
'' Mas, apa harus siang-siang gini?'' Mayang mulai tak habis pikir dengan suaminya. Jika sudah minta jatah, susah untuk ditolak.
''Sayang, ini sudah tidak bisa ditahan lagi.'' Bisik Danu tepat ditelinga Mayang dengan suara yang sudah berat.
Mayang hanya bisa pasrah dan juga menikmati setiap sentuhan lembut Danu yang membuat bulu-bulu halusnya bediri teratur. Danu mulai menghisap dalam rongga mulut Mayang, menekan keras pinggang Mayang hingga berdempet kuat.
Danu mulai merebahkan Mayang di atas tempat tidur king size itu. Namun bib*r mereka masih bertaut. Mayang bergeliat saat tangan Danu mulai merem*s gundukan besar itu. ******* lembut terdengar dari mulut Mayang yang masih menyatu dengan Danu.
Hisapan-demi hisapan Danu lakukan, hingga jejak kepemilikannya terpampang jelas dikulit putih Mayang. Danu tidak bisa memainkan dua cokocip itu, karena sekarang itu masih hak milik Raja putra kesayangannya.
Tangan Danu mulai turun kebawah mencari titik inti Mayang, tempat terindah dan ternikmat bagi Danu dalam setiap permainan panasnya ini. Mayang mengerang indah saat Danu mulai menyatukan miliknya. Goyangan indah mulai terjadi, begitu lihai. Itulah kalimat yang tepat untuk Danu.
Saat mencapai puncak, keduanya saling berpelukan. Menguatkan satu sama lain agar sama-sama menikmati. Lahar panas Danu menyembur deras membasahi ladang Mayang yang sudah becek. Keduanya terkulai lemas setelah mendaki gunung menuruni lembah kenikmatan.
Baru saja Danu memejamkan matanya, dering ponselnya berbunyi. Terpampang jelas nomor Kakeknya. Tuan Agung menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit, ada hal penting yang harus dia ketahui.
Segera Danu bangkit dan langsung membersihkan diri dikamar mandi. Mayang yang kelelahan oleh ulah Danu, masih tertidur sengan pulasnya. Satu kecupan dikening Mayang tak lupa Danu tinggalkan. Setelah menitipkan pesan pada pelayan rumah, Danu segera menuju rumah sakit di mana Tuan Bastian di rawat.
*****
Di tempat lain, sepasang kekasih tengah bicara serius tentang hubungan mereka yang masih terbilang baru.
'' Imah, jangan pernah meragukan hatiku. Jika kamu sudah jadi milikku, tidak akan ada yang bisa menggantikannya.'' Ucap Tama kepada Imah dengan menggenggam kedua tangan Imah.
'' Minggu depan kita akan menikah, tidak ada tunangan-tunangan. Langsung ijab qabul.'' Imah membeku saat Tama menjelaskannya.
''Maukah kamu menjadi istriku?'' Tama berlutut dengan menggenggam satu tangan Imah.
Imah menutup mulutnya sangking kaget dengan lamaran tiba-tiba Tama. Rasa haru membuat kedua matanya basah. Imah menangis, Tama langsung bangkit dan membawa Imah dalam pelukannya. Dipeluk eratnya wanita pujaan hatinya itu, sungguh tak ingin dia Imah bersedih sedikitpun.
'' Apakah ingin aku ulang lagi pertanyaanku?'' Bisik Tama dikepala Imah. Imah menggeleng.
'' Jadi apa jawabanmu?'' Imah mengangguk di dada Tama. Dengan sigap Tama meraih dagu Imah hingga dia bisa menatap mata wanita itu.
'' Katakan jawabanmu?''
Imah menjawab dengan wajah malunya, '' aku menerimanya.'' Sontak Tama melahap bib*r Imah, tak peduli dengan detak jantung Imah yang sudah berdentang kencang. Keduanya larut dalam rasa cinta kasih yang membara.
Berlahan Tama meraih sesuatu dari dalam dompetnya. Terlihat Tama mengeluarkan cincin putih indah berukiran mawar di atasnya. Tanpa ragu Tama menyematkan dijari Imah. Sangat pas dan nampak cantik dijari manis Imah.
__ADS_1
'' Ini adalah cincin mendiang Ibuku, Ibu menyuruh memberikannya pada wanita yang menjadi pilihanku. Selama ini selalu ku simpan dan kubawa kemana pergi. Hari ini cincin ini sudah mendapat tempat terbaiknya. Terimakasih sayang. Aku janji akan selalu membahagiakanmu.'' Imah kembali menangis haru oleh kata-kata Tama. Ciuman panas pun kembali terjadi.
Tapi tiba-tiba ponsel Tama berdering dari balik sakunya, tapi Tama tak mengindahkan. Dia masih belum puas meluapkan rasa bahagianya bersama Imah. Imah yang sudah kesal akhirnya memukul dada Tama.
''Angkalah, nanti aku tambah.'' Imah mengedipkan matanya. Tama dibuat mabuk kepayang oleh itu.
'' Aku ingin lebih.'' Imah malah tersenyum menggodanya.
'' Awas kamu wanita nakal.'' Tama mencubit sayang hidung Imah.
Betapa kaget Tama saat Kakeknya mengabari kalau Ayahnya semakin memburuk. Tuan Bastian memintanya untuk bertemu sekarang juga.
Entah mengapa rasa cemas menyeruak dari balik dihatinya. Rasa nafsu bersama Imah hilang begitu saja. Wajahnya terlihat sangat panik. Imah yang paham akhirnya menyemangati sang kekasih.
'' Pergilah, aku tau kamu masih belum bisa menerima. Tapi setidaknya hargailah dia demi Ibumu.''
Tama sungguh semakin yakin ingin mempersunting Imah, selain cantik dan pintar, Imah juga memiliki hati yang tulus dan sangat bijak.
'' Kamu ikut denganku.'' Tama menggengam erat tangan Imah dan membawa Imah pergi menuju rumah sakit. Imah tersenyum bahagia melihat sikap Tama yang begitu menyentuh hatinya.
'' Kemarilah Nak, Ayahmu ingin bicara.'' Seru Tuan Agung pada Tama.
'' A---anakku.'' Tuan Bastian mengangkat tangannya untuk meraih putra tercintanya.
Berlahan tapi pasti Tama berjalan mendekat dan meraih tangan lemah itu. Keduanya saling bersitatap. Mata keduanya menyiratkan betapa mereka saling terikat. Tuan Bastian terlihat menangis haru, digenggamnya tangan Tama dengan kedua tangan lemahnya.
'' Maafkan Ayah Nak, Ayah sangat menyesal.'' Tama tak dapat menutupi kesedihannya. Air mata kesedihan jatuh begitu saja.
__ADS_1
'' Ayah tidak akan memaksamu, karena Ayahmu memang tidak pantas untuk dimaafkan. Bencilah Ayah, karena Ayah bukan orang baik.'' Tama makin menangis sedih. Apalagi baru beberapa menit yang lalu dia mengingat mendiang Ibunya. Hatinya semakin tidak bisa untuk membenci laki-laki yang sudah menyiksanya selama ini.
'' Waktu Ayah tidak banyak lagi.'' Tama membeku menatap sang Ayah yang terlihat sudah tidak berdaya. Kepalanya menggeleng cepat, sungguh rasa sedihnya melebihi kesedihan waktu kepergian Papanya Tuan Bagas.
Tama baru sadar, jika ikatan darah tidak bisa dibohongi. Tanpa ragu Tama memeluk laki-laki tua yang tengah terbaring tak berdaya itu. Isakan tangis keduanya membuat suasana haru memenuhi seisi ruangan. Imah tersenyum bahagia, akhirnya Tama mau menerima Ayahnya.
Tuan Agung merangkul Danu, menandakan betapa bersyukurnya dia, Akhirnya hal yang dia nantikan telah terjadi.
'' Ayah, Ayah...hiks...hiks.'' Tama menangis mencium tangan Ayahnya yang dia genggam erat.
'' Aku akan memaafkan jika Ayah berjanji akan bertahan sampai sembuh.'' Tuan Bastian menyapu wajah basah Tama.
'' Ayah dan Ibumu akan selalu ada bersamamu. Di sini, di sinilah tempat yang Ayah inginkan.'' Tuan Bastian menunjuk dada Tama.Tama kembali menangis sedih, tidak peduli Imah melihatnya sangat cengeng. Saat ini dia begitu ingin Ayahnya tetap bersamanya dulu.
'' Toni, kemarilah.'' Tuan Bastian memanggil pria yang umurnya tidak jauh dari berbeda dari Tuan Bastian.
'' Dia adalah Toni, dia orang kepercayaan Ayah. Semua seluk beluk perusahaan dia ketahui. Mulai sekarang Federik Global Group berserta seluruh aset Bastian Federik telah menjadi milikmu.'' Sontak Tuan Agung dan Danu saling menatap kaget. Tapi Tama malah tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ayahnya.
\*\*\*\*\* Bersambung\*\*\*\*\*
__ADS_1