
Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba. Semua keluarga dan para tamu undangan akad telah duduk pada posisi masing-masing. Acara akad akan dilaksanakan pada pukul 8 pagi ini. Terlihat Mayang mondar-mandir memanggil EO yang telah mereka tunjuk. Tisa pun tidak kalah sibuk, karena ada sedikit dekorasi yang membuat matanya sumbang.
Ada dua buah pot bunga besar yang diletakan di atas pelaminan yang ukurannya terlalu besar sehingga terlihat panggung pelaminan itu penuh sesak. Beruntung para angota EO itu dapat cepat mengatasinya dengan cepat. Kalau tidak, mungkin mereka tidak akan punya nama lagi dalam bisnisnya.
Selain itu, juga tampak Mayang tengah membantu salah satu anggota EO untuk menjelaskan kepada Mang Dudung selaku Ayah mempelai perempuan bagaimana urutan dalam acara akad ini. Mang Dudung yang awalnya bingung, akhirnya mengerti setelah Mayang mebantu menjelaskan.
Di tempat yang sama tepatnya disebuah kamar di hotel tersebut tampak pengantin wanita tengah dirias oleh tim MUA kelas atas. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk meriasnya, karena hanya sedikit sentuhan saja wajah Imah sudah terlihat seperti putri kayangan. Make up yang tipis sesuai permintaan Imah, telah mampu membuat Imah bagai ratu sejagat.
Belum lagi saat Imah mengenakan baju kebaya akadnya, wah sungguh luar biasa cantiknya. Siapapun pasti pangling melihatnya. Imah yang tidak pernah didandani, terlihat begitu memukau setiap mata yang memandangnya. Kebaya yang digunakannya sangat pas dibody goalnya.
Imah menatap kagum dirinya saat berada tepat di depan cermin. Baju akad yang dikenakannya sangat pas di badannya. Sanggul tambut yang simple dan sedikit anak rambut yang tak dirapikan menambah kesan anggun pada wajahnya cantiknya. Rasanya masih mimpi baginya untuk berada di saat seperti ini. Hanya hitungan menit, dia akan menjadi Istri dari pria kaya yang entah berapa jumlah harta yang dimilikinya.
Namun bukan itu yang membuat Imah sangat bahagia sekarang. Melainkan dia akan menikah dengan pria yang sangat mencintainya, dan tentunya dia juga sangat mencintai calon suaminya itu. Banyak cerita yang telah mereka ukir bersama. Banyak masalah yang telah mereka hadapi bersama. Kisah yang diawali dengan benci dan diakhiri dengan cinta sejati.
Hari ini janji suci di hadapan tuhan akan mereka ikrarkan. Rasa gugup makin lama makin menyeruak dalam dada Imah. Meski bukan dia yang akan mencucapkan ijag qabulnya, tetap saja rasa cemas itu datang padanya. Apalagi acaranya ini akan diliput langsung oleh salah satu stasiun TV nasional. Imah benar-benar gugup sekali.
Membayangkan itu saja wajahnya sudah menjadi pucat. Dia takut nanti akan membuat malu Tama dan keluarganya. Apalagi jika nanti ditanya-tanya wartawan tentang asal usul keluarganya. Sungguh Imah dilanda badai kegugupan yang membuat telapak tangan dan telapak kakinya berkeringat.
Sata ini dia sangat butuh Tama untuk menenangkannya. Hanya pelukan Tama yang bisa membuatnya menjadi tenang. Imah berniat akan menelpon Tama agar bisa menemuinya sekarang.
Saat dia akan meraih ponselnya, datang Mayang di depan pintu dengan tatapan penuh kagum padanya.
'' Mah, ini kamu Imah kan?'' Mayang sampai menutup mulutnya sangking tak percaya.
'' Ck, kamu tu lebay deh. Siapa lagi kalo bukan aku? Hantu?'' Sewot Imah.
__ADS_1
'' Habis kamu bikin aku pangling. Kamu cantik banget Mah.'' Mayang menggenggam kedua tangan Imah. Terasa oleh Mayang tangan Imah yang basah.
'' Kamu gugup Mah?'' Tanya Mayang lembut. Imah mengangguk.
'' Kamu harus tenang, ga perlu gugup. Semua sudah beres terkendali. Aku yakin kamu pasti bisa.'' Imah langsung meraih tubuh sahabatnya itu. Berharap rasa gugupnya berkurang.
Tok
Tok
Tok
'' Maaf Nona, acara ijab qabul akan segera di mulai, jadi bersiaplah Nona. Nanti akan kami panggil jika sudah waktunya keluar.'' Ujar seoang anggota EO. Imah dan Mayang tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Di kamar lain, terlihat mempelai laki-laki yang tak lain adalah Tama sedang memandang sendu dua lembar foto ditangannya. Air mata mengalir di wajah tampannya. Ya, Tama tengah mengenang kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya lebih dulu. Satu foto adalah foto Papanya dengan Mamanya, satu lagi foto Mamanya dengan Ayahnya saat masih muda.
'' Berjanjilah kalian tidak akan melupakanku, teruslah menemuiku, teruslah temaniku meski hanya dalam mimpi.'' Tama memeluk erat dua foto itu didadanya. Bahunya bergetar hebat saat mengingat semua orang tuanya telah tidak bersamanya lagi.
Sebuah tangan kekar mengusap lembut bahunya, Tama tersadar dari kesedihan yang baru saja melandanya. Danu yang paham akan raut wajah Tama merentangkan kedua tangannya, memberi tempat bagi sepupunya itu untuk berbagi kesedihan dengannya.
Tanpa berfikir lagi Tama berdiri dan memeluk erat Danu. Bahkan tanpa malu Tama menangis sesegukan di bahu Danu. Rasa malu untuk sementara dia kesampingkan dulu. Lebih baik dia puas menangis sekarang, agar rasa ikhlas itu makin besar tumbuh dalam hatinya.
'' Berjanjilah setelah ini hanya ada air mata kebahagian.'' Danu mengusap lembut punggung Tama, menyalurkan kekuatan agar sepupunya itu makin tegar dan tabah.
'' Setelah ini aku yakin kamu akan tersenyum terus.'' Tama melerai pelukan mereka dan mengusap wajahnya yang sudah basah.
__ADS_1
'' Bagaimana kamu seyakin itu?'' Tanya Tama yang masih mengahpus sisa air matanya.
'' Karena syurga dunia akan membuat hari-harimu makin bewarna.'' Tama tergelak mendengar ocehan Danu itu.
'' Jangn sok malu, aku yakin kamu juga sudah tidak sabar lagi untuk menggempur Imah.'' Ucap Danu blak-blakan. Tama tersenyum karena memang itu juga lah yang sangat dia inginkan.
Sesaat kemudian anggota EO datang dan meminta Tama untuk keluar karena acara ijab qabul akan segera dilaksanakan. Setelah membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, Tama dan Danu langsung menuju meja ijab qabul.
Tama terlihat sudah duduk dengan gagahnya berhadapan langsung dengan Mang Dudung. Disebelah Mang Dudung telah ada penghulu yang akan menikahkan mereka. Untuk saksi perempuan di tujuk Toni, dan Tuan Agung akan menjadi saksi bagi mempelai laki-laki.
Semua tamu yang hadir diam dengan khitmat saat tangan Tama dan Mang Dudung telah berjabat. Dengan satu tarikan nafas Tama melafalkan ijab qabul. Tanpa ada cela, tegas jelas dan tenang Tama menyelesaikan ikrar janjinya.
'' Sah...sah..sah...'' Semua yang hadir mengucapkan puji syukur secara bersamaan.
Tama terlihat begitu lega telah menyelesaikan tugasnya dengan baik dan benar. Mayang memeluk haru suaminya karena sangat bahagia ijab qabul Tama berjalan dengan lancar.
Dari ujun pintu aula masuklah Imah berjalan dengan anggunnya. Sekarang semua mata tertuju padanya. Imah berusaha tenang dengan menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya berlahan. Menggenggam erat buket bunga indah ditangannya.
Imah berjalan dengan senyum merekah diwajah cantiknya. Tama berdiri diposisi yang telah disediakan dengan tatapan yang tak putus memandang kearah Imah yang juga menatapnya dengan mata berbinar. Menatap damba sang pujaan hati yang telah resmi manjdi miliknya seutuhnya.
'' Cantik banget sih Istri aku.'' Goda Tama saat Imah telah mengalungkan tangan dilengan Tama. Imah memukul pelan tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Suara riuh tepuk tangan menggema memenuhi ruangan besar itu. Tama mencium hangat penuh hari kening Imah, dan Imah mencium takzim tangan suaminya.
Setelah acara sesi foto-foto selesai, kedua mempelai langsung menuju kamar pengantin yang telah disiapkan. Dan yang lain menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Acara pesta akan dimulai pukul 3 sore nanti. Jadi masih ada waktu beberapa jam untuk melepas penat terlebih dahulu.
__ADS_1
'' Sayang, minta jatah sekarang ya?'' Tama mengedipkan matanya. Saat ini mereka tengah berjalan menuju kamar. Imah hanya geleng-geleng melihat tingkah suaminya itu.
***** Bersambung *****