
'' Imah, kenapa bisa begini?'' Mayang sangat panik melihat kondisi sahabatnya penuh luka lebam di wajahnya, bahkan keningnya harus kena tiga jahitan.'' Seperti yang telah suamimu jelaskan May, semua terjadi begitu cepat. Aku ga apa-apa kok, kamu tenang aja.''
'' Bagaimana caranya aku jelasin ke Mang Dudung Mah? Aku takut Mang Dudung syok banget.'' Mayang mulai kepikiran reaksi Bapak Imah.'' Udah tenang aja, aku udah kabari Bapak tapi bukan tentang kejadian ini. Aku bilang kerjaan ke luar kota, jadi kalo Bapak aku tanya kamu jawab gitu. Jangan sampai aku disuruh balik kampung May, ogah aku May.''
Saat Mayang dan Imah tengah berbincang, tiba-tiba muncul Tama dengan kursi roda bersama Danu, Beni dan Tisa.'' Bagaimana keadaan kamu?'' Tama menatap Imah penuh kuwatir. Danu mendorong kursi roda Tama mendekat ke tempat tidur dimana Imah tengah terbaring.
'' Ya Tuhan,Tuan anda kah ini? Kemaren mata anda tidak seperti ini. Kenapa sekarang malah bulet kayak moci?'' Dasar Imah, mulut suka banget merusak suasana. Imah sangat kaget melihat mata kanan Tama membengkak hingga tidak bisa dibuka. Bibir bawahnya sobek dan kedua pipinya juga bengkak membiru. Entah sadar atau tidak, berlahan Imah menyentuh wajah Tama. Bulir bening menetes di pipinya. Tama ikut menyentuh tangan Imah.
'' Jangan pernah menangis lagi.'' Tama menghapus air mata Imah, mereka yang melihat sudah tahu jelas hubungan ketus tapi sayang antar Tama dan Imah.
'' Maafkan saya Tuan.''
'' Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi, aku melarangmu. Meski kamu jagoan, tapi pekerjaanmu bukan untuk itu.'' Tama tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan wanita pencuri hatinya ini, meski dia sedikit banyaknya membantu namun tetap saja kemungkinan lebih buruk pasti bisa saja terjadi.
'' Kamu tau, dia memaksa kami untuk membawanya kepadamu. Dia merengek seperti anak kecil minta dibelikan balon.'' Satu sikut mengenai perut Danu, Tama nampak menunduk akibat mulut Danu yang ember. Mayang, Beni dan Tisa ikut tersenyum melihat wajah malu-malu Tama dan Imah yang terlihat lucu.
Hanya dua orang yang berhasil ditangkap oleh orang-orang Danu, duanya lagi sempat kabur tepat sebelum Danu datang. Danu dan Beni yang baru saja balik dari makan siang bersama klien mendadak dapat panggilan telepon dari Imah. Dengan segera mereka menuju lokasi Imah dan Tama. Sekarang dua pria besar itu ditawan disebuah tempat rahasia dan dikawal ketat oleh para para penjaga.
'' Surat itu berhasil dibawa kabur Yuki.'' Imah terlihat sedih karena usahanya sia-sia.
'' Yang terpenting sekarang kalian baik-baik saja, urusan Yuki sudah ada orang kita yang tengah mencari keberadaanya.'' Sahut Danu.
'' Jangan sampai rubah betina itu kabur, dia harus dikasih pelajaran sudah membuat Imah dan Tama terluka seperti ini.'' Mayang nampak emosi.
'' Benar Kak, kita harus kasih pelajaran buat dia. Kalau bisa kita jadikan dia makanan buaya.'' Beni kaget mendengar ucapan Tisa.'' Kalo gue yang bikin dia kesal, bisa-bisa gue dimasukan kandang singa lagi iii....'' Batin Beni bergidik ngeri membayangkan nasibnya bila masuk kandang singa.
'' Iya sayang, kamu jangan terlalu emosi. Ingat kamu lagi hamil.'' Danu mengingatkan. Seketika Mayang beristiqfar.
'' Bagaimana dengan proyek kita yang tengah berjalan? Apa masih ada harapan?'' Tama juga terlihat putus asa.
'' Kalau kerjasama dengan Oasis masih bisa kita pertahankan selama kita tidak melakukan kesalahan. Tapi entahlah dengan Yuki, kita makin rugi besar karena proyek itu sudah mulai jalan. Ular betiana itu tidak akan kita lepaskan.'' Ujar Danu dengan tangan terkepal.
''Bangun bayi besar.'' Byuuur, satu ember penuh air es membasahi dua orang pria yang kedua tangannya terikat mengantung pada sebuah tali. Tubuh mereka masih terduduk pada sebuah Kursi. Seluruh badannya sudah basah namun mereka berdua masih belum bangun juga.
Draaak.. Kursi tempat duduk mereka di dorong sehingga dua pria besar itu bertumpu pada lututnya.''Jangan pura-pura mati, nanti kami buat mati beneran kalian.'' Bentak seorang penjaga.
Sudah tiga hari dua anak buah Yuki mendekam dalam tawanan Danu. Pada saat di rumah sakit Tama sudah berpesan pada Danu.
__ADS_1
'' Siapkan mereka, gue ingin sedikit bermain setelah dari sini. Urusan gue masih banyak dengan mereka.'' Danu mengangguk, dia mengerti betul maksud dari ucapan Tama.
''Bangun cepat.'' Para penjaga menarik kencang tali pengikat tangan mereka. Ternyata yang tertangkap adalah si Botak dan Si beruang besar.
''Menjauhlah.'' Tama meberi kode dengan tangan. Suara Tama membuat mata bengkak lebam Si Botak Dan Si Beruang besar sedikit terbuka. ''Masih Ingat dengan saya Bung?'' Tama mengankat dagu si Botak.
Tama mulai menggulung lengan kemejanya hingga sikut, digulungnya dasi pada tangan dan mengepalkan ya kuat.
Buugh...bugh...buugh...
Darah mulai bercucuran di Wajah si Botak, satu giginya patah. Pukulan demi pukulan Tama hadiahkan diwajah dan perut Si Botak, tendangan indah tidak lupa Tama berikan. Si Beruang yang sudah terluka parah hanya dihadiahkan Tama beberapa pukulan diwajahnya.
Puas bermain, Tama berganti posisi dengan Danu. Danu berjongkok di samping si Botak yang sudah tergelatak di lantai. Sengaja tali yang menggantung tangan Si Botak dan Si Beruang Besar dilepas setelah Tama mengahajar mereka habis-habisan.
Berlahan Danu mendekatkan telinganya ke wajah Si Botak. Mata Danu membulat, giginya beradu menahan amarah. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih.
'' Ternyata ini persekongkolan Yuki dan pria misterius itu.'' Batin Danu.
'' Bereskan mereka, jangan tinggalkan jejak.'' Seru Danu.
Ketika Danu dan Tama berjalan menuju pintu, ponsel Danu berdering. Terpampang wajah cantik Istrinya.'' Ya sayang.'' Wajah bengis Danu berubah cerah saat mendengar kabar dari Istrinya. Danu dan Tama melebarkan langkah mereka menuju mobil.
'' Kakek sudah di pindahkan ke ruang rawat, meski masih belum bisa berkomunikasi tapi Kakek sudah lepas dari masa komanya.'' Ujar Danu, mata Tama langsung berbinar bahagia. Dengan kecepatan penuh Danu membawa mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1
\-
\-
\-
Terlihat seorang wanita hamil tengah menyeberangi zebracros berjalan cepat saat melihat lampu merah menyala. Tiba-tiba sebuah mobil hitam gelap melaju dengan cepat mendekat ke arahnya tepat saat dia berada di tengah-tengah jalan.
''Aaaaaa....buum..buugh.'' Wanita itu terhempas ke aspal. Beruntung sebuah motor yang berhenti di lampu merah menghantamkan motornya ke arah mobil sehingga mobil itu terdorong ke pinggir trotoar. Bagian saping body Mobil hitam rusak parah, namun mobil itu berhasil kabur. Wanita itu meringgis menahan sakit dibagian perutnya. Darah segar mengalir dari sela pahanya. Sedangkan pengendara motor mengalami cedera parah, kemungkinan besar mengalami patah dibagian kakinya.
\-
\-
\-
Mohon 🙏 dukungannya, novel ini sedang ikut lomba. Terimakasih sudah mampir 🙏🙏🤗, jangan lupa
Like
Komentar
Hadiah dan
__ADS_1
Votenya ya 😘😉