
'' Imah...Imah, bangunlah. Apa kamu lapar?'' Bisik Tama sambil membelai lembut kepala Imah yang tengah terbaring. Tidak lama Imah pun menggeliat pertanda Ia akan bangun.
Sejak semalam kedatangan Imah ke sini, tidak ada satu pun para penjaga yang masuk. Padahal Tama berharap ada yang mengantarkan makanan untuk mereka. Rasa haus mulai terasa, tapi tidak ada air satu tetespun yang mampu menghilangkan dahaga mereka. '' Apa kamu haus?'' Ucap Tama lembut. Imah mengangguk pelan. '' Lapar?'' Imah kembali mengangguk.
Tama sangat benci dengan dirinya saat ini, Imah membutuhkannya tapi dia tidak mampu untuk menolong Imah.
Tama kembali teringat saat dimana dia dijebak oleh Saga, dan pastinya atas perintah dari Tuan Bastian.
Awalnya Tama begitu terkejut saat mendapat laporan bahwa dia adalah pemilik sah Baragajasa Group. Dia sama sekali tidak pernah menandatangani surat-surat pemindahan kepemilikan perusahaan tersebut. Merasa ada yang janggal, Tama kemudian berniat akan menyelidiki sendiri kenapa hal besar ini bisa terjadi.
Bagaimana tidak, hubungannya dengan Danu baru saja membaik. Dia tidak ingin hal ini makin menghancurkan kedekatan dengan Danu bahkan Kakeknya juga pasti akan sangat murka. Tapi Tama bingung harus bagaimana. Karena dia sama sekali tidak ada petunjuk akan hal ini.
Tepat siang itu dia mendapat telepon dari Saga. Penasaran dengan Saga yang tiba-tiba mengajaknya bertemu, akhir Tama menyetujuinya. Tama diminta untuk menemuinya ditaman dimana Imah menemukan mobil miliknya.
Tama mulai curiga saat Saga turun dari mobil bersama empat orang pengawal. Awalnya Saga nampak basa basi dulu, tapi Tama sangat kaget saat dua orang pengawal Saga mendekat dan memegang kedua tangannya.
Tidak sampai di situ, Tama kemudian diseret dan dipaksa masuk mobil Saga. Tama berusaha berontak, tapi kalah kuat dengan tenaga dua orang yang memegangnya. Bahkan Tama telah berteriak namun percuma karena saat itu taman memang sepi pengunjung terebih lagi posisi Tama yang jauh di bagian dibelakang taman.
'' Tuan apa anda sudah bertemu dengan Tuan Bastian?'' Imah penasaran dan langsung bertanya. Tama menggeleng.
''Hanya Saga. Tapi saya yakin ini semua adalah rencana busuknya. Buktinya saya kemaren dipaksa menandatangani surat pengalihan perusahaan atas nama Tuan Bastian.''
Tama menceritakan dimana hari pertama dia disekap, Saga memaksanya menandatangani surat pengalihan aset perusahaan menjadi milik Bastian. Namun Tama menolak. Sampai mati pun Tama tidak akan mau menandatanganinya. Jadilah dia bulan-bulanan Saga beserta para pengawalnya.
'' Bagaimana kalau mereka memaksa lagi?''
'' Saya akan tukar dengan nyawa saya.'' Jawab Tama dengan tegas. Imah sangat terkejut sampai tidak mampu lagi bertanya.
__ADS_1
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dari luar. Tampak dua orang pengawal masuk diikuti Saga setelahnya.
'' Selamat pagi Tuan dan Nona. Maaf mengganggu suasana romantisnya. Ada yang ingin menyapa kalian.'' Ujar Saga. Tidak lama masuklah sosok yang paling dibenci Tama.
Tuan Bastian berjalan dengan angkuhnya, seorang pengawal memberikan sebuah kursi untuk duduk Tuan Bastian.
'' Selamat pagi Tuan Tama, Nona Imah.'' Sapa Tuan Bastian. Tama terlihat mengepalkan tangannya dan hendak berdiri dengan tatapan tajam menujurus ke Tuan Bastian. Dengan cepat Imah menahan tangan Tama.
'' Sabar Tuan Tama, berhematlah untuk tenaga anda.'' Ujar Tuan Bastian sambil duduk melipat dia kakinya.
'' Bagaimana dengan penawaran saya kemaren? Jika anda ingin bebas, maka tanda tangani berkas ini.'' Saga menyerahkan map warna kuning ke tangan Tuan Bastian.
'' Sampai mati pun kau tidak akan mendapatkannya!'' Ucap Tama dengan lantang. Mata merah tajam menatap ke arah Tuan Bastian.
Terlihat Tuan Bastian menatap Saga, Saga menganggukan kepalanya. Empat orang pengawal masuk dan memegang Tama dan Imah.
'' Apa yang ingin kalian lakukan? Lepaskan!!'' Imah meronta-ronta saat dua orang pria merobek-robek lengan bajunya sehingga memperlihatkan bahu mulusnya.
'' Hentikan brengs*k. Kurang ajar kalian. Biadap!!'' Tama mengupat-upat namun tidak diindahkan oleh kedua orang itu.
'' Stop.'' Seru Saga.
'' Bagaimana Tuan Tama, apa anda berubah pikiran?'' Ujar Tuan Bastian dengan senyum jahatnya.
'' Tidak, tidak. Jangan lakukan Tuan. Ingat, itu bukan milik anda Tuan. Jangan pedulikan saya, saya yakin sebentar lagi bantuan akan datang.'' Seru Imah dengan wajah yang dibuatnya tegar.
__ADS_1
'' Diam kamu! Cepat telanjangni dia." Perintah Tuan Bastian. Sedikit lengah pengawal yang memegangnya, dengan cepat Tama menghantam keduanya hingga tersungkur kelantai.
Tama kemudian menendang satu pengawal yang memegang Imah. Melihat situasi itu, dua pengawal kembali menghadang Tama. Imah pun tak tinggal diam. Ditariknya lengan pengawal yang masih memegangnya dan dihempaskannya ke lantai. Tuan Bastian tampak menyuruh Saga untuk diam, saat Saga terlihat akan ikut bergabung dalam perkelahian itu.
Imah yang sudah kalap, tidak peduli lagi dengan pakaian yang dikenakannya sudah tidak berbentuk lagi. Dress selutut yang Imah kenakan hanya menyisakan satu bagian dada yang menyangkut dibahunya hingga menampakan penutup gunung kembarnya. Beruntung dress tersebut memiliki serut dibagian pinggangnya.
Melihat para pengawalnya hampir bisa dikalahkan Imah dan Tama, Tuan Bastian memberi kode kepada Saga.
Saat Tama tengah asyik melawan lawan di depannya, tiba-tiba satu tendangan mendarat di punggung Tama.
"Awaas!!" Teriak Imah, namun terlambat. Tama sudah tersungkur ke lantai. Dengan keras Saga menarik kerah baju Tama, kemudian memukul wajah Tama membabi buta.
Imah yang fokus ke Tama akhirnya lupa akan lawannya sendiri. Imah mendapat satu dan dua tamparan di wajahnya setelah tangannya berhasil kembali ditahan dua pengawal. Darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya. Perut Imah juga dihantam dengan lutut keras pengawal itu. Imah terlihat sempoyongan hingga jatuh kelantai karena memang tenaganya sudah terkuras habis.
Tama tak kuasa melihat Imah sang pujaan hatinya diperlakukan sekasar itu. Air mata bengis bercampur darah membasahi wajah Tama. Sekuat tenaga Tama berdiri dan berteriak.
" Tidaaak!! Hentikan, hentikan jangan sakiti dia. Aku bilang HENTIKAN!" Suara Tama mengelegar dalam ruangan itu. Setelah mendapat kode dari Tuan Bastian, semua pengawal termasuk Saga membiarkan Tama dan Imah tergeletak di lantai.
Dengan terseret-seret Tama berusaha mendekat ke arah Imah yang sudah terkulai lemas tak berdaya di atas lantai. Entah sadar atau pingsan, yang jelas Imah sudah tidak bergerak.
"Bangunlah..hiks..hiks..bangunlah Mah." Tama sudah tak peduli, diraihnya kepala Imah. Posisi mereka masih rebah dilantai. Tama terus menangis sambil membelai pipi Imah yang sudah biru dan bengkak dengan kening mereka yang berdempet.
" Bangunlah, saya mohon hiks..hiks.. Jangan tinggalkan saya." Racau Tama.
" Saya tidak akan pernah meninggalkan anda Tuan." Lirih Imah dengan mata yang bengkak dan masih tertutup. Tama tersenyum bahagia seakan tenaganya kembali bertambah.
" Berikan berkas itu, saya akan menandatanganinya." Seru Tama. Imah kaget hingga ikut terduduk menatap Tama yang juga menatapnya penuh pilu. Imah mengegelang mendakan tidak setuju.
__ADS_1
Diraihnya tangan Imah, dan digenggamnya erat. "Saya akan menandatanganinya." Seru Tama dengan tatapan penuh kasih menatap Imah yang terus menggelengkan kepalanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*Bersambung\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*