Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
50 Kekuatan Cinta Mayang Dan Danu


__ADS_3

'' Berhentilah menangis sayang, Mas akan segera keluar dari sini.'' Danu mulai menenangkan Mayang. Mengusap lembut rambut Mayang, dan terus mencium kening Istrinya itu. Danu tak sanggup jika harus berpisah dengan Mayang dan Raja putra semata wayangnya. Dadanya berdenyut nyeri saat Mayang menangis sedih dalam pelukannya. Apalagi belakangan ini hubungannya dengan Mayang agak merenggang.


Mayang terlihat begitu terpukul, hatinya begitu hancur saat melihat penderitaan suaminya. Dia menjadi sangat menyesal telah menyalahkan Danu, mengapa dia begitu egois ditengah perjuangan yang Danu lakukan. Mengapa dia malah sibuk dengan rasa kecewa yang alasannya sungguh tak patut yang harusnya dari dulu dia sadari. Mayang baru sadar, begitu berat yang Danu alami selama ini. Dia menyesal, seharusnya dia menyemangati dan mendukung Danu. Bukan malah bertingkah seperti anak kecil yang harus dituruti maunya.


'' Maafkan aku Mas..hiks..hiks, maafkan aku yang telah salah memposisikan diri. Maafkan aku yang---.''


'' Sudah sayang, kamu tidak pernah salah. Mas memang belakangan ini sangat kurang waktu bersamamu dan Raja. Mas minta maaf.'' Danu sudah tak kuat lagi membendung air matanya. Dengan lembut Mayang mengusap bulir bening itu di kedua pipi Danu. Danu meraih kedua tangan Mayang dan menciuminya secara bergantian.


Tanpa Mayang sadari, selama ini Mayang lah yang menjadi semangat hidupnya. Bahkan sejak kisah cintanya waktu di kampung dulu. Apalagi ada Raja ditengah-tengah mereka. Apapun akan Danu lakukan, sekeras apapun akan Danu usahakan untuk membahagiakan keluarga yang sangat dicintainya.


'' Kamu adalah lelaki hebat, tidak ada yang salah padamu Mas. Aku sangat mencintaimu.'' Kali ini Mayang yang memeluk erat Danu, tangis harupun tak terelakan.


'' Mulai saat ini, tetaplah menjadi Mas Ranggaku yang hebat dan kuat. Aku yakin Mas tidak bersalah, jangan pernah putus asa. Aku akan selalu mendukungmu. Kita hadapi semua ini sama-sama.'' Satu kecupan singkat mendarat dibibir Danu. Danu yang rindunya sudah menumpuk akhirnya menjadikan kecupan itu sebuah ******* yang dalam. Setelah pasokan oksigen mereka menipis barulah ciuman itu terlepas.


'' Terimakasih sayang, terimaksih sudah percaya dengan Mas.''

__ADS_1


Karena Danu sudah berstatus tahanan, maka Mayang dan Danu tidak bisa berlama-lama. Dengan berat hati mereka harus terpisah, tapi Mayang dan Danu sama-sama yakin ini hanya untuk sementara. Setelah selesai, Beni langsung mengantar Mayang pulang sambil mengambil pakaian ganti dan segala kebutuhan Danu selama ditahan dikantor polisi.


Mayang bertekat dalam hati, dia tidak akan diam begitu saja melihat Danu dipenjara. Sudah cukup ketenangan keluarganya terganggu. Ini saatnya Mayang menunjukan, bahawa ada wanita hebat dibalik sosok yang berusaha mereka hancurkan. Tunggu permainan Mayang, kali ini tidak ada ampun bagi siapapun yang berani menjadi musuh keluarganya. Besok dia akan datang ke kantor, mungkin disana ada sesuatu yang bisa membantu kasus suaminya.


Matahari seakan muncul lebih cepat, belum lama rasanya Mayang menutup mata tapi pagi sudah datang menjelang. Seperti rencananya semalam, pagi ini Mayang akan datang ke kantor. Tadi malam Mayang sudah mengatakan pada Beni dan juga sudah mengabari tahu Imah. Mereka akan bertemu di ruang Danu.


'' Tuan Beni, apa betul Tuan Tama merubah aset perusahaan atas namanya?'' Beni mengangguk. Saat ini mereka sudah berada di ruang Danu. Imah sangat kaget, bukan berarti percaya. Melainkan kaget kenapa Tama bisa kecolongan seperti itu. Imah terlihat berfikir keras, ingatannya seolah mencari kapan hal sebesar ini bisa terjadi. Karena hampir semua waktu bekerjanya dia habiskan bersama Tama.


'' Tapi saya tidak percaya Tuan Tama sejahat itu. Pasti ada orang yang ingin mengadu domba Tuan Tama dengan Bos Danu.'' Ujar Beni. Belum sempat Imah bicara, terlihat Mayang muncul dari balik pintu.


'' Asben, tolong kumpulkan semua berkas kerjasama kita bersama investor selengkap-lengkapnya. Dan kamu Imah, tolong panggilkan Lisa Sekretaris Mas Danu dan Lusi sekretaris Tama.'' Dengan cepat Imah dan Beni melaksanakan tugas dari Mayang yang secara langsung telah menjadi atasan mereka saat ini.


Satu tumpukan besar map berjejer rapi di atas meja, Lisa dan Lusi juga sudah berada di depannya. Kedua wanita itu tampak bingung dan juga terlihat katakutan melihat tatapan tajam dari


Mayang.

__ADS_1


Sebenarnya Lusi dan Lisa tidak tahu sama sekali tentang masalah yang menimpa Danu dan tentang hal yang menyangkut Tama. Karena memang semua hal intern perusahaan hanya Danu, Tama, Beni, dan Imah yang mengetahui. Semua dilakukan agar rahasia perusahaan tetap terjaga.


'' Asben, siapkan ruang meeting. Satu jam lagi kumpulkan seluruh kepala proyem dan seluruh kepala divisi. Saya sendir yang akan memimpin rapatnya.'' Melihat Beni masih menganga menatap padanya, Mayang menaikan dagunya sedikit. Mengerti dengan kode itu, Beni langsun berlalu menuju pintu untuk melaksanakan tugas kedua dari atasan barunya itu.


'' Baiklah Lisa, saya mulai dari kamu. Tolong kamu jelaskan setiap detail data dari semua proyek ini. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Kalau tidak bersiaplah jadi pengangguran.'' Wajah Lisa langsung pucat begitu juga dengan Lusi, dengan segera di raihnya satu map dan menjelaskannya satu persatu begitu seterusnya. Dengan serius Mayang mendengarkan dan sesekali dia nampak menulis di notebooknya.


Sekarang giliran Lusi Sekretaris Tama, sebelumnya ancaman yang sama juga telah Mayang lontarkan. Entah karena ketakutan atau karena bingung, terlihat jelas oleh Mayang Lusi seperti menyembunyikan sesuatu. Setelah Mayang memberi kode pada Imah, akhirnya Imah membawa Lusi keluar untuk bicara empat mata dengannya.


Saat ini Imah dan Lusi tengah berada di atap gedung kantor. Imah menatap Lusi penuh selidik. Selama ini mereka cukup dekat apalagi meja mereka juga berdempetan. Jadi Imah berharap Lusi dapat bicara tenang dengannya.


'' Katakan padaku Lusi, apa yang telah terjadi sebenarnya?'' Lusi tak menjawab. kepalanya masih menunduk. Kemudian Imah meraih tangan Lusi, menatapnya seolah kembali bertanya.


'' Maafkan aku Mah, a---aku takut Mah..hiks..hiks..'' Lusi menangis histeris sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


'' Katakan Lusi, apa yang telah terjadi?'' Imah membawa Lusi kedalam pelukannya. Imah mengusap punggung Lusi.

__ADS_1


Berlahan Lusi melepaskan pelukan mereka, ''Anakku butuh biaya besar Mah, anakku sedang sakit dan butuh pendonor ginjal secepatnya. Aku menerima tawaran dari sesorang untuk mengalihkan semua aset dan kepemilikan perusahaan atas nama Tuan Tama. Saya pikir juga tidak akan merugikan perusahaan karena Tuan Tama juga salah satu pewaris Baragajasa.'' Jelas Lusi dengan wajah diselimuti rasa bersalah yang besar.


__ADS_2