
Semua penghuni rumah sudah mulai melakukan aktifitasnya. Para pelayan sudah siap untuk melayani majikannya. Tak terkecuali Mayang. Meski dia adalah Nyonya satu-satunya di rumah itu, Mayang tidak pernah bergantung sepenuhnya pada para pelayan.
'' Mas, aku ke kamar Raja dulu. Pakaiannya sudah aku siapkan.'' Ujar Mayang pada Danu yang masih berada di kamar mandi. Setelah mendengar jawaban Danu, Mayang segera menuju kamar Raja.
Kali ini Danu akan pergi lebih awal. Dia dan Beni akan mengadakan meeting penting bersama salah satu kolega terbesarnya. Jadilah dia bangun lebih awal. Kalau tidak mengingat akan ada meeting penting, Danu sebenarnya malas untuk bangun lebih awal pagi ini. Semalaman dia sudah banyak mengeluarkan tenaganya, bukan hanya sekali tapi tiga kali dia menggempur Mayang. Sunggu malam panas yang panjang bagi sepasang suami istri itu.
''Danu mana?'' Tanya Tama saat melihat hanya Kakeknya, Tisa dan Mayang yang ada di meja makan.
'' Mas Danu sudah pergi pagi sekali, ada meeting bersama Beni.'' Jawab Mayang. Tama hanya mengangguk-angguk.
Mereka mulai makan dengan penuh ketenangan. Aturan tidak boleh bicara saat makan sangat di patuhi oleh penghuni rumah besar ini. Setelah semua selesau makan, satu persatu mereka melanjutkan aktifitasnya.
'' Tisa berangkat dulu ya Kek.'' Tisa mencium pipi Kakeknya. Tak lupa memcium takzim Mayang dan Tama.
Ketika Tuan Agung akan bangkit dari duduknya, Tama menahan meminta waktu Kakeknya sebentar. Mayang yang sedang membersihkan meja juga terlihat menghentikan gerakan bersih-bersih.
'' Begini Kek, aku ingin meminta tolong Kakek untuk melamarkan seseorang untukku.'' Sontak Mayang dan Tuan Agung saling menatap.
'' Aku ingin segera menikahinya Kek. Orang tuanya juga sudah mengijinkan kita datang ke rumahnya.'' Lanjut Tama.
'' Siapa dia Nak?''
'' Dia Imah Kek.'' Jawab Tama sedikit ragu.
Tuan Agung kembali menatap Mayang saat dia juga menatap kearahnya. Terlihat Tuan Agung tersenyum dan menganggukan kepalanya. Mayang ikut bahagia melihat wajah Tama juga berbinar bahagia.
'' Baiklah kalau itu pilihanmu, Kakek merestuinya. Kakek akan melamarkan dia untukmu.''
'' Mayang, untuk seserahan lamaran Kakek serahkan tugas ini padamu. Jangan sampai Tama malu nanti dihadapan calon mertuanya.'' Tutur Tuan Agung.
'' Siap Kek, May yakin mertua Tama bahkan menjadi semakin menyukai calon mantunya ini.'' Mayang menyenggol lengan Tama yang tengah duduk di samping kursinya.
'' Terimakasih Kakak Ipar.''
'' Sama-sama Adik Ipar.'' Tawa bahagia memenuhi meja makan pagi ini. Terlebih Tama, senyumnya tak pernah pudar bahkan sampai di lobi kantor.
Semua mata memandang aneh pada Bos mereka yang satu ini. Senyumnya terus terkembang di wajahnya yang masih ada bekas lukanya. Namun tidak memudarkan ketampanan Sang Tuan Muda satu ini.
Tepat di depan meja Imah langkah Tama berhenti. Imah dan Lusi yang sudah kembali bekerja menghentikan percakapannya. Mereka berdua sontak berdiri dan memberi hormat pada Tama.
'' Selamat pagi Tuan.'' Ucap keduanya.
'' Pagi.'' Tama menatap Imah yang terlihat makin cantik dimatanya.
'' Mah, 10 menit lagi ke ruangan saya.''
'' Baik Tuan.'' Jawab Imah sopan.
__ADS_1
*****
Tok
Tok
Tok
Setelah terdengar suara sahutan dari dalam, Imah berlahan masuk ke dalam ruangan Tama.
'' Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?''
Tama memutar bola matanya jengah dengan kalimat yang baru didengarnya itu. Berlahan dia berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekati Imah yang tengah berdiri. Diraihnya pinggang ramping Imah hingga berdempet tak berjarak.
'' Mulai hari ini aku melarang kamu memanggilku Tuan mengerti?'' Tama mendekatkan bibirnya ketelinga Imah. Hingga membuat bili roma Imah berdiri tegak. Hembusan nafas panas Tama menyapu leher jenjangnya.
''Tapi kan ini di kantor Tuan?'' Imah sedikit mendorong dada bidang Tama. Tapi Tama malah kembali menariknya mendekat.
'' Kamu memanggilmu apa?''
'' Ya anda kan memang Tu---.'' Tama langsung ******* bibir ranum Imah.
'' Itu akan terus terjadi jika kamu melakukan kesalahan itu lagi.'' Ucap Tama saat ******* itu terlepas namun kening mereka masih bertaut.
'' Baiklah, hanya jika ada kita berdua.'' Tama hanya mengangguk dengan nafas mereka yang masih ngos-ngosan.
Terlihat seorang Ibu muda tengah berjalan dengan anggunnya sambil mendorong kereta dengan bayi lucu di atasnya. Setiap orang yang mereka lewati selalu gemes melihat bayi mungil itu yang selalu tertawa girang menatap mereka yang menyapanya. Ketampanan yang sangat sempurna, tentunya diwarisi dari Papanya.
Siang ini Mayang membawa Raja ke kantor Baragajasa Group. Untuk kali pertama Raja dibawa Mayang ke kantor. Raja terlihat sangat senang, tak henti-hentinya Raja tertawa girang.
Sebelumnya Mayang sudah mengabari Danu kalau dia akan mengantarkan makan siang untuknya ke kantor. Tentu saja dengan senang hati Danu mengiyakan. Apalagi putra gembulnya akan ikut dibawa Mayang.
Tepat saat Mayang akan masuk lift, tiba-tiba bahunya disenggol oleh seseorang yang juga masuk ke lift yang sama. Wanita itu terlihat berjalan dengan angkuhnya. Jangankan minta maaf, tersenyumpun tidak. Hanya mereka yang ada di dalam lift, karena jam makan siang masih beberapa menit lagi.
Mayang masih ingat betul wajah itu, wanita yang kepergok olehnya dan Imah saat beregelayut manja dilengan Tama waktu di rumah sakit. Pada saat masuk lift tadi, karena kesal Mayang mendorong kereta Raja hingga membuat badan wanita itu terbentur dinding lift.
__ADS_1
Mayang dapat melihat dari sudut matanya, wanita itu menggerutu dan menatapnya kesal. Sama sekali tak di hiraukan Mayang, setelah pintu lift terbuka dia langsung keluar. Ternyata wanita itu juga ke luar dan berjalan mengikutinya dari belakang.
Tepat saat itu Danu tengah berjalan ke arahnya, dan terlihat merentangkan kedua tangannya.
'' Halooo, selamat datang sayang.'' Seru Danu.
'' Halo juga Kak.'' Mayang menoleh saat mendengar suara dari arah belakangnya.
Wanita itu terlihat berjalan angkuh melewati Mayang seolah memperlihatkan bahwa dia adalah tamu istimewa di sana. Tapi dia langsung melongo saat melihat Danu malah melewatinya dan mencium pipi Mayang serta memeluk dengan mesra. Sepertinya Danu sudah tidak mengenali Luna. Bagaimana tidak, terakhir mereka bertemu enam atau tujuh tahun yang lalu tepatnya saat Luna tamat SMA.
'' Halo juga sayang. Maaf ya, lama nunggunya?'' Sengaja Mayang bicara dengan sangat manjanya.
'' Ga lah sayang, sampe ubanan juga Mas tungguin.'' Jawab Danu mencubit sayang hidung istrinya.
'' Ayo sayang, aku juga udah lapar.'' Ajak Mayang. Kini giliran Mayang berjalan dengan lenggok angkuhnya dengan menggandeng lengan Danu yang kini mendorong kereta Raja.
'' Sial. Siapa wanita itu? Apa mungkin dia istri Kak Danu?'' Batin Luna dengan menatap Mayang tak suka.
Setelah mati gaya oleh Mayang, kini Luna melanjutkan lenggoknya ke arah ruang Tama. Dia tidak sabar ingin memberi kejutan pada Tama karena membawakan makan untuk mereka makan bersama.
Luna tersenyum senang karena melihat Tama keluar dari ruangannya, '' Hai Kak, mau makan siang ya? Nih Luna bawakan makan siang buat kita.'' Ucap Luna dengan gaya manja sok gemoynya.
Melihat itu sontak Tama menatap cemas ke arah Imah yang hanya melirik karena dia masih sibuk dengan beberapa berkas di meja kerjanya.
__ADS_1