
Sejak kedatangan Imah ke rumah sakit untuk menemaninya, Mayang sedikit terhibur. Mengapa tidak, ada-ada saja yang Imah obrolkan sehingga membuat Mayang sakit perut karena menahan tawanya. Takut juga akan mengganggu tidur lelap Raja. Raja hanya akan bangun atau rewel kalau dia mau minta ASI Bundanya. Saat ini Raja sudah mulai makan MPASI ( Makanan Penambah ASI), jadi tidak terlalu bergantung pada ASI Mayang.
Sore ini Mayang sudah dapat ijin dari Dokter, Raja sudah boleh dibawa pulang. Dengan terpaksa Dokter mengijinkan karena tidak enak hati dengan Nyonya Danu itu. Mayang memutuskan untuk membawa Raja karena Raja sudah membaik. Lagi pula dirumah akan lebih baik untuk penyembuhan Raja. Di rumah akan banyak yang mengajak Raja main, jadi Mayang berfikir suasana rumah akan lebih membantu.
Sudah beberapa kali Mayang menghubungi ponsel Danu, tapi nomor Danu tidak bisa di hubungi. Sejak tadi pagi Danu pergi bersama Beni, tidak satu kalipun Danu menghubungi Mayang. Begitulah sikap Danu akhir-akhir ini yang membuat Mayang berfikir dia tidak penting lagi bagi Danu.
Tidak mau menunggu lama akhirnya Mayang putuskan untuk langsung pulang setelah dijemput oleh sopir rumah utama. '' May, nanti kalo gue langsung balik ga apa-apa kan?'' Ujar Imah saat mereka di dalam mobil menuju rumah utama.
'' Iya ga apa-apa. Nanti langsung di antar sopir aja.'' Imah hanya bisa mengangguk karena pasti Mayang akan terus memaksanya.
''Bagaimana ini Pak Ridwan? Apa tidak ada celah lagi?'' Ujar Danu kepada pengacaranya. Danu sangat marah. Bukan karena dia yang jadi tersangka, namun Danu sangat meradang siapa yang telah berani membuat masalah dengannya yang notabennya adalah pemilik perusahaan.
'' Walaupun ini akan sulit, tapi saya akan terus mengusahakannya Tuan. Saya yakin ini adalah ulah orang dalam. Tim saya sudah mulai menyelidikinya. Tersebar keseluruh divisi.'' Sahut Pak Ridwan.
'' Bagaimana Tama bisa mengalihkan semuanya? Apa karena dia yang stay di kantor jadi bisa menjalankan aksinya dengan mulus?'' Danu mulai menduga-duga. Tidak hanya satu masalah yang datang, dua masalah besar sekaligus.
'' Saya juga sudah berbincang langsung dengan Tuan Tama. Beliau juga terkejut dengan masalah ini Tuan. Beliau berjanji, beliau sendiri yang akan menyelesaikan kasus pengalihan perusahaan ini'' Ucap Pak Ridwan.
'' Sekarang kita tidak boleh percaya dengan siapapun. Saya minta Pak Ridwan juga menyelesaikan masalah ini. Tapi tetap dalam kerahasiaan.'' Tungkas Danu.
__ADS_1
'' Bos, gue yakin ini ada sangkut-pautnya dengan Tuan Bastian. Tapi kita tidak punya bukti untuk itu?'' Danu menatap tajam ke arah Beni.
Danu mulai mengskrol semua kejadian demi kejadian yang telah menimpa keluarganya. Memang benar sejak munculnya Tuan Bastian, kemelut dalam kehidupannya semakin bertambah buruk. Susah payah Danu mencerna dan menelik bagaimana cara Tuan Bastian melakukan aksinya, namun nihil. Danu merasa selama ini sudah sangat hati-hati, semuanya dia lakukan dengan penuh pertimbangan dan perencanaan yang matang. Tapi tetap saja nasib malang menyertainya lagi.
Suasana hening mencekam di ruangan Danu kian terasa, tapi tiba-tiba Danu menepuk meja kerjanya. Sontak Beni dan Pak Ridwan terlonjak kaget. Bahkan Beni terlihat mengelus-elus dadanya sangking terkejutnya.
'' Ben, coba lo selidiki Pak Robul. Dia adalah kepala proyek waktu Yuki masih menangani proyek waktu itu''. Beni langsung mengangguk. Diraihnya ponsel dalam kantong celananya, dan Beni nampak melakukan panggilan dengan seseorang.
'' Ada tugas baru. Lakukan seperti sebelumnya, biodata target akan dikirim lewat email. Lakukan dengan bersih.'' Beni mengakhiri panggilan teleponnya.
Saat melewati ruangan Tama, Danu berhenti sejenak. Di tatapnya sesaat pintu yang tertutup rapat itu, dan kemudian melanjutkan langkah kakinya.
'' Jika ini benar adalah ulahmu Tama, maka aku sendiri yang akan menghancurkanmu.'' Batin Danu.
Di rumah utama terlihat Mayang tengah resah menunggu Danu pulang. Bagaimana tidak, sudah hampir tengah malam suaminya belum juga pulang bahkan tidak ada kabar apapun. Langkah Mayang terhenti saat pintu kamarnya diketuk dari luar.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Berlahan Mayang menuju pintu karena terdengar suara pelayan yang memanggilnya dari luar. ''Nyonya, dibawah ada Tuan Beni menunggu.'' Tanpa menjawab Mayang langsung berlalu menuju tangga untuk bertemu Beni.
'' Nyo--Nyonya, maaf sebelumnya. Tapi saya harap Nyonya jangan terkejut, semuanya masih baik-baik saja.'' Beni terlihat tidak sanggup untuk mengabari Mayang, tapi menurutnya Mayang harus tahu meskipun Danu sudah melarangnya.
'' Apa maksud kamu Asben?'' Mayang menatap Beni bingung.
'' Begini Nyonya, Bos Danu sekarang di kantor polisi. Dan---.'' Ucapan Beni terpotong.
'' Maksud kamu suami saya masuk penjara?'' Beni mengangguk pelan. Tanpa menunggu lagi Mayang berlari ke dapur untuk memberitahu pelayan bahwa dia akan keluar. Beni hanya bisa menatap iba Mayang yang terlihat sangat panik.
Dengan kecepatan penuh Beni melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Mayang yang sudah diliputi kepanikan tidak peduli dengan laju mobil Beni yang hampir sama dengan kecepatan kilat.
Pada awalnya Danu dan Beni menemui Yuki yang sengaja mereka sembunyikan dari Tuan Bastian. Karena Yuki adalah saksi kunci kebekatan Tuan Bastian. Mereka takut kecolongan seperti peristiwa yang menimpa mendiang Sekretaris Rudi.
Danu dan Yuki membuat kesepakatan, jika Yuki mampu membawa bukti keterlibatan Tuan Bastian dengan kasus yang menimpanya dan kasus pengalihan kepemilikan atas nama Tama maka Danu akan menjamin keselamatan Yuki serta akan memberi imbalan untuk kebutuhan hidup Yuki kedepan.
Yuki yang memang sudah sangat kecewa dengan Tuan Bastian yang seakan cuci tangan begitu saja, menyetujui kesepakatan itu tanpa pikir panjang. Dia juga sudah tidak sanggup untuk terus terkurung, dia ingin bebas seperti dulu lagi. Akan tetapi, jika Yuki melanggar kesepakatan, Danu bersumpah dia sendiri yang akan menghabisi nyawa Yuki dengan cara yang sangat menyakitkan.
Ketika Danu berencana akan pulang ke rumah utama, pengacaranya Pak Ridwan menghubungi karena ada panggilan dari pihak kepolisian. Sampai pukul sembilan malam Danu yang awalnya hanya sebagai saksi, langsung dinyatakan sebagai tersangka kasus penggelapan dana investasi tersebut.
Langkah Mayang begitu cepat karena tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya. Saat ini penunjuk waktu telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Tanpa proses yang berbelit, Mayang langsung diantarkan oleh polisi ke ruangan dimana Danu sedang di tahan karena sebelumnya Beni dan Pak Ridwan telah mengurus semuanya.
'' Mas.'' Lirih Mayang. Hatinya begitu hancur saat melihat lelaki yang sangat dicintainya tengah duduk tertunduk lemas. Wajahnya yang kusut dan pakainya yang terlihat sudah berantakan, membuat tangis Mayang pecah begitu saja. Mendengar suara yang sangat diketahuinya, Danu mengangkat kepalanya. Hanya mereka berdua di dalam ruangan terkunci itu.
Saat ini Danu tidak di dalam jeruji besi, Danu berada dalam sebuah ruangan intereogasi. Danu memeluk hangat Mayang yang sudah menangis sesegukan. Dia tahu betul siapa yang memberitahu istrinya ini. Tapi untuk marah juga percuma, karena yang penting sekarang adalah dia harus lepas dari status tersangka.
__ADS_1