Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
70 Lamaran Ditunda


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukan pintu membangunkan dua orang yang masih terlelap tidur saling berpelukan. Keduanya membuka mata bersamaan. Imah menggeliat dalam pelukan Tama, dia mulai duduk menyesuaikan pandangan matanya. Tama ikut duduk sambil memeluk pinggang Imah dengan meletakan dagunya dibahu Imah.


'' Ada apa sayang?''


'' Sepertinya tadi ada yang mengetuk pintu.''


Tama menghidupkan lampu tidur di atas nakas. Berdiri dan menutup tirai jendela kamar. ''Sepertinya hari sudah malam.''


Imah terlihat panik. Bagaimana tidak, dia sangat malu jika nanti keluar dan bertemu dengan seisi rumah utama. Tidak bisa dia membayangkan pandangan buruk yang akan diterimanya nanti. Belum menikah, sudah tidur sekamar bahkan ketiduran sampai malam.


Tama mengerti apa yang Imah cemaskan. Berlahan ditariknya Imah dan diraihnya pinggang wanita yang sedang dilanda kecemasan itu. Satu kecupan hangat mendarat lembut dibibir manis Imah.


'' Jangan kuwatir, mereka tidak akan berpikiran buruk tentangmu.'' Bisik Tama tepat diceruk leher Imah. Bibir Tama mulai meraba-raba kulit leher Imah.


'' Tapi aku malu.'' Lirih Imah.


'' Sudah, sebaiknya kamu mandi dan ganti pakaianmu.'' Tama mengeluarkan paper bag dari dalam lemarinya. Itu sudah dia sediakan sebelumnya, jaga-jaga kalau Imah sewaktu-waktu akan menginap.


'' Aku akan mandi dikamar sebelah. Setelah mandi jangan langsung keluar, tunggu aku. Kamu pasti malu keluar sendiri.''


Setelah Tama menghilang dari balik pintu, Imah baru masuk ke kamar mandi. Tidak berapa lama Imah selesai mandi dan mengeluarkan isi paperbag itu. Mata Imah membulat sempurna, dalaman yang senada bewarna pink sungguh membuat wajah Imah bersemu merah. Membayangkan Tama memilih-milih dalaman untuknya.


'' Kenapa dia tau ukuranku ya?'' Semuanya pas dibadan Imah. Dress polos selutut bewarna pink soft juga begitu pas dibadannya dengan kancing-kancing didadanya serta lengan baju yang sampai kesiku memberi kesan elegan bagi yang memakainya. Imah terlihat cantik dengan rambut panjang yang dia biarkan tergerai. Dia sengaja tidak keramas, takut dikira habis mandi junub.


'' Sudah siap sayang?'' Tama muncul dari balik pintu. Berjalan berlahan dan menatap Imah penuh takjub. ''Pilihan yang tepat.'' Matanya menatap senyum dada seksi Imah.


'' Dasar mesum.'' Imah memukul pelan dad Tama.

__ADS_1


Imah begitu canggung saat semua tatapan trrtuju padanya. Tapi semua menatap biasa, hati Imah sedikit lega. Kecuali teman laknatnya, Mayang malah senyum-senyum tak jelas padanya.


Seperti biasa tidak ada pembicaraan waktu makan, semua makan dengan tenang. Setelah makan, semuanya berkumpul di ruang keluarga, karena sebelumnya Tuan Agung sudah memintanya. Termasuk Imah, karena memang ini berhubungan dengan Imah.


'' Maksud Kakek mengumpulkan semuanya karena ada hal penting yang ingin Kakek sampaikan.''


'' Ini tentang recana lamaran Tama pada Imah. Menurut Kakek, alangkah baiknya kita tunda dulu untuk beberapa waktu. Sebelumnya Kakek sudah bicara dengan Pak Dudung, beliau juga menyarankan seperti itu. Bagaimana menurutmu Nak?'' Tanya Tuan Agung kepada Imah. Tama menatap Imah seolah bertanya. Imah terlihat mengangguk.


'' Menurut saya juga baiknya begitu Tuan, tidak tepat rasanya dalam keadaan seperti ini kita membicarakan persoalan itu. Memang sebaiknya kita tunda.'' Jawab Imah padat. Tuan Agung tersenyum memahami jiwa Imah yang terlihat dewasa.


Mayang dan Danu mangguk-mangguk memahami. Karena sebelumnya mereka sudah diberitahu oleh Tuan Agung tentang hal ini. Tisa hanya diam menatap wajah Tama dan Imah secara bergantian.


'' Kalau itu keputusanya aku nurut aja Kek. Karena jujur untuk saat ini pikiranku masih belum fokus. Tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan pada semuanya.'' Tama menggenggam tangan Imah dan tersenyum manis pada wanita yang sudah merebut hatinya itu.


'' Kami akan langsung menikah, jadi tidak ada proses tunangan lagi.'' Imah yang awalnya gugup karena takut disangka itu ide dia menjadi tenang saat semuanya tersenyum sambil mangguk-mangguk.


'' Kakek sangat setuju dengan rencanamu Nak, niat baik tidak perlu diperlama. Lagian Kakek juga ingin rumah ini penuh dengan tangis anak kecil. Tangis Raja masih kurang.'' Sontak wajah Imah bersemu merah. Apalagi Tama menatapnya penuh makna mesumnya.


'' Kakek tenang aja, sebelum Tama junior ada. The second Raja bakalan duluan launcing.'' Sontak semua yang mendengar tertawa terbahak-bahak mendengar sahutan dari Danu itu.


'' Ya pastilah, orang Kak Mayang digempur terus tanpa kasih kendor.'' Sudah parah, entah kemana rasanya wajah Mayang dia sembunyikan. Sungguh vulgar ocehan Tisa. Mayang benar-benar malu, apalagi melihat Tuan Agung juga ikut menertawai mereka berdua.


Malam semakin larut, jadi Imah pamit untuk pulang dan tentu diantar sang pangerannya. Saat ini dia dan Tama tengah berada dalam mobil. Masih jelas terlihat wajah sesih Tama, meski dia berusaha tersenyum tapi kesdihan itu masih membekas diwajah tampannya.


Berlahan Imah meraih tangan Tama, digenggamnya daj disandarkannya kepalanya kebahu kokoh Tama. Bahu yang sempat terlihat masih rapuh.


Sesaat mereka saling menatap, dengan senyum penuh kasih diantara keduanya. Berlahan dilabuhkannya kecupan hangat dipuncak kepala Imah. Hangat dan penuh cinta, itulah yang Imah rasakan.


'' Terimakasih telah hadir disisiku. Aku pasti akan hancur jika tidak ada kamu.''


'' Aku akan selalu ada untukmu, jadi jangan pernah bersedih lagi. Aku yakin, Ayah sudah tenang di sana dan sudah bertemu dengan cinta sejatinya.'' Imah mempererat dekapan dilengan Tama.


Perjalanan yang terasa begitu tentram dan nyaman. Tidak perlu banyak bicara. Hanya dari dekapan itu saja sudah mengisyaratkan betapa mereka saling mencintai dan saling terikat dalam.

__ADS_1




'' Sejak kapan Kak Tama sama cewek itu Tis? Siapa namanya? Lupa aku.'' Tanya Luna saat berada di ruangan Tisa.



'' Kak Imah.'' Jawab Tisa tanpa menoleh dan terus memeriksa berkas di atas mejanya.



'' Aku yakin Kak Tama masih sayang dan cinta sama aku.''



Tisa mengentikan kegiatannya, menatap Luna dengan mala. '' Udah lah Lun, Kak Tama udah bahagia sama hidupnya sekarang. Sebentar lagi mereka akan menikah. Jangan kamu ganggu lagi.'' Cerca Tisa yang kesal dengan tingkah sahabatnya itu.



'' Tapi aku masih sayang sama Kak Tama.'' Luna menunduk sedih.



'' Luna, kamu itu cantik, muda, Dokter lagi. Masih banyak laki-laki diluaran sana yang jauh lebih cocok buat kamu. Makanya kamu harus move on dong.'' Luna terlihat sedih, padahal dia berharap Tisa mendukungnya seperti dulu saat dia dan Tama pacaran.



Sulit bagi Luna untuk melupakan Tama. Laki-laki pertama yang pernah dekat dengannya, dan laki-laki yang telah menjadi cinta pertamanya. Tisa meluk erat sahabatnya itu agar kuat dan Ikhlas.



\*\*\*\*\* Bersambung\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2