
'' Apa yang Ayah katakan. Aku tidak butuh itu. Aku butuh Ayahku. Jika memang Ayah menyayangiku, tetaplah semangat. Ayah pasti akan sembuh.'' Suara Tama bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Penglihatannya memudar karena air mata terus keluar dari pelupuk matanya.
Tuan Bastian tersenyum bahagia, digenggamnya kembali tangan sang putra. Ditatapnya wajah Tama dengan penuh cinta dan kasih sayang. Begitu besar penyesalan dalam dirinya, mengingat putranya yang menjadi lampiasan kebencian dan dendamnya. '' Ayah sangat menyayangimu. Ayah juga tidak ingin berpisah denganmu. Banyak waktu yang ingin Ayah ganti selama tidak bersamamu. Kamu adalah obat hati Ayah yang begitu lama memendam luka.'' Terlihat nafas Tuan Bastian tersengal-sengal.
Tama makin panik, tangannya makin erat menggenggam tangan Ayah. Entah mengapa begitu tidak rela dia melepas Ayahnya saat ini. Rasa sayang dan rindu datang begitu saja. Hati benar-benar tidak rela, dia begitu rindu akan kasih sayang Ayahnya meski faktanya baru dia ketahui.
Berlahan Tuan Agung mendekat ke sisi sebelahnya, diraihnya tangan Tuan Bastian. Mata Tuan Agung sudah basah, dia menatap Tuan Bastian dengan wajah sendu. '' Bas, maafkan saya. Semua adalah salah saya. Saya yang meminta Ayu untuk menikah dengan Bagas. Saya juga telah menyembunyikan rahasia besar ini.'' Suara Tuan Agung tercekat ditenggorokannya, bibirnya bergetar menahan Tangis.
Berlahan Danu mendekat dan meraih bahu Kakeknya untuk menguatkan Kakeknya atas segala kekilafan terdahulu.
Terlihat Tuan Bastian menatap ke arah Tuan Agung dengan senyum pucatnya. Matanya sekan susah untuk terbuka. '' Terimakasih telah menjaga putraku dengan baik. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghapus semua kesalahan dimasa lalu. Aku juga minta maaf.'' Suaranya begitu lirih. Berlahan mata Tuan Bastian meredup. Tama langsung panik. Tapi kemudian terbuka kembali.
'' Jangan teriak-teriak Nak, Ayah belum tuli.'' Tuan Bastian tertawa meski tidak bersuara. Tama tersenyum bahagia melihat Ayahnya masih bersamanya.
'' Mana calon mantu Ayah?'' Sontak Tama kaget. Bagaimana Ayahnya bisa tahu, padahal Ayahnya sedang sakit.
'' Jangan kaget, Kakekmu sudah bercerita banyak tentangmu. Mulai kamu lahir sampai kamu punya kekasih.'' Tama tersenyum malu. Kemudian merentangkan tangan mengajak Imah mendekat.
'' Ini calon mantu Ayah. Namanya Imah.''
Tama memberikan tangan Ayahnya pada Imah, Imah tersenyum menatap Tuan Bastian.'' Tetaplah semangat Tuan, Tama sangat manyayangi anda Tuan.''
'' Panggil aku Ayah.''
'' Ya A--Ayah.'' Imah masih kaku dengan sebutan itu.
'' Ayah merestui kalian.'' Nafas Tuan Bastian kembali sesak, bunyi alat-alat medis semakin kencang. Tama dan Imah makin Panik.
'' Jangan bicara dulu Ayah. Ayah harus istirahat. Ayah tenang dulu ya.'' Tama masih berurai air mata.
'' Ban--tu A--yah.''
'' Iya iya Ayah, katakan Ayah mau apa?''
'' Ka--lim--at sya--ha--dat.'' Tama menangis makin jadi, dia menggeleng karena tau maksud Ayahnya.
Tuan Bastian menatap memohon dengan deru nafas seperti kehabisan oksigen.
Akhirnya dengan berurai air mata Tama membantu Ayahnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Pertanda Ayahnya akan pergi untuk selama-lamanya.
Tepat kalimat syahadat selesai diucapkannya, Tuan Bastian menutu mata dengan tangan yang terkulai tak bertenaga.
Seisi ruangan menjadi semakin panik bercampur sedih, terlebih Tama. Dipeluk eratnya tubuh kaku sang Ayah, sambil terus menyuruh untuk bangun. Dokter datang dengan tim medis lainnya. Danu meraih paksa Tama untuk ke luar karena dokter akan memastikan kondisi terkini Tuan Bastian.
'' Pasien sudah meninggal.'' Ucap sang Dokter.
__ADS_1
Karena Tuan Bastian berpulang pada malam hari, pemakaman dilakukan esok harinya. Banyak pelayat yang datang. Bagaimana tidak, dua tokoh besar yang sangat dikenal, Tuan Bastian dan Tuan Agung. Rata-rata yang datang dari kalangan elit pengusaha.
Hampir semua pelayat telah pulang, hanya tersisa beberapa pengawal setia Tuan Bastian dan tentunya keluarga inti Baragajasa serta Imah yang masih setia disamping Tama.
Tama terlihat masih sangat terpukul, mata bengkak tapi sudah tak berair. Hampir sepanjang malam dia menangisi kepergian sang Ayah yang baru saja dia kenal.
Dipeluk eratnya nisan sang Ayah, dengan tangan yang terus mengusap nisan itu. Telah berukang kali Imah mengajaknya pulang, tapi sedikitpun dia tidak bergeming.
'' Sayang, kita pulang dulu ya. Besok aku akan temanin kami ke sini lagi.'' Kali ini Imah berusaha pakai sayang untuk membujuknya. Diraihnya tangan Tama digenggam eratnya. '' Ayah pasti akan sedih jika kamu seperti ini. Ayo sayang kita pulang dulu, hari sudah siang.'' Ucap Imah lagi.
'' Kamu pulang lah dulu, aku masih mau di sini.'' Tolak Tama tapi matanya masih menatap tanah basah itu.
Imah berjalan mendekati Mayang dan yang lain. ''Sepertinya Tama masih ingin di sini. Kalian pulang lah dulu. Aku akan di sini menemaninya.''
Imah makin cemas dengan kondisi Tama, apalagi dia baru ingat Tama belum makan sejak semalam.
'' Iya, aku akan ajak cepat dia pulang.'' Sahut Imah.
'' Pak, Bapak pulang dulu ya. Imah masih mau temenin Tama.'' Bapaknya mengangguk mengerti. Bapak Imah pulang di antar sopir rumah utama setelah sebelumnya juga dijemput oleh sopir itu.
Setelah berpamitan rombongan Tuan Agung pergi meninggalkan makam menuju ke rumah utama.
Imah memayungi Tama sambil berdiri disisi samping. Tadi Mayang memberikan agar mereka tidak kepanasan.
__ADS_1
'' Sayang, aku akan tetap di sini temanin kamu. Kalau kamu tidak mau pulang, aku juga tidak mau pulang.'' Ucap Imah.
Tama yang merasa sangat berat untuk pergi, akhirnya berdiri juga. Dia juga tidak tega melihat Imah berdiri panas-panasan meski pakai payung. Dia kuwatir Imah jadi sakit karena panas-panasan.
'' Ayo kita pulang.'' Diraihnya tangan Imah dan berjalan meninggalkan makam setelah terlebih dahulu pamit pada pusara Ayahnya yang bersebelahan dengan makan Ibunya. Sedangkan disisi satunya lagi makam Papanya, Tuan Bagas.
°°°°°
Tama bingung melihat dua orang berdiri berjejer di samping pintu mobil yang Tama tidak tahu milik siapa. Tapi dia masih ingat satu orang diantaranya.
'' Tuan Tama, mulai hari ini Tuan adalah majikan kami. Sesuai perintah dari mendiang Tuan Bastian, kami akan setia melayani anda.'' Toni membungkuk memberi hormat. Diikuti satu orang disampingnya. Tama dan Imah hanya diam sambil menatap dua orang yang memberi hormat itu.
'' Kita akan langsung ke rumah utama Tuan, disana pengacara sudah menunggu kita.'' Toni membukakan pintu mobil untuk Tama dan Imah. Tama hanya bisa menurut karena hanya itu kendaraan yang tersisa.
Setelah Imah masuk dan diikuti oleh Tama, Toni beserta satu pengawal membawanya pergi menuju rumah utama.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang membawa Tama dan Imah sampai di rumah utama. Di ruang tamu terlihat pengacara yang semalam juga berada di ruang rawat Ayahnya. Serta beberapa orang yang tidak dia kenali.
'' Duduklah Nak, ada yang ingin disampaikan oleh pengacara Ayahmu.'' Seru Tuan Agung. Disana juga sudah ada Danu dan Mayang menunggunya.
Tama menatap sendu semuanya, wajah sedihnya masih terlihat jelas. '' Aku ingin istirahat, lain waktu kita bicarakan.'' Tama berjalan terus menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Entah sadar atau tidak, tanganmya masih terus menggenggam tangan Imah. Imah hanya bisa menunduk menahan malu pada setiap mata yang melihatnya.
'' Apa kamu akan terus berdiri di sana?'' Suara Tama mengagetkan Imah yang masih beridiri terpaku di dekat pintu.
'' Kemarilah, aku ingin memelukmu.''
__ADS_1
Ucapan Tama seperti magnet bagi Imah, dia menurut dan berbaring disamping Tama. Segera Tama melingkarkan tangannya diperut Imah, dan membenamkan wajahnya diceruk leher Imah. Imah membelai lembut pipi Tama, hingga terdengar dengkuran halus dari Tama. Imah pun ikut terlelap karena juga kelelahan.