
Deg...
Begitu nyeri dada Mayang ketika suami yang begitu dihormati dan dicintainya malah menumpahkan semua kesalahan padanya. Apa Danu lupa jika perubahan sikapnya juga ikut andil dalam hal ini. Namun yang Mayang sesalkan, mengapa Danu sedikitpun tidak peduli jika hatinya akan terluka oleh kata-katanya itu.
Sungguh tidak sanggup Mayang menahan air matanya. Tidak peduli ada Beni bersama mereka. Hatinya begitu terluka, bagaimana mungkin dia menelantarkan anaknya sendiri. Lagi pula Danu pasti tau kemana dan dengan siapa dia pergi.
Berlahan Mayang mundur dan berjalan menuju pintu, Mayang tidak ingin rasa tidak peduli Danu semakin menyakitinya. Danu melihat kepergian Mayang dari sudut matanya saja. Beni begitu kaget karena Danu dan Mayang yang terlihat harmonis ternyata sedang tidak baik-baik saja.
'' Anak Papa sayang, cepat sembuh ya. Ada Papa di sini, Papa akan jaga Raja. Raja harus kuat ya, anak papa kan anak hebat.'' Dibelainya kepala Raja dengan penuh rasa iba. Entah mengapa setelah bicara dengan Mayang tadi rasa penyelasan menyeruak dari dalam hatinya. Namun egonya kembali muncul mengalahkan bisikan hatinya.
Apa sebenarnya yang Danu pikirkan? Mengapa dia sekarang seperti tidak mampu lagi menjaga hati Mayang. Wanita yang begitu setia menjadi pendampingnya, baik suka maupun duka telah mereka lalui bersama. Entahlah, untuk saat ini Danu terlihat melupan sosok istrinya. Sosok yang saat ini hatinya sedang terluka dan kecewa oleh ucapannya.
'' Bos, gue masih di sini atau boleh cabut?'' Beni membuyarkan lamunan Danu.
'' Lo boleh balik, besok pagi siapkan semua keperluan gue. Jangan telat, besok pagi kita ada meeting penting dengan Tuan Bastian.''
'' Ok.''
'' Kamu hubungi Tama, besok Imah tidak usah masuk kantor. Imah temani Mayang di sini.'' Beni mengangguk dan langsung pamit pulang.
Jujur kalau perasaannya pada Mayang tidak pernah berubah, bahkan rasa cinta dan sayangnya melebihi dirinya sendiri. Namun entah mengapa rasa benci dan dendam yang sudah tertanam sejak banyak musibah dalam keluarganya membuat Danu berubah. Tapi Danu lupa akan tugas dan tanggung jawabnya dalam lingkup keluarga kecilnya.
'' Nyonya Bos.'' Mayang cepat-cepat mengusap air matanya walaupun Beni sudah tau kalau dia sedang menangis.
'' Jangan Nyonya pikirkan perkataannya. Saya sangat tahu bagaimana isi hatinya pada Nyonya. Mungkin Bos Danu lagi kelelahan saja. Balakangan ini banyak hal yang terjadi dalam perusahaan. Jadi Bos Danu dan Tuan Tama lah yang bahu-membahu membangkitkan kembali perusahaan yang nyaris hancur. Saya akan coba bicara denganya nanti.'' Ulas Beni panjang lebar.
Mayang hanya diam menatap lurus kedepan, mendengarkan setiap penjelasan Beni. Bukan dia tidak tahu, dia juga tahu semua yang telah terjadi dengan perusahaan. Mayang juga mengerti betapa lelahnya Danu, bahkan ingin rasanya dia membantu apapun itu untuk mengurangi beban suaminya. Akan tetapi Danu tidak pernah mengajaknya bercerita, jangankan bercerita bicara dengannya saja sangat jarang. Sebagai istri tentu Mayang juga ingin suaminya berbagi dengannya.
__ADS_1
Setelah sedikit berbincang, mereka akhirnya beranjak pergi. Beni melanjutkan perjalanan pulangnya, sedangkan Mayang dengan terpaksa kembali ke kamar rawat Raja. Biarlah dia tahan dan pendam semuanya, menangis dalam diam adalah menurutnya hal yang tepat untuk saat ini.
Ceklek...
Pintu ruang rawat Raja terbuka, Mayang masuk berlahan. Dilihatnya Danu tengah terbaring di atas tempat tidur yang memang diperuntukan untuk keluarga yang menunggui. Lumayan besar dan masih lapang untuk di tempati berdua.
Mayang hanya menatap sendu wajah lelah Danu. Ingin rasanya dia mebelai dan memeluk suaminya dalam tidur lelapnya itu. Namun Mayang takut Danu merasa tidak nyaman atau malah mengganggu istirahat Danu. Bulir bening mengalir deras di pipinya. Sekuat hati Mayang tahan isakannya, selain dapat mengganggu Raja, juga dia tidak mau Danu mengetahui dia sedang menangis. Mayang sudah bertekat akan menyimpan semua kesedihannya sendiri. Percuma berkeluh kesah pada Danu, dia takut Danu akan semakin kesal dengannya.
'' Mas, aku sangat merindukanmu. Aku sedang bersedih Mas. Aku menangis, tapi aku janji tidak akan merepotkanmu lagi. Semuanya akan ku pendam sendiri, sudah cukup beban yang kamu pikul selama ini. Tidak akan kutambah lagi dengan hatiku yang sedang rapuh ini.'' Bisik Mayang dalam hati. Tangan Mayang terulur hendak mengusap kepala Danu, namun terhenti di udara. Segera Mayang beranjak berjalan menuju tempat tidur Raja. Hanya menjauh yang bisa Mayang lakukan sekarang ini.
Danu sebenarnya belum tidur, dia hanya memejamkan matanya saja. Semua gerakan Mayang masih bisa dia ketahui. Seandainya Mayang tau, Danu juga sangat merindukan istrinya itu. Entah mengapa dia mulai kesal dengan sikap Mayang yang menurutnya tidak mengerti maksudnya, dan mulai tidak penurut.
'' Maylov, Mas masih Ranggamu yang dulu. Tidak akan pernah berubah selain bertambah besarnya cinta dan sayangku padamu. Cobalah mengerti sedikit akan kekhawatiran Mas. Mas tau kamu pasti sangat sedih dengan kata-kata Mas tadi.'' Berlahan Danu mengintip apa yang sedang Mayang lakukan.
Mayang terlihat membelakangi Danu, Mayang duduk di kursi samping tempat tidur Raja. Dia merebahkan kepala dengan beralaskan tangan di kasur tidur Raja itu. Sesekali nampak Mayang mencari posisi nyaman untuk mebaringkan kepalanya. Danu menatap iba istrinya dengan senyum kecil, dia lebih memilih tidur duduk daripada ikut berbaring di sampingnya karena masih kesal atau tepatnya masih bersedih dengan perkataannya tadi.
Berlahan Danu meraih pinggang dan lutut Mayang. Dalam satu gerakan Mayang sudah berada dalam gendongan Danu. '' Apa kamu yang bertambah berat, atau aku yang sudah mukai kehilangan tenaga May?'' Dengan nafas ngos-ngosan, Danu bergumam pelan sembari meletakan tubuh Mayang yang memang agak berisi sejak hamil dan melahirkan Raja.Namun tidak mengurangi keseksian Mayang dimata Danu.
Tidak menunggu lagi, Danu ikut berbaring di samping Mayang karena memang matanya sudah tidak kuat lagi untuk tatap terjaga. Atau karena dia tidur sambil memeluk hangat tubuh Mayang yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi. Pemandangan yang sungguh indah, seperti pasangan tidak ada masalah dalam kisah cinta mereka.
Tok
Tok
Tok
Mata Mayang yang awalnya terpejam rapat kini
__ADS_1
mulai terbuka sempurna. Mayang tak terkejut saat bangun tangan Danu masih erat memeluknya. Memang itulah yang selalu Danu lakukan. Mayang membuka pintu, terlihat Beni dengan pakaina kantor yang rapi seperti biasa.
'' Pagi Nyonya Bos.'' Mayang tersenyum ramah kepada Beni yang sudah berdiri di depan pintu.
'' Masuklah, bangunkan Bos mu. Sepertinya dia masih betah dengan mimpi indahnya.'' Mayang meninggalkan Beni yang terlihat mulai membangunkan Danu dan langsung masuk kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka. Karena Imah mengabari akan mengantar keperluannya jam 8 pagi nanti.
'' Bos tenang dulu, jangan gegabah. Gue yakin ini hanya kesalah pahaman saja. Tuan Tama tidak akan bertindak seperti itu.'' Beni berusaha menenangkan Danu yang sudah terbakar emosi karena status seluruh aset perusahaan Kakeknya sudah berpindah tangan atas nama Tama. Berita ini disampaikan langsung oleh Tuan Bastian sebagai investor terbesar perusahaan Baragajasa Group. Bukan hanya itu saja, Danu terncam masuk penjara karena tuduhan menggelap sebagian besar dana investasi yang dari para investor.
\-
\-
Maap readers setia othor ππ baru bisa up sekarang. Efek othor lagi balek kampung π€π..
Semoga makin penasaran ya sama kelanjutannya. Jangan lupa like komen vote hadiah dan favoritnya yah. Lov U Allππ€
__ADS_1