Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
55 Terciduk


__ADS_3

Benar saja, mobil Tama terparkir dijalan turunan bagian belakang taman. Pantas saja dari tadi dia tidak menemukannya. Berlahan Imah membuka pintu mobil tapi terkunci. '' Sial!'' Tidak puas, Imah kemudian mengitari mobil dan mencari mana tau ada petunjuk. Tetap saja hasilnya nihil. Saat Imah akan berbalik, kunci motor yang ditangannya jatuh. Saat dia mengabil, matanya menyepit melihat sesuatu dibawah mobil. Dan ternyata, '' Ini kan ponsel Tuan Tama.''


Tanpa bingun lagi Imah membuka pin ponsel Tama, ya dengan tanggal ulang tahunnya. Mata Imah membelalak saat melihat panggilan terakhir, tertera Sebastian Federik. Dengan cepat Imah berlari menuju sepeda motornya. Tujuannya bukan kantornya, tapi Federik Global Group.


Imah memberhentikan motornya tidak jauh dari gerbang perusahaan besar itu. '' Aku harus masuk, tapi bagaimana caranya? Aku kan ga punya kartu aksesnya?'' Imah terlihat bingun dan terus menatap gerbang gedung yang tinggi menjulang itu.


Hampir satu jam Imah menunggu di atas sepeda motornya. Panas matahari tidak membuatnya gentar, dia akan menunggu sampai seseorang yang dicarinya keluar dari gedung itu.


Tepat saat jam makan siang, sebuah mobil mewah keluar dari gerbang. Senyum Imah langsung terkembang, ''Rejeki anak sholeha.'' Gumam Imah sambil menyalakan motor buntutnya dan membuntuti mobil itu dari belakang. Tentunya dalam jarak aman, Imah sudah berpengalaman akan hal ini.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan lumayan ramai. Saat di persimpangan, mobil itu berbelok ke arah kanan. Beruntung Imah cepat mengrem motornya sehingga tidak kehilangan jejak mobil Tuan Bastian.


Kali ini laju mobil semakin kencang. Imah agak kewalahan mengejar karena dag dig dug juga kalau sampai ketahuan. Tidak lama mobil itu masuk kesebuah perumahan elit pada jamannya. Rumah yang besar berlantai dua, halaman yang luas dengan desain rumah yang terkesan jadul.


Imah memberhentikan motornya tepat disamping pagar tembok. Dia mengintip dari celah tembok pagar, dari dalam mobil keluar seseorang yang jelas bukan Tuan Bastian. Mata Imah menyipit, '' Asisten Saga?''


Segera Imah mengambil ponselnya dan langsung mangabari Mayang tentang segala informasi yang di dapatnya sejauh ini. Jantung Imah semakin deg-degan, dia bingung harus berbuata apa. Tapi dia juga tidak ingin usahanya berhenti sampai di sini.



Saat ini Mayang tengah bersama Danu dan Beni di rumah utama. Mereka baru saja sampai setelah mengurus beberapa berkas di kantor polisi terkait kebebasannya dan tidak terlibatnya Danu dengan kasus yang di hadapkan padanga.



'' Raja sayang.'' Danu langsung meraih Raja dari gendongan babysitter. '' Papa kangen sayang, Raja kangen ga sama Papa?''



'' Iya Papa, Raja juga rindu.'' Mayang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.



''Mas, sebentar ya. Ada telepon dari Imah.'' Mayang langsung berjalan ke taman samping rumah. Danu mengangguk dan kemudian menggendong Raja menuju meja makan. Memang semua pelayan sudah Mayang perintahkan untuk menyiapkan makan siang istimewa untuk suaminya. Namun Mayang tidak memberitahu kalau Danu selama ini ada di kantor polisi.

__ADS_1



'' Ayo Mas kita makan sekarang.'' Ucap Imah yang sudah berada tepat di belakang kursi Danu.



'' Habis ini ada hal penting yang ingin aku ceritakan sama Mas dan Asben.'' Sontak Danu dan Beni menatap Mayanh bersamaan.



'' Nanti, makan dulu.'' Tutur Mayang sambil mengisi pirinh Danu dengan segala hidangan yang ada. '' Wah ini makan kuli namanya May, Mas juga ga selapar itu kali.'' Danu kaget melihat isi piringnya hampir mengalahkan tingginya gunung Rinjani.



'' Sudah, jangan banyak ngomong. Banyak makan aja.'' Sergah Mayang sambil meraih Raja dalam gendongan Danu dan mengantarnya ke babysitter di dapur.



'' Wah Bos, ini namanya balas dendam tiga hari kemaren haha..'' Danu memukul kepala Beni dengan sendok. '' Aduuuh...'' Danu tak menghiraukannya, dia masih syok dengan porsi makanan yang ada di depannya.




'' Mas, selama Mas di penjara aku dan Mayang sudah menyelidiki tentang Tama. Mungkin Asben sudah ceritain semua sama Mas.''



'' Iya, Beni sudah ceritakan semua. Termasuk kepintaran Istri Mas yang sangat hebat.'' Danu meraih tangan Mayang dan menciumnya. Mata Beni langsung melotot. Bisa-bisanya mereka bermesraan di hadapan pria yang sudah lebih enam bulan tidak bertemu dengan pujaan hatinya.



Memang saat ini Tisa tengah berada di Singapura menemani Kakeknya Tuan Agung untuk melakukan pengobatan. Selama itu jug lah Tisa dan Beni tidak pernah bertemu. Bagaimana bisa, Beni terus mendampingi Danu untuk membangun kembali perusahaan Baragajasa Group yang hampir roboh. Tapi Beni tetap bahagia, karena setiap malam dia melakukan video call dengan Tisa sang pujaan hati.

__ADS_1



Mendengar kabar dari Mayang, Danu dan Beni langsung menuju lokasi yang di sebut oleh Imah. Danu merasa bersalah telah sempat menaruh curiga terhadap Tama. Danu berjanji dalam hatinya, dia tidak akan membiarkan Tama menghadapi sendiri masalah ini. Dia harus membantu Tama. Hanya dia keluarga yang Tama punya saat ini.



Imah yang insting intelijennya makin meningkat, tidak bisa hanya diam ditempat. Kali ini Imah mencoba mencari jalan masuk. Beruntung satu pilar pagar tembok sedikit roboh. Sehingga hanya sekali panjat dan satu lompatan Imah sudah berada di dalam perkarangan rumah itu.


Pelan-pelan Imah berjalan menunduk, melihat setiap sisi rumah dan perkarangan. Kali ini Imah agak kesusahan karena halaman rumah yang polos seperti lapangan bola. Tidak ada sama sekalai bunga atau pohon yang mengisi. Kecuali dipinggir dinding pagar yang terdapat bunga asoka yang di pontong rapat setinggi lutut orang dewasa.


Jadilah Imah berjalan jongkok menelisuri pinggir dinding pagar. Setelah sampai di pinggir kolam renang yang luasnya seperti waduknya waktu di kampung, Imah mulai kebingungan. Tidak ada tempat untuk berjalan sembunyi menuju pintu samping, semuanya terbuka kecuali kursi-kursi yang tersusun sekitar empat buah di pinggir kolam.


Setelah melihat situasi aman, Imah memberanikan diri berlari cepat ke balik-balik kursi tadi. Sekarang Imah sudah berada di samping tiang sebelah pintu masuk ke dalam rumah.


Ceklek...


Perasaan Imah mulai tidak enak, kalau dipikir-pikir kenapa dia kok mudah saja bisa masuk. Rumah sebesar ini tidak ada penjaga sama sekali. Sejak mulai masuk pagar sampai masuk rumah terkesan begitu mudah. Kemana perginya Asisten Saga bersama tiga orang yang turun dari mobil tadi?


Sibuk dengan pemikirannya Imah tetap melangkah masuk meski ada yang mengganjal dihatinya. Mata Imah mulai meradar setiap sudut ruangan, rumah ini seperti tidak pernah ditempati. Begitulah kesimpulan yang Imah dapat saat melihat tidak ada perabotan sama sekali tapi lantainya tetap bersih terawat.


'' Rumah ini besar banget, lebih besar dari aula desa di kampungku dulu.'' Gumam Imah sambil terus mengendap-endap.


Ketika Imah sudah berada di tengah-tengah rumah, Imah dibuat kaget saat rumah yang gelap menjadi terang karena lampu-lampu dalam rumah tiba-tiba menyala.


Klik..


Mata Imah melebar saat Imah melihat ada banyak pria yang tengah mengelilinginya. Imah berada tepat ditengah-tengahnya.


Prok


Prok


Prok

__ADS_1


Seorang pria bertepuk tangan saat menuruni anak tangga. '' Asisten Saga.'' Gumam Imah.


'' Selamat datang di pesta kecil kami. Nona Imah.''


__ADS_2