Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
43 Pria Bergelang Besi Kepala Tengkorak


__ADS_3

'' Baiklah Tuan Danu, semoga kedepannya hubungan baik kita akan tetap terjaga. Senang bisa bertemu dan berbincang dengan Anda dan Tuan Tama.'' Tuan Bastian nampak menatap lekat-lekat wajah Tama seakan mengingatkan dia akan seseorang yang telah lama pergi meninggalkannya.


''Kenapa wajah ini seolah membuatku semakin dekat denganmu, Bela.'' Ujar Tuan Bastian dalam hatinya. Tama yang merasa diperhatikan, malah bersikap datar saja. Mungkin karena kebencian untuk Tuan Bastian sangat besar dalam hatinya.


Dari tatapan mata Danu, tersirat kebencian yang besar pada Tuan Bastian, tetapi rasa penasarannya juga tidak kalah besarnya. Siapa Sebastian Federik ini? Apa tujuannya mengganggu keluarganya?


Semua pertanyaan itu selalu menari-nari dalam benaknya. Apalagi sepertinya Kakeknya juga mengenal siapa Tuan Bastian itu. Tetapi semua pertanyaan itu masih disimpannya, mengingat Kakeknya belum bisa diajak berkomunikasi.


Namun satu bukti mulai terkuak, masih sangat jelas teringat oleh Danu tentang pria bergelang besi kepala tengkorak yang sudah menyebabkan Kakeknya harus terbaring lemah tak berdaya ditempat tidur rumah sakit. Dan malam ini secercah cahaya mulai muncul.


Sekarang Danu sudah tahu dengan jelas siapa orang pemilik gelang itu. Bahkan Danu dapat melihat orang itu masih memakainya. Yang tak lain adalah Saga, asisten pribadi Tuan Bastian si pemilik gelang besi kepala tengkorak.


'' Tapi kita tidak bisa menjadikannya langsung sebagai tersangka Danu, sangat mudah baginya untuk mengelak. Dia akan jadikan alasan siapa saja bisa memiliki gelang itu karena gelang itu mungkin banyak beredar dipasaran.'' Jelas Tama panjang lebar. Saat ini mereka telah berada dalam mobil menuju rumah utama.


'' Benar Bos, tapi satu hal yang pasti. Semua kejadian yang terjadi selama ini sangat kuat kaitannya dengan Tuan Bastian.'' Tambah Beni.


'' Kalian Benar, kita tidak boleh gegabah. Yang kita lawan bukan preman pasar, tapi Sebastian Federik. CEO Federik Global Group.'' Danu menatap tajam keluar kaca mobil, tangannya terkepal kuat. Rasa benci Danu semakin besar kepada musuhnya itu.


Tidak butuh waktu lama, lebih kurang tiga puluh menit Mereka telah sampai di rumah utama. Beni pun langsung pamit pulang kereha memang dia sudah sangat kelelahan.


Danu yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raja, buru-buru masuk dan langsung menuju kamarnya yang untuk saat ini Raja masih tidur bersamanya dan Mayang. Tama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu. Namun saat dia akan menaiki tangga, terdengar suara nyanyian nan indah dari arah dapur.


Suasana di dalam rumah memang sudah sepi karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Tama terlihat tersenyum penuh makna, karena dia tahu betul siapa pemilik suara itu. Benar saja, terlihat Imah tengah mengaduk-aduk mie rebus dalam panci di atas kompor yang menyala. Pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama lagunya.


'' Aku masih ting ting, dijamin masih ting ting. Masih belum berpengalaman juk gijak gijuk gijak gijuk a a a a ye.'' Tama tersenyum gemes melihat tinggkah wanitanya itu. Berlahan tapi pasti Tama mendekat ke belakang Imah.

__ADS_1


Goyang pinggul Imah terhenti seketika tepat saat sepasang tangan kekar melingkar dipinggang langsingnya. Reflek Imah memukulkan sendok yang ditangnya kekepala Tama yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


'' Aduuuh...sakit banget.'' Tama meringis sakit memegang keningnya yang di pukul Imah, namun satu tangannya masih memeluk pinggang Imah.


Nakal ya Babang Tamtam wkwkwk..


Lanjut...


'' Ma--maaf Tuan, saya ga sengaja. Habisnya Tuan ngagetin aja sih. Untung ga pancinya saya siram ke kepala Tuan.'' Sontak Tama menjauh, takut kalau-kalau Imah sengaja kilaf.


'' Sakit tau. Kamu harus tanggung jawab.''


''Kenapa sih Tuan hobi banget minta tanggung jawab. Semuanya harus tanggung jawab, sikit-sikit tanggung jawab. Ga ada omongan lain apa.'' Imah tak menghiraukan Tama, dia malah sibuk menunangkan mie rebus instannya ke dalam mangkok. Wanginya sungguh menggugah selera Tama, tanpa ijin Tama langsung menyambar mangkok yang ditangan Imah.


'' Ini untuk saya, sebagai ganti rugi kepala saya yang sudah kamu pentok pake sendok.'' Mulut Imah langsung mengaga saat melihat Tama mulai mengangkat mie dengan sendok sambil terus meniup-niupnya. Berlahan Imah ikut duduk di samping Tama di meja makan.


Ting ting....


'' Mulutmu tutup, lihat air liurmu sudah menetes. Jorok banget sih, saya kan lagi makan.'' Imah yang kesal akhirnya berdiri dan pergi menjauh dari hadapan Tama. Entah mengapa sikap Tama makin keterlaluan padanya. Dia jadi teringat dengan perkataan Mayang waktu di rumah sakit.


'' Entah dari mana letak sukanya, melihat aku aja dia jijik. Kenapa sih dadaku nyeri banget? padahal omongan pedasnya bukan kali ini saja aku denger.'' Batin Imah dengan wajah sedih.


Tes...


Air matanya menetes begitu saja dipipi mulusnya. Dipercepatnya langkah kakinya agar segera menjauh dari hadapan Tama. Tiba-tiba...

__ADS_1


Bugh...


Ketika Imah sedang berjalan, tangannya ditarik keras sehingga dalam sekejap Imah sudah berada dalam pelukan Tama.


Tanpa Imah sadari, Tama sudah merasa sangat bersalah saat melihat wajah sedih Imah sebelum dia pergi tadi. Sungguh Tama tak sanggup melihat wajah Imah bersedih. Dia bahkan merutuki dirinya karena sudah menyakiti hati wanita yang entah sejak kapan sudah bersemayam dalam hatinya.


'' Aku minta maaf. Jangan pernah pergi disaat kamu menangis. Jadikan aku sandaranmu.'' Tama membelai rambut panjang Imah dan mencium pucuk kepala Imah.


Deg..


Jantung Imah sudah seperti gempa tentonik yang membuat dadanya berguncang keras. Matanya membulat sempurna seakan tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Tuan Bosnya itu.


'' Ga mungkin kan nih Singa Hutan----?? Ga, ga mungkin. Dia kan benci banget sama gue.'' Imah menggeleng cepat seakan senada dengan bahasa hatinya.


Berlahan Imah mendorong pelan dada Tama. Imah beranjak mundur dan memberanikan diri menatap lekat wajah Tama.'' Apa maksud anda Tuan? Sa--saya tidak mengerti?'' Ujar Imah.


Bukan apa-apa, Imah sangat paham betul maksud dari kata-kata Tama itu. Namun dia tidak ingin Tama mengatakan hanya karena ingin dia memaafkan Tama. Apalagi dia takut kepedean mengira Tama suka dengannya.


''Ma--maksud saya, kamu jangan pernah menangis di depan saya. Saya tidak suka. Bikin mood saya jelek aja.'' Imah menunduk, matanya terpejam. Rasanya ada seuatu yang perih terasa di dalam dadanya saat mendengar jawaban Tama.


'' Baik Tuan, tidak akan saya ulangi lagi.'' Dipaksanya senyum sebelum berbalik dan melangkah pergi menjauh.


Tes


Kembali bulir bening itu turun dari matanya, dan secepat kilat Imah usap dengan kasar pipinya yang basah. Hatinya terasa sakit dan hancur. Entahlah, yang jelas bukan itu jawaban yang dia ingin dengar dari Tama. Mungkinkah dia juga ada rasa dengan Tama? Berusaha keras Imah kuatkan hatinya, jika memang ada sedikit rasa untuk Tuannya, maka tidak akan dia biarkan rasa itu semakin tumbuh.

__ADS_1


Tama merutuki kebodohannya, mengapa dia tidak bisa jujur dengan perasaannya. Sekarang dia sangat benci dengan dirinya sendiri, pengecut dan bodoh. Terlihat Tama mengacak-acak kasar rambutnya, entah bagaimana caranya dia untuk mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Sedangkan Imah sudah terlanjur terluka oleh kata-katanya.


__ADS_2