
''Bagaimana kondisi istri saya dok?'' Tama begitu cemas, tangannya terus menggenggam tangan Imah yang masih terbaring tak sadarkan diri.
'' Tidak apa-apa Tuan Muda, Nona muda hanya kelelahan saja. Sebentar lagi akan siuman.'' Jawab Dokter Dilon, dokter pribadi Tuan Bastian.
Setelah menjelaskan kondisi Imah, Dokter Dilon langsung pamit. Toni mengantarkan Dokter Dilon sampai ke mobil.
''Sayang, terimakasih sayang. Bangunlah sayang.'' Tama mengecup lembut bibir Imah dan mengusap wajah Imah berharap wanitanya itu membuka matanya.
Benar saja, berlahan Imah membuka matanya. Tatapan mereka beradu. Tama tersenyum bahagia dan mencum lembut tangan Imah.
'' Kamu sudah sadar sayang?''
''Aku kenapa Mas?'' Suara Imah terdengar lirih.
'' Kamu tadi pingsan sayang. Apa yang kamu rasakan sekarang sayang? Apa kamu haus?''
''Aku haus Mas.'' Tama mengambil segelas air di atas nakas dan Imah meminumnya sampai habis.
'' Apa mau makan juga sayang?'' Imah menggeleng.
''Aku kenapa Mas? Apa kata dokter?'' Imah sempat mendengar sedikit pembicaraan Tama dengan Dokter namun tidak begitu jelas karena Imah belum sepenuhnya sadar.
Imah beringsut duduk dan Tama membantu Imah bersandar ke kepala tempat tidur. Tama meraih kedua tangan Imah dan mencium keduanya. Rona bahagia terlihat jelas diwajahnya.
'' Sayang, kamu hamil sayang.'' Mendengar ucapan Tama, Imah benar-benar terkejut dan menutup mulutnya sangking tidak percayanya. Air mata bahagia membasahi kedua pipinya. Berlahan Imah merentangkan kedua tangannya, dan Tama langsung memeluk hangat Ibu dari calon anaknya itu.
'' Untuk lebih memastikan, besok kita periksa ke dokter kandungan. Mas ingin melihat calon anak kita.''
'' Iya Mas, aku juga sudah tidak sabar ingin melihatnya.'' Sahut Imah.
Tok
Tok
Tok
'' Ya ada apa?'' Seru Tama dari dalam kamar.
'' Ini Bapak Nak Tama.'' Mendengar itu Tama langsug bangkit dan membukakan pintu untuk mertua satu-satunya itu.
'' Ayo masuk Pak.'' Tama mengiring Mang Dudung ke samping tempat tidur. Imah menyuruh Bapaknya duduk didekatnya.
'' Kamu kenapa Mah? Apa kamu telat makan?'' Wajah Mang Dudung terlihat sangat cemas.
Wajar saja Mang Dudung cemas. Imah adalah putri satu-satunya, dia takut Imah kenapa-napa. Ini jugalah alasan sebenarnya dia mau diajak Tama untuk tinggal bersama. Jujur Mang Dudung masih belum terlalu mengenal bagaimana pribadi Tama. Terlebih lagi Tama berbeda kelas dengan mereka. Takut kalau Tama berbuat semena-mena dengan Imah.
'' Aku ga apa-apa Pak. Aku cuma kecapean aja.''
'' Dulu waktu kamu nguli juga aman-aman aja. Masa sudah jadi istri Bos Besar malah makin kecapean.'' Imah memutar bola matanya malas. Kebiasaan Bapaknya kalo ngomong ga ada remnya.
Tama tersenyum melihat kedekatan anak dan Bapak itu. Tama dapat melihat bagaimana kuwatirnya mertuanya itu tatkala mengetahui Imah tengah pingsan. Mang Dudung langsung pulang saat mendapat kabar itu. Sebelumnya dia sedang di ajak oergi oleh salah seorang orang Tama untuk melihat motor ke sebuah showroom. Tama memang sudah berenacana membelikan motor yang diinginkan mertuanya itu, karena sudah ditawarkan mobil Mang Dudung langsung menolak mentah-mentah.
'' Ck, kapan juga aku nguli.'' Imah berdecak kesal. Tapi ayah dan anak itu malah tertawa bersama.
'' Sebentar lagi Bapak akan jadi Kakek.''
Mendengar ucapan Imah, Mang Dudung terdiam. Matanya menatap Tama dan dibalas anggukan oleh Tama.
'' Alhamdulillah, akhirnya hamba akan menjadi Kakek ya Allah.'' Mang Dudung mengusap telapak tangannya ke muka.
Saat Tama dan Mang Dudung keluar dari lift, terlihat Tisa sedang termenung di depan pintu lift.
'' Hey anak manja, lagi ngapain.'' Seru Tama mengagetkan Tisa dari lamunannya.
__ADS_1
Dari wajah Tisa terlihat jelas dia sedang tidak baik-baik saja. Tanpa aba-aba Tisa memeluk Kakaknya itu, menangis sesegukan. Melihat itu Mang Dudung memberi kode kalau dia akan ke taman samping. Tama mengangguk lalu membawa Tisa ke taman depan duduk dibawah sebuah pohon yang rindang.
'' Ada apa?''
'' Huaaaa....'' Tangis Tisa makin kencang. Tama yang paham akan adiknya itu hanya bisa memeluk memberi ruang untuk adiknya melepas kesedihannya.
Setelah puas membuat baju Kakaknya basah, Tisa mulai menjawab pertanyaan Tama dan menceritakan apa yang membuatnya mengangis. Tama terlihat mengepalkan tangannya, nafasnya turun naik dan wajahnya memerah menahan amarah.
Kini Tama menyuruh Tisa agar untuk sementara menginap di mensoinnya. Nanti dia akan langsung mengabari Kakekknya agar tidak kuwatir.
Akhirnya Tama mengantar Tisa menuju kamar, Tisa ingin bertemu dengan Kakak Iparnya. Apalagi Tama sudah memberi tahu kalau dia akan segera punya keponakan.
''Halo Danu, aku mau ketemu sebentar bisa?''
''__________________.''
''Baiklah, di cafe biasa.'' Tama menutup panggilannya.
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Imah dan Tama. Mereka akan ke Dokter untuk memeriksakan kehamilannya. Suatu yang sangat kebetulan, satu minggu yang lalu ternyata Mayang juga telah positif hamil. Jadilah hari ini mereka akan ke Dokter kandungan sama-sama.
'' Wah Nona Mayang dan Nona Imah, ternyata benar tengah hamil. Usia kandungan Nona Imah baru menginjak 1 minggu. Sedangkan Nona Mayang sudah menginjak 3 minggu.''
'' Alhandulillah.'' Ucapa mereka bersamaan.
'' Bagaimana? Apa sudah kamu tanya sama Beni?'' Tanya Tama di sela-sela makan siangnya.
'' Sudah, seperti dugaan ku Beni tidak bersalah.'' Jawab Danu sambil mengunyah makanannya.
'' Kamu tau ga sayang siapa pemeran wanitanya?'' Tama menatap Imah bingung.
'' Siapa kagi kalo bukan cinta pertama kamu!''
''APA?'' Tama kaget luar biasa.
''Dia kan cantik dan seksi banget tu. Pakainnya kurang bahan semuanya. Cocok lah buat perankan wanita di atas ranjang.'' Entah mengapa hormon kesal Imah tiba-tiba meningkat drastis.
'' Kok kamu ngomong gitu sih sayang.''
__ADS_1
'' Loh kok kamu jadi belain dia sih Mas? Kayak ga terima gitu aku ngomongin dia?''
'' Bu--buk---.''
'' Kenapa? Masih sayang? Masih belum move on?''
'' Ga lah sayang, sebelum kamu hadir Mas udah ga ada rasa lagi sama Luna.'' Tama makin dibuat pusing oleh ocehan Imah. Danu dan Mayang hanya senyum-senyum melihat adegan di depan mereka. Bahkan mereka tertawa lucu, gemes melihat wajah Tama yang ketakutan dengan Imah.
'' Ini baru awal, kita lihat gimana Imah menyiksa Tama nanti hihiihi.'' Bisik Mayang cekikikan ditelinga Danu.
Rasa kesal Imah masih belum hilang sejak makan siang di restoran tadi. Bahkan setelah sampai dikamar dia masih saja mengoceh. Tama yang takut dengan marahnya Imah, masih setia mengikuti sampai ke kamar.
'' Sudah sana, katanya mau pergi!'' Usir Imah.
Tama benar-benar di uji oleh Imah, entah bawaan hamil atau bukan. Yang jelas sejak kejadian waktu makan siang itu, ada-ada saja yang bikin Imah kesal. Bawaannya marah dan bahkan benci melihat Tama. Tak jarang Imah mengunci Tama di luar kamar. Pasrah tapi tak rela Tama terpaksa tidur terpisah dengan Imah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Berbanding terbalik dengan Tama dan Imah. Pasangan ini malah makin romantis. Mayang seperti anak kecil yang selalu ingin dikeloni oleh Danu.
Melihat itu, Danu tak menyia-nyiakan kesempatan. Seperti saat ini, setelah kehamilan Mayang melewati tri semester pertama Danu makin mudah mendapatkan jatah ranjangnya.
'' Ah sayang, kamu makin menggairahkan ah...'' Danu mendesah nikmat saat ujung tombak kebanggaannya melesat masuk ke dalam inti terdalam Mayang. Goyangan lembut Danu membuat Mayang merem melek. Melenguh nikmat saat benda berurat itu bregesekan dengan lubang basahnya.
Entah menagapa gairah \*\*\*\* Mayang untuk kehamilan kedua ini makin meningkat. Sehingga meski hamil, dia tetap mampu menyeimbangi Danu yang sangat ketagihan dengannya.
Begitulah serba serbi proses kehamilan dua pasang suami istri itu. Waktu terus berlalu, tak terasa tibalah saatnya Mayang untuk melahirkan anak keduanya. Karena memang Mayang lebih dulu 3 minggu dari Imah. Merkipun kata Dokter waktu persalinan itu bisa cepat bisa lambat dari waktu kelahiran yang diprediksi oleh Dokter.
'' Tama, kamu juga disini?'' Danu kaget saat Tama juga tengah mendorong Imah di atas kursi roda di lorong rumah sakit.
'' Loh kok kita bisa samaan?'' Tama juga terlihat bingung.
__ADS_1
'' Ayo buruaaan!!!!'' Teriak Mayang dan Imah bersamaan dengan keringat yang sudah banjir di wajahnya karena menahan sakit yang luar biasa.