
Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, kini Danu dan Mayang sudah sampai di rumah utama. Mereka sangat menyesal karena membuat Tuan Agung Kakeknya menunggu terlalu lama untuk makan malam bersama.
'' Maaf ya Kek, tadi macet banget.'' Ucap Mayang dengan wajah menyesalnya.
'' Tidak apa-apa Nak, perut Kakek masih kuat kok nunggu kalian.'' Tuan Agung tersenyum bahagia karena cucu dan cucu mantunya sudah sampai di rumah. Dia tadi sangat kuwatir dengan mereka.
''O ya, Tama mana?'' Melihat hanya Danu dan Mayang yang datang.
'' Tama mengantar calon Istrinya?'' Jawab Danu. Tuan Agung memasang wajah penasaran. '' Nanti Kakek juga bakal dia ajak untuk ngelamar calonnya itu.' Tambah Danu santai sambil menyerumput gelar berisi air putih.
'' Ayo lah, tunggu apa lagi. Perut Kakek sepertinya sudah berdemo sekarang.'' Seloroh Mayang. Tuan Agung sontak tertawa malu.
Seperti biasa Mayang sebelum masuk ke dalam kamarnya, terlebih dahuku mengecek putra semata wayangnya. Saat ini Raja tengah tertidur pulas. Mayang tersenyum bahagia melihat wajah polos putranya. Makin lama wajah Raja sangat mirip dengan Papanya, bahkan lebih tampan.
Tiba-tiba Mayang dikagetkan dengan sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya. Mayang mengusap lembut tangan itu. '' Sayang, kenapa makin hari Mas makin cinta sama kamu? Apa obat yang sudah kamu berikan?'' Danu menghirup aroma leher Mayang, membuat Mayang menggeliat geli.
'' Obatnya adalah cinta Murni. Cinta tulus yang selalu Nenek ajarkan padaku.'' Suara Mayang berubah serak, sedikit tercekat saar menyebut Neneknya. Danu membalikan Mayang menjadi berhadapan dengannya.
Dipeluk eratnya wanita penyejuk hatinya itu, mengerti akan kesedihan hati sang istri. '' Apa kamu rindu dengan Nek Murni?'' Mayang mengangguk cepat.
__ADS_1
Sebenarnya sejak kelahiran Raja, hampir setiap malam Mayang bermimpi dengan Neneknya. Mungkin rasa rindu yang besar membuatnya terbawa ke alam mimpi. Mayang rindu dengan masa-masa dimana dia selalu menghabiskan waktu bersama Nek Murni. Nenek yang sudah berasa Ibunya sendiri.
Bukan hanya itu saja, dia juga sangat rindu kampung halamannya. Tempat dia tumbuh dan besar. Tempat dimana banyak suka dan duka dia lalui. Tempat dimana dia dan kedua orang tuanya di pisahkan oleh Tuhan diwaktu dirinya belum merasa siap. Yah, dia juga sangat rindu ingin menjenguk Ayah Ibunya. Tepatnya ke makam kedua orang tuanya itu.
'' Secepatnya kita akan menjenguk Nenek di kampung.'' Sontak Mayang mendongakan kepalanya menatap mata suaminya. Danu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
'' Terimakasih Mas. Aku bahagia sekali.'' Mayang kembali memeluk erat suaminya. Air mata membasahi baju Danu. Danu baru menyadari, begitu besar rindu Mayang dengan kampung halamannya. Tempat dimana banyak tersimpan masa lalu istrinya. Serta terselip juga kenangannya bersama Mayang di kampung dulu.
'' Ayolah, cepatlah bersih-bersih. Ada hutang yang harus kamu bayar.'' Bisik Danu.
'' Hutang apa?''Tapi Danu malah berlalu begitu saja meninggalkan Mayang dengan wajah bingungnya.
Mayang yang baru saja melepas mukenanya dan bahkan belum sempat melipatnya, langsung ditarik oleh Danu ke atas tempat tidur. Dibaringkannya tubuh istrinya yang tidak lagi mungil karena sedikit berisi setelah melahirkan. Tapi bagi Danu malah menambah keseksian Mayang dimatanya.
'' Aku ingin memakanmu malam ini.'' Tatapan mata Danu penuh gairah.
Hubungan ranjang Danu dan Mayang boleh dikatakan terbilang normal. Empat sampai tiga kali dalam seminggu. Kalau Mayang turuti pasti hampir tiap malam. Namun kadang Raja sedikit rewel, maka Mayang harus menidurkan Raja terlebih dahulu. Jadi saat Mayang masuk kamar, Danu sudah terlelap atau dia yang ketiduran di kamar Raja. Mungkin efek lelah juga, karena akhir-akhir ini begitu banyak rentetan kejadian yang membuat dia dan suaminya itu begitu sibuk mengurus urusan perusahaan.
Tanpa ragu dan malu Mayang mengalungkan tangannya ke leher Danu. Berlahan kecupan hangat pun terjadi. Begitu rakus Danu melahap bib*r seksi istrinya. Mayang pun tak tinggal diam, dia membalas hisapan itu. Tak ada satu sisipun dirongga mulut Mayang yang tidak terekspos oleh Danu. Sungguh Danu makin kecanduan dengan istrinya itu.
__ADS_1
Kecupan itu makin lama main turun ke leher putih Mayang. Yah sejak jadi Nyonya Danu, Mayang yang sudah putih dan cantik semakin glowing dengan perawatan-perawatan mahalnya.
Mayang mendesah manja, membuat Danu makin menggila. Hisapan demi hisapan membuat luskisan indah di da*a mulus Mayang. Tak lupa sedikit hisapan pada kedua ujung buntalan itu. Membuat Mayang mengeluarkan suara-suara indahnya.
Hentakan demi hentakan membuat tubuh Mayang berguncang. Makin lama danu makin berpacu untuk mencapai rongga terdalamnya. Makin lama makin kencang hingga tubuh keduanya bergetar hebat.
Dibenamkannya wajahnya ke dalam ceruk leher Mayang. Erangan keduanya menggema menembus kesunyian malam. Mereka telah sama-sama mencapai puncaknya. Keringat terlihat mebasahi sekujur tubuh mereka, meski pendingin udara masih berfungsi. Danu memberi kecupan sayang dikening dan bib*r Mayang sebagai penutup malam panas mereka.
Di lain tempat di lokasi yang sama tepatnya di kamar Tama. Terlihat pemilik kamar itu sedang berbahagia. Tama senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian di kontrakan Imah tadi. Bagaimana tidak, ketika mengantar Imah pulang Mang Dudung Bapak Imah langsung mengajaknya bicara empat mata.
Mang Dudung menanyakan perihal hubungannya dengan Imah. Tanpa ragu Tama menjawab bahwa mereka sudah resmi pasangan kekasih. Tapi Mang Dudung tidak mau anak gadisnya berpacaran. Mang Dudung langsung meminta Tama untuk melamar Imah jika memang dia mencintai Imah dan berniat ingin serius.
Bak gayung bersambut, tama menjawah dengan tegas bahwa siap untuk melamar Imah. Alhasil Tama menjanjikan akan membawa keluarganya untuk datang melamar Imah. Itu ujung minggu, satu minggu dari sekarang.
'' Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku sayang.'' Tama tersenyum sendiri membayangkan awalnya betapa takutnya dia ketika Bapak Imah mengajaknya bicara berdua.
Tama pikir Bapaknya melihat dan marah ketika dia ******* habis bib*r ranum Imah. Ternyata malah meminta hal yang juga sudah dia rencanakan.
Pada saat berhenti di depan kontrakan Imah, Tama menahan tangan Imah ketika dia akan turun dari mobil. Tama sangat kecanduan akan bib*r merekah Imah itu. Sejak diperjalanan dia menahan ingin menerkam Imah, kalau tidak mengingat di sedang menyetir mungkin wajah Imah kembali babak belur tapi kali ini akibat kecupan bib*ir buas Tama.
__ADS_1
'' Besok aku akan bicara langsung dengan Kakek untuk segera melamar Imah untukku.'' Gumam Tama dengan wajah berbinar bahagia.