
'' PAPA! Apa yang kamu lakukan?''
Sang pria langsung panik, wajahnya langsung memucat. Keringat panasnya bercampur dengan keringat dingin yang membuat sekujur tubuhnya makin terlihat basah.
'' Ma--Mama, ini tidak seper----.''
'' Tidak apa hah! Tidak sempat mencapai puncak. Itu maksudmu hah! Menjijikan. Tunggulah surat sidang cerai kita!.'' Wanita paruh baya itu langsung berjalan cepat keluar. Terlihat jelas diwajahnya betapa hancur hatinya saat ini.
'' Tidak Ma, tunggu Papa akan jelaskan. Sial!'' Sayangnya yang dipanggil sudah hilang dibalik pintu.
Setelah memakai celana dan bajunya, sang pria terlihat hendak mengejar. Namun tepat di depan pintu dua pria berjas hitam tiba-tiba menghalanginya.
'' Mau kemana anda Tuan Rajab.''
Sinar sang surya telah muncul dari tempat peraduannya. Seakan memanggil setiap insan yang masih betah dengan tidur lelapnya. Mayang yang sudah biasa dengan aktifitas paginya terlihat sedang menyiapkan bubur MPASI untuk Raja karena Rajah sudah lewat enam bulan.
Setelah selesai dengan segala kebutuhan Raja, Mayang langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi. Sesuai rencana, tadi malam Beni sudah mengabari kalau si Rajab sudah berhasil mereka tangkap. Sekarang Rajab sudah berada di kantor polisi dan syukurnya Rajab sudah mengakui kalau dialah yang menggelapkan dana proyek bukan Danu.
Entah apa dan bagaimana Beni membuat si penikmat \*\*\*\*\*\* itu begitu gampang menurut dan mengakui. Mayang tidak peduli karena yang terpenting baginya Danu akan langsung dilepaskan hari ini juga. Namun Mayang tidak tahu kalau Tuan Bastian ada dibalik ulah Rajab. Beni hanya memberitahu Danu saja.
''Mba, nanti kalo Raja udah bangun langsung kasih ASI yang di botol ya. Untuk siang juga sudah saya siapkan. Jangan telat kasih makan siang Raja nanti.'' Ulas Mayang panjang lebar.
'' Baik Nyonya.'' Sahut babysitter.
Tepat saat sopir mebuka pintu, terdengar bunyi suara klakson sepeda motor yang Mayang tahu betul motor siapa itu.
'' May....May, apa Tuan Tama ada di rumah?'' Sontak Mayang menepuk jidatnya saat mendengar pertanyaan Imah.
'' Waduh, maaf Mah. Aku lupa kabari kamu. Kata pelayan sudah tiga hari Tama tidak pulang. Apa kamu sudah datangi apartementnya? Biasanya juga dia kan suka nginap di sana.''
Bukannya menjawab, Imah langsung menghidupkan motornya kembali dan melaju kencang menuju gerbang ke luar. Mayang hanya geleng-geleng menatap kepergian sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah Mayang masuk, dengan segera sopir membawanya menuju kantor polisi. Tempat dimana Suaminya berada sejak tiga hari ini.
\*\*\*\*\*
Langkah kaki Imah terlihat sangat cepat, tidak sabar lagi Imah ingin sampai di pintu apartemant Tama. Tak peduli tatapan setiap orang yang dilewatinya, baginya keberadaan Tama adalah yang terpenting. Dengan hati yang berdebar Imah membuka pintu. Namun saat tangannya mennyentuh gagang pintu, baru Imah sadari kalau pinnya belum dia tekan.
'' Apa ya pinnya? Duh...kenapa juga pake pin sih, kalo ga cukup dikunci kan bisa ditambah gembok. Memang orang kaya pikirannya ribet bener.'' Imah mengerutu sambil memikirkan berapa kira-kira pin apartemen Tama.
'' Ah iya, biasanya kan orang bayak pake tanggal ulang tahunnya gitu. Coba ah.'' Imah menekan anggka tanggal ulang tahun Tama. Tapi sayang bukan itu. ''Ya elah, bukan juga. Aduh apalagi ya? Ga mungkinkan ulang tahun gue, secara bukan punya gue.'' Imah mendumel sambil tangannya terus menekan tombol pin dengan tanggal ulang tahunya.
Diluar dugaan, ceklek... Pintu otomatis langsung terbuka. ''Lah kok bisa? Eror nih pintunya. Sudahlah, mending gue langsung Masuk.''
Langkah Imah melambat saat suasana gelap langsung menyeruak. Berlahan Imah menyalakan semua lampu dan terus masuk ke dalam.
'' Tuan, apa anda di dalam?'' Hening tak ada jawaban. Mata Imah terus menelusuri mencari tanda kehidupan di sana. Bahkan apartement itu seperti sudah lama tidak ditempati. Imah kemudian menuju kamar Tama, setelah menghidupkan lampu Imah tetap tidak menemukan sosok yang dicarinya.
Matanya menyepit seakan mengingat sesuatu. Dengan cepat Imah membuka laptop itu, tapi terkunci. '' E walah, sandi lagi sandi lagi. Ribet beneeeer.'' Gerutu Imah. '' Apa yah sandinya? Duh... Ngapain sih pake sandi segala, susahkan kalo udah kepepet gini.''
Ketika Imah masih sibuk memikirkan sandi laptop Tama, ponselnya kemudain berdering. Tertera nama Mayang.
'' Ya halo May?''
''----------------------.''
'' Ga May, aku masih di aprtemen Tuan Tama. Nanti siang aku masuk kantor.'' Jelas Imah.
__ADS_1
''--------------''.
'' Ok, nanti gue kabari.'' panggilan telepon terputus.
Imah kembali menatap laptop Tama, dan kepikiran dengan tanggal ulang tahunnya yang dijadikan pin pintunya oleh Tama. '' Apa pinnya juga--?'' Dan benar saja, laptop Tama berhasil dibuka.
Imah teringat dengan perkataan Tama waktu itu, Tama pernah mengatakan bahwa dia tidak kuwatir mobilnya akan hilang karena GPS mobilnya terhubung dengan Laptop serta ponselnya.
'' Nah, dapat.'' Seru Imah. Segera Imah bergegas keluar apartemen Tama. Tujuan utamanya sekarang adalah tempat terkhir GPS mobil Tama. Sungguh aneh, kenapa mobilnya berhenti di sebuah taman di pinggir kota? Yang paling membuat Imah curiga, mobil Tama berada di tempat itu tepat tiga hari yang lalu. Dimana Tama memang sudah menghilang sejak tiga hari yang lalu juga.
Kepanikan menyelimuti hati dan pikiran Imah. Imah kuwatir Tama dalam keadaan bahaya. Terlebih lagi Tama menghilang bertepatan dengan munculnya kasus baru dalam Perusahaan Baragajasa Group. Sepajang jalan Imah terus berdo'a untuk keselamatan Tama.
Sebelumnya Imah telah mengirim chat kepada Mayang, tidak lupa alamat terkhir GPS mobil Tama. Imaj yakin Mayang dan Danu pasti tau apa yang harus mereka lakukan.
Berintung jalanan saat itu tidak terlalu ramai, karena kam masuk kantor sudah lewat. Moto buntut Imah berhenti tepat di samping pagar taman. Mata Imah mulai menelusuri setiap sisi taman sambil terus melangkah.
Tamannya cukup besar, jadi Imah agak kesusahan juga untuk mencari posisi mobil Tama dimananya. ''Apa bukan taman kota yang ini ya? Tapi dari alamatnya betul tapi kok malah ga ada ya.'' Imah terduduk dikursi taman melepas penat kakinya yang dari tadi terus melangkah tiada henti.
Taman itu cukup luas dan cukup rimbun terbukti dengan banyaknya pohon-pohon besar disana. Belum lagi bunga-bunga yang tumbuh subur menambah sejuk mata memandang. Sayangnya taman ini tidak dilengkapi dengan arena bermain anak-anak. sepertinya hanya diperuntukan khusus untuk olah raga saja. Terlihat dari adanya alat-alat olah raga yang disediakan disana, serta terdapat jalan-jalan untuk olah raga lari.
Keadaan taman sangat sepi, bahkan tidak satu orang pun orang yang Imah jumpai. Mungkin karena masih jam kerja. Hanya tiga empat orang petugas kebersihan yang tampak sedang membersihkan area taman.
''Apa gue tanya petugas itu aja ya? Mana tau ada yang melihat.'' Imah berjalan dan mendekati satu orang petugas yang tengah menyapu.
'' Permisi Pak, maaf menganggu sebentar. Apa Bapak pernah liat ga mobil ini sekitaran taman?'' Imah memperlihatkan foto mobil Tama ketika dia selfi waktu pergi-pergi meeting.
Bapak itu terlihat berpikir dan kemudin berkata, ''Kalau saya tidak salah mobil ini yang terpakir di sana Mba. Di ujung belakang taman, paling belakang sekali. Jalannya agak menurun itu.'' Tutur Bapak itu sambil memberi isyarat dengan telunjuk tangannya.
__ADS_1
Benar saja, mobil Tama terparkir dijalan turunan bagian belakang taman. Pantas saja dari tadi dia tidak menemukannya. Berlahan Imah membuka pintu mobil tapi terkunci. '' Sial!'' Tidak puas, Imah kemudian mengitari mobil dan mencari mana tau ada petunjuk. Tetap saja hasilnya nihil. Saat Imah akan berbalik, kunci motor yang ditangannya jatuh. Saat dia mengabil, matanya menyepit melihat sesuatu dibawah mobil. Dan ternyata, '' Ini kan ponsel Tuan Tama.''