
Saat bersamaan datang Anton mengantarkan berkas penting tantang laporan beberapa proyek yang sudah hampir rampung.
'' Eh Anton, kamu udah makan siang belum Nton? Makan siang bareng yuk.'' Ucap Imah tiba-tiba, bahkan langsung menarik berkas yang ditangan Anton dan meletakannya begitu saja di atas mejanya.
'' Belum Mah, kan baru juga jam makan siang.'' Jawab Anton seadanya.
'' Wah kebetulan banget, aku juga belum makan siang. Pergi sekarang yuk.'' Anton hanya bisa bengong dan menurut saat Imah menggandeng tangannya meninggalkan sepasang manusia yang memberi tatapan yang berbeda. Anton sempat menatap wajah Tama. '' Mati gue, gue bakal jadi tumbal nih. Jangan bawa gue dong Mah.'' Anton membatin takut membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya.
Tangan Tama terkepal kuat, dadanya bergemuruh saat melihat Imah menggandeng tangan Anton. Sungguh pemandangan yang membuat mata Tama kepanasan. Ditariknya nafas dalam-dalam, kemudian melangkah dengan tatapan tak putus ke arah Imah dan Anton pergi.
Tanpa menghiraukan Luna, Tama berjalan menuju kantin dimana Anton dan Imah akan makan siang bersama. Langkahnya begitu cepat seakan melayang di udara. Hentakan sepatunya menggema dilorong yang dilewatinya.
Tepat di pintu kantin matanya menyapu seisi kantin yang luas, mencari dua sosok yang sudah membuat selera makannya hilang. Tatapannya terhenti pada dua orang yang sedang duduk dikursi sudut belakang sambil tertawa akrab. Kecemburuan Tama makin naik level, kalau tidak di sini, ingin rasanya Tama mengahajar Anton sampai babak belur.
''Kok kita makan di sini sih Kak? Kan Luna udah bawa makan siang buat kita?'' Tama tak mengubris, malah dia berjalan dan mengambil meja bersebelahan dengan Imah. Untung dua kariyawannya tau diri, ada Bos yang tiba-tiba duduk mereka langsung berdiri dan pergi teratur.
''Letakan semuanya di atas meja.'' Luna yang masih berdiri langsung duduk melakukan perintah Tama. Membuka semua kotak bekal dan menjejerkannya di depan Tama. Bukannya tergoda dengan hidangan lezat didepannya, Tama malah fokus melihat Imah yang menyantap pesanannya yang sudah datang. Wajah cemburu terlihat pampang jelas dari sorot matanya.
Luna mengikuti tatapan Tama, hatinya begitu sakit sangat Tama tak mengacuhkannya dan malah mengikuti Imah sampai ke kantin. Imah yang merasa diperhatikan, tersenyum geli namun tetap menikmati makanannya.
'' Rasain, ngali kuburan sendiri jadinya kan. Kamu pikir aku ga cemburu apa? Baru juga jadian, malah deketi mantan.'' Bisik Imah dalam hati.
Sedangkan Anton terlihat begitu kesusahan untuk menelqn makannya. Lututnya gemetar saat beradu pandang dengan Tama. Wajah Tama begitu menakutkan baginya. Apalagi Tama tidak putus-putus memandang ke arah mereka. Tapi Imah malah terlihat santuy tak ada beban.
'' Mah, sepertinya aku bakalan jadi pengangguran Mah. Mati aku mah bisa kena pecat nih ujung-ujungnya.'' Bisik Anton pada Imah.
'' Udah tenang aja. Kalau kamu dipecat, aku bakalan ikut keluar dari kantor ini.'' Jawaban Imah sontak membuat kaget Anton. Matanya terus melihat Imah. Tama yang sudah naik pitam langsung menggebrak meja tempat makan Imah dan Anton.
BRAKKK
'' Kamu saya pecat.'' Tama menunjuk Anton dengan mata merah menyala. Nafasnya turun naik, seperti orang habis olah raga.
Kemudian Tama menarik paksa tangan Imah. Namun Imah malah menahan tangannya. ''Apa-apan sih Tuan, saya kan lagi makan.'' Sewot Imah.
__ADS_1
'' Ayo ikut saya.''
'' Tidak mau, saya mau nungguin temen saya makan dulu.'' Jawab Imah santai.
Tama makin emosi tingkat tinggi. Tegangan listrik di tubuhnya meningkat drastis. Dia begitu benci kalau Imah menolaknya.
'' Eh, kamu kan sudah saya pecat. Cepat pergi sana.'' Tama mengusir Anton. Anton hanya bisa menunduk takut.
'' Kalau teman saya dipecat, saya mengundurkan diri.'' Mata Tama melotot menatap Imah, seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
'' Kalau gitu kamu saya SP 1.'' Ucap Tama kemudian. Anton sedikit lega, meski Imah masih merasa bersalah dengannya.
Kali ini Imah yang menarik paksa tangan Tama. Tama menurut seperti anak kecil yang senang diajak pergi.
'' Kakak kok Luna di tinggal sih.'' Mendengar itu Imah melepaskan tangan Tama dan menatap Tama dalam-dalam. Tama bergidik ngeri saat melihat mata Imah yang seakan menusuk jantungnya.
'' Urus adik manismu dulu.'' Imah melangkah pergi meninggalkan kantin. Entah mengapa kaki Tama seperti kaku untuk mengejar Imah yang sudah tidak terlihat lagi punggungnya.
'' Maaf Luna, Kakak dan Imah sudah resmi pacaran. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi maaf, Kakak harus menjaga jarak denganmu.'' Luna membeku. Pandangan angkuhnya mulai menunduk. Kepalanya menggeleng, hatinya tidak bisa menerima itu. Matanya mulai menganak air. Begitu sakit rasanya saat Tama mengucapka kata pahit itu.
Awalnya dia merasa yakin jika Tama masih mencintainya. Apalagi melihat respon Tama setiap bertemu dengannya, membuat Luna makin percaya diri ingin kembali bersama Tama.
'' Sebelum janur kuning melengkung, kamu masih milik bersama Kak.'' Gumam Luna dengan senyum penuh makna, tapi air mata masih mengalir.
'' Mas, kami pulang sama sopir aja, Mas kan lagi sibuk. Lagian jam kerja belum habis, masih 4 jam lagi.''
'' Ga apa sayang, Mas kan yang punya kantor. Suka-suka Mas dong mau pulang jam berapa.'' Mayang menggeleng mendengar jawaban Danu.
__ADS_1
'' Ya ga bisa gitu juga Mas. Malahan Mas sebagai Bos harus menunjukan contoh yang baik.''
'' Sayang, cintaku jantung hatiku. Mas akan tetap antar kalian pulang. Cup.'' Satu kecupan hangat mendarat indah dibibir manis Mayang, tapi rasa udang saus pedas karena itu menu makan siang mereka. '' Kita sambung di rumah.'' Danu mengedipkan sebelah matanya.
Mayang memutar bola matanya, sudah terbayang akan ada keringat lagi setelah keringat makan siang mereka. Entah mengapa akhir-akhir ini intensitas \*\*\*\* Danu makin meningkat. Mungkin karena beban pikirannya sudah tidak banyak dan tidak berat lagi. Entalah, hanya Danu dan Tuhan lah yang tahu.
Mayang tidak bisa menolak lagi saat Danu sudah berdiri dan bersiap untuk pulang, takut nanti Danu malah marah padanya. Danu mulai mendorong kereta Raja yang sudah tertidur lelap setelah menghabiskan bubur makan siangnya. Mayang terlihat bergelayut manja dilengan Danu. Begitu mesra dan sangat bahagia. Itulah yang terpancar dari keduanya.
Sebelum pergi, Danu mengabari Beni terlebih dahulu. '' Ben, gue cabut dulu. Lo siapin semua berkas buat meeting besok.'' Tanpa menunggu jawaban Beni, Tama langsung menutup pintu ruangan Beni.
'' Dasar Bos ga berprikepegawaian. Masa semua tugasnya gue yang kerjain? Untung gaji gue gede, terpaksa sabar kan gue jadinya.'' Kesal Beni yang pusing karena sejak Tisa balik dari luar negeri, belum pernah sekali pun mereka pergi bersama. Walau sering bertemu, tapi hanya sebentar saja.
Saat Danu dan Mayang melewati koridor kantor, tiba-tiba Imah berjalan cepat melewati mereka dan Imah hanya tersenyum tanpa berhenti. Tidak berselang lama terlihat Tama yang berjalan dengan langkah lebar yang juga melewati mereka. Hanya senyum dan terus melangkah.
Danu dan Mayang saling memandang, seolah saling bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Serentak keduan mengangkat bahu, dan tertawa memikirkan ulah dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\* Bersambung\*\*\*\*\*