Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
63 Anak Ku


__ADS_3

'' Ma---maafkan A---Ayah.'' Tuan Bastian mengenggam tangan Tama dalam kedua tangannya.


Tama tak mampu menjawab, ada rasa rindu yang entah mengapa datang menyeruak begitu saja dalam jiwanya. Tetapi juga rasa benci datang bersamaan. Ada rasa sesak di dadanya saat laki-laki di depannya ini mengatakan kalimat maaf itu. Rasa benci yang awalnya sangat besar entah berlahan menguap begitu saja.


'' Mengapa kau tega merusak kebahagian keluarga ku hah? Mengapa kau tega seperti tidak punya hati? Jika memang kau sangat mencintai Ibuku, mengapa tidak kau bawa pergi Ibuku waktu itu? Jika memang dia tersiksa, Mengapa kau biarkan dia sendiri menanggung bebannya? Hiks...hiks... Mengapa kau malah datang membuat bencana pada keluargaku hiks...hiks...hiks, mengapa hah....'' Tama meluapkan emosinya, Tama menangis berlutut dengan tangan mereka masih bertaut.


Kakinya hilang tenaga saat mengatakan isi hatinya itu. Bahunya bergetar hebat, batinnya begitu terguncang menerima kenyataan yang begitu sulit baginya. Perih, bimbang, sakit. Itulah kata-kata yang mampu mewakili perasaan ya saat ini.


Sungguh dia tidak rela sebenarnya melihat laki-laki yang disebut Ayahnya ini mengalami hal memilukan ini, meski awalnya dia bahkan sudah ingin menghabisinya. Namun karena dia adalah ayah kandungnya, makin kesini hati Tama yang memang bukan orang jahat sedikit menaruh iba.


Sedangkan Tuan Bastian terlihat begitu terpukul dan sangat menyesal. Hatinya benar-benar hancur saat tahu laki-laki yang disiksanya adalah darah dagingnya sendiri. Buah cintanya bersama Ayu, wanita yang begitu dirindukannya. Kejahatannya bukan hanya sekali dua kali, bahkan sudah berlangsung sejak lama.


'' Lihatlah Ayu, aku sudah bertemu dengan putra kita. Meski aku terlambat mengetahui, tetapi aku tetap bersyukur dan sangat bahagia ternyata aku memiliki buah cinta kita berdua.'' Bisik Tuan Bastian dalam hati. '' Maafkan aku Ayu, aku sudah melukai anak kita. Aku Ayah yang bejat Ayu, kamu pasti sedih melihatnya.'' Air matanya terus mengalir, seolah ingin memghapus kebencian dan dendam yang sudah tertanam selama ini.


Ditariknya berlahan tangan putranya itu, meminta untuk menatap karena dia ingin bicara. Kembali hatinya haru melihat putranya, darah dagingnya telah tumbuh dewasa dengan gagahnya. Hatinya begitu nyeri saat mengingat tidak pernah ada disamping putranya seiring tumbuh kembang sang putra.


'' A--nakku, bo--leh kah ka-mu pang--gil A--yah sa-satu kali sa--ja.'' Nafas Tuan bastian sudah turun naik. Alat-alat medis mulai terdengar kencang dan cepat.


Tama mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Ayahnya itu. Wajahnya makin panik saat Tuan Bastian malah tidak mau melepaskan tangan Tama.


'' Aku harus menekan tombol itu, anda harus segera ditangani dokter.'' Tuan Bastian mengegelang, matanya masih menunggu permitaannya itu.


'' Sa--tu kali sa--ja.'' Lirih Tuan Bastian terbata-bata.


Tama menatap wajah iba itu. Wajah yang selama ini menatapnya angkuh kini mengaharap satu kata azimat darinya. Kata yang juga serta merta sangat berat bagi Tama untuk dia ucapkan. Kata yang bagi laki-laki itu sekarang sungguh berharga yang bahkan bisa membawanya dalam kedamaian dan ketenangan.


Tama menoleh ke arah lain, menolak tatapan yang langsung menghunus jantungnya. Dipejamkannya matanya, seperti menguatkan lidah dan hatinya hingga satu kata itu keluar.


'' A----------Ayah.'' Tapi matanya masih terpejam, tidak menoleh.


Tuan Bastian nampak tersenyum bahagia. Seperti air yang melepas dahaganya ditengah gurun pasir. Walaupun masih terasa hambar, itu sudah lebih cukup baginya.


Berlahan Tama kembali melihat Tuan Bastian yang masih menatapnya dengan senyum. Entah mengapa senyum pria paruh baya itu sedikit melegakan baginya. Paling tidak dia tidak disuruh untuk mengucapkan kata terberat itu lagi.

__ADS_1


Benerapa dokter datang bersama empat orang perawat setelah Tama menekan tombol darurat. Saat itu juga Tama keluar dengan wajah sendunya. Meskipun belum bisa menerima pria paruh baya itu sebagai Ayahnya, jujur dia masih berharap Ayahnya itu baik-baik saja.


Tanpa Tama ketahui, seseorang tengah menatapnya bahagia dari balik dinding. Dia telah melihat semua yang Tama lakukan bersama Ayahnya di dalam tadi. Orang itu terlihat mengahapus air dari sudut matanya. Rasa haru bercampur bahagia terlihat jelas diwajahnya.


'' Semoga ini awal yang baik untukmu dan Ayahmu Nak.'' Bisik Tuan Agung saat mengintip Tama dari jauh.


Awalnya Tuan Agung memang berencana akan menjenguk Tuan Bastian. Sekalian akan membahas tentang kelanjutan medis Tuan Bastian jika dia belum siuman juga. Tetapi ketika dia sampai, dia menemukan pemandangan yang mengharukan. Tama dan Ayahnya itu tengah menangis. Hampir semua pembicaraan mereka Tuan Agung dengar dari celah pintu yang sengaja sedikit dia buka.




'' Mah, Mang Dudung bentar lagi datang. Sopir sudah pergi menjemputnya.'' Ujar Mayang.



Setelah mengantar Tama ke ruangan Tuan Bastian tadi, Danu dan Mayang kebali menuju ruang Imah. Tapi Danu hanya mengantar, karena dia harus segera ke kantor. Banyak hal yang harus dia selesaikan.




Danu begitu bersyukur, Istri tangguhnya mampu menyelesaikan semua masalah tanpa bersisa. Sungguh tidak henti-hentinya Danu memuji Mayang, hingga Mayang menjadi jengah dengan ulah suamimya itu. Tuan Agung juga ikut bangga kepada cucu menantunya itu, meski mayang hayan tamatan SMA, tapi pola pikirnya jauh di atas rata-rata orang sarjana.



'' Pokoknya Lo jangan cerita apa-apa. Biar Gue yang ngomong, ngerti!'' Imah mengingatkan Mayang. Mayang memberikan jempolnya tandan mengerti.



'' Jadi kapan Tama akan melamarmu?''


__ADS_1


'' Ngelamar apa? Ngelamar kerja kali? Ya ga mungkin lah May, masih jauh. Baru juga tadi malam jadian, masa udah mau kawin aja? Ngawur aja kamu.'' Jawab Imah santai sambil mengancingkan bajunya. Imah baru saja selesai bersih-bersih.



'' Kamu cinta ga sama Tama?'' Mayang mulai kepo.



'' Ga tau May, yang jelas gue bahagia aja kalo lagi deket sama dia. Ga tau itu cinta apa ga? Meski sering bikin Gue kesel, tetap aja Gue ga bisa benci sama dia.'' Imah menatap lurus kedepan, sedikit senyum terbit diwajah lebamnya.



'' Aku do'akan semoga kamu jodoh dan cepat menikah.'' Ucap Mayang sambil memeluk erat sahabatnya itu.



''May, kita keluar yuk. Bosen Gue ngadem terus, pengen hirup udara luar.'' Ajak Imah. Mayang mengangguk, dia tidak mau nanti Imah merajuk dan minta pulang.



Ketika Mayang dan Imah melewati lorong rumah sakit, Mayang tiba-tiba berhenti mendorong kursi roda Imah. Imah yang bingun menatap Mayang yang seperti terkejut melihat sesuatu. Imah mengikuti pandangan Mayang.



Deg



Jantung Imah berdetak kencang saat melihat sepasang insan yang saling berpelukan seperti melepas rindu. Terlihat sekali sang pria membalas hangat pelukan wanita itu. Imah sangat mengenal si prianya, dia adalah kekasihnya sejak tadi malam.



Tama tampak begitu akrab dengan wanita itu, dengan senang hati Tama tersenyum indah saat si wanita mengalungkan tangannya dilengan Tama.

__ADS_1



Mayang yang sadar akan aura panas didekatnya, segera berlalu meninggalkan TKP. Imah hanya diam, matanya sangat panas mengingat apa yang dilihatnya.


__ADS_2