Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
72 Persiapan pernikahan


__ADS_3

Hay para readers ku, jangan lupa koment like vote dan favoritnya ya. Biar othor makin semangat terus updatenya makasih 💪🙏🙏🥰


Tidak terasa waktu telah banyak belalu, hanya tinggal satu minggu lagi Tama dan Imah akan melaksanakan ijab qabulnya. Semua sudah mulai sibuk dengan pembagiannya masing-masing. Seperti Mayang, dia lah orang yang paling disibukan. Bagaimana tidak, Mayang adalah satu-satunya perempuan dari pihak laki-laki dan perempuan. Mulai dari urusan catering sampai mempersiapkan kedua calon pengantin dia yang turun tangan.


Hari ini Mayang menemani Imah untuk pergi kesebuah hotel bintang tujuh tempat nanti acara Akad dan resepsi Imah dan Tama. Hotel yang sangat megah dan super mewah.


Disana juga sudah menunggu Tisa dan Beni. Untuk masalah dekor-dekoran, mereka berdualah seksinya. Hari ini adalah hari pertama untuk mendekor ruangan terluas di hotel tersebut


Bukan sembarang hotel, tempat resepsinya akan diadakan di hotel milik Federik Global Group. Artinya hotel milik Tama sendiri.


Untuk hari ini Tama tidak bisa ikut bergabung. Berhubung Tama dan Toni sedang melakukan perjalanan keluar Negeri. Banyak pekerjaan yang harus segera dia selesaikan, niatnya agar bulan madunya nanti tidak terganggu oleh pekerjaan yang menumpuk.


Hanya sehari, setelah selesai mereka akan langsung bertolak kembali ke Jakarta. Begitu mudah bagi Tama, karena dia menggunakan salah satu jet pribadinya.


'' Lihat Mah, sebentar lagi kamu akan jadi ratu bukan hanya sehari tapi untuk selamanya.'' Bisik Mayang pada Imah yang terlihat begitu terharu.


'' Gue bener-bener ga nyangka May, gue bakalan nikah.'' Mayang mengusap lembut punggung temannya itu. '' Nikah sama laki-laki yang dulu sempat gue benci. Habis bikin kesel terus.'' Mayang tersenyum. Dia tau betul bagaimana kisah cinta keduanya. Bisa dibilang dari benci jadi cinta.


'' O ya May, kapan terkhir kita ke butik lagi?'' Tanya Imah.


'' Ya besok lah, kan calon suamimu masih di luar negeri.'' Jawab Mayang.


'' Iya bener juga.''


'' Tapi May, apa gue pantes jadi istrinya Tama?'' Imah seperti demam nikah. Minder dan resah secara bersamaan.


'' Mah, kamu jangan ngomong gitu dong. Aku tau betul Tama dan semua keluarganya. Mereka ga pernah pandang orang dari status sosialnya. Mereka akan lihat dari etitut dan jiwanya, bukan dari kaya atau miskin.'' Mayang menggenggam tangan Imah.


'' Sudah, mulai sekarang kamu harus fokus untuk kebahagian keluarga kecilmu nanti. Buat rumah tanggamu menjadi syurga untukmu dan suamimu nanti.'' Imah begitu tersentuh dengan ucapan Mayang. Imah memeluk hangat sahabatnya itu, satu-satunya orang yang paling mengerti dengannya.


'' May, kayaknya Beni sama Tisa lagi ada masalah deh.'' Ucap Imah saat melihat dari kejauhan Tisa dan Beni seperrti tengah berdebat.


______________


'' Percaya sama aku Tisa, aku bener-bener ga tau kalo dia juga ada di dalam kamar itu.'' Beni menjelaskan tapi Tisa malah makin emosi.


'' Sudahlah, mulai hari ini kita putus.'' Beni membeku. Dia begitu syok dengan apa yang baru saja didengarnya. Sedangkan Tisa berjalan menuju tempat Imah dan Mayang berdiri, meninggalkan Beni begitu saja.




Seperti jadwal, hari ini Mayang akan menemani Imah dan Tama fiting baju akad dan pesta nantinya. Imah sudah di buat bingung oleh banyaknya pilihan yang diberikan padanya. Semua baju-baju itu bukan baju sembarangan, semua rancangan desainer-desainer terkenal. Tak main-main, harga terendah dari baju itu mulai dari 300jt. Bisa dibayangkan berapa harga tertingginya.


__ADS_1


Imah sudah meminta untuk bajunya tidak perlu mahal, yang penting baginya nyaman dan bagus untuk dipakai. Tapi Tama tidak mau, dia harus yang terbaik dari yang terbaik bagi calon Istrinya. Apa boleh buat, Imah terpaksa menurut. Makanya dia butuh Mayang ikut serta menemaninya, karena Mayang masih bisa mengerti akan keinginannya.



Imah yang notabennya dari kalangan bawah, kalangan yang uang itu sangat berharga karena butuh keringat untuk mendapatkannya penuh banyak pertimbangan untuk menentukan pilihan.



Bukan tidak beralasan Imah berpikiran seperti itu. Imah adalah tipikal orang yang tidak mau menerima pemberian orang dengan percuma begitu saja. Pantang hidupnya untuk menampung tanpa ada usahanya sendiri.



Sejak dulu Mayang dan Tama memintanya bahkan memohon agar Imah dan Mang Dudung mau menerima pemberian rumah darinya. Tapi Imah menolak, dengan alasan belum butuh sekarang. Bahkan Danu sudah menyiapkan sebuah tempat usaha untuk Mang Dudung, tepat waktu Mayang dan Danu memberikan tempat usaha untuk malaikat penolongnya waktu itu. Namun masih ditolak oleh Imah dan Mang Dudung.



'' May, apa ga sebaiknya kita sewa aja May? Sayang banget loh May, cuma pake sebentar doang.'' Imah mulai kepikiran harga baju yang diluar ambang batasnya.



'' Hahaha..., bisa ga sih Mah kamu tu nurut aja kali ini? Aku ga mau ya ntar aku yang disalahin karena ide ekonomis kamu.'' Sahut Mayang sambil tertawa. Imah menggaruk kepalanya yang mulai gatal, gatal karena memikirkan gimana arah pikiran orang kaya. Suka bener keluarkan uang


tanpa perhitungan.




'' Sudahlah Mah, jangan mulai lagi deh. Tu liat, calon suamimu bisa kesal kalo kamu protes-protes terus.'' Imah menoleh ke arah Tama yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Merasa dilihat, Tama balik menatap dengan senyum dan bahkan mengedipkan satu matanya pada Imah.



'' Udah, sekarang kamu diam. Ikut aja, jangan berisik lagi.'' Tambah Mayang yang heran dengan mulut sahabatnya itu yang tidak bisa diam kalau sudah menyangkut uang keluar.



Imah hanya bisa diam dan melakukan apa yang disuruh oleh Mayang. Setelah pilih-pilih baju, akhirnya Imah menjatuhkan pilihannya dengan kebaya akad bewarna pink soft dengan kerah mencapai leher dan kancing belakang yang lurus dari atas sampai batas pinggulnya. Hiasan batu permata dengan bling-bling pada lapisan kebayanya menambah mewah saat Imah mengenakannya.



Sedang untuk baju pesta pilihannya jatuh pada gaun bewarna putih berlengan pendek dengan bahan yang menempel badan sehingga menampilkan body goal Imah yang begitu indah. Serta ekor gaun yang panjang hingga menyapu lantai menambah kesan elegan dan seksi.



Gaun ini adalah gaun pilihan Tama sendiri, karena banyak hal yang dia pertimbangkan. salah satunya tidak boleh mengekspos dad\* Imah.

__ADS_1



Mata Tama tak bekedip sedikitpun saat Imah tepat berada didepannya, sungguh Tama terkesima melihat Imaj mengenakan gaun itu.



'' Apakah tidak bisa besok kita langsung menikah?'' Mayang sontak tertawa mendengarnya.


Imah memutar malas bola matanya.



'' Sabar Tuan muda, hanya hitungan hari, wanita di depan anda akan menjadi milik Tuan seutuhnya.'' Jawab Mayang dengan nada bak jaman kerajaan.



'' Baiklah sayang.'' Tama mendekat dan meraih pinggang Imah. '' Tidak sabar untuk segera memakanmu sayang.'' Bisik Tama tepat ditelinga Imah.



Cup



Tama mencium lembut pipi Imah, hingga membuat wajah Imah merona bak kepiting rebus. Mayang tersenyum bahagia melihat sepasang calon penganting itu, sangat serasi. Dia memilih duduk sambil melihat keromantisan sepasang sejoli itu.



Namun tiba-tiba wajah Mayang berubah sendu. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit sedih. Mengingat waktu dia menikah dengan Danu hanya acara akad saja, tanpa baju pengantin dan tanpa pesta meriah. Kerana dia dan Danu menikah karena difitnah oleh Yono. Laki-laki yang pernah hampir melecehkannya.



Mayang jadi teringat akan masa lalunya. Masa dimana kesedihan berturut-turut menghampirinya. Mulai dari kepergian Danu, meninggalnya Nek Murni, hingga masa-masa kehamilan yang begitu berat dia hadapi seorang diri. Bahkan pelecehan yang dia alami hingga berujung pada pemaksaan menikah dengan Yono yang notabennya adalah pelaku pelecehan itu.



Beruntung ada Mang Dudung yang datang menyelamatkannya. Jika tidak, bisa dibayangkan kehidupan apa yang akan dia lalui akibat nikah paksa tersebut. Sampai saat ini, rasa benci Imah pada Yono masih ada. Entalah, mungkin dia hanya belum bisa untuk melupakan kejadian itu.



Tama dan Imah menatap Mayang yang tengah duduk termenung. Tatapan matanya terlihat kosong. Jelas sekali raut kesedihan wajahnya, air mata terlihat menetes dipipi mulusnya. Tama dan Imah saling bersitatap, seakan mereka memiliki pemikiran yang sama.



'' Sepertinya kita harus melakukan sesuatu.'' Bisik Tama pada Imah. Imah mengangguk paham akan ide yang dimaksud oleh calon imamnya itu.

__ADS_1



\*\*\*\*\* Bersambung \*\*\*\*\*


__ADS_2