
Imah mulai menggeliat saat matanya silau oleh cahaya matahari yang mengusiknya dari balik tirai. Gerakan Imah dalam pelukan Tama seketika membuat pria itu mulai melonggarkan pelukannya dan berlahan membuka matanya.
Pupil keduanya langsung melebar saat melihat dua orang yang tengah duduk di sofa menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Imah dan Tama langsung terlonjak kaget ketika kesadaran keduanya sudah penuh. Sangking kagetnya Imah sampai mendorong Tama hingga jatuh ke lantai.
Buugh...
''Aww..aduuuhh, sakit.'' Tama meringis sakit sambil menggosok-gosok pant*tnya yang mencium lantai.
'' I---ini ti---tidak seperti ya--yang------?'' ucapan Imah dipotong Mayang.
'' Aku ga yangka Mah, kalo kalian udah siap kenapa ga langsung nikah aja? Ini kan ga baik Mah, aku kecewa sama kalian. Terutama sama kamu Mah.'' Mayang berusaha memasang wajah kecewanya.
'' Aku akan memperjuangkan keadilan buat kamu Mah.'' Ucap Imah sambil menatap tajam ke arah Tama.
Tama mulai berdiri dan menggenggam tangan Imah,'' aku dan Imah sudah resmi pacaran.''
'' Tapi kan belum halal. Aku udah kirim foto kalian sama Kakek. Pokoknya kalian harus nikah sekarang juga. Kami kan ga tau kalian ngapain aja semalaman. Mana tau udah---.''
'' Ga Tuan, sumpah kami nggak ngapa-ngapain kok sumpah. May, kamu percayakan sama aku? Please May.'' Imah mulai panik, tidak mungkin mereka harus menikah secepat ini.
Imah benar-benar dibuat panik luar biasa saat harus dihadapkan dengan kesalah pahaman yang terjadi. Wajah Imah mulai berubah sedih dan kecewa. Air matanya tak terbendung lagi, isakan mulai terdengar.
Entah kecewa dengan dirinya atau pada keadaan yang rumit ini menurutnya. Memang dia mau jika menikah dengan Tama karena hatinya juga sudah terpaut pada laki-laki yang tengah menggenggam erat tangannya itu, tapi bukan begini pernikahan yang dia impikan.
Tama terlihat biasa saja, karena dia sudah siap jika harus menikahi Imah saat ini juga. Berlahan dibawanya Imah dalam pelukannya. Di usap lembutnya puncak kepala Imah yang tengah duduk di atas tempat tidur.
Suasana menyedihkan itu berubah seketika saat Danu dan Mayang tertawa terbahak-bahak. Tama dan Imah memandang keduanya dengan bingung. Namun yang ditatap malah ketawanya makin jadi.
'' Kalian tuh ya, lucu banget. Kayak maling ketahuan aja. Ha ha ha...'' Imah yang cepat loading langsung mendorong tubuh Tama lagi hingga hampir jatuh.
'' Kalian tega baget sih..hiks..hiks..'' Imah menangis lagi. '' Aku kan takut banget. Bisa-bisa aku digantung di atas pohon sama bapak. Bisa habis aku dimarahi.'' Imah makin kesal dan marah pada suami istri itu.
'' Jadi kamu takut nikah sama aku?'' Kali ini Tama yang sedikit kecewa.
'' Kalau disuruh nikah sekarang ya takutlah. Masa nikah karna kepergok, kan ga lucu.'' Sewot Imah.
__ADS_1
'' Baiklah, kapan kamu siap menikah denganku?'' Mata Imah langsung melotot saat Tama melamarnya dengan status pacaran yang belum 24 jam.
Mayang menutup mulutnya sangking tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Danu malah tersenyum bahagia saat candanya menjadi kenyataan.
'' Lihat, mode diam lagi. Kalau bagiku diam itu tidak emas. Jadi cepatlah jawab.''
Imah yang kesalnya sudah menumpuk dari tadi akhirnya angkat bicara. '' Kalian ini kenapa hah, pagi-pagi sudah buat aku emosi tingkat tinggi. Keluar semuanya, aku mau istirahat.'' Kesal Imah. ''Kamu juga!'' Marah Imah manatap tajam mata Tama. Kemudian langsung berbaring dan memunggungi semua yang menatapnya kaget.
Mayang langsung menarik tangan Danu dan membawanya keluar. Mayang tahu betul kalau saat ini Imah sudah sangat marah.
Tapi Tama yang masih tidak mengerti masih diam sambil memegang dadanya. Matanya berkedip-kedip seakan tak percaya wanitanya kalau marah sungguh menakutkan.
Merasa Tama masih berdiri di belakangnya, Imah bangkit lagi dan memelototi Tama. '' Apa hah? Mau ku dorong lagi sampai ke luar?'' Tama yang kaget spontan berbalik dan berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu ke luar.
'' Pagi-pagi sudah bikin otak ku panas, ku bakar sekalian kalian semua baru tau.'' Imah mengupat kesal pada ketiga manusia tadi. Bukannya sembuh, malah badannya dan kepalanya makin sakit dibuatnya.
Setelah kejadian tadi, Mayang dan Danu menunggu di ruang Tama. Tidak lama berselang Tama masuk dengan jalan yang masih tertatih-tatih.
Danu memutar bola matanya jengah, '' Ya tentu saja mau melihat adik kesayanganku.''
'' Hanya tua satu bulan, jadi belum layak dipanggil kakak.'' Ketus Tama.
'' Ayolah, jangan mulai lagi.'' Bentak Mayang. '' Ayo Tama, bersiaplah. Sekarang kita mau melihat Tuan Bastian.'' Mendengar itu Tama menjadi malas.
__ADS_1
'' Ayo Tam, kamu sudah setuju kan? Jadi jangan baiarkan Kakek kecewa lagi.'' Tambah Danu.
'' Kami tunggu di luar, ini pakqin gantimu adik Ipar.'' Balas Mayang dan kemuadian ke luar bersama Danu. Dengan lesu Tama meraih kantong itu dan berjalan menuju kamar mandi.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh alat-alat dan mesin medis, terlihat seorang pria paruh baya tengah terbaring lemah. Ditubuhnya dipenuhi oleh peralatan medis dan mulutnya ditutup dengan alat bantu pernapasan.
Wajahnya terlihat begitu sendu, seakan ada yang belum bisa dia selesaikan. Dia adalah Tuan Bastian. Sejak pasca operasi, belum juga sadarkan diri.
Berlahan seseorang masuk dengan pakain yang dibungkus kostum medis warna hijau. Langkahnya terhenti tepat di samping tempat tidur itu.
Matanya menatap tajam laki-laki yang tengah sekarat itu. Tak ada pergerakan, hanya bunyi mesin yang terdengar dalam ruangan itu, menandakan jantung pasien masih berdetak.
Tama bingung harus bagaimana. Meski ada sedikit rasa untuk laki-laki yang bisa dipanggilnya Ayah itu, tapi juga masih ada kebencian yang tersimpan untuk laki-laki itu.
'' Jika kau hadir dengan cerita yang berbeda, mungkin tidak akan ada cerita pahit seperti ini. Aku memaafkanmu karena Kakek ku, bukan untuk peduli dennganmu.'' Gumam Tama pelan.
'' Untuk saat ini aku belum bisa memanggilmu Ayah.'' Lirih Tama.
Tama sama sekali tidak berniat untuk menyentuh laki-laki tak berdaya itu. Setelah puas mengeluarkan isi hatinya, Tama segera meninggalkan ruang rawat Tuan Bastian. Namun tepat ketika Tama akan menyentuh gagang pintu, terdengar panggilan lirih dari arah belakangnya.
Tuan Bastian tengah mengangkat satu tangannya seakan ingin menggapai Tama yang berjalan pelan mendekat lagi. Entah karena ada ikatan batin, reflek tangan Tama meraih tangan Tuan Bastian. Berlahan Tuan Bastian membuka penutup mulut oksigennya.
'' A---anakku.'' Lirih terdengar suaranya. Air mata Tuan Bastian mengalir deras. Isakan menyayat hati memilukan siapapun yang mendengar. Tangan lemahnya terus mengganggam erat tangan Tama. Tama hanya diam, tapi tak membalas genggaman Tuan Bastian.
'' A---Ayuku.'' Tangisnya kian pecah. Wajahnya tak putus-putus menatap wajah putra yang baru dia ketahui itu. Dan baru dia sadari setelah memandang lebih dekat, wajah Tama mewarisi campuran wajahnya dengan wajah Ayu Ibu dari anaknnya itu.
Tama memiliki hidung mancung yang runcing dan bibir tipis yang sama dengan Ayu. Sedangkan mata dan bentuk wajah mirip dengannya. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Tuan Bastian sangat menyesal terlambat menyadarinya. Padahal sejak pertama bertemu dengan Tama sudah merasakan ada sesuatu. Tetapi rasa benci dan dendam lamanya membuat mata hatinya menjadi kelam. Bahkan hampir saja putranya itu mati ditangannya sendiri.
'' Ma---maafkan A---Ayah.'' Tuan Bastian mengenggam tangan Tama dalam kedua tangannya.
__ADS_1