
Sebuah mobil ambulan masuk area rumah sakit dan berhenti tepat di depan UGD. Danu dan Tama terlihat berjalan cepat dari arah parkiran dan melewati depan UGD. Degup jantung Danu berdetak kencang saat beberapa orang membicarakan pasien yang masuk itu adalah seorang wanita hamil yang ditabrak sebuah mobil. Entah mengapa kaki Danu tiba-tiba berhenti dan menoleh tepat saat sebuah suara yang sangat dia ketahui tengah meringgis kesakitan.
''Mayang. Mayaang.'' Danu mendekat meraih tangan Istrinya dan melihat darah sudah membasahi area bawah Mayang. Tama yang tengah berjalan menoleh kaget saat Danu berteriak menyebut nama Mayang.
'' Sayang, apa yang sudah terjadi?'' Wajah Danu terlihat sangat panik saat pipi kanan Mayang penuh luka gores dan berdarah. Tidak hanya itu, lengan dan betisnya juga lebam dan tergores.
'' Maas...sakit Mas, hiks...hiks..sakit Mas.'' Mayang mencengkram kuat baju Danu.'' Iya sayang, Dokter akan segera mengobatimu.''
'' Maaf Tuan, keluarga mohon menunggu di luar.'' Langkah Danu terhenti saat Mayang di bawa masuk ke dalam ruang penanganan.
'' Mayang kenapa Danu?'' Tama yang memang sudah mengikuti dari belakang mulai bertanya.
'' Entahlah, apa yang sudah terjadi dengan Istriku.'' Danu terduduk di kursi tunggu. Seluruh tenaganya hilang seketika, hatinya benar-benar hancur saat melihat wanita yang sangat dicintainya terluka parah. Dia juga sangat menghawatirkan janin dalam kandungan Mayang.
'' Maaf permisi Tuan, apakah kami bersama keluarga pasien tabrak lari?'' Dua orang pria berseragam polisi mendekat.
'' I--iya Pak, saya suaminya.''
'' Begini Tuan, kami ingin melaporkan bahwa istri anda mengalami tabrak lari oleh sebuah mobil saat menyebrang jalan. Dan untuk info selengkapnya anda bisa ikut kami ke kantor polisi untuk mengecek cctv yang telah kami kantongi.'' Ujar Pak Polisi.
'' Baik Pak, saya yang akan mewakilinya.'' Danu hanya mengangguk saat Tama meminta ijinnya untuk pergi. Danu sekarang tidak fokus dengan apapun, dalam benaknya hanya mencemaskan Mayang dan calon anaknya.
'' Permisi, apa anda Suami Nyonya Mayang?'' Seorang Suster datang menghampiri Danu yang tengah tertunduk lesu.
'' Ah ya Sus, saya suaminya.''
'' Mari ikut saya Tuan, Istri anda membutuhkan anda karena Nyonya Mayang akan siap melahirkan.''
Danu bergegas setengah berlari masuk menemui Mayang. Sungguh perih dan sesak dada Danu saat melihat wanitanya tengah berjuang dalam keadaan tidak baik-baik saja untuk melahirkan buah hati mereka.
'' Sayang, berjuanglah. Mas akan di sini bersamamu. Kuatlah sayang, demi buah hati kita. Ayo sayang, kamu pasti kuat.'' Danu tak henti-hentinya mencium kening Mayang, mengusap kepalanya yang basah oleh darah luka gores bercampur keringat.
__ADS_1
Sekuat tenaga Mayang mengejan, kemudian berheti. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya berlahan sampai rasa sakit itu datang lagi. Danu yang tengah menggenggam tangan Mayang juga ikut melakukan hal yang sama, menarik nafas dan mengeyembuskannya berlahan.
Mayang terlihat kelelahan, tenaganya sudah terkuras habis. Danu dengan penuh cinta terus menguatkan Mayang yang sudah bermandi keringat.
'' Kamu pasti bisa sayang, ayo sayang. Semangatlah sayang, lihat kepalanya sudah terlihat. Sedikit lagi sayang kita akan bertemu dengan Danu Junior.'' Bisik Danu tepat ditelinga Mayang.
Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata Mayang, Danu pun tak pernah lelah mengusapnya dan terus mencium kening Mayang bentuk rasa sayang cinta kasihnya agar Mayang terus semangat dan kuat untuk melahirkan anak mereka.
Sekuat tenaga Mayang mengejan lagi, dorongan kali ini sangat kuat. Seakan bayinya juga tidak sabar untuk melihat dunia barunya. Cengkraman tangan Mayang pada rambut dan lengan Danu seakan memberi kekuatan penuh baginya untuk mengejan. Dan...
Owek...oweeek..
Seorang bayi mungil nan tampan berhasil lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Danu begitu terharu dengan perjuangan Istrinya, namun berlahan cengkraman tangan Mayang melemas dan terlepas begitu saja. Danu sangat panik melihat Mayang tidak sadarkan diri.
'' Dokter..Dokter kenapa dengan Istri saya?'' Dokter langsung mendekat.'' Tolong Tuan tunggu di luar dulu, kami akan menanganinya.'' Berlahan Danu menoleh kearah Istrinya dan menatap anaknya yang sedang dibersihkan.'' Anda bisa mengazaninya saat sudah berada di ruang bayi Tuan.'' Seakan mengerti dengan tatapan Danu, seorang Suster menjawab ramah.
'' Kakak, bagaimana kondisi Kak Mayang? Apa...apa keponakanku sudah lahir?'' Tisa memberi pertanyaan beruntun pada Danu tepat saat Danu muncul dari balik pintu.
'' Anak Kakak sudah lahir, tapi....''
''Tapi apa Kak? Apa yang terjadi?'' Tisa makin panik.
'' Tuan, bagaimana dengan Mayang?'' Imah sudah sudah bisa menebak dari raut wajah Danu. Ketika Tama mengabarinya, Imah yang tengah berada di kantor langsung menuju rumah sakit.
'' Berdo'alah semoga semuanya akan baik-baik saja.'' Danu mengusap pelan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Bahunya beregetar menandakan betapa lemahnya dia saat ini. Imah dan Tisa langsung berpelukan untuk saling mengurangi kecemasan hati mereka, tak henti-hentinya Imah mengucapkan do'a untuk sahabat yang sangat disayanginya itu.
''Bangunlah sayang, lihat anak kita sudah tidak sabar ingin digendong oleh Bundanya.'' Sungguh perih hati Danu saat menatap Wanita yang telah berjuang untuk anaknya masih terkulai lemah tak berdaya dengan begitu banyak luka di tubuhnya.
Dokter memang mengatakan hal ini normal bagi seorang Ibu yang baru melahirkan. Apalagi kondiai fisik Mayang yang memang dalam keadaan terluka. Tetapi tetap saja Danu tidak tenang sebelum Wanitanya membuka mata. Ditatapnya lekat-lekat wajah puteranya yang beraad dalam gendongannya, sungguh tidak sanggup dia membayangkan jika hal buruk akan terjadi. Dengan penuh cinta Danu mencium wajah puteranya, berharap keajaiban akan terjadi.
Berlahan Danu meletakan puteranya disela lengan Mayang, terlihat anaknya begitu nyaman dalam dekapan Bundanya. Tiba-tiba mata Danu menangkap pergerakan pelan dijari Mayang. Terlihat Mayang mulai berusaha membuka matanya.
__ADS_1
'' Ya Tuhan, Alhamdulillah ya Allah. May, sayang kamu sudah sadar sayang?'' Danu meraih satu tangan Mayang dan menciumnya bertubi-tubi.'' Mas, mana anak kita?'' Suara Mayang begitu lemah.
'' Ini sayang, apa kamu tidak merasakan anak kita dalam dekapanmu?'' Air mata Mayang mengalir deras, hatinya begitu bahagia. Rasa yang tak bisa digambarkan, begitu penuh syukur kepada Sang Maha Kuasa. Dikecupnya pelan puncak kepala puteranya, sungguh bahagia yang tak terkira. Danu pun segera menekal tombol panggilan untuk memberitahukan Dokter karena Istrinya sudah siuman.
'' Lihatlah Mas,wajahnya begitu mirip denganmu.'' Tentu saja, karena aku yang paling semangat membuatnya.'' Mayang memutar bola matanya jengah melihat tingkah suaminya itu.
''Kamu beri nama apa anak kita Mas?''
'' Raja Putera Baragajasa.''
'' Jadi untuk informasi selanjutnya akan kami kabari Tuan Lagi.'' Polisi mengulurkan tangan untuk bersalaman.
'' Baik Pak, kmai tunggu kabar baik dari Bapak.'' Tama pamit undur diri dan langsung kembali ke rumah sakit.
Saat Tama menghidupkan mesin mobilnya, ponselnya berdering. Berlahan Tama jawab panggilan itu sambil mengemudikan mobilnya.
'' Apa yang kalian Dapat?''
'' ___________________.''
'' Bagus, awasi terus jangan lengah. Langsung ringkus sesuai rencana.'' Tama menutup panggilannya.
'' Akhir hidupmu akan segera tiba.'' Seringai jahat terbit diwajah tampan Tama.
Hai hai hai π₯°π ... makasih masih setia sama novel othor. Tolong jempolbya dong biar othor makin semangat.
Jangan lupa tinggalkan komennya ya. Bagi hadiahnya dan jangan lupa juga kasih vote ya...Makasih ππππ€
Mohonππ
dukungannya, novel ini sedang ikut lobaππππ
__ADS_1