
Berlahan Imah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memang ruangannya hampir sama dengan ruangan Tama, tapi berjarak cukup jauh, yaitu dari ujung ke ujung lorong.
Niat hati ingin melihat keadaan Tama, karena dia begitu kuwatir terjadi apa-apa dengan Tama. Apalagi waktu tragedi itu Imah sempat mendengar suara tembakan satu kali. Pikir Imah yang terkena tembakan adalah Tama. Mengingat saat itu Tama diseret ke luar oleh Tuan Bastian, kepala Tama ditodongkan senjata api.
Namun apalah daya, entah mengapa kata-kata Tama tadi membuat hatinya sedih. Padahal belakangan ini Tama sudah mulai memperlihatkan ada rasa padanya. P dierkataan yang tadi itu langsung membuat dadanya nyeri seketika.
'' Dasar kamu Mah, sok merasa disayang. Harusnya kamu itu tau diri. Siapa kamu dan siapa dia. Gini nih kalo ngimpi ketinggian, jatuhnya sakit banget.'' Imah menagis sambil menertawakan dirinya sendiri. Dihapus kasarnya bulir bening yang mengalir indah dipipinya.
''Buat apa aku di sini? Mana cukup gajiku membayar rumah sakit dengan fasilitas mewah seperti ini. Lebih baik aku pergi saja, nanti saja aku chat Mayang buar bayarin dulu.''
Segera Imah berkemas dan mengganti pakaian rumah sakit dengan memakai pakaian yang dikenakannya sebelumnya. Sungguh kaget Imah saat melihat pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi. Satu penutup gunung kembarnya terekspos bebas.
'' Waduh, kok gue kayak ondel-ondel habis ditabrak becak sih? Mana sobek semua lagi.'' Imah kembali kemode nyablaknya.
Ceklek
Imah terlonjak kaget saat Mayang muncul dari balik pintu. '' Mah, kamu mau kemana? Kok kamu pake baju compang-camping ini lagi?'' Seru Mayang saat melihat Imah mengaganti pakaian rumah sakit.
'' A--anu May, i---itu. Anu itu-----.''
'' Anu itu kenapa? Apa kamu mau kabur ya? Kamu mau kabur kemana hah? Kamu itu belum pulih, ayo cepat ganti baju lagi.'' Imah hanya pasrah saat Mayang mengganti bajunya dengan pakain rumah sakit kembali.
'' Sudah, tidur di sini. Jangan kemana-mana lagi.'' Perintah Mayang sambil membantu imah merebahkan badannya ditempat tidur.
'' Aku ga punya uang buat bayarnya May. Mau bayar pake apa? Pasti mahal, kamarnya udah kayak di hotel lagi.'' Ujar Imah polos.
Mayang tergelak mendengar ocehan sahabat karibnya itu. Insting ekonominya mulai muncul. ''Memangnya siapa yang nagih bayar Mah? Ada yang minta ke kamu hah?'' Imah mengeeleng.
''Sudah, ga usah mikirin uang. Ini rumah sakit Baragajasa. Jadi kamu gratis tinggal di sini. Mau selamanya kamu tinggal di sini juga gratis.'' Ucap Mayang.
'' Amit-amit jabang bayi, jangan sampe gue tinggal selamanya. Lo tu ya, ngomongnya tu bikin takut aja.'' Jutek Imah. Mayang hanya tertawa cekikikan melihat reaksi Imah yang berlebihan.
'' May, apa benar Tuan Tama adalah anak kandung Tuan Bastian?'' Mayang mengangguk sambil membukakan buah jeruk untuk Imah.
'' Apa Tuan Tama mau menerimanya?'' Mayang mengeleng cepat.
'' Sepertinya akan susah bagi Tama untuk
menerimanya.'' Ujar Mayang sambil memberikan buah jeruk yang sudah dikupasnya.
'' Biarkan dia mencoba menenangkan diri dulu. Gue yakin suatu saat nanti pasti akan datang waktunya dia menerima kenyataan ini. Hanya waktu yang akan menjawab.'' Ucap Imah.
Sebenarnya Imah sangat kasihan dengan Tama. Dia sangat kuwatir, pasti Tama begitu syok mengetahui rahasia besar yang baru saja dia ketahui. Ingin rasanya Imah memeluk erat Tama, menyalurkan semangat agar Tama bisa menghadapinya dengan tegar.
Namun apalah dayanya, tangan tak sampai. Secara dia bukan siapa-siapa Tama, hanya sebatas atasan dan bawahan. Imah hanya bisa berharap semua luka hati Tama segera terobati. Dan kembali menjadi Tama yang dulu. Kuat, tegas dan dingin, hingga selalu membuatnya membeku setiap berdekatan dengan Tama.
'' Heh! Mikirin apa sih? Kok malah bengong gitu? Mikirin Mang Dudung ya?'' Dengan cepat Imah mengangguk. Dia belum bisa jujur dengan Mayang, takut malah dia makin kecewa nantinya.
'' Apa Kamu udah kabari Bapakmu?'' Tanya Mayang.
__ADS_1
'' Belum. Kan ponsel Gue di ambil tu tukang pukul.'' Jawab Imah lemas.
'' Sudah ga usah pikirin, nanti aku beliin ponsel baru. Kamu tinggal pilih yang mana nanti aku yang bayar.''
''Mhh...sombong, mentang-mentang Nyonya Bos. Mulai berlagak ya.'' Ledek Imah.
'' Bukan gitu, Kamu kan sudah nolong kami. Ya anggap saja itu bonus buat kamu. Iya ga?''
'' Teserah aja deh, Gue ga mau milih. Terserah Lo mau beli apa aja Gue terima.''
'' Ok lah kalo begitu.'' Mayang memberikan dua jempolnya kepada Imah. Mereka pun tertawa renyah bersama.
''Bagaimana kondisi Bastian Dokter?'' Tanya Tuan Agung. Setelah Mayang pamit ingin melihat Imah ke kamarnya, seorang Dokter datang menghampiri dan mengajak Danu dan Tuan Agung keruangnya. Menjelaskan perihal hasil operasi dan kondisi terkini pasien.
'' Untuk saat ini, operasinya berjalan lacar Tuan. Tapi masa kritis pasien belum juga lewat. Jika besok pasien belum juga melewati masa kritisnya, maka kita harus melakukan tindak lanjut. Dan itu tidak bisa kita lakukan di sini.'' Jelas Dokter.
'' Apakah lukanya sangat parah?'' Tanya Danu.
Setelah puas mendengar keterangan dari dokter, Danu mengajak Kakeknya untuk pulang dulu. Danu sangat kuwatir dengan kesehatan Kakeknya yang baru saja pulih.
'' Sebaiknya kita pulang dulu Kek. Besok kita bahas lagi masalah ini lagi. Kakek baru datang, Kakek harus banyak istirahat. Tentang Tama, biar aku yang bicara dengannya.''
'' Baiklah Kakek akan pulang, Kakek harap kamu bisa membuat Tama mengerti.'' Jawab Tuan Agung.
'' Baiklah, Kakek tunggu di lobi ya. Aku mau panggil Mayang dulu.'' Tuan Agung mengangguk.
Langkah kaki Danu membawanya menjauh menuju ruang rawat Imah. Sembari berjalan Danu kembali berfikir. Hatinya tidak tenang sebelum bisa melunakan sedikit hati Tama yang sudah membeku untuk menerima kenyataan tentang Tuan Bastian.
__ADS_1
Bukannya membuka pintu kamar rawat Imah, Danu malah kembali masuk ke kamar rawat Tama. Sontak kedatangan Danu kembali membuat kaget Tama.
'' Apa ada yang ketinggalan?'' Seru Tama.
'' Tidak, tapi aku ingin bicara sedikit denganmu.'' Jawab Danu. Wajah Tama berubah pias. Dia tahu apa yang akan Danu bicarakan. Berlahan Danu duduk di kursi samping ranjang Tama.
'' Aku tidak bisa kembayangkan bagaimana jika aku berada diposisimu. Tapi aku yakin, kamu tidak setega itu.'' Tama menatap Danu sekilas dan kemabali membuang mukanya.
'' Dia sedang sekarat, antara hidup dan mati. Maaf darimu pasti akan sangat memudahkannya dalam keadaan seperti ini. Aku yakin jiwa kemanusiaanmu tidak setipis itu.'' Ujar Danu.
'' Terlepas dari salahnya, bukankah Kakek juga telah menjelaskan ka------.''
'' Kalau apa? Kalau dia Ayahku, begitu?.'' Potong Tama.
'' Temuilah dia agak sebentar saja. Paling tidak ini demi Kakek.'' Tama langsung memejamkan matanya. Teringat akan kasih sayang tulus dari Kakeknya melebihi Papanya sendiri yaitu mendiang Tuan Bagas.
'' Kakek baru saja sembuh, setidaknya kita menjaga agar Kakek tidak banyak pikiran lagi. Kasian Tama, Kakek kita sudah tua. Saatnya bagi kita memberi ketenangan dan memberi kebahagian baginya.'' Ulas Danu panjang lebar.
Sebenarnya sangat berat bagi Tama untuk melakukan permintaan Kakeknya itu. Dia begitu membenci Tuan Bastian, sangat membencinya. Meskipun Kakeknya telah menjelaskan, tapi entah mengapa rasa benci itu masih melekat kuat dalam jiwanya.
Jika ini sudah menyangkut Kakeknya, maka Tama tidak bisa tetap bertahan dengan egonya. Dia sangat menyayangi Kakeknya itu.
'' Baiklah, besok aku akan menemuinya.'' Danu nampak tersenyum lega.
'' Akan ku coba memafkannya, tapi tidak menerimanya.'' Tambah Tama.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*Bersambung\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*