
'' Dia adalah putra kandungmu Bastian.'' Seru Tuan Agung dengan suara yang bergetar. Gemuruh darah Tuan Bastian yang tadinya seperti larva panas yang siap menyembur langsung berubah dingin dan membeku. Matanya membulat sempurna menatap Tuan Agung dan Tama secara bergantian. Mencari kebenaran di antara keduanya.
Semua yang mendengar pun langsung membeku saat Tuan Agung mengucapkan kalimat sakti dan bahkan debu yang berterbangan seakan berhenti diudara. Wajah Tama berubah pias, bibirnya bergetar menahan sesak didadanya. Air mata membanjiri wajahnya yang sudah basah oleh darah.
Tama menggelengkan kepala, sebagai pertanda ucapan Tuan Agung hanya kebohongan belaka. Tidak ada suara keluar dari mulut. Hatinya menolak keras untuk menerima meski itu adalah sebuah kenyataan. Sorot mata kebenciannya makin meningkat seakan tidak ada hukuman yang dapat membalas kesakitan yang dia rasakan dari Tuan Bastian. Dia tidak pantas menjadi Ayahnya, itulah kalimat yang dapat mewakili isi hatinya.
Mata mereka saling bersitatap dengan perasaan dan pikiran yang berbeda. Tuan Bastian dapat melihat manik mata Tama seperti bola api yang siap membakarnya. Tidak ada rasa haru, melainkan rasa benci yang mendalam.
Bagai disambar petir, Tuan Bastian membeku. Tulang-tulang ditubuhnya seakan melunak hingga dia tidak mampu lagi untuk berdiri. Berlahan tubuh Tuan Bastian beringsut mundur terhoyong kebelakang hingga senjata api yang ditangannya terlepas jatuh ke lantai. Namun sayang, nasib malang tak dapat ditolak.
Senjata api itu meledak saat membentur lantai yang keras dan pelurunya menembus dada Tuan Bastian. Tubuhnya jatuh dan terguling ditangga. Beruntung Danu dan Beni menahannya dengan cepat. Sehingga Tuan Bastian tidak terguling sampai ke lantai bawah.
Sebuah lorong berdinding putih menjadi tempat berkumpulnya sebuah keluarga yang menanti dengan wajah penuh kecemasan.
Sang surya telah kembali keperaduan, tidur lelap dalam gelapnya dunia tanpa cahayanya. Namun berbeda dengan keluarga Baragajasa. Sejak jam 5 sore hingga malam telah datang mereka telah di rumah sakit.
Setelah tragedi tertembaknya Tuan Bastian, Tama jatuh pingsan karena luka-luka yang dideritanya dan juga karena dehidrasi. Sedangkan Imah didalam kamar tempatnya disekap ditemukan dalam keadaan lemas namun masih sadarkan diri.
Tama bersama yang lain membawa ketiga korban tersebut ke rumah sakit. Sedangkan Beni bersama beberapa orang-orang Danu masih di TKP guna merekayasa kejadian. Danu tidak ingin Baragajasa Group disangkut pautkan dengan insiden berdarah ini.
Tuan Agung juga meminta agar Tuan Bastian juga dibersihlan namanya. Danu yang awalnya keberatan akhirnya menurut setelah Tian Agung berjanji akan menjelaskannya nanti. Akhirnya mereka meninggalkan rumah berdarah itu. Tempat dimana masa lalu hadir kembali untuk menguak sebuah fakta. Fakta bahwa Tama adalah putra kandung dari Tuan Bastian dan Ayunandia, mendiang Ibu kandung Tama.
__ADS_1
Tuan Angung terlihat tertunduk dengan wajah lelah karena memang beliau baru saja selesai dalam masa pemulihan pasca tragedi penusukan di rumah utama enam bulan yang lalu. Terlihat juga Mayang yang bersandar pada lengan Danu duduk disebelah Tuan Agung. Sedangkan Tisa karena Ia juga dokter di rumah sakit itu ikut menangani Tama dan Imah.
'' Mengapa rahasia besar ini Kakek simpan rapat-rapat?'' Suara Danu memecah keheningan. Terlihat Tuan Agung menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya berlahan.
Melihat tidak ada jawaban, Danu kembali bertanya, '' Apakah mendiang Om Bagas juga tahu rahasia ini?'' Danu memalingkan wajahnya kesamping menatap Kakeknya yang tengah duduk dengan tatapan lurus ke depan. Mayang hanya bisa diam. Walaupun dia sudah anggota keluarga Baragajasa, namun ada beberapa hal yang tidak bisa dia campuri.
'' Sejak Bagas tahu Ayu hamil anak Bastian, rumah tangga mereka mulai berantakan. Bagas hampir saja menceraikan Ayu, tapi cepat Kakek larang demi nama baik keluarga kita.''
'' Semua juga salah Kakek, seharusnya sejak mengetahui Ayu hamil Kakek membiarkan Ayu kembali bersama Bastian. Tapi saat itu Kakek begitu egois, hanya memikirkan nama baik tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan kemudian hari. Ayu yang malang harus hidup dalam pesakitan karena dibenci Bagas seumur hidupnya.'' Tuan Agung menangis sesegukan. Segera Mayang mendakat dan memeluk Tuan Agung untuk menguatkan orang tua itu.
'' Jadi semua kesalahan Bastian berawal dari kesalahan Kakek sendiri. Cukup Kakek yang pisahkan mereka dulu. Jangan lagi kita pisahkan Bastian dengan putra kandungnya. Jadi Kakek minta, bersihkan namanya dan maafkanlah dia. Kakek Mohon, demi Kakek.'' Tuan Agung menatap penuh harap pada Danu yang juga menatapnya kaget.
Apalah daya Danu jika ini demi Kakeknya. Danu hanya bisa mengangguk lemah. Tuan Agung langsung memeluk Danu dan juga Mayang yang duduk dikedua sisinya dengan tangis haru. ''Terimakasih.'' Ucapanya lirih.
Tidak lama berselang datang Tisa dengan pakain medisnya. '' Duuuh.. mau dipeluk juga.'' Ucap manja Tisa saat melihat tiga orang itu berpelukan. Dengan senyum bahagia Mayang merentangkan tangannya dan memeluk Tisa.
__ADS_1
Di sebuah kamar yang terbilang mewah, hampir tidak seperti berada di rumah sakit terlihat seorang pria tengah berusaha membuka matanya yang bengkak. Berlahan cahaya lampu menyilaukan matanya pertanda dia sudah sadarkan diri.
'' Dimana aku ini?'' Lirihnya. Dia adalah Tama. Saat ini Tama tengah berada di ruang rawat VVVIP khusus pemilik rumah sakit ini.
Tama memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan sedikit ngilu pada bagian perutnya. Dia mulai mengingat-ingat deretan kejadian yang telah dia alami sebelum sampai ke sini.
Mata bengkaknya terlihat sedikit berair, rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat sehingga darah naik keselang infusnya.
''Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku sangat membencimu, sangat membencimu.'' Gumam Tama dengan dada yang turun naik penuh emosi.
Ceklek
Pintu rawat Tama terbuka, muncul Imah menggunakan kursi roda dengan senyum merkahnya. Meski wajahnya penuh lebam dan sedikit jahitan pada bibirnya, tak mengurani aura canti alami Imah dimata Tama.
'' Bagaimana keadaanmu.'' Tama membelai lemut kening Imah, menyibakan sedikit rambut yang menutupi keningnya. Terlihat Imah sedikit canggung.
'' Kenapa kamu menunduk begitu.'' Ucap Tama sambil berusaha duduk tanpa melihat wajah Imah yang sudah bersemu merah.
'' Aku bertanya apa kamu tuli?'' Sontak ucapan Tama membuat wajah Imah berubah seratus delapan puluh derajat.
Imah pikir hubungan mereka akan lebih membaik, tapi ternyata tidak. Dengan wajah kecewa Imah memutar kursi rodanya menuju pintu. Tidak ingin dia lama-lama di sana, terlalu nampak dia berharap.
'' Tunggu, kamu mau kemana?'' Imah tidak menghiraukan hingga dia menghilang dibalik pintu. '' Sial, kenapa mulutku ini? Saharusnya aku mendapat kecupan sayang darinya, tapi gara-gara mulut bodoh ini.'' Tama memukul-mukul mulutnya dengan tangan. Sampai Ada yang masuk dia tidak tahu.
'' Hei, kenapa dengan mulutmu?'' Seru Danu yang membuat Tama terlonjak kaget. Tidak hanya Danu , Mayang dan Tuan Agung juga ikut masuk kedalam ruangan rawat Tama.
'' Bagaiman keadaanmu Tama?'' Ucap Tuan Agung penuh kelembutan. Bukan menjawab, Tama malah memalingkan wajahnya.
'' Maafkan Kakek Nak, maafkan Bastian. Dia adalah Ayah kandungmu.'' Ucap lirih Tuan Agung.
'' Dia bukan Ayahku, sampai kapanpun dia bukan Ayahku.'' Jawab Tama tanpa manatap wajah Tuan Agung yang sudah berubah sendu.
**********Bersambung**********
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komentnya ya, tinggalkan vote dan hadiah. Makasih readers setiaku 🙏🥰🤗
Intip karya terbaru aku ya " Gadis Lampu Merah ", makasih 🙏🥰😘😘