Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
38 Imah Beraksi


__ADS_3

Seperti disambar petir di siang bolong, Imah dibuat panik luar biasa. Benar-benar cari mati si iblis betina itu, sepanjang pengejarannya Imah mengupat Yuki habis-habisan dengan tangan terkepal yang siap melayang ke wajah menyebalkan Wanita itu.


'' Benar-benar kurang ajar, awas kali ini tidak akan ada ampun untukmu iblis betina.'' Langkah Imah terhenti saat melihat Yuki berbelok ke samping sebuah ruko yang tertutup. Setahu Imah itu adalah gang buntu, karena jalur ini adalah jalur jalan pulang Imah. Benar saja, di ujung terlihat Yuki dengan empat orang pria berbadan binaraga dengan lagak menantang Imah untuk terus maju.


Imah yang sudah terbakar emosi malah menantang para pria besar itu dengan memainkan telunjuknya. Seringai jahat muncul dari para pria itu, berlahan dua pria maju ke depan. Terlihat Imah mulai melayangkan sebuah pukulan tinju ke arah si pria botak, pria besar itu mengelak dan mendorong tubuh Imah hingga Imah tersungkur ke tanah. Yuki terlihat tertawa lepas sembari melempar ejekan kasar kepada Imah.


''Lihatlah Bung, super hero kita sudah datang. Bermainlah kalian dengannya hahaha..'' Yuki berdiri dengan angkuhnya melihat aksi Imah bersama pria-pria bertubuh besar itu.


Saat si Botak dan kawannya yang menghadang Imah tadi ikut tertawa bersama Yuki, kesempatan membalas pun Imah ambil dengan senang hati. Secepat kilat Imah berdiri dan menendang keras perut si Botak lalu melompat dan melayangkan tendangan kekepala plontosnya hingga pria itu tersungkur ke tanah. Tidak cukup di situ, Imah mulai mengeluarkan jurus andalannya, jurus kuda ngamuk. Bertubi-tubi Imah tendang perut kaki dan punggung si Botak hingga terkapar tak bergerak. Untung saat ini Imah menggunakan celana panjang, kalau tidak mungkin roknya sudah tidak berbentuk.


Melihat si Botak sudah tergeletak seperti martabak telor, kawannya yang tadi mulai maju dengan tangan yang sudah siap untuk meninju. ''Kurang ajar, masih mau melawan kamu hah!'' Pria itu mulai mengayunkan kepalan tangannya, Imah pun beraksi bak aktor laga film India. Kali ini lebih parah, saat pria itu akan melayangkan tinjunya, duug....lutut keras Imah membentur sarang burung pria besar itu lalu Imah memberikan jurus sikut gozila kawin. Bukan hanya telornya yang pecah, kemungkinan kepala burungnya sudah patah.'' Ma---ti bu---rungku.'' Pria itu tidak mampu berdiri lagi saat benteng pertahanannya di robohkan Imah.


Melihat dua kawannya sudah terkapar, dua pria yang di samping Yuki mendekat. Saat Imah sibuk melawan kawannya, pria satunya lagi memanfaatkan kelengahan Imah. Satu tendangan mendarat tepat di punggung Imah. Tanpa jeda Imah yang tersungkur di tanah rambutnya di tarik oleh pria satunya lagi dan melayangkan tamparan keras di wajah mulusnya. Darah segar mengalir di hidung dan mulut Imah. Imah tampak meringis tak berdaya.


'' Baj*ngan kamp*et, berani kau sakiti wanitaku hah!'' Tama yang darahnya sudah mendidih langsung menedang bok*ng satu pria bertubuh kekar itu hingga terguling ke tanah.

__ADS_1


Sejak melihat Imah di lobi tadi, Tama penasaran dan mengikuti Imah. Tetapi ketika Imah berbelok Tama kehilangan jejaknya. Ketika melewati gang buntu itu, sekilas Tama melihat pertaruang sengit dari kejauhan. Mata Tama langsung melebar saat Imah di hantam dan ditampar keras oleh pria-pria berbadan jumbo itu.


Namun naas, saat Tama fokus melumpuhkan lawan tarungnya, satu pria lagi langsung mengunci leher Tama dan medekap erat da*a Tama. Jangankan bergerak, bernafas pun Tama kesusahan.


Si pria besar yang bok*ngnya di sepak Tama tadi cepat bangkit dan memberikan bogem mentah di wajah Tama. Tidak sampai disitu, pria kekar itu juga memberikan pukulan-pukulan keras dibagian perut Tama. Tama terluka parah, memang badannya tinggi berisi dan kekar. Tetapi masalah dunia persilatan, Tama masih tujuh level dibawah Imah.


Buugh...


Satu tendangan maut mendarat indah di kepala cepak si beruang besar itu, saat dia sedang asyik menendang perut Tama seketika itu juga kepalanya dihantam keras oleh kaki Imah.


Imah yang sangat emosi melihat Tama yang sudah babak belur langsung menyerang si Beruang besar dengan tendangan dan pukulan yang bahkan lebih keras dari awal permainanya. Bahkan untuk mengambil nafas pun si Beruang tidak diberi jeda oleh Imah.


'' Ini tanganmu yang menyentuh Tuanku hah.'' Traak...satu tangan si Beruang patah terkulai. Traak...kaki kanan si beruang patah berlipat. Tak ada suara dari mulut si Beruang tapunsi Badut jelek yang memegang Tama menggigil menatap Imah dengan wajah pucatnya.


Setengah berlari Imah melompat dengan badannya yang berputar diudara menghayunkan satu kakinya tepat ke arah kepala si Badut jelek. Petaak...si Badut terhuyung ke samping dan buuugh...jatuh tergeletak ke tanah.

__ADS_1


Sialnya, Yuki telah berhasil kabur tepat saat Imah menghantam si Badut jelek tadi. Sebelum masuk ke dalam mobil yang berhenti tepat dipinggir jalan itu, Yuki mengibas-ngibaskan map berisi surat kerjasama Baragajasa Group dengan Oasis mengejek Imah yang tengah menatapnya penuh kebencian.


Alih-alih mengejar, Imah malah berjalan mendekati Tama yang entah masih sadar atau sudah larut dalam mimpi indah.'' Tuan, apakah aku harus menggendong anda?'' Pertanyaan Imah membuat wajah babak-belur Tama mendongak menatap Imah.'' Jangankan untuk berjalan, menggendongmu sampai kantor aku masih sangat kuat.'' Imah mencibir, tak percaya sudah sekarat masih sok kuat.


Imah yang memang badannya sudah terasa habis tenaga akhirnya memutuskan menelpon ambulan untuk mebawa mereka ke rumah sakit. Keputusan yang tepat memang, jika dia kembali ke kantor dalam keadaan seperti ini pasti akan memperburuk keadaan Baragajasa Group. Namun sebelumnya dia sudah menghubungi Danu terlebih dahulu.


''Ayo Tuan saya bantu berdiri.'' Imah meraih tangan tama dan menumpukannya kebahu. Saat Imah meraih pinggang Tama tiba-tiba tubuh Imah roboh tepat di da*a Tama.


'' Mah..Imah, bangunlah. Ayolah jangan bercanda, Imah bangunlah. Oh tidak, Imah bertahanlah Imah.'' Tama yang masih terbaring memeluk erat tubuh Imah yang sudah terkulai tak sadarkan diri di atas dad*nya.


Tidak henti-hentinya Tama memanggil Imah agar terbangun, namun sama. Imah masih betah memejamkan matanya. Bahkan sampai Danu dan ambulan yang datang hampir bersamaan, Imah masih belum sadarkan diri.


Tama tetap ingin disamping Imah, dia tidak mau pisah mobil dengan Imah. Akhirnya Tama dan Imah Berada satu ambulan. Tangan Tama tak pernah lepas menggenggam tangan Imah, sungguh dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga wanita yang telah merubah hidupnya ini.


Tama sudah tidak tahan lagi ingin membalas apa yang telah didapatnya bersama Imah. Namun Ta tahan sampai nanti waktunya itu tiba.

__ADS_1


__ADS_2