Tuan Muda Yang Hilang

Tuan Muda Yang Hilang
64 Mantan


__ADS_3

Sejak kejadian dilorong tadi, mood Imah terlihat buruk. Hampir 30 menit mereka duduk dikursi taman ini, tapi belum juga terdengar ocehannya. Mayang hanya melirik-lirik Imah yang sibuk mencongkel tanah dengan ujung sendalnya. Bingung bagaimana mulai bicara, Mayang mendehem agar Imah melihat ke arahnya. Bukannya melihat Imah malah makin kencang menendang tanah.


'' Mah, nanti kakimu makin sakit loh.''


'' Gue ga akan minta penjelasan sama tu Si Singa Hutan. Gue bakal liat, permainan apa yang mau dia mainkan. Prinsip Gue ga ada kesempatan kedua. Sekali habis, langsung kandas.''


''Mana tau itu sahabatnya, nanti coba aku cari tau ya.'' Imah hanya diam, memandang lurus ke depan.


Bagaimanapun ini adalah kali pertama Imah dekat dengan laki-laki kecuali Bapaknya. Imah sejak dulu belum pernah pacaran. Imah benar-benar takut kalau sampai dia kecewa, sahabatnya ini akan semakin susah untuk jatuh cinta lagi. Imah adalah gadis yang berprinsip keras, jika dia sudah bicara A, makan tidak akan pernah menjadi B meskipun A+ sekalian.


''Siapa gadis itu? Aku juga baru kali ini melihatnya? Kalau kerabat, di rumah juga tidak ada foto-fotonya. Apa sepupu jauh kali ya? Atau sahabat lamanya, atau mungkin mantannya?'' Gumam Mayang dalam hati. Saat bicara mantan, Mayang sedikit takut membayangkan jika itu benar. Bisa- bisa Imah mengeluarkan jurus pemusnah hamanya. Habislah Tama dari hidup Imah.


Puas melapangkan dadanya yang sesak, Imah mengajak Mayang untuk masuk. Kepalanya juga masih terasa agak pusing jika duduk terlalu lama. Berlahan Mayang mendorong kursi roda Imah masuk menuju lift.


Ketika sudah sampai di lift tujuan, pintu lift pun terbuka. Siapa sangka ketika itu dia kembali melihat Tama bersama wanita tadi dengan tangannya memeluk erat lengan Tama. Karena kaget, Tama langsung melepaskan dengan paksa tangan wanita itu.


Imah hanya melirik dari sudut matanya, sama sekali tidak berniat menatap Tama apalagi untuk menyapanya. Mayang juga hanya memasang wajah datarnya, dan sebentar menatap wanita disamping Tama.


Sepertinya Si wanita itu dapat membaca situasi. Ketika Tama berbalik akan mengejar Imah, wanita itu menahan tangan Tama.


'' Mau kemana? Katanya mau ke ruang Tisa.'' Ucap wanita itu.


'' Maaf Lun, aku ga jadi. Kamu pergi sendiri aja.'' Tama meninggalkan dia begitu saja. Dia terlihat menghentakan kakinya kesal. Menatap punggung Tama yang sedikit berlari mengejar dua wanita itu.


'' Siapa dua wanita itu? Apa mungkin salah satunya pacar Kak Tama?'' Batin Luna.


Dia adalah Luna, mantan pacar Tama waktu SMA. Tepatnya cinta pertama Tama. Meski mereka telah putus sejak Luna kuliah di luar negeri, Tama masih bersikap baik padanya. Karena memang mereka putus baik-baik, bukan karena orang ketiga. Apalagi Luna adalah teman dekat Tisa sejak SMA dan mereka sekarang sama-sama dokter pula.


Tisa yang mengajak Luna untuk ikut bergabung bersamanya di rumah sakit ini. Selain cantik, Luna juga dokter yang hebat. Dia adalah dokter ahli bedah yang sangat handal. Tidak pernah gagal sekalipun pada setiap operasi yang ditanganinya. Tisa tau tentang masa lalu Luna dan Kakaknya, tapi dia tidak tahu kalau sampai sekarang Luna masih menaruh hati pada Tama.


''May, biar aku yang dorong.'' Tama meraih kursi roda Imah dari tangan Mayang.

__ADS_1


'' Mah, aku pulang dulu ya. Takut Raja nyariin.'' Itu hanya alasan Mayang saja karena Tama sudah memberi kode pada Mayang.


Imah tidak peduli, Imah tidak menggubris saat Tama mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar rawatnya. Berlahan Imah berdiri dan langsung berbaring di tempat tidur. Ketika Tama membantu, terlihat Imah menolaknya. Tama hanya diam mematung melihat gerak-gerik Imah. Tak ada suara, hening. Tama pun bingun ingin bicara. Akhirnya Tama dapat ide untuk memulai percakapan.


''Ayo aku suapkan makan.'' Tama melihat sarapan Imah masih utuh di atas nakas.


Imah menolak, diraihnya piring bubur itu dan disuapnya sendiri sampau habis. Tama memberikan dua butir obat dan Imah meminumnya.


'' Istirahatlah di kamarmu Tuan, saya ingin tidur sebentar.'' Ucap Imah.


'' Aku ga ngantuk, tidurlah. Aku akan jagain kamu tidur.'' Sahut Tama. Imah tak peduli, dia langsung tidur dengan posisi memunggungi Tama. Terdengar helaan nafas berat Tama. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya. Dia tau, sekarang Imah sedang salah paham.


'' Dia adalah Luna, temannya Tisa. Dokter disini juga.'' Tama menatap punggung Imah yang entah sudah tidur atau pura-pura tidak mendengar.


'' Luna mantan pacarku waktu SMA. Kami putus saat Luna tamat SMA kerena dia ambil kuliah di luar negeri. Baru sekarang kita bertemu lagi.'' Tama kembali bicara meski Imah masih mode diam.


'' Mah, Mah. Apa kamu sudah tidur.'' Kata Tama lagi.


Sontak Tama tertawa mendengar penuturan Imah. Memang wanita spesial menurut Tama. Biasanya wanita lain akan marah, ngambek dan bahkan menangis didepan pacarnya.


'' Sudah lah Tuan, kalau mau tertawa jangan di sini. Saya mau istirahat. Keluarlah.'' Imah mendudukan badannya dan menatap tajam mata Tama.


'' Apa kamu cemburu?''


'' Apa?? Cemburu? Masih jauh. Cemburu hanya wanita lemah. Tapi kalau sudah dikhianati, itu baru pantang hidup saya.''


'' Baiklah, berarti kamu ga marah kalau saya berteman dengan Luna?'' Imah tersenyum lalu mengangkat kepalanya menatap Tama.


'' Saya sih orangnya santai, mau Tuan berteman dengan siapapun bebas. Karena berarti itu juga berlaku untuk saya. Bebassss.'' Imah menekan kata bebas, agar Tama paham maksud hatinya.


Imah sengaja membiarkan Tama jika memang dia masih ingin berteman dengan Luna mantan pacarnya itu. Tetapi Tama tidak tahu, kalau dia malah menenggelamkan badannya sendiri. Karena Imah juga akan memperlihatkan pada Tama, dia juga bebas berteman dengan lelaki manapun.

__ADS_1


Untuk seperkian detik Tama hanya manggut-manggut. Tapi kemudian dia terpaku, seperti kembali mengingat kata-kata Imah. Matanya menatap Imah seperti hendak bicara, Imah yang paham lalu meminta Tama untuk keluar. Karena dia benar-benar ingin istirahat.


Saat di luar Tama merutuki dirinya sendiri,'' bagaimana bisa aku biarkan dia berteman dengan laki-laki lain? Mana kuat aku. Ini tidak bisa dibiarkan. Aduh kenapa aku jadi lambat loading gini sih.''


Di dalam Imah tersenyum sendiri mengingat bagaimana wajah Tama saat sadar akan makna dari kata-katanya. '' Jadi pusing sendiri kan? Makanya kalo ngomong pake otak, jangan cuma pake mulut doang. Kita liat aja nanti, kamu pikir aku wanita lemah apa.''




Malam ini Tama dan Imah sudah diijinkan pulang, tapi tiga hari lagi harus kontrol. Imah sangat senang, karena dia bosan terus di rumah sakit.



'' Tama, apa ga sebaiknya kalian kami antar aja?'' Mayang kuwatir karena mereka baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi Tama bersikeras mengantar Imah dengan memakai mobil Tisa.



'' Ga apa kok, aku kuat untuk belahan jiwaku ini.'' Imah memutar bola matanya jengah, tapi Tama malah memeluk Imah tanpa segan.



'' Biarkan saja sayang, mereka lagi dimabuk cinta.'' Tama mengangkat jempolnya pada Danu.



Akhirnya mereka pergi ketempat tujuan masing-masing. Tama mengantar Imah ke kontrakannya, sedangkan Danu dan Mayang yang tadinya niat menjemput akhirnya kembali pulang ke rumah utama.



Dari balik tiang teras rumah sakit terlihat seorang wanita memandang mobil yang dibawa Tama dengan tatapan penuh kebencian. Tangannya terkepal kuat, wajahnya memerah menahan emosi. '' Sejak kapan seleramu turun begitu Kak Tama? Tenang saja, aku akan segera menyadarkanmu. Bahwa cinta kita tetap seperti dulu.''

__ADS_1


__ADS_2