Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
42 Sebastian Federik


__ADS_3

Seorang pria paruh baya yang kemungkinan besar berumur lima puluh tahun lebih terlihat sedang berjalan di lobi sebuah gedung yang sangat besar dan tinggi menjulang. Terlihat beberapa orang pria berjas hitam rapi mengikutinya dari belakang. Setiap oranh yang dia lewati, membungkukan badan penuh hormat padanya. Bagaimana tidak, Pria yang tengah berjalan ini adalah Tuan mereka tapatnya CEO perusahaan tempat mereka mencari sesuap nasi.


Dia adalah Sebastian Federik, pemilik perusahan besar Federik Global Group. Salah satu perusahaan terbesar yang tidak hanya di dalam negeri tetapi meluas sampai ke manca negara.


Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadi Tuan Bastian. Dia sangat tertutup untuk membahas masalah pribadinya di publik. Hanya asisten pribadinya yang mengetahui semua tentang Tuan Bastian. Tidak ada yang tahu siap Istrinya, apakah punya anak atau tidak. Semua tidak ada yang tahu.


'' Tuan, sesuai rencana Nona Yuki berhasil kita jadikan umpan. Dan sekarang Nona Yuki dalam tahanan mereka.'' Ucapa Saga asisten pribadi Tuan Bastian.


'' Biarkan mereka bermain dulu dengan wanita mata duitan itu, sekarang merek pasti sudah tahu siapa aku. Siapkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Walaupun mereka tidak punya bukti, mereka bukan keluarga baru dalam dunia bisnis. Kewaspadaan haru selalu ada.''


'' Bagaiman kabar tentang Si Tuan Bangka itu?'' Tambahnya lagi.


'' Tuan Agung sudah bangun dari koma, tetapi seluruh tubuhnya lumpun total. Hanya mata yang bisa melihat.'' Jelas Saga. Terlihat senyum jahat diwajah Tuan Bastian.


-


-


-


Sejak kejadian Tama dan Imah masuk rumah sakit sampai Mayang melahirkan, Beni benar-benar sudah serasa naik jabatan. Semua aktifitas kantor dibawah kendalinya. Namun sayang gaji dan pangkatnya masih sama, hanya asisten Danu saja. Beni memang sangat bisa diandalkan, semua kekacauan akibat ulah Yuki mampu dia kendalikan sehingga tidak menggagnggu pada kinerja para kariyawan kantor Baragajasa Group.


'' Halo Ben, bagaimana apa semua aman?'' Danu muncul dari balik pintu ruangan Beni.


Sudah seminggu berlalu sejak ditangkapnya Yuki, dan baru hari ini Danu kembali ke kantor. Kondisi Mayang sudah membaik, dan tentunya sekarang Mayang sudah disibukan dengan mengurus Raja putera kesayang Danu.


'' Semua aman terkendali Bos. Tapi gue yang ga aman, badan gue udah rasa batu. Berat banget.'' Beni merenggangkan pinggangnya ke kira dan ke kanan.


'' Tenang, habis ini gue kasih lo cuti satu hari.'' Danu melipat kakinya duduk di sofa ruang Beni.


'' Apa?? Satu hari?'' Beni mengangkat satu telunjuknya. '' Bener-bener Bos yang tidak berprikemanusiaan.'' Tambah Beni kesal.


'' Yah kalo lo ga mau ya udah. Gue cabut masa cuti lo.'' Beni makin kesal melihat Bosnya yang ga ada akhlak itu.


'' Jangan, baiklah gue terima. Puas.''


'' Kalo sudah merengeknya, sekarang ikut keruangan gue. Disana Tama sudah menunggu.'' Beni menurup laptopnya dan berjalan melangkah tepat dibelakang Danu.

__ADS_1


''Bagaimana nasib kerjasama kita dengan perusahaan Yuki?'' Danu mulai bicara. Saat ini Danu, Tama dan Beni tengah bwrada di ruang Danu dalam rangka meeting singkat.


'' Ternyata bukan Yuki CEOnya.'' Danu dan Tama kaget.


'' Kita akan segera mengetahui siapa CEO sebenarnya. Malam ini beliau mengundang kita makan malam untuk temu ramah di resto sebuah hotel. Dan asistenya sudah mengabari tempat dan pukul berapanya.'' Danu dan Tama terlihat manggut-manggut.


Setelah selesau meeting singkat, Tama kembali ke ruangannya lagi. Mata Tama memanas saat melihat Imah tengah bicara sambil tertawa-tawa bersama seorang pria yang kalau dilihat mereka sudah dekat.


'' Kuarang ajar, siapa dia? Berani-beraninya dia sok dekat gitu dengan Imah. Dan ini si pendekar sakti ngapain juga kayak kesenangan gitu. Sama gue aja ga pernah tertawa seperti itu, ini malah sama pria kampret ini bahagia bange. Ga bisa dibiarkan nih.'' Tama berjalan cepat dan mengebrak meja Imah. Sontak Imah dan Yanto lawan bicaranya itu terlonjak kaget.


(Bener-bener ya si Babang Tama, takut banget diserempet duluan sama si Yanto. Kalo takut ditikung, buruan Babang Tama ikat si Imahnya. Kalo perlu sah kan sekalian wkwkwkw...)


Lanjut...


'' E kolor ijo kolor ijo. Aduh Tuan, bikin copot jantung saya aja.'' Imah nampak mengurut-urut dadanya.


'' Kalian ngapain jam kerja malah ngerumpi hah.'' Yanto langsung menunduk ketakutan.'' Maaf Tuan saya yang mengajak Imah bicara, Imah ga salah.'' Wah makin panas nih, ga tau dia kalo singa ngamun itu kayak apa. Pake sok jadi pahlawan, minta dihajar babang Tama dia.


'' Saya ga ngomong sama kamu. Sana kerja yang betul, mau makan gaji buta kamu hah.'' Dengan tergagap Yanto membungkuk dan berjalan cepat menuju lift.


'' Dan kamu, ikut ke ruangan saya SEKARANG!'' Kembali Imah memegang dadanya, Tama yang tak perduli melenggok pergi begitu saja.


Lanjut...


'' Duduk.'' Imah langsung duduk.


'' Kamu tau apa kesalahan kamu?'' Imah mengangguk.


'' Sebagai hukumannya kamu harus nginap di rumah utama malam ini. Temani Mayang dan Raja, malam ini kami ada pertemuan penting.'' Imah nampak tersenyum.


'' Jangan senang dulu, kamu bukan hanya nginap tapi akan tinggal beberapa lama di rumah utama.'' Mata Imah membulat sempurna.


'' Jangan melotot, nanti bola mata kamu keluar baru tahu.'' Tama tersenyum dibalik tangan saat mengusap mulutnya.


'' Kok gitu Tuan? Tapi saya ga bisa Tuan, bagaimana dengan Bapak saya?'' Tama tersenyum lagi.


'' Masalah Bapak kamu tenang aja, Mayang yang akan menjelaskan pada Bapakmu nanti.'' Imah menunduk pasrah.

__ADS_1


'' Karena mulai besok kamu akan menyiapkan semua kebutuhan saya saat di rumah. Itu baru hukuman buat kamu.'' Sekarang bukan mata Imah saja yang akan keluar, mulutnya juga sudah terbuka lebar sangking tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


'' Sial banget sih nasib gue, dikantor jadi babu. Masa dirumahnya juga jadi babu sih.'' Batin Imah sambil *******-***** ujung roknya.


Ga tau aja Imah, kalo dia lagi dilatih buat jadi Istri sama Tama hihii..


-


-


-


'' Silahkan Tuan, Anda sudah di tunggu.'' Seorang pelayan restoran mengajak Danu, Tama dan Beni untuk masuk kedalam sebuah ruangan privat room di mana Tuan Bastian sudah menunggu.


'' Silahkan masuk Tuan.'' Pelayan membukakan pintu.


Tampak seorang pria paruh baya meyambutnya dengan senyum ramah. Jika dilihat dari penampilannya tidak terlihat kalau dia sudah menginjak umur lima puluh tahun lebih. Di sampingnya terlihat seorang pria yang tanpa di kenalkan sudah tahu kalau itu asisten pribadinya. Usianya yang masih terbilang muda namun masih di atas usia Danu. Dari awal Danu sudah di beritahu siapa saja yang akan mereka temui malam ini.


'' Perkenalkan Tuan, ini adalah pemilik perusahaan Bintang perkasa (Perusahaan yang diakui Yuki adalah miliknya) Tuan Sebastian Federik.'' Ujar Saga.


'' Panggil saja saya Tuan Bastian.'' Bastian mengulurkan tangannya kepada Danu. Tanpa ragu Danu menjabat tangan Tuan Bastian dan bergantian dengan Beni. Tangan Tuan Bastian agak terhenti saat bersalaman dengan Tama, degup jantungnya terlonjak kaget. Namun kembali Tuan Bastian ke mode tenangnya.


'' Saya Saga, asisten pribadi Tuan Bastian. Baiklah silahakan duduk Tuan-Tuan.''


'' Maaf Tuan Danu kita baru bisa bertemu malam ini. Kebetulan saya juga baru kembali dari perjalanan bisnis.'' Tuan Bagas menatap Danu penuh makna.


'' Tidak apa Tuan, bagi kami jika hubungan kita tetap bisa berjalan dengan baik, tidak masalah.'' Jawab Danu berusaha setenang mungkin.


Tama menatap tajam Tuan Bastian yang tengah berbincang dengan Danu. Tepat saat Tama masih menatap, Tuan Bastian juga menatapnya. Sepersekian detik mereka beradu pandang. Dan kemudian Tuan Bastian mengalihkan pandangannya ke arah Danu dan Beni dan berusaha tersenyum ramah.


'' Mengapa tiba-tiba darahku berdesir saat menatap matanya?'' Gumam Tuan Bastian dalam hati setelah menatap dalam wajah Tama.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.. like koment dan vote yah, biar othor makin semangat lagi. Jangan lupa juga kasih hadiah dan favorit kamu 🙏🤗😘.. maksih🙏🙏🥰


__ADS_2