
'' Selamat datang di pesta kecil kami. Nona Imah.'' Ujar Saga saat menuruni anak tangga.
'' Dimana Tuan Tama!'' Ketus Imah.
'' Wah sepertinya kelinci kecil kita sudah tidak sabar ingim bertemu dengan majikannya.'' Sontak mereka semua tertawa kecuali Imah. Matanya sudah memerah menahan emosi saat ejekan yang ditujukan padanya.
'' Sabar-sabar, tidak lama lagi. Tapi kita harus bermain dulu sebentar.'' Dengan satu kali jentikan jari, dua orang pria maju mendekati Imah.
'' Mau apa kalian?'' Ujar Imah dengan posisi kuda-kudanya.
'' Tolong beri sedikit sambutan untuk tamu kecil kita.'' Seru Saga.
Kedua pria itu mulai melayangkan pukulan ke arah Imah, dengan sigap Ima mengelak dan membalas pukulan mereka.
Bugh...
Satu sasaran kena, pria itu terjungkal kebelakang. Sedangkan yang satunya lagi maju dan berhasil menendang pingang Imah. Imah mudur beberapa langkah karena kencangnya tendangan itu. Imah yang memang sudah terbakar emosi kembali melawan. Kali ini Imah bisa mengelak hantamannya, dan balas menyikut paha dalam lawannya.
Tidak sampai di situ, beberapa orang lagi maju saat melihat Imah yang berhasil melumpuhkan kedua kawannya. Kali ini Imah sedikit kewalahan karena mereka maju secara bersamaan.
Namun bukan Imah namanya jika tidak mampu menghempaskan semua lawannya. Imah terlihat melawan tanpa ampun. Menendang, memukul, menyipak, bahkan Imah naik kepunggung dan mematahkan leher lawannya. Hampir semua lawannya terkapar, tapi sayang Imah sedikit lengah. Tanpa Imah sadari dari arah belakang dengan cepat satu tangan membekap mulutnya menggunakan sapu tangan. Imah hilang kesadaran saat itu juga.
Di rumah utama Mayang nampak gelisah, dia memikirkan suami dan sahabatnya yang entah bagaiman keadaannya sekarang. Mayang menatap wajah Raja yang tengah tertidur lelap. Setelah makan siang, Raja langsung ketiduran sambil disusui oleh Mayang.
'' Sayang, Bunda pergi sebentar ya. Anak Bunda jangan rewel. Mmmuach...Bunda akan cepat pulang.'' Dibelainya puncak kepala Raja. Setelah itu Mayang menemui babysitter Raja agar menjaga Raja di kamarnya.
'' Aku harus ke rumah itu.'' Gumam Mayang.
__ADS_1
'' Pak, kita ke alamat ini sekarang.'' Mayang menyodorkan alamat yang tertera di ponselnya pada sopir nya. Setelah memasukan alatnya ke gogolmap, sang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Mayang yang masih gelisah, menatap keluar dengan berbagai pemikirannya.
Hampir satu jam mobil yang membawa Mayang menelusuri jalan yang sesuai petunjuk gogolmap. Tapi keberadaan alamat itu masih belum diketahui.
'' Pak, kok kita malah muter-muter sini aja pak?'' Ucap Mayang sambil melihat kiri dan kanan jalan.
'' Itu Nya, saya juga bingung. Ini alamatnya kok agak kurang jelas gitu Nya. Apa mungkin nama jalannya udah di tukar?'' Mayang kembali melihat chat dari Imah, betul sesuai yang Imah tulis. Bahkan ada foto rumahnya sekalian Imah kirim.
'' Ya sudah Pak, kita lanj---'' Ponsel Mayang tiba berbunyi. ''Tisa?'' Gumam Mayang.
'' Assalammu'alaikum Tisa.'' Ujar Mayang.
''-------------------.''
'' Oh benarkah? Baiklah, Kakak akan langsung ke Bandara sekarang.'' Pak kita ke bandara ya Pak.
__ADS_1
Seorang pria dengan pakaian berantakan dan wajah yang sedikit lebam terlihat sedang duduk terkulai di atas sebuah kursi dengan mulut yang tertutup kain serta tangan terikat kebelakang kursi itu. Sepertinya pria itu tengah tertidur. Ruangan itu tampak remang karena hanya sedikit pencahayaan. Itupun hanya cahaya dari balik tirai yang sedikit terbuka. Pengap dan panas itulah yang terasa dalam ruangan itu. Tepatnya sebuah kamar yang sudah usang dan lusuh. Tempat tidurnyapun seperti sudah lama tidak dipakai.
Bruak...
Pintu terbuka dengan kerasnya, pria itu terjingkrak kaget hampir jatuh bersama kursi yang didudukinya. Kesadarannya mulai penuh. Matanya terus menatap tajam wanita yang digendong masuk ke dalam ruangan itu. Wanita itu direbahkan di atas ranjang tepat dihadapannya.
Rambut panjang menutupi wajah wanita itu. Dari postur tubuhnya pria itu seperti mengenal siapa wanita itu. Namun dia masih ragu karena masih kecil kemungkinan orang yang dia maksud bisa sampai ke sini.
Berlahan ada pergerakan pada wanita yang terbaring itu. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing, mungkin efek dari obat bius yang dibekap kemulutnya tadi. Wanita itu mulai duduk dan menyibakan rambut panjangnya kebelakang. Dan...
DEG
Keduanya saling menatap, tatapan yang sangat terlihat begitu mengharukan. Tidak lama wanita itu tersenyum merekah. '' Tuan, akhirnya aku menemukanmu.'' Ucap Mayang.
Yah, dia adalah Mayang dan Tama yang kini sama-sama terkurung dalam sebuah kamar yang pengap dan gelap. Mata Tama langsung berkaca-kaca. Tatapannya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Imah, Imah wanita yang hampir selama disini selalu ada dalam pikirannya.
Tapi apa ini? Kenapa Imah bisa sampai di sini? Apa Imah telah berusaha mencarinya? Tama hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, terlebih mulutnya masih ditutupi kain yang diikat kebelakang.
Berlahan Imah beranjak dari tempat tidur dan berusaha untuk berdiri. Namun rasa sakit menjalar di perut dan sekitar pinggangnya. Mungkin bekas perkelahiannya mulai terasa sakit sekarang. Tama tidak sampai hati melihat Imah yang begitu kesakitan. Berusaha dia menarik-narik tangan dan kakinya yang terikat ke kursi. Erangan Tama sungguh menyayat hati, hingga dia tergolek kesamping bersama kursi yang ikut rebah.
Melihat Tama yang jatuh, Imah berusaha keras menggapai Tama dengan beringsut dilantai karena kakinya tiba-tiba keram. '' Tu-Tuan, anda tidak apa-apa?'' Tangan Imah meraih kepala Tama dan menjadikan pahanya sebagai bantal. '' Akhirnya aku menemukanmu.''
Berlahan Imah membuka kain penutup mulut Tama. '' Hah..hah.'' Tama berusaha menstabilkan pernafasannya. '' Apa yang kamu lakukan di sini?'' Seru Tama. Namun Imah tidak menjawab, Imah malah sibuk dengan meraih taili pengikat tangam Tama. Setelah tali pengikatnya lepas, Tama kemudian membuka sendiri tali pengikat kakinya.
'' Apa yang kamu lakukan di sini hah!!?'' Imah terlonjak kaget mendengar suara Tama. Melihat wajah Imah yang sudah mendung, tanpa aba-aba Tama menggendong Imah ke tempat tidur. Imah bukan hanya pasrah, tapi juga mengalungkan kedua tanyannya ke leher Taman. Imah menatap wajah Tama yang sedang memandang lurus kedapan dan terlihat kaku.
'' Mengapa kamu sampai ke sini?'' Tama bertanya lembut sambil membelai lembut kepala Imah.
'' Tentu saja mencari Tuan.'' Jawab Imah polos. Diraihnya kepala Imah dan diciumnya kepala Imah dengan air mata yang entah sejak kapan turun dipipinya. Ditatapnya mata indah itu, '' Kenapa kamu lakukan ini?'' Mendengar pertanyaan Tama, Imah jadi bingung sendiri. Imah menundukan wajahnya. Melihat tidak ada jawaban, Tama meraih Imah dan membawanya dalam pelukan. ''Aku sangat merindukanmu.'' Mendengar itu Imah berlahan membalas pelukan Tama. Pelukan mereka semakin erat seiring isakan tangis Imah yang semakin membuat hati Tama sedih.
******* Bersambung*******
__ADS_1