum leganya. Dari balik pintu Danu tertawa pelan melihat wajah kesal Tama.



'' Lain waktu akan ku tagih, aku minta lebih.'' Bisik Tama ditelinga Imah saat mereka sudah berada diluar.

__ADS_1



'' Mati gue.'' Batin Imah dengan wajah takut.


__ADS_2